Hot Family

Hot Family
Rencana cadangan


__ADS_3

"Mbak, kamu tidak pamit sama daddy dan mamamu dulu?" Derya bertanya sembari berjalan mengikuti langkah lebar Beyza.


"Terlalu lama kalau harus pamit terlebih dahulu, lebih baik kita menunggu dari pada orang-orang suruhan mamanya Inez mengerjai Derya."


Tepat di pelataran pintu utama, Dasen baru saja turun dari mobilnya. Dia baru saja datang. Melihat Genta di rumahnya, dia merasa heran. Semakin bertanya-tanya lagi ketika Beyza dan Genta melewati Dasen begitu saja.


"Bey." Dasen memanggil adik perempuannya itu dengan kesal dan sedikit berteriak.


"Nanti saja, Kak. Kalau mama tanya, katakan Bey menjemput Derya." Beyza langsung masuk ke dalam mobil Genta yang dikemudikan oleh driver.


Dasen masuk ke dalam rumah dengan wajah bersungut-sungut. "Kenapa dia bisa masuk ke dalam rumah ini lagi? Di mana daddy? Bukankah daddy tidak menginginkan anak itu menginjak rumah ini lagi? Kalau dia diterima, dan Denok tidak. Jelas ini diskriminasi," ucap Dasen, sangat lirih, hingga hanya dirinya sendiri yang mendengar.


Dasen melangkahkan kakinya, menaiki anak tangga dengan pelan. Meski ada lift, semua anggota keluarga memang jarang sekali memakainya kalau hanya untuk naik ke lantai dua.


Senja yang berhasil lolos dari bayi besarnya terlihat keluar dari pintu kamar. Dia ingin ke bawah menemani Beyza dan Genta. Dasen sendiri sudah sampai di depan kamar Beyza yang tentu saja akan dilewati oleh mamanya.


"Baru pulang, Das?" Sapa sekaligus tanya Senja pada Dasen saat mereka berpapasan.


"Iya, Ma." Dasen menjawab dengan singkat karena sedang tidak enak hati. Bukan karena putus hubungan dengan Denok. Tapi kehadiran Genta di rumahnya.


"Lemes banget. Sakit?" Senja mendekati Dasen untuk melihat wajah anak kesayangannya itu lebih dekat. Tidak ada yang berbeda selain bibirnya yang mendadak mancung.


"Kamu kenapa? Ada masalah?" Senja mengusap-usap lengan Dasen dengan lembut. Tapi kepalanya melongok ke bawah, lalu mengernyitkan kening karena tidak ada Genta dan Beyza di sana.


Dasen merasa fokus mamanya terbagi. Masih seperti dulu, dia masih saja cemburu pada kehadiran Genta. Karena anak itu diperlakukan hampir sama dengan saudara-saudaranya yang lain.

__ADS_1


"Beyza menjemput Derya sama si anak pungut." Dasen berjalan meninggalkan mamanya dengan perlahan.


"Das ... Kamu kenapa?" Senja mengejar Dasen dengan heran.


"Kenapa Mama memperlakukan Das selalu berbeda? Kenapa, Ma? Jika Genta bisa masuk ke rumah ini lagi, kenapa Mama menolak kehadiran Denok? Apa bedanya mereka? Genta juga keturunan dari orang yang tidak baik." Dasen bertanya dengan menatap tajam mamanya. Bukan tidak sopan atau berani melawan, hanya ingin menunjukkan kalau kali ini, mamanya memang tidak adil.


"Tidak seperti itu, Das. Sama sekali bukan. Genta, Derya, dan Beyza, berteman sejak mereka sekolah. Mama tahu bagaimana sifatnya. Tapi Denok? Mama sama sekali tidak paham. Mama bukan menolak mentah-mentah, itu kenapa Mama memindahkan dia ke divisi lain. Mama ingin melihat sikap Denok yang apa adanya. Kalau dia menjadi sekretaris Mama, pasti dia sangat menjaga perilakunya dengan berlebihan," jelas Senja, panjang dan lebar.


"Dasen, sudah memutuskan Denok, karena Das sangat menyayangi dan menghargai Mama. Dasen berharap, Mama benar-benar menilai Denok dengan adil, seperti Mama menilai Genta. Apa sih lebihnya dia? Bahkan karena mempertahankan pandangan Mama tentang anak pungut kesayangan mama itu." Dasen membuka pintu kamarnya dengan kasar.


"Das ... ." Senja menahan pintu Dasen.


"Dasen tidak mengapa, Ma. Dasen paham. Tapi Das akan membuktikan pilihan dan penilaian Dasen tidak salah kali ini. Maaf, Ma. Das mau mandi dulu."


Senja bergeming ketika pintu kamar itu tertutup dan terkunci rapat. Perempuan itu mengelus dadanya, menarik napas untuk mengatur perasaannya yang sedang tidak menentu.


Sementara itu, Beyza dan Genta baru saja menginjakkan kaki di gate kedatangan internasional.


"Syukurlah! Pesawatnya belum mendarat, Kang." Beyza berdiri sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari-cari sesuatu yang patut untuk dicurigai.


"Orang-orangku sudah ada di sini, Mbak. Kamu tenang saja. Sekarang kamu menghadap aku, naikkan dagumu, aku tidak sedang ingin menciummu. Tapi Inez sedang berjalan tidak jauh dari belakangmu." Genta berbicara tepat di depan hidung Senja.


"Dasar gila! Kalau aku jadi dia, aku tidak akan menuruti perintah mamanya. Ada berapa orang suruhanmu di sini." Beyza mengusap-usap lengan Genta.


"Cukup untuk membuat orang suruhan keluarga Inez tidak keluar. Jika mereka tidak mempunyai rencana lain. Bisa dipastikan, rencana mereka bisa dikatakan gagal." Genta semakin mengikis jarak, hidung jeduanya kini saling menempel.

__ADS_1


"Terimakasih, Kang. Semoga tidak ada rencana kedua." Beyza malah mengecup bibir Genta sekilas.


...Genta bisa melihat Inez dengan leluasa, karena memang perempuan itu tidak mengenali dan tidak pernah bertemu dengannya. Genta sendiri tahu wajah Inez dari foto-foto yang ditunjukkan Beyza. ...


"Apakah kita harus seperti ini terus?" Tanya Beyza, merasa tidak enak karena terlihat bermesraan di tengah keramaian. Meski pun lama hidup di luar negeri, dia masih ingat kalau kini dia sedang berada di Indonesia. Negeri yang masih menjunjung tinggi nilai adab, budaya, dan sopan santun.


"Sebentar, Mbak. Lagi pula, apa ruginya kita berada di posisi seperti ini." Genta malah memeluk Beyza, tapi ekor matanya lincah menari ke sana ke mari melihat kondisi.


Melihat Inez duduk di bangku besi tidak jauh dari ruang kedatangan, dia pun menyuruh Beyza bersiap untuk menghubungi Derya.


Begitu mendengar suara petugas bandara mengumumkan pesawat yang ditumpangi Derya sudah mendarat, Beyza segera menghubungi nomer telepon saudara kembarnya itu berkali-kali tidak sampai putus. Dia tidak ingin Inez mendapatkan celah untuk bisa menghubungi Derya lebih dahulu.


Setelah delapan kali menghubungi, akhirnya Derya menerima panggilan dari Beyza juga. Dengan cepat dan jelas, Gadis itu memberikan arahan pada Derya.


Genta melepaskan pelukannya, saat melihat Inez meninggalkan tempat di mana mereka berada.


"Mereka ada rencana kedua, Mbak." Genta dengan wajah tetap tenang, dia menghubungi salah seorang kepercayaan yang dipercayanya untuk membantu Beyza.


"Kita harus bagaimana sekarang, Kang?" Beyza membalikkan badannya, melihat di sekitar, Inez memang sudah tidak ada.


Di saat bersamaan Derya muncul dari arah pintu keluar kedatangan penumpang.


"Kita langsung saja," Beyza langsung menarik pergelangan tangan saudara kembarnya itu tanpa ragu.


Genta masih sibuk berkomunikasi melalui sambungan ponselnya. Driver menjalankan mobil dengan kecepatan biasa. Mata Genta dan Beyza bergerak lincah mengawasi keadaan. Sementara Derya yang belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, terlihat sangat kebingungan.

__ADS_1


"Bey, Gen, sebenarnya ada apa ini?" Tanyanya.


__ADS_2