
"Kamu mau duduk, atau memang mau berdiri terus begitu?" Beyza kembali bertanya pada Denok.
Seketika mantan kekasih Dasen itu memilih untuk duduk. Sebisa mungkin Denok berusaha kembali bersikap normal. Tapi dalam hati tidak bisa berhenti mengagumi Beyza.
"Kamu pernah jadi sekretaris Bu Senja kan?" Tanya Beyza to the point.
"Iya, Bu. Tapi cuman sebentar."
"Oke, tidak masalah. Kalau kamu jadi sekretaris lagi, mau tidak?"
Denok memberanikan diri membalas tatapan Beyza. "Ya Allah, bola matanya biru, cantiknya over dosis." Batinnya dalam hati.
"Denok, saya sedang bicara sama kamu lho," tegur Beyza, karena melihat Denok kembali terdiam.
"Iya, Bu, saya bersedia." Denok menjawab dengan cepat.
"Oke, mulai besok kamu jadi sekretaris saya. Datang sesuai jam kerja kantor, saya tidak menyukai gaya berpakaian seeksi dan terbuka, jangan banyak bertanya sebelum mencerna apa yang saya ucapkan. Jika saya ajak meeting di luar kamu tidak boleh menolak, dan yang paling penting, jangan masuk atau ingin tahu urusan pribadi saya. Apapun yang kamu dengar, kamu lihat, dan kamu ketahui nanti tentang urusan pribadi saya, jangan sampai menjadi bahan pembicaraanmu dengan siapa pun," jelas Beyza, panjang lebar.
"Baik, Bu." Denok seperti teringat kembali dengan saat pertama kali bertemu dengan Senja. Walaupun Beyza terkesan sedikit angkuh, tapi ketegasannya sama persis seperti Senja.
"Ya sudah, hari ini kamu bereskan kerjaanmu dulu. Berikan pekerjaanmu yang tertunda atau belum selesai pada temanmu. Mulai besok kita bekerja bersama. Oh ya, satu lagi, saya tidak suka menerima tamu pribadi di saat jam kerja. Kecuali satu orang, namanya Genta. Dia boleh datang kapan saja."
"Baik, Bu, akan saya ingat-ingat." Denok memberikan senyuman termanis pada Beyza, tapi dibalas dengan raut wajah datar dan dingin.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu boleh keluar."
Denok berdiri, lalu menundukkan kepala dengan sopan. Gadis itu berusaha seelegan mungkin berjalan ke luar ruangan. Tapi karena terlalu berhati-hati dan fokus pada cara berjalannya, Denok tidak melihat kalau daun pintu ruangan Beyza sudah terbuka karena ada seseorang yang baru saja datang membukanya dengan lebar.
Tidak bisa dihindari lagi, bagian kepala denok menabrak dada bidang laki-laki di depannya. Bukannya mengelus keningnya yang sakit, Denok malah memukul dada itu layaknya ibu-ibu yang sedang membujuk anaknya yang terbentur tembok. "Nakal," gumamnya.
"Hah? Nakal?" Suara laki-laki yang sangat familiar membuat Denok mendongakkan kepalanya.
"Mas Dasen?" Denok terlihat sangat terkejut.
"Maaf, Mas. Saya pikir tembok. Habis keras banget." Denok reflek malah kembali menepuk-nepuk dada Dasen.
"Ehemmmmmm..." Suara deheman Beyza membuat Denok buru-buru meninggalkan ruangan dengan melewati Dasen begitu saja.
Dasen tidak berniat mengejar Denok, dia memilih membiarkan mantan kekasihnya itu pergi begitu saja. Karena ada hal penting yang memang harus dia bicarakan secara langsung dengan Beyza. Dengan kata lain, kedatangannya kali ini, memang bukan untuk menemui Denok.
Dasen mendengus sembari memanyunkan bibirnya yang merah dan tipis. Tapi sesaat kemudian, raut wajahnya kembali serius. Dia mengambil ponsel, membuka sosial medianya, lalu memberikan benda pipih itu pada Beyza.
anak kesayangan Darren Mahendra itu mengernyitkan keningnya, lalu tersenyum sinis sembari mengulurkan kembali ponsel itu pada Dasen. "Sudah Bey duga. Biarkan saja. Kali ini, memang sengaja gak di take down. Biarkan dulu, terserah mereka mau berbuat apa. Semakin banyak mereka bertindak, semakin dalam mereka menggali lubang untuk mereka sendiri."
"Kalau mama dan daddy tahu bagaimana?" Dasen heran dengan reaksi santai yang ditunjukkan Beyza.
"Tenang, Kak. Mereka lempar kita dengan kotoran, kita masih punya air melimpah untuk membersihkannya. Bey dan Derya sudah punya sesuatu. Kami sudah menduga mereka melakukan ini. Tunggu saja nanti. Saat ini, Bey hanya berharap, kuasa Tuhan bekerja pada Derya. Semoga, anak yang dikandung Inez bukan keponakan kita."
__ADS_1
"Hufttt ... Derya membuat kita semua pusing. Dia yang enak-enak. Kita semua yang mikir," dengus Dasen sembari menghempaskan bokongnya di kursi empuk di depan meja Beyza.
"Memang kakak mau ikut kalau Derya enak-enakan? Bertiga gitu?" Tanya Beyza, sengaja menggoda Dasen.
"Ngomong sama kamu nggak pernah bener, salah mulu." Dasen melirik kesal pada Beyza.
"Lagian kakak aneh. Meskinya, kakak yang terdepan melindungi Derya. Kenapa malah berkeluh kesah. Tanya deh sama Derya, pasti enaknya gak lebih dari 30 menit. Susahnya, nyeselnya, pasti seumur hidup." Beyza mengatakannya sembari terkekeh kecil.
"Astaga, anak perawan sudah tahu durasi kenikmatan. Tahu dari mana kamu? Awas saja kalau aneh-aneh sama gentong." Dasen menatap tajam pada adik perempuan satu-satunya itu.
"Halah, kayak Kak Dasen tidak tahu saja. Nggak perlu ngelakuin kalau sekedar tahu durasi, gaya, ukuran, dan yang lainnya. Kayak hidup di jaman purba saja pernyataannya. Dan nama kesayangan Bey itu Genta bukan gentong." Beyza memanyunkan bibirnya dua senti.
"Terus kenapa tadi ada Denok di sini? Memangnya dia bikin kesalahan? Sampai staf marketing biasa saja kamu panggil."
Beyza menjentikkan jemari tepat di wajah Dasen. "Helow ... Pimpinan di sini Beyza, jadi mau manggil siapa pun, terserah dong. Deandra Corp bukan anak perusahaan Mahendra Corp. Jadi, apapun yang Bey lakukan, sepertinya tidak perlu menjelaskan pada kakak."
Dasen melempar Beyza dengan selembar tisu yang direemas hingga menjadi bulatan kecil. "Balik sana jadi pengacara. Sepertinya kamu terlalu banyak bicara untuk ukuran seorang pimpinan perusahaan. Kenapa kamu tidak seperti mama? bicara seperlunya, berwibawa dan elegan."
"Woi... ngaca woi! Jangan lupa, kita juga anak dari Darren Mahendra. Kalau sifatnya gak kita bawa bisa protes bisa-bisa," sahut Beyza dengan cepat.
Kedua kakak beradik itu malah sibuk beradu argumen. Dasen yang tadinya khawatir dengan masalah Derya, menjadi tenang. Tadinya dia sudah ingin menyuruh tim IT di perusahaan untuk melakukan sesuatu. Tapi seperti biasa, setiap masalah memang biasa dibicarakan bersama agar tidak salah langkah.
Di sisi lain, Darren sedari tadi mondar-mandir di depan pintu kamarnya. Ingin masuk ke sana tapi takut salah. Tidak masuk, khawatir pada kondisi Senja karena belum melihat wajahnya seharian. Pria itu terus mencari-cari alasan yang tepat agar bisa masuk ke dalam sana.
__ADS_1
Akhirnya sebuah ide cemerlang terlintas di pikirannya. Dia buru-buru membuka dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Senja yang sedang berbaring santai sembari melihat televisi seketika menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
"Astaga, segitunya. Kayak nggak ingat saja waktu bikinnya selalu mendeesah paling keras," gumam Darren dalam hati.