
Darren menarik nafas dalam. Dasen adalah dirinya saat seusia anaknya itu. Begitu menggebu-gebu. Bertindak dan berbicara semaunya tanpa berpikir panjang. Tidak peduli perasaan orang yang mendengar akan sakit hati atau tidak.
"Apakah kebaikan Mama hanya dinilai dari harga satu buah mobil sport?" tanya Senja dengan tatapan yang sangat tajam pada Dasen.
Anak itu mendongakkan kepalanya, lalu membalas tatapan mamanya sekilas. "Daddy dan Mama memiliki uang lebih untuk membelinya, kenapa susah sekali mengatakan 'iya' dan menyenangkan hati Dasen."
"Tidak semua keinginan kita harus terpenuhi, Das. Jangan karena kamu terlahir sebagai anak seorang Darren Mahendra, kamu jadi berpikir apa yang kamu inginkan pasti bisa kamu dapatkan. Untuk hal-hal tertentu, kamu harus berjuang dan melakukan usaha untuk mendapatkannya," tegas Senja.
"Ask ...." Darren menggelengkan kepalanya, pertanda menyuruh sang istri untuk berhenti bicara.
"Dasen kecewa sama Mama. Padahal uang Daddy banyak, bukankah bekerja keras harusnya untuk menyenangkan anak-anaknya. Mama pelit." Dasen hendak keluar kamar, tapi tangan Darren dengan cepat menggenggam lengan anaknya itu.
"Minta maaf sama Mama," tegas Darren.
"Das salah apa?" tanya Dasen malah balik bertanya pada daddynya.
Darren membalik badan, memijat pangkal hidung sedikit agak keras. Kutukan atau karma, kini dia harus merasakan posisi Sarita dan Mahendra saat menghadapinya dulu.
"Jika kamu merasa Mama pelit dan tidak baik. Silahkan saja. Mama merasa mental dan pikiran kamu lebih mahal dari sekedar harga mobil Sport. Kalau kamu sudah bisa bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan sendiri, bisa tahu hak dan kewajiban kamu dengan benar, Jangankan satu, kamu mau minta dua sekaligus pun akan Mama berikan. Tapi tunjukkan dulu kamu pantas mendapatkannya. Memiliki mobil itu tidak sekedar tentang kata keren," tegas Senja, lalu langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Dasen lagi-lagi ingin keluar, tapi Darren krmbali menahannya. "Tidak cukupkah apa yang dilakukan Mama Nja selama ini? Mamamu bahkan rela membohongi Daddy demi menutupi kesalahanmu yang konyol. Mama Nja rela membantah Daddy, agar kamu tidak dikirim ke asrama. Sekarang kamu mengatakan Maminya Michel lebih baik dari Mamamu? Hanya karena sebuah mobil sport? Pikirkan baik-baik ucapanmu, Das?!" Darren menepuk pundak Dasen.
Di satu sisi, Darren paham kata-kata Dasen pasti membuat hati Senja sakit. Di sisi lain, dia menyadari anaknya itu terlalu berharap tinggi pada sang Mama.
Senja yang biasanya mengiyakan semua kemauan Dasen, sekarang malah menentangnya. Anak itu masih butuh banyak arahan dan nasehat. Pergaulannya tidak sesederhana Beyza dan Derya. Dasen memilih teman sesuai level kemampuan financial, persis seperti Darren dulu. Di mana mereka menilai orang lain hanya dari fisik dan kemapanan.
"Das tidak akan meminta maaf. Mama yang mengecewakan, Das."
Darren tidak mencegah lagi, begitu Dasen keluar dari kamarnya. Si keras kepala yang benar-benar menguji kesabarannya.
__ADS_1
Senja keluar sudah dengan memakai daster kebesarannya. Wajahnya terlihat datar.
"Senja mau tidur duluan. Jangan nembahas apapun sekarang. Urusan Dasen, biar jadi urusannya kalau dia tidak terima. Bisa apa anak itu tanpa kita. Kalau dia kesal dan ngambek, biarkan saja. Membeli mobil itu mudah, tanggung jawab setelah punya saja dia tidak paham." Senja langsung naik ke atas ranjang dan menarik selimut untuk menutup tubuhnya hingga sebatas pinggang.
Darren memilih mengalah. Ternyata benar, semakin besar anak-anak, semakin ada saja masalah yang dihadapi. Lelah fisik sudah tidak, lebih pada hati yang diuji untuk lebik bijak dan sabar.
*****
Dipagi hari yang seharusnya sibuk, Senja malah terlihat malas untuk bangun. Wajahnya terlihat pucat, kepalanya sangat berat, hidungnya terasa tersumbat. Sebenarnya dari kemarin dia sudah merasa tidak enak badan. Tapi ditahan-tahan.
Saat kondisi badan sudah drop, ditambah beban pikiran. Sempurna sudah apa yang dirasakan.
"Ma ... Mama ...." teriak Beyza dari luar pintu. Seperti biasa, tiap pagi dia akan meminta pelukan dari daddynya yang bahkan belum bangun.
Senja mendengar teriakan itu, tapi kepalanya benar-benar terasa berat untuk diajak bergerak.
Karena tidak sabar, Beyza langsung membuka saja pintu yang memang lupa tidak dikunci itu.
"Morning, Bey." dengan kedua mata yang masih mengatup, Darren merentangkan kedua tangannya.
"Morning, Dadd." Beyza langsung berhambur ke pelukan daddynya.
Darren baru sadar kalau Senja juga masih ada di atas ranjang ketika dia turun dari sana. Keningnya seketika berkerut tanda keheranan. Dia mendekati sang istri dan duduk di teoian ranjang.
"Ask ...." Darren menyentuh kening istrinya. "Ask ... badanmu panas sekali," tambahnya.
Darren langsung menghubungi Zain, tapi ponsel anak itu sedang tidak aktif.
"Bey, panggilkan kak Airin saja. Kan kak Airin calon dokter juga." Beyza segera mengambil inisiatif.
__ADS_1
Di luar dia berpapapasan dengan Derya yang baru saja selesai berjemur di lantai empat. "Ada apa, Bey?" tanya saudara kembarnya itu.
"Mama sakit, Der." Beyza menjawab tanpa menghentikan langkah kakinya. Derya pun langsung ke kamar mamanya.
"Ma ... Derya sudah sembuh kok. Mama jangan sakit." Anak itu duduk di samping daddynya.
Mulut Senja sungguh enggan untuk berucap karena kepalanya yang memang sangat berat. Saat dia membuka mata, lebih parah lagi yang dirasakan. Bumi seperti berputar begitu cepat.
Beyza datang bersama Airin dengan setengah berlari.
"Permisi, Dadd. Bisa Daddy biarkan Airin memeriksa Mama dulu?" tanya calon menantu Darren itu dengan hati-hati.
Tanpa menjawab Darren beranjak dari tempatnya. Sepanjang hidup, bukan kalah tender atau mendadak bangkrut yang dia takutkan. Tapi saat Senja sakit, itulah yang sanggup meruntuhkan kekuatannya.
"Permisi ya, Ma." Airin mulai memeriksa calon mama mertuanya dengan teliti. Lalu menyuruh Senja melakukan beberapa gerakan, karena terlalu pusing tidak semua gerakan bisa Senja ikuti.
"Bagaimana Kak?" Beyza dan Derya kompak bertanya dan mewakili kecemasan daddnya.
"Selain flu dan radang, sepertinya Mama mengalami vertigo. Lebih baik Mama di bawa ke rumah sakit saja atau kita tunggu Aa, sebentar lagi pasti sampai," jelas Airin dengan hati-hati.
Darren mendekati istrinya, lalu duduk di tepian ranjang. "Sakitnya kasihkan aku saja, ya."
Senja tidak bereaksi apapun. Apa yang dirasakan di kepalanya sungguh menyiksa.
"Ma, Beyza dan Derya tidak akan nakal. Kami akan nurut. Mama cepet sembuh." Derya terlihat sangat sedih. Terlalu sering mendengar kisah Genta, membuatnya takut kehilangan sosok mamanya.
Airin tersenyum melihat calon adik-adiknya yang sangat manis. Meskipun kaya raya dan berkelimpahan, jelas mereka dibesarkan dengan kasih sayang yang luar biasa. Interaksi mereka begitu hangat dan membuat hati meleleh.
Benar kata Airin, tidak berselang lama Zain pun datang dan langsung memeriksa ulang kondisi mamanya. "Mama harus di bawa ke rumah sakit, Dadd," ucapnya.
__ADS_1
Tubuh Darren seketika lemas. Bagi ceo Mahendra Corp, berobat ke rumah sakit itu hanya untuk sakit serius. Kalau sekedar flu biasa, buat apa harus ke sana.