
Jantung Inez semakin berdetak cepat, menjadi salah tingkah dan serba salah. Untung saja, dia selamatkan dengan teriakan Zain yang memanggil mamanya untuk segera sholat berjamaah.
Di luar, Inez mondar mandir tidak tenang. Perbedaan agama dalam sebuah hubungan, bagi seseorang masih sangat prinsip.
Orangtuanya saja menentang keras, entah dengan orangtua Derya. Tidak ada hal yang bisa dilakukan jika permasalahannya adalah tentang keyakinan yang sama-sama kuat.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya orang-orang yang membuat hati Inez berdebar kembali muncul. Senja tidak terlalu bersikap ramah, tapi juga tidak bersikap ketus.
Pertanyaan besar timbul di hati Zain dan juga Darren. Ketika ada teman apalagi kekasih anaknya, biasanya Senjalah yang paling semangat mencari tahu dan bertanya-tanya. Tapi kali ini, Senja lebih banyak diam.
Selama perjalanan menuju mansion milik Opa Hutama, tidak banyak pembicaraan yang mereka lakukan selain menanyai Derya tentang beberapa hal mengenai kesiapan acara serah terima jabatan CEO dari Hyeon--salah satu adik kembar Senja kepada Derya.
Tidak sampai tiga puluh menit, mereka pun sampai di mansion Hutama. Zain langsung menuju kamarnya untuk beristirahat.
"Der, antar Inez ke kamarnya. Setelah itu, kamu ke kamar Mama. Ada yang perlu kita bicarakan," ucap Senja sembari menggandeng tangan Darren menuju kamar mereka di lantai satu.
Derya mengantar Inez ke kamar tamu.
"Ay, sepertinya, Mamamu tidak menyukaiku. Bukankah kamu bilang, mamamu adalah orang ramah dan baik? Tapi sepanjang perjalanan aku tidak merasakan keramahannya, yang aku rasakan justru sikapnya dingin. Senyumnya begitu berat," protes Inez.
"Jangan menghakimi Mamaku seperti itu, Nez. Hal yang lebih parah dilakukan papa dan mamamu saat tahu kita berbeda keyakinan. Jika aku saja mau berjuang dan menjalani perlakuan mereka tanpa mengeluh, kamu pun seharusnya melakukan hal yang sama," tegas Derya. Dia sedikit kecewa melihat sikap Inez yang tidak sabar dan malah seperti menghakimi Senja.
"Entahlah, aku merasa mamamu tidak seperti yang kamu ceritakan." Inez tetap teguh pada pendiriannya.
"Istirahatlah! Aku akan menemui mamaku dulu. Dari awal kita sudah tahu kita berbeda dan paham resikonya, kita melangkah sampai di titik ini pun, juga karena komitmen kita untuk berani menghadapi orangtua kita bersama-sama. Jika masih di sini kita sudah mengeluh, lebih baik, kita sama-sama mundur," tegas Derya, lalu berjalan meninggalkan kekasihnya itu di kamar tamu.
"Ada apa, Ask?" tanya Darren sembari mengganti pakaiannya dengan kaos polos dan celana pendek rumahan.
__ADS_1
Senja menarik napas berat. "Kamu tahu, Ask. Selama ini, Senja tidak pernah memberikan kriteria yang muluk-muluk untuk seseorang menjadi pendamping anak-anak. Tapi yang Senja inginkan adalah seiman. Itu penting. Pernikahan itu banyak ujiannya, agama itu ibarat rambu-rambu. Kalau rambu-rambunya saja tidak sama, tentu pengguna jalannya akan bingung."
"Siapa yang kamu maksud?" Darren mengernyitkan keningnya karena benar-benar tidak paham.
"Derya dan Inez," jawab Senja, singkat dan jelas.
Darren meraup wajahnya dengan kasar, kalau secara dirinya pribadi, yang sangat terbuka dengan perbedaan, hal yang dikatakan istrinya tadi, bukanlah soal baginya. Banyak temannya yang menjalani hubungan pernikahan beda agama. Tapi menentang Senja langsung saat ini juga, hanya akan menjadi masalah bagi dirinya sendiri.
Senja mengganti bajunya dengan daster polos tanpa lengan berwarna hijau botol. Sudah puluhan tahun bersama, kekaguman Darren pada istrinya tidak pernah pudar.
"Jangan terlalu dipikirkan dulu, belum tentu Derya akan melangkah lebih jauh. Biarkan mereka saling mengenal. Kalau Tuhan tidak memberi jalan buat berjodoh, pasti ada saja alasan untuk berpisah." Darren mengecup lengan Senja dengan lembut sembari memeluk istrinya dari belakang.
"Senja tahu bagaimana Derya, anak itu bukan titisanmu. Yang gampang membawa teman gadisnya ke rumah hanya untuk membuat gadisnya kepedean. Ini kali pertama Derya memperkenalkan teman dekatnya." Senja melepaskan diri dari pelukan sang suami.
Ketika sesaat keduanya terdiam, pintu kamar terdengar di ketuk dari luar. Senja segera membuka pintu karena dia yakin kalau Derya lah yang datang.
"Kenapa harus, Inez? Apakah perempuan-perempuan yang seiman tidak bisa membuatmu jatuh cinta? Kenapa kamu tidak hati-hati, Der? Apakah keluarga Inez tahu dan menyetujui kamu berhubungan dengan anak mereka?" cecar Senja.
Derya meraih tangan mamanya dan menggenggamnya erat. "Andai jatuh cinta bisa memilih, Derya tidak mungkin bersama Inez. Orangtua Inez pun tidak menyetujui hubungan kami. Tapi kami yakin, kami bisa menjalaninya, Ma."
Darren hanya menyimak di tepian ranjang, saat-saat seperti ini tidak ingin menambahi atau memberi masukan apapun dulu. Senja dan Derya memiliki sifat yang sama. Keduanya bersahaja di segala suasana, tapi ketika sudah meyakini sesuatu, maka tidak akan ada kata menyerah sebelum benar-benar kalah atau salah.
"Kamu sudah dewasa, masa depan juga ada di tanganmu sendiri. Jika kamu mau menjalani dan meneruskan hubunganmu dengan Inez. Silahkan saja. Pilihan ada ditanganmu. Tapi jangan pernah pertanyakan restu, Mama." Senja kembali membuka pintu, memberi isyarat pada Derya untuk keluar dari kamarnya.
Derya keluar tanpa mengucap sepatah kata pun. Saat ini, Derya pun sudah memiliki tekad yang bulat untuk mempertahankan hubungan dengan Inez.
Darren mendekati istrinya, merengkuh pundak mulus sang istri lalu memeluknya erar sembari mengusap lembut rambut Senja yang wangi. "Sabar, Ask."
__ADS_1
.
.
Sementara itu, karena lembur Beyza baru saja keluar kantor, padahal waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Sebelum pulang, dia pun memilih makan di sebuah resto yang tidak jauh dari tempatnya bekerja.
Beyza merasa tidak terganggu dengan keramaian, tapi dia juga tidak terusik dengan kesepian, walaupun ke mana-mana selalu sendirian. Gadis itu bukan lagi putri Darren Mahendra yang manja.
Bagi sebagian orang, jatuh cinta di usia remaja adalah hal yang biasa. Seiring waktu berjalan, perasaaan dan cinta itu akan menghilang, berganti dengan rasa yang lain. Tapi tidak bagi Beyza. Sampai detik ini, perasaan kagum dan cintanya, masih milik Genta seorang.
"Hai... boleh aku bergabung di sini?" tanya seseorang membuyarkan lamunan Beyza yang sedang menunggu makanan pesanannya.
"Hai... tentu saja boleh. Silahkan!" jawab Beyza sembari menunjuk kursi tepat di depannya.
"Terimakasih." Michel menarik kursi dan segera duduk di sana.
"Kamu tinggal di mana?" Beyza mengawali obrolan mereka.
"Di Lavender street. Di sebuah apartemen sederhana. Michel yang dulu, bukanlah Michel yang sekarang. Jika dulu aku menghamburkan uang, sekarang uang sedolar pun akan aku buru mati-matian." raut wajah Michel terlihat sedih saat mengatakannya.
Beyza tersenyum tipis, dirinya ingin mencoba menyemangati Michel. "Kenapa kamu tidak pulang ke Indonesia saja. Kakakku pasti akan memberikan pekerjaan dan menolongmu." ucapnya.
Belum sampai Michel menjawab. Mata Beyza melihat sosok yang sangat baik dipikirannya. Tidak memedulikan apa pun lagi, dia pun mengejar sosok itu dengan secepat mungkin.
Dengan nafas terengah-engah, Beyza berhasil mencekal lengan kekar sosok tersebut.
__ADS_1