
Sampai di rumah Sarita dan Mahendra. Senja disambut tatapan sinis oleh mama mertuanya. Karena Sarita memang mendengar dari Darren tentang Senja yang tidak setuju menjauhkan Genta dari cucu-cucunya.
Melihat situasi yang tidak enak, Zain mengajak adik-adiknya ke taman belakang rumah. Membiarkan mama dan opa-omanya berbicara lebih leluasa.
"Pa, Ma, Senja hanya ingin berbicara sebentar. Mungkin hanya lima menit, setelah ini, terserah Mama dan Papa akan berpikiran bagaimana pada Senja." Dia mengucapkan dengan sangat hati-hati.
"Bicaralah!" ucap Sarita, dingin, jauh dari keramahan yang biasanya selalu diberikan.
Mahendra mengajak Senja dan istrinya ke ruang kerja miliknya yang kini sudah jarang digunakan lagi.
"Silahkan, Nja. Kamu mau bicara apa?" Mahendra bertanya dengan lembut.
Berbeda dengan Darren dan Sarita yang masih sangat dendam pada masa lalu. Mahendra sudah lama berdamai dengan kejadian buruk itu. Sama seperti Senja, dia menganggap bahwa menyimpan dendam hanya akan menambah luka terasa semakin dalam, dan membuat hati menjadi tidak tenang sendiri.
Senja mengatur napasnya sejenak. Berharap apa yang disampaikan nanti bisa membuka pikiran Sarita. Karena, Senja selalu meyakini, pendosa sebesar apapun berhak mendapat kesempatan hidup lebih baik jika memang bersungguh-sungguh.
"Saat Senja bercerita nanti, tolong Papa dan Mama jangan menyela dulu. Senja akan membuat ceritanya singkat saja." Senja bergantian menatap mertuanya yang mengangguk kompak menjawab permintaannya.
"Bukan hanya Mama yang mengalami pemerkosaan, tapi Senja pun pernah. Sama seperti Mama, Senja juga mengalaminya di saat Senja hamil dan dalam kondisi berduka."
Mahendra dan Sarita tidak bisa menutupi keterkejutannya. Sama sekali tidak menyangka, kalau Senja pun mempunyai kenangan yang pahit. Mereka ingin bertanya. Tapi teringat kata-kata Senja yang tidak ingin disela. Mereka akan sabar menunggu hingga cerita usia.
"Senja memilih untuk berdamai. Karena kalau Senja mengikuti keadaan, Senja pasti akan depresi. Apalagi saat itu. Tidak ada siapapun yang tahu dan dekat dengan Senja. Tidak ada pilihan lain selain memaafkan dan berdamai dengan keadaan. Kehamilan Senja harus baik-baik saja, karena banyak orang yang menunggu kehadiran bayi itu. Meski bukan darah daging Senja sendiri, tapi dia ada di rahim Senja karena cinta banyak orang."
Mahendra dan Sarita saling pandang, mulai menerka-nerka.
"Ya, Senja diperkosa setelah pemakaman kak Deandra. Di apartemen kak Aleandro, oleh seseorang yang tidak akan terpikirkan oleh siapapun."
__ADS_1
Mahendra dan Sarita terlihat berpikir, mengingat kejadian belasan tahun yang lalu, saat adik Mahendra yang bernama Deandra itu meninggal.
Senja memejamkan matanya. "Orang itu adalah Darren Mahendra. "
Pengakuan Senja bagaikan petir yang menyambar di teriknya matahari. Sarita langsung menunduk lesu dan Mahendra mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tidak mungkin!" Sarita menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Senja sama sekali tidak ingin mengungkit. Senja sebenarnya ingin menutup rapat kenyataan ini sampai mati. Tapi, saat kalian mengaitkan seorang anak yatim piatu yang tidak tahu apa-apa dengan masa lalu kalian, Senja merasa perlu menyampaikan ini. Senja pamit, Ma, Pa. Senja hanya ingin menyampaikan itu. Maaf, kalau kejujuran Senja melukai hati Papa dan Mama." Senja membungkukkan sedikit badannya.
Sebelum benar-benar meninggalkan kedua mertuanya itu, Senja kembali berucap, "Jika Darren Mahendra seorang pemerkosa, pantaskah Dasen, Derya dan Beyza dibenci karena ulah daddy-nya? Semoga saja tidak. Senja pamit Ma, Pa."
Perempuan itu berjalan keluar ruangan tanpa menunggu bagaimana reaksi dari Sarita dan Mahendra setelah mengetahui dosa besar masa lalu putra satu-satunya.
Senja memanggil anak-anaknya, menyuruh mereka langsung berpamitan pada Sarita dan Mahendra, lalu meneruskan perjalanan ke tempat yang dituju berikutnya.
Mahendra dan Sarita benar-benar merasa malu pada Senja. Terlebih lagi Sarita, dia sudah berpikir yang tidak-tidak tentang menantunya itu, nyatanya, Senja menyimpan luka yang kurang lebih sama.
Senja mungkin tidak sampai kehilangan bayi dikandungannya, karena dia memilih untuk menerima keadaan dan tidak larut dalam keterpurukan.
Sarita sendiri setelah kejadian itu mengalami depresi yang luar biasa, hingga akhirnya pun dia mengalami pendarahan dan harus keguguran.
"Pa, kita harus bagaimana sekarang?" Sarita menepuk bahu Mahendra.
"Senja tidak menuntut kita untuk berbuat apa-apa, Ma. Yang Papa tangkap, Senja hanya ingin mama melepaskan dendam Mama pada Malino. Sekarang lihat, keluarga Darren dan Senja malah yang ikut terseret-seret. Sudahlah, semua selesai di sini."
Sarita menghembuskan napas dengan berat. "Tidak semua orang sekuat Senja. Termasuk Mama. Kita akan mencari jalan tengah. Tapi jangan paksa aku untuk tiba-tiba menerima keluarga Malino dekat dengan mereka."
__ADS_1
Mahendra mengangguk pasrah. Baginya, tidak terlalu masalah dengan Sarita. Kini, Mahendra memikirkan nasib rumah tangga anaknya.
Senja dan Darren sama-sama keras pendirian meski dengan cara yang berbeda. Keduanya sangat teguh pada prinsip. Benar salah bagi orang lain, bukan ukuran mereka dalam mengambil sikap.
"Ma, kita ke rumah Darr. Mama lihat tadi, di mobil Senja penuh sekali koper-koper dan Senja langsung menemui kita. Rahasia yang bertahun-tahun dia pendam, lalu diungkapkan. Pasti yang terjadi sudah di luar batas." Mahendra benar-benar terlihat cemas.
Sarita hanya mengangguk lemah. Meski kejadian sudah lama, tapi Sarita ingin sekali menampar putranya itu. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Darren bisa melakukan hal yang paling menjijikkan baginya.
.
.
Zain masih menunggu Senja untuk memberi petunjuk ingin ke mana mereka sekarang. Apartemen yang di beli Darren, tentu saja tidak mungkin.
"Kita ke hotel dulu saja, Nanti mama pikirkan. Sekalian menunggu sidang terakhir kasus Beyza dan Derya besok. Setelah itu, Mama akan mengajak kalian ke negara S. Kalian sekolah di sana saja," putus Senja.
"Bukannya mama hanya ingin memberikan daddy waktu untuk menyadari semua, kenapa harus sampai ke sana?" tanya Zain, heran sekaligus bingung.
Senja tersenyum pada Zain. "Jarak yang sebenarnya adalah saat kami berada sedekat mata dan bulu mata, tapi hati dan pikiran tidak sama. Sejauh apapun jarak, kalau memang daddy-mu sudah kembali seperti dulu, pasti semua akan baik-baik saja."
"Der, terserah mama saja," sahut Derya dari bangku belakaang.
"Bey, juga. Kalaupun, mama dan daddy sudah bersama dan berbaikan lagi. Bey tetap ingin bersekolah di negara S," tegas Beyza.
Zain tidak ikut menanggapi. Semua serasa mengambil keputusan dengan emosi dan dengan membawa pendirian masing-masing. Harusnya, semua selesai. Karena Genta juga sudah menjauh. Tapi kenyataan tidak sesederhana pikiran Zain.
"Mama minta maaf karena sudah membawa kalian pada situasi seperti ini. Tetap hormati daddy, apa pun yang terjadi nanti," pesan Senja.
__ADS_1
"Apa Mama akan bercerai dengan daddy?" tanya Beyza membuat mulut Senja menjadi tercekat.