
"Mama, akan bicarakan nanti bersama daddy." jawab Senja, akhirnya.
"Bey tidak tahu apa yang membuat mama begitu kecewa dengan daddy. Tapi, Bey yakin, daddy sudah mendapatkan hukumannya."
"Derya setuju sama Bey. Mama harus kembali pulang bersama daddy. Kami tinggal di asrama, pasti akan lebih menyenangkan. Karena kami bisa merasakan hidup mandiri dan bertanggung jawab." Derya menimpali ucapan Beyza.
"Mama akan kesepian karena tidak ada kalian, kak Zain atau pun kak Das. Selain daddy, tidak ada lagi yang bisa Mama tunggu kedatangannya." Senja memanyunkan bibir saat mengatakannya.
Beyza dan Derya kompak tersenyum. Teringat betapa sering daddy dan mamanya dulu berkata ingin sesekali menikmati kebersamaan hanya berdua.
"Dulu saja, suka mengeluh tidak ada waktu berdua. Sekarang sudah ada waktu, malah tidak mau. Manusia, maunya selalu berubah-ubah," ledek Beyza.
"Bener juga. Sudahlah, Ma. Sama Daddy saja. Kita pengen tinggal di asrama. Ngerasain serunya jadi kak Das." Derya kembali setuju dengan ucapan Bey.
"Kita selesaikan dulu makannya, nanti kita bicarakan lagi. Terimakasih perhatiannya sama Mama dan daddy." Senja akhirnya menyudahi pembahasan mereka tentang dirinya.
Tidak bisa dipungkiri. Anak-anaknya memang sangat pintar dan sangat peka. Mereka dengan mudah bisa mengetahui daddy dan Mama-nya belum benar-benar berbaikan.
Kali ini, Beyza dan Derya yang menyuarakan isi hati mereka. Kalau Zain, sudah hampir setiap kali menghubungi Senja selalu mengatakan agar mamanya itu kembali ke Indonesia. Begitu juga dengan Dasen.
'Mungkin anak-anak melihat ketulusan Daddynya meminta maaf. Lalu, kenapa aku malah ingin terus menjaga jarak.' batin Senja. Masih ada keraguan di hatinya.
.
.
Dasen berdiri memandangi dirinya di depan cermin. Dia selalu senyum-senyum sendiri saat berkaca. Merasa ketampanannya memang sangat sempurna.
Terlahir dari pasangan Darren Mahendra dan Senja Khairunisa Kemala adalah anugerah bagi Dasen. Seperti yang selalu dia katakan. Dirinya adalah sultan sejak dari kandungan.
"Sudah siap, Das?" tanya Mike sembari merapikan rambutnya.
"Sudah dong. Kamu tahu kan? Bangun tidur saja, aku ganteng. Apalagi dandan seperti ini. Kamu bisa lihat sesempurna apa aku ini." Dasen merangkul Mike. Mengajak keluar dari kamar mereka.
Dua sahabat baru itu, menaiki taxi online yang sudah dipesan sebelumnya. Uang bukan masalah bagi keduanya, meski Mike tidak sesultan Dasen, tapi papa-nya adalah orang kaya nomer satu di kota M.
__ADS_1
Sebelum masuk ke dalam club, Dasen memastikan penampilannya terlebih dahulu. Lagi-lagi Dasen membasahi bibirnya dengan lidahnya sendiri dan menyunggar rambut depannya ke belakang.
"Perfect," pujinya pada diri sendiri.
Dentuman keras Electronic Dance Music (EDM) langsung menyapa telinga begitu Dasen dan Mike memasuki lantai tiga Club Moon. Lantai di mana dance floor berada.
Tidak seperti club-club orang dewasa pada umumnya, club ini free alcohol juga no smoking area. Sangat ramah untuk pelajar dan tidak ada baju seksi yang ditampilkan pelayan yamg bekerja di sana.
Dasen dan Mike mencari tempat duduk yang paling strategis untuk melihat target yang akan didekati mereka nanti. Suasana club yang remang, biasanya membutuhkan kejelian dan insting kuat untuk benar-benar mendapatkan gadis yang tepat.
"Delia mana, Das?" tanya Mike.
"Entahlah. Kamu cari saja sendiri." Dasen terlihat cuek.
Seorang pelayan dengan jelana jeans dan atasan ketat berwarna putih datang menghampiri mereka dan memberikan buku menu.
"Silahkan..." kata pelayan itu.
Dasen dan Mike memilih minuman dan beberapa camilan ringan untuk mereka.
Sampai 15 menit mereka di sana. Delia belum juga datang, target high quality pun belum Dasen temukan.
"Aku ke toilet dulu." pamit Dasen sambil berdiri dan langsung berjalan menuju arah toilet.
Belum sampai ke lorong menuju tempat yang dia inginkan tadi, langkah kaki Dasen mendadak berhenti. Dia melihat sosok yang tadi siang sangat mencuri perhatiannya.
"Sekar," gumamnya.
Dasen mengedarkan pandang, mencari keberadaan sosok kakaknya di sekitar Sekar. Karena dia tidak ingin berada di tempat seperti ini dengan siapa pun saudaranya. Karena tentu akan membuatnya tidak lepas saat mengekspresikan diri.
Melihat Sekar berjalan ke arahnya, membuat Dasen tersadar kalau Sekar bekerja menjadi pelayan di sana.
"Sekar," sapa Dasen, sembari menebarkan senyum terbaiknya.
Sekar tersenyum sekilas. "Sebentar, Das. Aku antar ini dulu," Sekar mengangkat buku menu dan kertas yang dipegangnya pada Dasen.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Sekar kembali menghampiri Dasen. "Sendirian?" tanyanya.
"Sama teman. Kamu bekerja di sini?" Dasen hanya ingin memastikan.
"Ya, seperti yang kamu lihat." Sekar menunjukkan jeans dan kaos khas pelayan di sana dengan bangga.
"Kamu keren sekali. Kalau ada lowongan pelayan lagi, aku mau. Aku ingin menambah uang jajanku," Dasen mulai menggencarkan serangan.
Sekar tersenyum tipis. "Kerja di sini itu berat, Das. Tidak akan sanggup dilakukan anak sultan. Kaosmu dan gaji kami di sini. Jauh lebih mahal kaosmu itu. Belajar saja yang benar." Gadis itu menepuk pundak Dasen sembari meninggalkannya menuju sebuah meja yang memanggil pelayan.
Dasen menjadi semakin penasaran pada Sekar. Baru kali ini dia seperti dianggap biasa. "Apa karena usianya lebih tua dariku? Atau kak Zain memang lebih keren dariku?" gumamnya.
Kembali dari toilet, ternyata di mejanya. Mike sudah bersama dengan Delia dan seorang temanna bernama Emily. Jelas dari wajah dan aksennya saat berbicara, Emily adalah warga asli UK.
Ke empatnya berbicara hangat dan akrab. Sejak mengetahui kalau Sekar bekerja di club, Dasen tidak ingin hunting lagi. Dia sangat penasaran dengan sosok Sekar, karena itu dia masih tidak ingin menambah target lagi. Tapi dia tidak akan menolak jika ada yang mendekati dia lebih dulu.
Emily dan Delia jelas berlomba-lomba menarik perhatian Dasen. Tapi, sepertinya, jika tersisa dua gadis di depannya itu untuk dipilih Dasen, maka Emily lah pilihannya.
Delia yang kesal dengan Dasen yang lebih menanggapi Emily, akhirnya memutuskan untuk turun ke dance floor bersama Mike. Keduanya menggoyangkan badan, dari kaki hingga kepala mengikuti EDM.
Emily bergelayut manja di lengan Dasen. Kini keduanya duduk begitu rapat.
"Apa kamu mempunyai kekasih?" tanya Emily.
Dasen menggeleng kuat. "Tidak. Aku belum suka terlalu berkomitmen. Aku tidak suka terikat."
"Kita sepemikiran, Das. Aku pun begitu. Kita masih muda, buat apa mengikatkan diri pada satu orang. Kalau kecewa, kita sendiri yang akan rugi," timpal Emily.
"Kita sefrekuensi."
"Pernahkah kamu berciuman? Jika belum, aku bisa mengajarimu. Kemarilah." Emily menarik tangan Dasen begitu saja. Sedikit memaksa Emily mencium bibir Dasen. ******* bibir merah dan manis milik titisan Darren Mahendra itu dengan sangat sabar dan lembut.
Dasen yang diberi umpan pun tidak menolak. Dia mengikuti saja apa yang diajarkan Emily padanya. Mencoba menikmati dan mencerna pelajaran yang diberikan Emily. Semakin lama, Dasen merasakan tubuhnya semakin memanas. Ada sesuatu didalam dirinya yang bergejolak dan berubah ukuran. Dia pun segera menjauhkan bibirnya dari bibir Emily.
"Enough...," Dasen pun menyerah.
__ADS_1