
"Tidak masalah mau berganti baju berapa kali. Tapi, kenapa Mama mematikan ponsel? sepenting apa meetingnya, sampai Mama mengabaikan kami?" Beyza mulai berlebihan.
"Mengabaikan?" Senja megkerutkan dahinya.
"Bukankah, Mama tidak pernah mematikan ponsel saat ke luar rumah? lalu, kenapa kali ini dimatikan?" Beyza menghampiri Darren dan langsung bergelayut di lengan daddy nya dengan manja.
Senja langsung mengambil duduk di samping Derya, memijat pelipisnya dengan pelan. 'Kenapa hanya aku yang salah?' batinnya.
"Dadd, Mama ngeselin," rengek Beyza.
Zain, Airin dan Derya sepakat untuk diam. Percuma membujuk Beyza yang sedang merajuk. Biarlah Darren yang akan mengatasi.
Belum tuntas, urusan Beyza. Dasen turun dari lantai dua bersama Michel dan Rama. Mengira Senja membawa makanan yang dipesannya.
Michel dan Rama menyapa semua yang ada di ruangan, lalu berdiri di belakang Dasen.
"Sudah disiapain bi Imas kan, Ma?" tanya Dasen.
"Siapin apa? Masih mau makan siang? jam segini?" Senja malah balik bertanya.
"Ma, jangan bilang Mama lupa pesanan, Das. Kan sudah Mama bales 'oke' tadi." Dasen sudah terlihat mulai kesal.
Senja segera mengambil ponselnya, mencari pesan masuk dari Dasen. Benar saja, anak itu memesan steak di restaurant sebelah kantornya. Sungguh Senja tidak tahu ada pesan itu, apalagi menjawab 'oke.'
Seketika dia menatap Darren, yang langsung memberikan kode dengan tatapan yang memelas, seolah ingin minta maaf.
Perempuan itu pun segera menghampiri Dasen. "Das, maafin Mama. Tadi Mama buru-buru pulang, karena notice pesan masuk dari adik-adikmu banyak sekali. Kamu mau makan apa? biar Mama buatin, atau ajak tememu makan di luar saja." Senja terlihat merasa bersalah.
"Nggak usah deh, makan yang ada saja." Dasen meninggalkan Senja dengan wajah cemberut, lalu mengajak dua temannya tadi ke dapur.
Airin memandangi Zain, merasa beruntung berada di tengah keluarga yang kaya raya, tapi masih menjunjung tinggi pentingnya perhatian, kehangatan dan kebersamaan.
"Mama, jangan matikan ponsel lagi ya kalau ke luar rumah. Kalau Derya kangen dan pengen tahu kabar Mama bagaimana?" Derya menghampiri mamanya yang masih berdiri tertegun setelah ditinggal Dasen begitu saja.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Maafkan Mama," ucap Senja, dengan tulus.
"Der, ke atas dulu. Love you, Ma." Derya memeluk Senja seperti biasa.
"Love you more, Sayang." Senja membalas pelukan Derya.
Berbeda dengan anak yang lain. Kekecewaan, marah atau apapun yang dirasakan Derya. Tidak ditunjukkan secara berlebihan.
Beyza mengajak daddynya naik ke lantai dua. Dapat dipastikan, sampai nanti malam Beyza lah yang akan menguasai Darren. Senja tidak mungkin boleh mendekat. Selalu seperti itu, kalau sedang kesal dengan mamanya. Daddy Darr selalu menjadi sasaran pelampiasan, agar tidak dekat-dekat sang mama.
Senja Kini duduk di samping Airin. "Bagaimana, Rin? kerasan tidak di sini? ramai ya? beginilah kami. Tiada hari tanpa kegaduhan."
"Ai malah senang, Ma. Di rumah selalu sepi. Ai, tidak mungkin becanda seramai ini dengan ayah-bunda."
"Karena kamu anak tunggal, Rin. Makanya kalian nanti punya anak yang banyak. Tapi jarak di atur, jangan seperti Mama. Biar ramai, dan lucunya gantian." Senja mengatakannya sembari tersenyum hangat.
Airin dan Zain kompak menundukkan wajahnya. Bicara tentang keturunan, lagi-lagi membuat nyali mereka menciut dan menjadi pesimis.
"Ma, boleh kami berbicara serius dengan Mama? kami ingin tahu pendapat jujur dari Mama." tanya Zain.
"Di kamarnya Airin saja." Zain langsung berdiri.
"Baiklah."
Airin berjalan berdampingan dengan Zain, sedangkan Senja di belakang mereka sambil menenteng tasnya.
Di kamar Beyza, Darren duduk di tepian ranjang. Menunggui putri satu-satunya yang sedang belajar.
"Bey, daddy ke kamar sebentar ya, daddy mau ganti celana pendek." Darren mencoba mencari alasan agar terlepas dari kekangan Beyza.
"Tidak perlu, Dad. Begitu saja sudah keren. Sudahlah, Mama harus dihukum karena membuat kami kehilangan jejak, bingung, cemas dan kesal," ucao Beyza dengan santainya.
Darren menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Senja yang dihukum, tapi kenapa malah Darren yang tersiksa.
__ADS_1
"Daddy, lihat. Bahkan mama tidak naik, bukan? Beyza curiga, pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Jangan-jangan tadi meetingnya dengan pria tampan." Beyza kembali memanas-manasi Darren.
'Memang tampan, bahkan sangat tampan,' batin Dasen.
"Mama tadi, meeting sama daddy? kebetulan bertemu di tempat meeting? atau kliennya sama?" kejar Beyza.
"kebetulan bertemu di tempat yang sama.Please, daddy minta jangan diperpanjang Tidak perlu dibahas lagi. " Dassen buru-buru memotong pemicaraan, hafal betul sifat Beyza yang tidak akan berhenti begitu saja sebelum puas.
"Oke, Bey akan berhenti. Asal nanti malam daddy tidur di kamar Beyza."
"Beyza kan sudah gadis. Apa tidak malu tidur bersama Daddy? bagaimana kalau sampai teman-teman Bey tahu?" Darren berharap bujukannya kali ini mempan.
"Biarkan saja, kan Bey anak Daddy. Memang kenapaq kalau mereka tahu? Bey bangga, punya Daddy yang keren seperti Daddy." Beyza menatap Darren dengan tatapan bangga.
"Sama mama tidak bangga?" goda Darren.
"Tentu saja bangga, karena itu mama tidak boleh pergi-pergi. Mama sangat cantik, selalu saja ada yang melihat mama. Bey, tidak suka kalau mama ke luar sendiri. Harusnya papa pun begitu." Bey kembali ke masalah awal. Darren memilih untuk tidak menanggapi.
Sementara di kamar Airin. Semenjak mereka memasuki kamar, suasana mendadak hening. Zain dan Airin bingung harus memulai dari mana pembicaraan mereka.
"Ada apa, Zain? Rin?" Senja bergantian menatap keduanya dengan lembut.
"Apa mama benar-benar merestui hubungan Zain dengan Airin?" Zain berlutut di depan mamanya yang duduk di tepian ranjang.
Senja melirik ke arah Airin sekilas, lalu kembali menatap Zain. "Boleh Mama jujur?"
Zain dan Airin kompak mengangguk, meski degup jantung mereka sudah tidak lagi beraturan. Mereka seperti kembali ke titik nol, di mana dulu pertama kali Zain memberi tahu pada mamanya, kalau calon istrinya adalah seorang penderita kanker darah sama seperti dirinya.
"Jujur, mama sebenarnya juga tidak menginginkan ada pernikahan di antara kalian. Sebagai seorang Ibu, Mama takut melihat Zain sedih berkepanjangan. Mama tidak ingin mendahului Tuhan. Tapi pada kenyataannya setiap penderita kanker darah selalu berkejaran dengan kematian."
Airin semakin menundukkan kepalanya lebih dalam. Meski sebelumnya sudah menduga, tapi mendengar langsung dari mulut Senja tetap saja membuat batinnya nyeri.
"Itu jika Mama menjawab sebagai Ibu. Tapi jika Mama menempatkan diri sebagai sahabat, maka Mama akan mendukung pernikahan kalian. Siapapun berhak bahagia." Senja menarik nafas lebih dalam, lalu menghembuskan perlahan.
__ADS_1
"Airin juga berhak hidup berdampingan dengan orang yang dicintai. Kalian sama-sama dewasa. Kalian bisa membayangkan kehilangan itu rasanya seperti apa, tapi saat kalian menghadapi langsung, butuh waktu yang tidak sebentar untuk menyembuhkan luka itu," tambah Senja.
"Kalau Mama berada di posisi Airin, apa yang akan Mama lakukan?" tanya Airin tiba-tiba.