Hot Family

Hot Family
Sakit semua


__ADS_3

"Semoga saja rencana Mama berhasil, kalau tidak, bukan tidak menutup kemungkinan kitalah yang harus membayar mahal," Inez mengucapkannya dengan tegas.


Perempuan berkulit putih, berbadan sedikit melebar itu tersenyum licik. "Kamu pikir bagi orang sok kaya seperti mereka kehormatan dan nama baik itu tidak penting? Apa jadinya kalau publik tahu anak mereka yang juga CEO perusahaan besar melecehkan bahkan menghamili perempuan lain."


"Ma, belum tentu Inez hamil. Kami hanya melakukan sekali."


"Sekali? Bagaimana mungkin? Kamu jangan membohongi mama,Nez." Mama Inez langsung menampilkan wajah kesalnya.


"Benar, Ma. Setelah kejadian sekali itu. Derya menghindari dan menjaga jarak dengan Inez."


"Kamu benar-benar bodoh, Nez! Buar apa kamu mempunyai wajah yang cantik dan tubuh yang sangat indah kalau merayu laki-laki saja tidak bisa," ucap Inez, tanpa beban dan dosa sedikit pun.


"Ma, seharusnya Mama bersyukur Inez mendapatkan jodoh seperti Derya. Dia menghargai Inez. Tapi gara-gara Mama, semua hancur. Jika akhirnya gagal dan kalau sampai Inez kehilangan Derya, maka semua salah mama." Inez hendak berdiri meninggalkan mamanya. Tapi tangan perempuan itu segera mencengkram lengan Inez dengan kuat.


"Kamu akan berterimakasih pada Mama, Nez. Karena kamu akan menjadi menantu mereka lebih cepat. Tidak perlu menunggu mertuamu yang sok itu, sampai menyetujuimu.


"Berharap saja, Ma. Yang Inez tahu, Mamanya Derya tidak mudah diperdaya. Ditambah lagi kalau daddy-nya mulai ikut turun tangan. Kita tidak akan mungkin bisa melawan mereka." Inez menurunkan tangan perempuan itu dari lengannya. Lalu dia memilih masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamarnya, Beyza sedang melakukan zoom meeting dengan orang-orang suruhan Genta yang mengintai dan mengawasi Inez beserta keluarganya.


Belum ada laporan berarti yang diberikan. Mereka hanya menyusun rencana bersama agar mendapatkan informasi secepat mungkin.


Beyza mengakhiri zoom meetingnya begitu mendengar pintu kamarnya diketuk. Dengan cekatan, dia segera membuka pintu itu.


"Iya, Dadd," sapa Beyza begitu melihat Darren berdiri di depan pintu.


Pria itu melongokkan kepalanya ke dalam kamar Beyza, seperti sedang mencari sesuatu di sana. "Mama tidak di sini?"


"Oh, mencari mama? Mama tidak di sini." Beyza menjawab santai.

__ADS_1


"Kemana dia?" Darren meninggalkan tempat sembari bersungut-sungut. Beyza hanya bisa mengelus dada. Tetapi, dalam hati dia berharap Genta akan seperti daddy-nya saat mereka menikah nanti. Yang semakin bertambah usia pernikahan, malah semakin mencintai istrinya dengan luar biasa.


Senja sendiri sudah rebahan di atas kasur empuk Dasen. Dia memiringkan badannya sembari mengusap lembut rambut titisan Darren yang sedang sakit itu.


"Ma ...," panggil Dasen, lirih.


"Hmmmn ... kamu mau tidur atau mau ngomong?"


"Tidur sambil ngomong. Das lagi seneng."


"Seneng? Sakit kok seneng, kamu itu aneh," dengus Senja, seketika menghentikan belaiannya.


"Das senang, diperhatikan sama Mama lagi Sudah beberapa hari, Mama mengabaikan Das. Telepon tidak diangkat, whatsapp tidak dibalas. Tapi malam ini, Mama memperhatikan Das lagi."


Senja tidak menjawab, karena suara ketukan pintu kamar Dasen, harus membuatnya beranjak turun dari ranjang.


"Di sini rupanya. Kenapa lama sekali. Badanku tidak enak, Ask. Seperti mau flu," keluh Dasen dengan manja.


Darren masuk ke kamar Dasen, sedangkan Senja langsung keluar menuju kamar Zain.


"Tadi kamu baik-baik saja, tapi mengapa mendadak sakit begini? Jangan bilang ini akal-akalan untuk mendapat perhatian mamamu?" selidik Darren sembari mendudukkan bokongnya di tepian ranjang.


"Sakit beneran, Dadd. Sebelumnya sudah tidak enak badan. Tadi telat makan siangnya, karena tidak sempat. Ada beberapa yang harus diurus di rumah sakit. Sepertinya, luka di kepala ibunya Denok cukup serius."


Darren memanggut-manggutkan kepalanya. "Jaga kondisi, Das. Daddy tidak melarangmu, juga tidak mendukungmu. Yang terpenting, kamu harus bisa menjaga perasaan mamamu. Selalu ingat! Jauh sebelum ada perempuan lain yang mengerti dan menyayangi kamu, mamamu sudah lebih dulu melakukan semua hal untukmu," tutur Darren.


"Itu tidak mungkin terjadi, Dadd. Denok dan mama menempati posisi yang berbeda di hati Das. Mencintai Denok, dan menentang pendapat mama, bukan berarti Das sudah tidak menganggap mama lagi. Posisi saat ini, Denok hanya korban, Dadd. Dia lebih tersiksa." Dasen mengubah posisi tidurnya menjadi bersandar


"Denok juga mengalami tekanan batin, Dadd. Siapa anak yang tidak malu mempunyai ibu seperti itu. Asal Daddy tahu, kecelakaan itu terjadi saat ibunya mau lari dengan selingkuhannya. Dia diceraikan bapaknya Denok, karena ketahuan masih suka menjual diri. Menurut Daddy, bagaimana rasanya jadi Denok?" Dasen membalas tatapan Darren dengan tenang.

__ADS_1


"Sepertinya, malam ini, kalian lebih cocok untuk tidur berdua. Pembicaraan kalian nyambung sekali," sahut senja yang tiba-tiba masuk bersama Zain.


"Tidak! Aku tidur di kamar bersama kamu. Periksa di kamar Daddy saja, Zain." Darren langsung berdiri, menarik tangan Senja untuk ikut dengannya.


"Dadd, malam ini, mama sudah janji mau tidur di sini." Dasen terlihat kesal.


"Kamu sudah besar, sudah tau perempuan cantik. Sudah pernah berciuman juga. Tidak pantas lagi tidur bersama Mama." Darren mengucapkannya tanpa menoleh.


Zain memilih diam. Dia enggan ikut menimpali dua orang yang sebenarnya mempunyai level manja yang sama-sama akut pada mamanya.


Keesokan paginya, Darren dan Dasen sama-sama mengalami flu yang lumayan cukup berat. Keduanya tidak turun untuk makan pagi. Senja yang kerepotan harus mondar mandir mengurus dua orang berbeda raga, tapi memiliki jiwa manja yang hampir sama.


Beyza dan Zain sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Keduanya memilih menyingkir untuk melakukan aktivitas masing-masing, ketimbang menyaksikan drama reputan Senja antara Darren dan titisannya.


Sementara itu, di rumah sakit yang sama dengan tempat Zain bekerja. Delia menggendong anaknya dengan tergopoh-gopoh. Anak itu tampak kesulitan untuk bernapas.


Perawat membantu ibu muda itu membaringkan sang anak di atas brankar. Wajah Delia terlihat sangat khawatir, akhir-akhir ini, Jason lebih sering kambuh akhir-akhir ini.


Sebenarnya, Dokter sudah menyarankan untuk dilakukan cek kesehatan total pada Jason, tapi karena terkendala biaya, Delia tidak melakukan apa yang menjadi saran dokter.


Setelah dokter memeriksa kondisi Jason, saran yang sama pun diberikan, rontgen paru-paru harus segera dilakukan secepatnya, saat ini juga kalau perlu.


Delia menegarkan langkahnya menuju bagian administrasi untuk mengurus semuanya. Sampai di sana kebingungan melanda dirinya. Berkali-kali dia menghitung uang yang ada di dompetnya. Sangat jauh dari angka yang disebut oleh petugas.


"Bu, tolong, lakukan tindakan apapun pada anak saya, dalam dua hari, saya pasti akan membayar," pinta Delia dengan wajah memelas.


"Tidak bisa, Bu. Ini adalah kebijakan management rumah sakit. Kalau ibu tidak mempunyai uang, ibu bisa menggunakan asuransi dari pihak pemerintah. Kami bisa membantu."


Delia menggeleng sembari berucap lirih, "Saya tidak mempunyai kartu identitas, Bu. Saya bukan warga negara Indonesia."

__ADS_1


"Biar saya yang membayar biaya pengobatannya." Suara seorang laki-laki yang datang tiba-tiba bagai malaikat membuat Delia mendongakkan kepala untuk melihat sosok sang pemilik suara.


__ADS_2