Hot Family

Hot Family
Jasa mencari hari baik


__ADS_3

"Inez tidak ada di kamarnya, Ma. Inez tidak mungkin kabur kan? Tidak mungkin dia menyerah semudah ini." Derya mencoba tenang.


Senja tersenyum sinis, senyuman yang khas keluar jika dia sedang tidak seberapa senang dengan sesuatu.


Di tengah kepanikan Derya, Inez muncul dengan santainya dari arah depan, masih dengan pakaian rumahan yang sederhana.


"Ay, kamu dari mana?" Derya langsung memeluk Inez dengan posesif.


Senja memalingkan wajahnya, Darren hanya bisa menggengam tangan sang istri. Dia belum ingin mengambil sikap. Kalaupun dia tidak terlalu yakin dengan Inez, itu bukan karena keyakinan yang berbeda, tapi melihat sikap Inez yang sepertinya kurang menarik di matanya. Menurut kaca mata Darren, cinta Derya yang terlihat lebih besar. Tentu saja, dia tidak menyukai itu.


"Kita berangkat, Der. Jangan sampai terlambat. Datang lebih awal jauh lebih baik." Senja mengamit lengan suaminya, mengajak berjalan lebih dahulu meninggalkan Derya yang masih menyimpan tanya ke mana Inez tadi pergi.


Derya menanti jawaban Inez, tapi waktu menunjukkan kalau mereka memang harus berangkat.


"Ayo, Ay! Kamu cepat-cepat bersiap." Derya mendorong punggung Inez menuju kamar tamu.


"Aku, tidak ikut. Maaf, nyaliku tidak sebesar nyalimu. Menghadapi mama dan daddy-mu saja aku sudah gemetaran, apalagi nanti bertemu keluarga besarmu yang lain. Jangan sekarang! Please, jangan paksa aku." Inez membalik badan dan menatap melas pada Derya.


Ingin rasanya Derya memaksa Inez dengan berdebat sebentar. Tapi teriakan Senja yang mengajak mereka segera berangkat dan juga kemunculan Zain yang sudah bersiap, membuat Derya terpaksa mengalah.


"Tunggulah di sini! Jangan ke mana-mana!" Pesan Derya, mengecup kening Inez sebentar, lalu berlari kecil menghampiri Senja dan Darren yang sudah bersiap naik ke dalam mobil.


Inez mengelus dadanya karena lega, bukannya tidak cinta, tapi sungguh dia tidak pernah menyangka kalau aura keluarga Derya sebesar ini. Yang dia tahu, Derya memang anak seorang pengusaha sukses. Tapi dia tidak menyangka level sukses nya ternyata lebih ke arah sultan sesungguhnya.


Beyza dan Derya sangat rendah hati dalam pergaulan, mereka tidak memilih dari kalangan mana mereka berteman. Sungguh Inez sekarang bukan hanya sekedar takut keyakinan yang menghalangi, tapi jelas status keluarganya yang pengusaha batu bara bukan tandingan keluarga Derya.


Andai Derya dan Beyza menyandang nama Mahendra, tentu banyak orang akan tahu kalau mereka adalah keturunan kaya raya. Tapi nama belakang keduanya adalah Hutama. Hanya pengusaha berusia di atas 60an yang paham kebesaran nama itu.


"Inez, tidak ikut?" tanya Senja dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


"Dia ada video conference yang tidak bisa ditinggalkan, Ma. Biarkan saja, dari semalam Inez juga sedang tidak enak badan," kilah Derya.


Senja tersenyum miris, "Mama tidak pernah mengajarimu menjadi pembohong, Der. Jika karena Inez kamu mulai berani membohongi Mama. Lalu apa alasan Mama untuk menerima dia menjadi istrimu? Kehidupanmu, memang sepenuhnya milikmu. Tapi jika kamu lebih memilih mengecewakan Mama demi menjaga nama baik Inez. Mama pasrah. Mama hanya berdoa, semoga kamu tidak pernah merasa kecewa."


Darren memberi isyarat pada Derya agar berhenti dan tidak menjawab apa pun lagi. Disaat seperti ini, dia yang akan menjadi penengah bagi keduanya. Baru kali ini, Senja lantang menolak pilihan anaknya.


.


.


Siang ini, Dasen mencoba menghubungi Denok. Dia harus meminta celananya yang kemarin dicucikan oleh perempuan itu.


Kebetulan hari ini Denok sedang off, dia pun berjanji akan mengantar celana Dasen di kantor Mahendra Corp.


Sesuai jam yang disepakati, Denok datang seorang diri ke kantor titisan Darren Mahendra tersebut.


Denok melihat penampilannya sendiri begitu sudah berada di depan gedung kantor Dasen. Celana jeans, blouse polos dan flat shoes sederhana yang dia kenakan. Sangat kontras dengan kondisi yang ada di dalam gedung itu. Penampilan OB di sana bahkan lebih keren dari penampilan Denok. Hanya saja, parasnya yang cantik mampu menutup kekurangan yang lainnya.


Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya Dasen turun juga ke lantai satu.


"Silahkan, Tuan. Ini sudah saya cuci bersih dan wangi." Denok tanpa basa basi langsung memberikan kantong belanja putih bertuliskan Denok souvenir.


"Bawa dulu saja. Aku sangat lapar. Karena aku baik, aku akan mentraktirmu makan siang dulu. Anggap saja sebagai ucapan terimakasih karena sudah mencuci dan mensetrika celanaku dengan baik."


"Apakah saya harus ikut?" tanya Denok, sebenarnya dia sangat malas. Dengan tampilannya sekarang, dia seperti pelayan jika berdiri di samping Dasen.


"Harus! Tidak ada yang boleh menolakku," tegas Dasen. Langsung berjalan ke latar lobby, di mana Rudi sudah menanti.


Dasen menyuruh Denok duduk di bangku depan. Meskipun dia menyukai Denok, dia tidak mau sampai perempuan itu gede rasa. Dia masih ditahap menyukai, belum mencintai.

__ADS_1


Denok membuat Dasen ingat pada calon kakak iparp yang pernah ditaksirnya. Meski jelas, Sekar kelihatan lebih elegant dari pada Denok. Tapi keduanya memang sekilas mempunyai kemiripan secara wajah.


"Pak Rudi, kita pergi ke resto biasa," ucap Dasen, memberi sopir yang menjadi saksi hidup bagaimana romantis dan mesranya Senja-Darren.


Sepanjang perjalanan, Denok nampak sibuk dengan ponselnya. Hal itu membuat Dasen kesal.


"Pendidikan terakhir kamu apa, Nok?" Dasen memulai pecakapan untuk memecah konsentrasi Denok.


"Saya D3 pariwisata, Tuan." Denok menjawab tanpa menoleh. Fokusnya tetap pada layar ponsel.


Dasen mengangguk-anggukkan kepala. Tepat seperti dugaannya. Resto hotel tempat Denok bekerja, untuk level pelayan saja memang menerapkan standart yang lumayan. Setidaknya, dia tidak akan diolok-olok Mike kalau mengatakan sedang mengincar seorang pelayan.


"Maaf, Tuan. Mumpung saya masih ingat. Harga minuman Tuan kemarin, dari gaji saya sehari, ternyata masih cukup untuk beli dua gelas. Andai saya hapal harganya, tentu saya tidak harus mencuci celana, Tuan," keluh Denok.


"Benarkah? Lumayan juga gajimu. Tapi tidak lebih banyak dari OB di kantorku." Dasen memuji kemudian menjatuhkan Denok.


"Tahu begitu, saya melamar menjadi OB di kantor milik Tuan." Denok kali ini menoleh pada Dasen.


"Sudah tidak menerima lowongan. Pegawai ditempatku harus sebisa mungkin menjauhi ponsel kalau tidak terlalu penting."


"Begitu pun di resto, kami malah baru boleh mengambilnya saat shift usai. Ponsel adalah sumber pendapatan saya yang utama," sahut Denok.


"Kenapa bisa begitu? Kamu berjualan online?" selidik Dasen.


"Benar! Saya membuat souvenir untuk berbagai acara." Denok membuka dompetnya, mengambil kartu nama di sana, lalu memberikannya pada Dasen. "Silahkan, Tuan. Barang kali membutuhkan."


Dasen membaca kartu tersebut dengan teliti. "Nok, kamu kan jualan souvenir, kenapa di sini di tulis jasa mencari hari baik pernikahan? Memang ada hari yang tidak baik?" Titisan Darren itu membolak balik kertasnya karena merasa heran. Sebelumnya dia tidak pernah mendengar ada jasa seperti itu.


"Itu bukan saya, Tuan. Tapi bapak saya. Kata orang kota, bapak saya itu orang pintar. Padahal kalau di desa disebutnya dukun. Apa Tuan tidak tahu kalau menikah itu harus disesuaikan dulu kelahiran calon pengantinnya? Jangan sampai pernikahan malah membawa kesialan." cerocos Denok panjang lebar dan bersemangat.

__ADS_1


Dasen tidak tahu harus menjawab apa, dia belum sepenuhnya mengerti apa maksud Denok.


__ADS_2