
Airin terdiam sejenak. Mencerna kata-kata Bae. Bagi orang lain, kata-kata itu pedas dan mungkin sangat menyinggung. Tapi faktanya, kondisi yang akan dihadapinya bersama Zain memang seperti itu.
Perempuan itu lalu tersenyum lembut dan terlihat sangat tenang. "Airin tidak sepenuhnya egois. Bohong kalau saat kita mencintai seseorang, kita tidak berharap dan berusaha untuk memilikinya. Airin pun sama seperti itu. Tapi Aa juga mengatakan tidak mempermasalahkan apa yang Oma katakan tadi. Aa sudah pernah melalui tahapan itu, masalah keturunan adalah rejeki."
"Manusia bisa berubah, bosan dan tidak sabar lagi. Bagaimana kalau di tengah jalan, Zain bertemu perempuan lain yang bisa membuatnya lupa akan janji-janjinya pada kamu? perempuan yang jauh lebih sempurna dari kamu." Bae pantang menyerah menguji keteguhan sikap Airin.
Airin meremas tepian kemeja yang dikenakannya. Dalam hati sudah merasakan perih dari tadi, tapi menyerah akan membuat Zain terlihat bodoh karena salah memilih pasangan. Padahal Zain selalu menaruh harapan tinggi padanya. Menjadi tegar dan kuat menghadapi segala rintangan bukan lagi pilihan, tapi keharusan.
"Saya yakin, Aa tumbuh di keluarga yang luar biasa. Keluarga yang menjunjung tinggi dan menghormati ikatan suci pernikahan. Mungkin ada saatnya nanti Aa akan mengalami jenuh dan lelah, tapi Airin yakin ada orang-orang di sekitar Aa yang akan mengingatkan Aa untuk kembali ke jalan yang benar. Meski sebenarnya, Airin tidak yakin, Aa sanggup menyakiti hati perempuan. Karena Aa sangat menghormati Mama Nja."
Jawaban Airin sukses membuat Darren menatap Airin sedikit lembut. Menahan senyuman yang hampir saja lolos dari bibirnya.
Setelah itu suasana sisi orang dewasa menjadi hening, sesekali hanya terdengar suara tawa cekikikan anak-anak. Mereka larut dengan pikiran dan makanan yang ada di depan mereka masing-masing.
"Rin, kami tidak membencimu. Tidak sama sekali, kami hanya tidak ingin Zain merasakan kesedihan yang terlalu dalam dan menyakitkan. Kondisi fisikmu bisa kapan saja drop. Kesembuhanmu masih membutuhkan waktu yang panjang. Kami harap kamu memikirkan lagi semuanya." kali ini Arham turut bicara memecah keheningan.
"Pikirkan dulu semua kata-kata kami. Mungkin bagimu, kami ini kejam. Tidak masalah! kami hanya menginginkan yang terbaik. Pernikahan itu sakral, seharusnya sekali seumur hidup," tambah Bae, sedikit melunak.
Airin mencoba tersenyum. Lagi-lagi semua memang karena penyakit yang di deritanya. Keluarga Zain tidak salah, tapi dia pun juga benar.
Darren hanya diam dan menatap Airin dengan tajam. Dia sedang mengajak otak dan hatinya untuk menilai secara bersamaan. Sedikit merasa, keluarganya termasuk juga dirinya, mungkin terlalu keras pada Airin.
Anak-anak menyelesaikan makannya terlebih dahulu, mereka langsung ke ruang tengah. Melanjutkan obrolan seru khas remaja kekinian.
Airin berdiri hendak membereskan piring-piring kosong di atas meja makan.
"Kamu bukan pembantu, Rin. Tidak ada yang menyuruhmu melakukannya." Suara Darren menghentikan gerakan tangan Airin.
"Maaf, Airin sudah biasa di rumah tidak ada pembantu."
__ADS_1
"Dan ini bukan di rumahmu, Rin. Kamu harus bisa menempatkan dirimu. Jangan sampai orang lain yang melihat, mengira kami memperlakukanmu seperti pembantu." Darren berdiri meninggalkan meja makan di susul yang lainnya.
Airin kembali meremas tepian kemejanya. Di rumah ini, seperti ada dua sisi. Ada orang-orang yang membuat dirinya ingin bertahan, tapi ada pula orang-orang yang membuatnya ingin lari dan menjauh.
*****
Suara bel pintu membuat wajah Beyza yang sudah mulai ceria kembali menjadi murung. Dia yakin yang datang adalah Genta. Beyza tidak bisa membayangkan kecentilan yang akan dilakukan si kembar.
Benar saja, Genta muncul di antar Wati ke ruangan di mana Beyza, Derya dan yang lain berada. Dua pasang mata milik Bianca dan Marina menatap remaja yang baru datang itu tanpa berkedip.
"Itu untuk, mama kan? sini biar aku antar." Beyza langsung memandangi kantong plastik transparan berisi paper lunch berbentuk bulat di dalamnya.
"Semoga tante cepat sembuh ya, Bey. Apa aku boleh menjenguknya langsung?" Genta menyerahkan kantong itu pada Beyza.
"Aku lihat dulu. Kalau mama sedang tidak tidur, aku akan mengajakmu ke atas."
Lagi-lagi tebakan Beyza memang tepat. Belum sampai dia berjalan terlalu jauh, suara Derya yang memperkenalkan Genta langsung disambut suara centil si kembar dengan sangat antusias.
Pembawaan Genta yang mudah bergaul seperti sang ayah, membuatnya bisa langsung menerima dan berbaur bersama teman-teman barunya itu dengan baik. Hanya Baby De yang terlihat biasa saja. Karena dia memang, lebih menyukai cowok yang seumuran atau yang ada di atasnya.
"Gen, aku boleh minta nomer ponselmu dong." Bianca langsung menyodorkan benda pipih dengan soft case berwarna pink pada Genta.
Disaat yang bersamaan Beyza kembali datang. Genta yang tadinya ragu-ragu ingin menerima ponsel Bianca, kini memantapkan diri untuk menerima ponsel itu dan segera memasukkan nomernya. Dia hanya ingin tahu reaksi Beyza.
'Cowok di mana-mana sama saja,' batin Beyza. Raut wajahnya setegas Darren kalau sedang kesal seperti ini.
"Mama langsung memakan bubur dari kamu. Mama bilang terimakasih, lain kali tidak perlu repot-repot. Kalau mau ketemu besok saja, mama masih harus banyak istirahat," ucap Beyza, nadanya begitu ketus.
"Das, lama sekali ya?" Baby De mengalihkan pembahasan.
__ADS_1
"Biasa, keluyuran dulu. Cari mangsa baru yang bisa dikadalin," sahut Derya.
"Kata papi, Kalau cowok, begitu itu normal. Selama ceweknya mau dan tidak dipaksa," tukas Baby De.
"Cowok itu harus setia, kalau tidak bisa setia mending ke laut aja diar di makan hiu," sahut Beyza, tapi matanya melirik Genta.
Yang merasa dilirik malah senyum-senyum sendiri, dalam hati dia bersorak kegirangan. Setidaknya, dia tahu kalau Beyza menaruh perasaan dan harapan lebih padanya. Semua hanya masalah waktu, karena Ayah Genta baru mengijinkannya pacaran saat dia kuliah nanti.
"Der, kita ke kamarmu saja, yuk! Nggak enak kumpul sama girls," ajak Genta. Sudah cukup dia melihat wajah Bwyza ketus dan tidak ramah seperti itu. Dia lebih mendambakan senyum ceria gadis itu.
Derya pun mengiyakan sembari merangkul Genta menuju kamarnya di lantai dua.
"Astaga, Genta ganteng banget, banget dan banget," puji Carina dengan wajah seperti layaknya orang yang sedang terpesona.
"Setuju! Aku harus membujuk mami papi, agar boleh bersekolah di sini. Senyumnya, ademnya ngalahin frezeee," timpal Bianca.
Beyza dan Baby De sepakat tidak menanggapi. Keduanya lebih memilih fokus pada ponsel masing-masing.
******
Sementara itu, Darren terlihat sedang menahan amarah. Sampai sekarang, Dasen belum juga pulang. Ponsel anak itu pun tidak aktif.
Darren turun ke lantai satu, dia ingin menjadi orang pertama yang menyambut Dasen saat pulang nanti.
Setengah jam berlalu. Terasa sangat lama bagi Darren. Kesabaran rasanya sudah habis. Serentetan kata-kata amarah sudah ada di otaknya saat ini. Dasen benar-benar sudah di luar batas.
Saat pintu utama terbuka, Darren pun langsung berdiri. Tangannya mengepal, untuk menahan emosinya sendiri.
Tapi ...
__ADS_1