
Setelah tragedi bunga, Senja memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dia mengunci pintu rapat-rapat. Tidak ada satu pun yang berhasil membuat ratu di kediaman Darren Mahendra itu membuka pintunya.
Hingga menjelang subuh, Senja mendengar suara Zain sedang adzan di mushola lantai satu. Dia pun segera beranjak bangun dan mandi seperti biasa.
Selesai bersiap, Senja langsung mengenakan atasan mukenanya untuk turun ke bawah. Dia melihat tiga pintu kamar yang berderet di seberang kamarnya sudah sedikit terbuka. Menandakan sang penghuni juga sudah terbangun.
Senja memutuskan untuk langsung turun ke bawah. Sengaja membiarkan tim posesif berpikiran kalau dirinya masih marah dan kesal dengan mereka.
Sampai di Mushola, masih ada Zain saja bersama beberapa asisten rumah tangganya.
"Pagi, Ma," sapa Zain.
"Pagi, Sayang. Pulang jam berapa semalam?"
"Baru pulang satu jam yang lalu, Ma." jawab Zain dengan pelan.
Senja tidak ingin membahasnya sekarang. Apalagi ada orang lain di sana, dan rombongan posesif pun sudah datang.
Darren menaikkan alisnya saat melihat Senja. Tapi sayang yang digoda pura-pura tidak melihat.
Daddy empat anak itu langsung mengambil posisi sebagai Imam. Benar-benar Darren memang pandai mengambil hati Senja. Lantunan surah pendek dari bibirnya pasti sanggup membuat sang istri melupakan kekesalannya.
Tapi ternyata dugaan Darren kali ini salah, seusai sholat berjamaah. Senja malah menghampiri Zain dan mengajak anak pertamanya itu berbicara di lantai empat. Menunggu matahari pagi untuk berjemur, sekaligus melihat fajar di sana.
"Dadd, mama masih kesel rupanya," bisik Beyza.
"Kita lihat saja, kalau mama tidak menyiapkan baju dan makan pagi untuk Daddy, berarti masih akan berlanjut," sahut Derya.
"Daddy sih. Coba Daddy tidak berpikiran yang aneh-aneh." Dasen melempar kesalahan pada Darren.
"Lah, kalian kan juga berpikiran aneh-aneh. Terus kenapa Daddy saja yang disalahkan." Darren menjawab dengan kesal.
"Sudah, sudah, jangan saling menyalahkan. Saatnya memperbaiki keadaan. Sepertinya, membiarkan mama me time, akan membuat mama merasa dipercaya dan bahagia. Hari ini, mari kita biarkan mama keluar rumah tanpa kita," usul Beyza.
Dasen mengernyitkan keningnya. Dia sangat keberatan. Sama halnya dengan Darren. "Tidak!" ucap keduanya kompak.
"Setuju dengan Beyza," sahut Derya.
__ADS_1
"Baiklah satu banding satu. Kita tanya pendapat kak Zain untuk menentukan. Yuk!!" ajak Beyza pada yang lain.
"Tunggu nanti saat makan pagi saja, sepertinya mama dan kak Zain sedang bicara serius," kata Darren.
Beyza mengangguk. "Kita bersepada saja, yuk!" ajaknya. Darren,Derya dan Dasen pun setuju.
Senja dan Zain terlihat duduk di pinggiran kolam sembari mencelupkan sebagian kakinya ke air.
"Ma, Airin minta pernikahan kami dipercepat." Zain membuka pembicaraan.
"Terus kamu bagaimana?"
"Apa Airin merasa umurnya sudah tidak panjang lagi ya, Ma? Mama tahu sendiri kan, kemarin-kemarin dia ragu karena takut mewarisi penyakit pada keturunan kami."
Senja tidak langsung menjawab, dia meraih tangan anak pertamanya itu. "Boleh mama jawab jujur?"
"Tentu saja," jawab Zain sembari mengusap punggung tangan sang mama.
"Firasat mama mengatakan, waktu Airin tidak lama lagi. Mama bukan Tuhan. Tapi kita harus realistis,segala pengobatan yang kalian coba bahkan ditolak oleh tubuh Airin. Mungkin Airin, memang ingin bahagia di sisa umurnya. Sekali lagi, Mama tidak mendahului Tuhan. Kita bicara realistis. Kalau pun Airin bisa sembuh, Mama tidak ingin kalian mempunyai keturunan," Senja sangat hati-hati saat mengucapkannya.
"Mama jangan merasa tidak enak, karena dari pandangan ilmu kedokteran pun, usia Airin hanya menghitung bulan. Kami hanya menunggu keajaiban, jika toh keajaiban itu tidak datang. Setidaknya kami sudah memberikan kebahagiaan pada Airin." Zain menghirup napas dalam-dalam.
"Zain pernah kehilangan orang yang luar biasa bagi Zain, separuh hati Zain saat itu. Bahkan saat usia Zain masih kecil. Zain, bisa menerima kepergiaan papa. Apalagi sekarang, Zain tidak takut apapun, karena akan selalu ada Mama di samping Zain."
Senja menyandarkan kepala di bahu Zain. "Itu kenapa mama selalu mengatakan kalau Mama banyak belajar dari kamu, Zain. Terimakasih karena menerima pernikahan Mama dengan Daddy."
"Mama, sangat pantas bahagia. Terus bagaimana pernikahan Zain? Mama setuju kan? Mama bisa mengaturnya kan?" Zain mengembalikan pemicaraan ke topik semula.
"Nanti, Mama bicarakan bareng Daddy. Tapi jangan sekarang, Mama sedang pura-pura kesal."
Zain melihat mamanya dengan tatapan heran. "Kesal?" tanyanya.
"Iya, kamu tahu? Daddy dan adik-adikmu menuduh Mama selingkuh. Hanya karena mama dapat bunga tidak bernama. Padahal itu hadiah dari mama beli korset. Mereka kompak sekali," dengus Senja.
Tawa Zain seketika lepas. Untung saja, dia tidak di rumah semalaman. Bisa-bisa dia juga terlibat dengan tim posesif. Karena kadang pengaruh Daddynya memang sangat kuat.
****
__ADS_1
Setelah mandi dan selesai sarapan. Semua kini sudah bersiap menjalankan rutinitas masing-masing.
Dasen,Beyza dan Derya sudah bersiap berangkat sekolah. Zain sudah segar untuk dinas pagi di rumah sakit, Darren dengan penampilan yang masih sangat mempesona juga sudah siap untuk ke kantor.
Semuanya hanya sedang menunggu Senja yang masih mengambilkan bekal untuk sang suami. Meskipun sedang kesal, Senja tidak tega kalau sampai suaminya itu telat makan.
Melihat Senja keluar membawa kotak bekal. Semua tersenyum lega.
"Kak Zain, menurut kakak, kalau hari ini, mama kita izinkan seharian bebas kemanapun Mama mau bagaimana? Sendirian."
Pertanyaan Beyza seketika membuat Zain dan Senja kaget. Pasalnya, ibu dan anak itu tidak tau tentang voting yang sudah terjadi sebelumnya. Zain juga tidak tahu kalau suaranya adalah penentu.
Zain bergantian menatap Darren, Dasen, Beyza dan Derya. Ke empatnya memberi isyarat sesuai voting mereka sebelumnya. Dua mengangguk dan dua menggeleng.
"Boleh," jawab Zain, akhirnya.
Lemaslah badan Darren dan titisannya. Sementara yang lain terlihat biasa saja. Tentu saja, Senjalah yang paling beebahagia.
"Terimakasih ... kalian baik sekali. Demi kenyamanan. Ponsel akan di off." Senja mengulurkan tangannya agar anak-anak segera berangkat dengan mencium punggung tangannya.
Anak-anak pun masuk ke mobil yang mengantar mereka ke sekolah. Zain menyusul di belakang setelah membisikkan sesuatu pada mamanya. Tinggallah Darren yang jadi enggan untuk berangkat ke kantor.
"Seneng?" tanyanya dengan wajah kesal.
"Bangettttttt." Senja sengaja menjawab dengan ekspresi bahagia yang berlebihan.
"Boleh nemenin tidak?" Darren memelas.
"Komitmen, please." Senja mengingatkan akan ucapan yang disepakati.
Tanpa mengecup Senja seperti biasa, Darren langsung masuk ke dalam mobilnya dan berangkat. Senja tidak peduli. Karena kesempatan seperti ini sangatlah langka.
******
Kini, Senja sudah berada di dalam sebuah pusat perbelanjaan. Dia ingin membelikan beberapa kemeja untuk Darren dan Zain.
Saat hendak melihat kemeja yang dikenakan manekin, tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan tangan seseorang yang mungkin juga mempunyai tujuan yang sama dengannya.
__ADS_1
Melihat wajah seseorang itu, membuat wajah Senja seketika memerah.