
"Buat apa Zain? Melarikan diri dari Airin? Mama, tidak setuju," sahut Senja dengan cepat sembari terus berjalan menuju lobby.
"Ma, ini bukan tentang Airin. Dari dulu Zain memang ingin belajar di UK. Di sana ilmu kedokteran tentang kanker sangat bagus dan lengkap. Berkas Zain pun sebenarnya sudah siap, hanya memang harus tertunda karena kondisi Airin." Zain terlihat mengiba, berharap keinginannya direstui oleh sang mama.
Senja menghentikan langkahnya sejenak, lalu tersenyum pada Zain. "Setelah masalah adik-adikmu selesai kita bicarakan lagi. Semua keputusan tetap ditanganmu. Bicaralah pada daddy-mu. Mama setuju kalau memang ingin mencari ilmu, tapi kalau hanya sekedar pelarian, Mama akan menjadi orang pertama yang menentang keinginanmu." tegas Senja.
"Tidak, Ma. Zain serius ingin belajar."
Keduanya pun kembali berjalan menuju lobby. Saat hendak memasuki mobil, terdengar seseorang memanggil Zain. Membuat Zain dan Senja menoleh ke arah sumber suara bersamaan.
"Ini ada oleh-oleh dari daddy-ku. Kebetulan daddy sedang berkunjung ke sini. Kalau kamu ada waktu, mainlah ke rumah." Nancy memberikan paper bag putih glossy pada Zain.
"Thanks, sampaikan terimakasihku pada daddy-mu. Besok akan aku usahakan mampir." Zain menerima tas itu sembari tersenyum.
"Ya, sudah. Kami tunggu. Bye Zain ... Tante ...." Nancy kembali membalik badannya dan kembali masuk ke dalam area rumah sakit.
Senja dan Zain pun menaiki mobil mereka.
"Nancy kelihatannya baik dan pintar ya, Zain." Senja memancing pemicaraan.
"Jelas kalau itu, Ma. Dia sudah mendapat gelar Doktor."
"O ... Sepertinya, dia menaruh perasaan khusus sama kamu, Zain. Mama ini begini-begini, masih bisa membedakan orang yang perasaannya biasa saja atau yang lebih. Seperti Bey dan Genta. Mama bukannya tidak tahu keduanya sedang naksir-naksiran."
"Mama jangan berubah jadi cenayang, deh. Nancy, dari masih jadi senior di kampus dulu juga memang baik. Dan masalah Beyza dan Genta, Mama terlalu berlebihan. Mereka masih anak-anak. Wajar lirik-lirikan begitu. Mama jangan berharap lebih," ingat Zain.
Senja teringat kisah Genta yang begitu mengharukan. Zain yang dulu dianggapnya anak yang mengalami hal terberat dalam hidupnya. Ternyata masih ada Genta yang lebih tidak beruntung.
"Zain, kita jalan-jalan dulu, Yuk! Mama pengen ke tempat yang tenang."
__ADS_1
Zain menoleh pada mamanya, melihat raut wajah yang sendu di sana. Akhir-akhir ini masalah Zain dan adik-adiknya datang bertubi-tubi.
"Kalau daddy mencari Mama, bagaimana?"
"Biarkan saja. Mama hanya ingin santai sebentar. Mama lelah dengan masalah kita belakang ini. Rasanya wajar kalau Mama mengeluh sedikit. Mama bukan Ibu dan istri yang sempurna." Senja menyandarkan kepalanya ke kaca mobil.
Mungkin memang saat ini dia sedang sensitif atau hanya berada di titik jenuh. Biasanya, kalau sedang cemburu atau kesal dengan Darren, Senja tidak senekat ini.
Zain memberitahu drivernya untuk membawa mereka ke sebuah tempat agak pinggiran kota. Dia tahu pasti mamanya sebenarnya sangat menyukai langit senja di tepi pantai.
Sementara itu, Beyza dan Derya sudah mengajak Darren untuk pulang. Mereka meminta untuk menginap di sana lain kali. Genta tidak ikut mereka lagi, karena mendadak Opa Genta masuk rumah sakit.
Derya, Beyza dan Darren pulang menggunakan mobil Rangga. Karena tadi Darren membawa mobil sport yang hanya bisa digunakan untuk dua orang saja. Sementara mobilnya, sengaja dipinjamkan pada Rangga. Meski baru sebentar berkenalan, perlahan tapi pasti, keduanya memang semakin cocok.
Sampai di rumah, Darren langsung mencari keberadaan Senja. Sedangkan Beyza dan Derya langsung ke kamar masing-masing.
"Wat, tahu ibu ke mana tidak? ibu tadi sudah pulang kan?" tanya Darren pada Wati.
"Ibu tadi pergi sama Den Zain, Pak," jawab Wati.
"Kemana?"
"Tidak tahu, Pak. Tadi tidak pamit, sepertinya buru-buru."
Darren langsung menebak kalau Zain dan istrinya pasti sedang di rumah sakit menemui Airin. Dia pun kembali ke kamar, mandi dan bersiap menunggu adzan Maghrib.
Baik istri ataupun anak pertamanya itu, tidak ada yang bisa dihubungi. Tentu saja hal itu sukses membuat Darren tidak tenang. Dalam kondisi tidak ada masalah saja, dia tidak tenang kalau Senja tidak di rumah. Apalagi saat sedang salah paham begini.
'Gara-gara janda keluaran terbaru, bakalan nganggur lama nagaku.' Darren merebahkan badannya ke ranjang.
__ADS_1
.
.
Zain dan Senja masih duduk santai di hamparan pasir putih. Keduanya menatap matahari yang perlahan mulai tenggelam. Menyisakan semburat orange berpadu dengan biru dan juga hitam. Gradasi warna yang selalu indah dikala menjelang petang.
"Zain, tahukah kamu. Ini pertama kalinya Mama ke pantai ini lagi setelah pertemuan tidak sengaja kita dulu. Mama masih ingat dengan jelas bagaimana kamu berteriak Mama Afli ke arah Mama." Senja bersandar di pundak Zain. Orang yang tidak tahu, pasti mengira keduanya sedang memadu kasih.
"Zain, juga masih ingat, Ma. Tidak usah diceritakan lagi. Kita sama-sama sedih nanti."
"Iya kamu benar. Ehm, Zain ... Mama boleh tanya sama kamu tidak?" tanya Senja sedikit ragu-ragu.
"Tanya saja, Ma," sahut Zain.
"Zain, belum melangkah jauh kan sama Airin? ehm, maksud Mama, Zain belum macam-macam kan sama Airin?" Senja memelankan suaranya.
Zain tersenyum lalu menjawab, "Tentu saja aneh-aneh. Mana ada pacaran sekarang cuman pegangan tangan, nonton, pandang-pandangan, video call atau chating. Pasti ada selingannya lah, Ma." Zain sengaja menggoda Senja.
"Zain, kalau sudah begitu, kalian tidak boleh putus. Kasihan Airin. Kamu itu ya, sama saja kayak papa dan daddy, belum sah, sudah curi start duluan." Senja langsung menutup mulutnya, menyadari kalau dia berbicara tanpa kontrol.
"Hah? jadi mama sama papa dulu macam-macam duluan? terus sama daddy keulang lagi? Astaga, Mama ... Zain tidak separah itu. Hanya kis5ing sedikit." Zain memelankan suaranya di ujung kalimat.
"Ini biar jadi rahasia kita berdua saja. Ceritanya tidak sesederhana itu. Intinya papa Rafli dan daddy darr, sama-sama licik. Mama tidak melakukannya secara sadar. Sudah jangan dibahas lagi. Kita pulang sekarang." Senja berdiri dan langsung berlari kecil menuju ke mobil, pipinya memerah karena malu.
Zain menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mengikuti langkah mamanya.
"Ma, kita sholat di masjid pertama yang kita temui, ya. Sekalian kita makan di luar. Tiba-tiba malam ini, Zain pengen ngedate sama Mama. Zain sedang tidak ingin sendiri, Zain hanya butuh teman bicara," ucap Zain, begitu mobil mereka sudah bergerak maju meninggalkan pantai.
"Iya, sayang. Jalani saja dengan ikhlas dan sabar, jangan melawan keadaan dan jangan terlalu keras berusaha melupakan. Biarkan mengalir, Tuhan yang akan menuntun dan menguatkan kita nantinya," Senja mengusap kepala Zain dengan lembut.
__ADS_1