
"Dadd, memangnya kenapa?" protes Beyza.
"Karena daddy tidak suka."
"Tidak sukanya kenapa?" desak Beyza.
"Sudah jangan banyak tanya! Turuti saja apa kata, Daddy," bentak Darren. Lalu dia melangkakan kaki ke lantai dua.
Mata Beyza seketika berkaca-kaca. Ini untuk pertama kalinya, Darren membentaknya. Dan itu untuk alasan yang sama sekali tidak jelas.
"Daddy kenapa sih? Hari ini semua orang aneh, Oma tadi datang juga cuma sebentar. Orang dewasa memang rumit." Beyza menatap Derya dan kakak-kakaknya bergantian, mencari sebuah jawaban, air matanya sudah menetes.
"Karena kalian belum dewasa, ya sudah nurut saja. Belum saatnya kalian ikur campur pada hal-hal yang rumit." Zain sambil berlalu meninggalkan adik-adiknya.
Beyza menghentakkan kaki, mendekati Dasen dan Derya. "Semua orang dewasa, hari ini sangat menyebalkan."
"Sabar, Bey," ucap Derya.
"Sudahlah! Yang penting kita liburan. Tidak ada Genta malah bagus. Dia memang pengganggu. Awas saja kalau gara-gara dia, Daddy dan Mama menjadi bertengkar," sungut Dasen, yang memang tidak pernah suka dengan Genta.
.
.
Sampai di kamarnya, Darren melihat Senja rebahan sembari menggunakan ponsel seperti sedang berbalas pesan.
Senja memang sedang melakukan chat bersama Rangga, menanyakan bagaimana anak itu diakui sebagai anak Rangga, sampai beberapa detail lainnya.
Saking seriusnya dengan layar ponsel, Senja tidak tahu kalau Darren sudah duduk di tepian ranjang. Memandangi Senja dengan tatapan tidak suka.
Hingga beberapa menit, Senja belum tersadar juga. Pembahasan yang dilakukan memang sangat menarik. Ternyata hubungan Rangga dengan bunda dan ayahnya Genta sangat rumit. Bisa dikatakan cinta segitiga sampai akhir.
__ADS_1
"Apa ponsel lebih penting dari suami?" tanya Darren, dingin dan sinis. Mood nya yang tidak berantakan, membuatnya sangat sensitif.
Senja menjadi sedikit gugup dan salah tingkah, dia buru-buru meletakkan ponselnya begitu saja.
"Mau kopi?" Senja benar-benar salah tingkah. Dia beranjak berdiri, merapikan dresnya.
Darren menahan tangan Senja agar tidak kemana-mana. "Aku sedang lelah, aku sedang tidak ingin dibantah. Mulai detik ini, jangan biarkan anak yang bernama Genta itu datang ke mari, apalagi sampai memanggilmu 'Mama' pantang keluarga Mahendra berurusan dengan keturunan Malino."
Senja bergeming, mulutnya terkunci rapat. Mereka hidup bersama sudah lama. Dia tahu benar, saat ini suaminya memang sedang seperti sedang banyak memikul beban.
Ingatan masa lalu, saat mamanya digauli orang lain dengan paksa, kembali terlintas. Darren mengira sakitnya sudah sembuh, tapi mengetahui keluarganya sedekat sekarang dengan keturunan Malino membuat luka itu serasa baru didapatkannya kemarin.
Darren melepaskan tangannya dari tangan Senja. Membiarkan istrinya itu keluar untuk membuatkannya minum.
Mendengar serentetan pesan masuk di ponsel istrinya, membuat Darren menjadi penasaran. Dia akhirnya mengambil ponsel itu dan mengusap layar yang terkunci ke arah atas.
Nama Rangga yang tertulis di kontak pengirim pesan itu, membuat dadanya seketika bergemuruh, Pembicaraan keduanya sudah mengarah pada hal yang sangat pribadi. Hal yang seharusnya tidak perlu ditanyakan Senja, apa pun alasannya.
Sementara di bawah, Zain nampak berbicara serius dengan Mamanya itu. Senja menceritakan apa yang diketahuinya pada anaknya itu apa adanya.
Diusia Zain sekarang. Mengetahui berbagai permasalahan orangtuanya adalah hal yang wajar. Bahkan kadang dia bisa memberikan jalan keluar yang tidak terduga.
Seperti hal nya dengan Senja, Zain kali ini sepemikiran dengan mamanya itu. Keduanya sepakat, Genta tidak seharusnya terseret pada masa lalu yang bahkan Genta tidak tahu ceritanya. Apalagi, Genta sudah dididik Rangga sejak kecil.
"Kita akan tetap mengajak, Genta?" tanya Zain.
Senja mengangguk lembut. "Iya, kurimkan berkas kelengkapan untuk visa pada om Rangga. biar dia yang urus."
Senja buru-buru mengambil cangkir untuk membuat kopi, sepertinya sudah terlalu lama dia berbicara dengan Zain.
"Mama ke atas dulu, sementara beritahu adik-adikmu untuk tidak membahas Genta di depan Daddy." Senja meninggalkan Zain yang masih ingin mengambil camilan di dapur.
__ADS_1
.
.
Mata Senja terperangah, begitu masuk ke kamar, kondisi kamarnya sudah sangat berantakan dan seperti kapal pecah. Bantal berserakan, semua alat riasnya berhamburan di lantai. Ponselnya pun, kini layarnya sudah remuk.
Senja tidak melihat Darren di sana. Dia segera mengunci pintu, takut anak-anaknya masuk dan melihat kekacauan ini.
Genericik suara shower, terdengar samar. Pertanda Darren sedang berada di kamar mandi. Sepanjang usia pernikahannya, Darren tidak pernah mengamuk seperti ini.
Senja dengan cekatan kembali merapikan ranjangnya, membuang beberapa alat make up nya yang sudah pecah dan tidak bisa tertolong. Dia sama sekali tidak ingin memanggil Darren, mengajak berbicara dan meminta penjelasan pada orang yang sedang emosi. Hanya akan membuang waktu saja. Yang ada nantinya masalah akan semakin melebar.
Setelah kamar sudah kembali agak rapi, Darren keluar kamar. Rambutnya basah, wajahnya sedingin dulu, seperti saat Senja baru mengenal suaminya itu, matanya benar-benar merah.
Senja enggan bertanya dan menulai pembicaraan. Dia memilih melihat ponselnya yang benar-benar sudah hancur layarnya. Bahkan kini tidak menyala sama sekali.
"Jika kamu mempunyai ponsel, hanya untuk mencari masa lalu orang lain yang sama sekali tidak ada hubungan dengan kita, akan lebih baik ponsel itu hancur seperti itu," sinis Darren.
Senja memejamkan matanya, mencoba untuk tetap bersabar. Ingin mendebat tapi masalahnya akan semakin panjang.
"Kamu sudah tahu bukan, kenapa aku tidak mengijinkan kalian dekat-dekat dengan anak itu?" Darren menunjukkan wajah kecewanya pada Senja.
Sebelumnya dia tidak terlalu kecewa karena mengira, istrinya itu belum mengetahui cerita yang sebenarnya. Tapi setelah Sarita meneleponnya bahwa tadi istri Milano masuk ke dalam rumahnya, Darren menjadi murka. Dia pun melemparkan semua yang tampak di depan matanya.
"Aku tidak suka kamu mengijinkan sembarangan orang masuk ke dalam rumahku. Sudah diberi tahu jangan berhubungan dengan keluarga Milano dan Genta. Masih saja menerima mereka. Kamu itu pura-pura tuli atau bodoh?" Darren mulai mengucapkan kata-kata kasar.
Senja memalingkan wajahnya ke tembok, mencoba menahan air mata yang juga sudah mau jatuh. Haruskah kebencian masa lalu, membutakan hati suaminya.
"Kenapa kamu diam? Merasa bersalah? Atau malah tidak terima? Sebenarnya apa yang membuat kamu begitu harus menyayangi anak itu? Aku jadi curiga, jangan-jangan itu hanya alasanmu untuk mendekati Rangga," tuduh Darren dengan seenaknya.
Senja sudah tidak tahan lagi. Dia berdiri, menarik napas dalam, menghembuskan kasar, lalu menatap mata suaminya dengan tajam.
__ADS_1
"Berbicaralah sesukamu. Tidak ada orang yang sepintar dan sebenar kamu di dunia ini. Kesempurnaan hanya milik Darren Mahendra." Senja hendak berjalan keluar dari kamar, tapi Darren langsung menarik tangannya dengan kasar.