
Benar saja, Darren terlihat lebih segar setelah itu, dan dia langsung tertidur pulas. Tinggallah Senja yang masih terjaga.
Melihat suaminya sudah memasuki alam mimpinya yang lebih dalam. Senja segera menuju kamar Dasen.
Anaknya itu pun masih tidur dengan tenang. Ponsel yang berdering beberapa kali itu pun, tidak membuat Dasen terbangun.
Senja mengambil benda pipih berwarna hitam itu dari atas nakas. Di layar itu tertera nama Denok yang menghubungi. Awalnya, Senja mengabaikan panggilan itu begitu saja. Tetapi karena berkali-kali, dia pun dengan terpaksa menerima.
Denok yang sedang panik, langsung saja bercerita dengan suara yang terisak. Dia memang tidak tahu kalau Dasen sedang sakit, karena sejak kembali dari rumah sakit kemarin malam, kekasihnya itu tidak menghubunginya lagi.
Senja hanya mendengarkan cerita Denok, dia tidak ingin menjawab dan membuat gadis itu terkejut kalau mendengar suaranya. Akhirnya dia memutus sambungan itu, dan mengirim pesan pada Denok melalui ponsel Dasen.
Perempuan itu menarik napas dalam. "Aku ingin sekali menjadi kejan, jahat dan tega. Tapi aku tidak bisa. Semoga kebaikanku, membuat kamu sadar diri, Nok. Lepaskan Dasen untuk saat ini," lirih Senja.
Senja kembali meletakkan ponsel Dasen ke atas nakas. Lalu dia meninggalkan kamar itu perlahan.
Memasuki rumah, Beyza segera berlari mencari mamanya. Dia sudah mendapatkan informasi penting dari orang suruhan Genta. Senja yang baru akan menuruni anak tangga, langsung membuat Beyza semakin tidak sabar untuk berdiskusi.
"Ma, kita harus bicara berdua saja. Ini sangat penting." Beyza menarik tangan Senja untuk menuju kamar tamu.
"Ada apa sih, Bey?" Senja terlihat kebingungan.
"Mama kenal perempuan yang bernama Angelica tidak?" tanya Bey dengan pandangan tegas.
Senja mendudukkan bokongnya di sofa, begitu juga Beyza. Perempuan itu tampak mengingat-ingat. "Ada banyak yang namanya Angelica, Bey."
"Ya pastinya, Ma. Adakah Angelica yang mempunyai dendam dan benci sama Mama atau pun Daddy?" Beyza bertanya layaknya seorang penyidik pada korban atau tersangka.
"Sebentar. Dulu banyak perempuan yang sakit hati karena Daddy-mu memilih Mama." Senja mengetuk-ngetukkan jari telunjuk di pelipisnya.
__ADS_1
"Ingat-ingat, Ma. Karena ini sangat penting. Kalau bisa, kita harus mendahului langkah licik mereka."
Senja menatap Beyza dengan tatapan penuh tanya. Dia sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan putrinya itu.
"Oh ... sepertinya Mama ingat. Ada satu Angelica yang memang membuat mama sangat geram. Angelica Malito," ucap Senja akhirnya.
Beyza menganggukkan jepala dengan mantap. "Nah ini dia. Benar namanya Angelica Malito. Berarti benar, apa yang terjadi pada Derya dan Inez bukan kebetulan semata. Ini terencana. Pasti sejak Inez tahu, kalau Derya adalah anak dari Darren Mahendra."
Senja semakin bingung dengan ucapan Beyza. Dia sedang tidak bisa mencerna apapun dengan cepat saat ini. "Maksudnya apa, Bey?"
"Mama harus tahu, kalau Inez adalah anak dari Angelica Malito dan Antonius Galih," ucap Beyza dengan jelas.
"Dan Angelica Malito tahu kalau Derya adalah anak Mama?" Senja kembali bertanya untuk sekedar meyakinkan diri.
Beyza mengangguk mantap. "Benar. Sepertinya mereka baru mengetahui akhir-akhir ini. Belum lama. Mungkin saat Derya diangkat menjadi CEO DNG Corp."
"Bey masih mencari tahu apa rencana mereka, Ma. Kebodohan dan keteloderan Derya tidak akan secepat itu penyelesaiannya. Der tidak salah memilih Inez sebelumnya. Tapi yang kita hadapi sekarang adalah Inez yang sudah dikendalikan oleh mamanya," tegas Beyza.
"Papanya Inez, pengusaha apa, Bey?" tanya Senja.
"Batu bara, Ma. Tidak seberapa besar. Yang Inez bilang mau dijodohkan kemarin, itu hanya akal-akalan mereka. Kaburnya Inez ke tempat Der juga hanya rekayasa. Entah apa yang mama lakukan hingga membuat si Angelica itu benci sekali sama Mama." Beyza sedang bertanya secara tidak langsung pada Senja.
"Angelica itu, dulu pernah pinjam uang sama daddy. Lumayan besar, dan daddy tidak cerita sama Mama. Tapi akhirnya mama tahu. Mama meminta uang itu kembali, dia tidak terima, karena mengira bisa membayarnya dengan tubuh."
"Hah? Gila." Beyza membelalakkan kedua bola matanya.
"Iya, beneran. Mama saja sampai marahan sama daddy. Angelica sampai ngasih semua barang brandednya ke Mama, tapi Mama tolak. Masalah itu, bahkan sampai naik ke sosial media Mama." Senja bercerita dengan jelas.
"Oh, pantesan. Sekali dapat kesempatan tidak mau menyia-nyiakan." Beyza kembali memanggut-manggutkan kepala.
__ADS_1
"Menurutmu, kita harus bagaimana, Bey?"
Beyza membisikkan sesuatu pada mamanya, entah apa. Senja hanya mengangguk dan berkata 'iya' berkali-kali.
"Bey, jadi apa salah? Kalau Mama akan memutuskan, hanya ada satu hal yang bisa membuat Derya dan Inez menikah."
"Tidak salah, Ma. Tapi satu hal itu apa?"
"Jika Inez hamil anak Derya. Selebihnya, apapun yang terjadi, tidak akan ada pernikahan antara Derya dan Inez. Angelica, lebih gila dibanding Erika."
"Setuju, seharusnya Erika bukan ancaman bagi Mama. Sangat jauh dari angan Daddy."
"Bukan karena Mama takut Daddy meleng, Bey. Tapi Mama tidak nyaman saja. Jika Daddy berani berpaling dari Mama, bukan Mama yang rugi. Daddy-mu yang akan lebih tersiksa," ucap Senja, penuh percaya diri.
"Ih ... Mama terlalu percaya diri," cibir Beyza.
"Harus, Bey. Sebagai perempuan. Jangan terlalu kelihatan kalau kita ini terlalu membutuhkan dan tergantung pada laki-laki. Nanti dia akan besar kepala dan meremehkan. Kita harus membuat sebuah hubungan itu seimbang, menghargai dan dihargai, membutuhkan dan dibutuhkan. Tidak ada yang boleh mendominasi. Tapi di atas segalanya, pemimpin keluarga, tetaplah laki-laki," tutur Senja panjang dan lebar.
"Bey akan belajar cara menjadi istri luar biasa dari Mama." Beyza memeluk mamanya dari samping dengan erat.
"Boleh. Tapi Genta sangat baik, Bey. Mama percaya, tanpa Mama, Genta mampu membimbingmu menjadi istri terbaik. Satu hal yang harus kamu ingat. Pernikahan itu proses belajar memahami seumur hidup. Kalian akan mengalami perubahan dan kondisi yang berbeda dari waktu ke waktu. Cara pandang kalian tidak harus sama. Yang penting, tetaplah menjaga satu kesamaan tujuan." Senja membalas pelukan Beyza lebih erat.
Di dalam kamar, Dasen sudah terbangun. Dia langsung mengambil ponsel di atas nakas yang tadi sempat berbunyi satu kali.
Dasen mengernyitkan keningnya begitu melihat whatsapp masuk dari Denok yang menyampaikan ucapan terimakasih.
Dia segera melihat isi pesan sebelumnya. Dada Dasen seketika merasa nyeri. Selama ini, dia selalu mengatakan mamanya tega dan tidak adil dalam menyikapi hubungannya dengan Denok. Nyatanya, Senja melakukan satu kebaikan hari ini dan merendahkan egonya demi nyawa seseorang yang tidak dia sukai.
"Maafkan Das, Ma. Dasen tahu apa yang harus Das lakukan sekarang."
__ADS_1