
Darren dan Senja meregangkan pelukan mereka. Keduanya menoleh pada sumber suara yang menyebabkan keributan di ambang pintu.
"Ask ...." suara Denok menyapa Dasen, semakin membuat Senja heran. Dia menatap suaminya dengan tatapan penuh tanya.
"Ask?" Darren pun ikut bertanya-tanya.
Dasen memberikan isyarat pada Denok agar diam. Belum saatnya Darren dan Senja tahu tentang panggilan sayang mereka yang dipakainya.
Denok masih juga tidak paham kalau sedang dalam bahaya. Dua mata menatap tajam ke arahnya dan Dasen bergantian, belum cukup membuatnya tersadar.
Melihat semua tertegun, OB berinisiatif untuk menyerobot masuk, melewati Dasen dan Denok yang saling berbicara tanpa suara.
"Ini makanannya, Bu," ucap OB, lalu buru-buru meninggalkan Senja dan Darren sebelum atasannya itu sempat mengucapkan terima kasih.
"Aku lapar, kamu enak sudah makan dengan relasi jelekmu," Darren kembali ke mode ketus sembari duduk di atas sofa.
"Iya semua pria memang jelek, hanya Darren Mahendra yang tampan," timpal Senja
"Syukurlah, kalau masih ingat," sahut Darren.
"Das, kamu mau apa ke sini sore-sore begini? Biarkan dia bekerja. Hari ini, tidak satu pun pekerjaan yang dia lakukan dengan benar. Lagi pula, apa CEO di perusahaanmu sana memang turun temurun suka ke kantor ini saat sedikit senggang?" Senja melemparkan pandangan matanya pada sang anak dengan sekilas, lalu melirik suaminya.
Dasen menggerakkan kepalanya agar Denok segera kembali ke tempatnya. Senja sedang menjelma menjadi singa rupanya. Akan sangat bahaya, jika kekasihnya itu kena terkam bertubi-tubi dihari pertama bertemu.
Sementara Darren tidak bisa memberikan pembelaan apa pun, karena pada nyatanya, yang diucapkan Senja memang benar. Sejak istrinya itu bekerja lagi, ruangan di mana dia berada sekarang, juga seperti kantor kedua baginya.
"Terus kenapa dia memanggilmu Ask?" selidik Senja. Satu pertanyaan belum terjawab, sudah diberikan pertanyaan yang lain.
__ADS_1
Darren masih menunggu jawaban Dasen dan juga menanti Senja menghampiri dan menyuapinya seperti biasa. Istrinya itu seperti sedang kehilangan mood baiknya. 'Mungkin dia kesal, ciuman tadi terhenti tiba-tiba,' pikirnya.
"Siapa yang memanggil 'ask'? Mungkin, Mama salah dengar." Dasen duduk di samping daddy-nya, mencoba mengecoh Senja.
"Mama tidak tuli, Das. Saat dia menabrakmu dia mengatakan 'ask'. Jangan berusaha mengakali Mama. Sudah puluhan tahun, Mama hidup bersama buaya. Jadi Mama hapal betul akal-akalan buaya macam kalian," ketus Senja, sembari membuka kotak makanan untuk suaminya.
Darren menelan ludahnya kasar. Tau persis siapa yang disebut buaya. Tapi dia tidak ingin terpancing. Sebelum serius dengan Senja, mungkin dirinya adalah buaya. Tapi semenjak memerkosa istrinya itu, buaya itu sudah menjadi cicak.
"Bukan 'askim', Ma. Tapi astaga. Mungkin Mama terlalu banyak pikiran. Jadinya tidak fokus." Dasen konsisten berkilah.
"Persis banget sama bapaknya. Ngelesnya pinter. Kalian berdua bapak anak memang sama saja," Senja menyuapi Darren dengan sesendok penuh makanan. Terlihat tidak sesantai biasanya, dia menyuapkan dengan kasar.
Darren mengunyah dengan cepat. Merasa mulutnya terasa penuh, dia segera menelan sebelum makanan itu hancur sepenuhnya. "Ask, lebih sedikit bisa kan?" kesalnya, setelah mulut terasa kosong.
"Hmmmmm ... ." Senja berdiri untuk mencuci tangan.
"Apa Daddy tidak peka? Dasen ke sini adalah sebagian dari usaha. Mama sepertinya tidak terlalu menyukai Denok. Padahal Dasen kali ini pengen serius."
Darren tidak menjawab, karena Senja sudah kembali berjalan mendekati mereka. Dalam hati, banyak pertanyaan yang ingin dia sampaikan pada anaknya itu. Jika banyak orang mengatakan Dasen adalah cerminan dirinya di masa muda, nyatanya tidak seutuhnya benar. Darren merasa, seleranya lebih bagus ketimbang anaknya itu.
Sepanjang Senja menyuapi Darren, tidak ada seorang pun yang bicara. Dasen tidak berani memulai. Dia hanya menyaksikan, sikap manja sang daddy yang luar biasa. Tangan dan mulut sang daddy, lancar menggoda mamanya. Benar-benar mengabaikan, kalau Dasen masih berada di sana.
"Senja mau menghubungi Zain dulu. Senja mau memajukan jadwal ke jogya. Suasana jogya mungkin akan membuat Senja rilex." Perempuan itu berdiri, membuang makanan ke tempat sampah dan setelah mencuci tangan, Senja masuk ke dalam ruangan pribadinya.
Darren memijat pangkal hidungnya. "Jika kamu tertarik pada Denok, membawanya bekerja di sini jelas adalah ide yang buruk. Mamamu tidak mudah ditakhlukkan. Apa yang sudah menjadi penilaiannya, itu yang mutlak benar baginyam Daddy tidak mendukung, tidak pula menolak. Semua kembali padamu. Jika kamu bertanya apa pendapat daddy tentang Denok, jawabannya adalah biasa saja. Jujur, daddy ingin kamu memilih seseorang yang bisa membuat daddy tercengang."
Dasen mengelus dadanya. Kriteria Dasen jelas tidak realistis. Yang membuat Darren tercengang, tentu saja hanya seorang Senja Khairunisa Kemala. Dia pun akan langsung menikahi tanpa harus menunggu kecocokan weton kalau ada lagi perempuan seperti mamanya.
__ADS_1
"Berat," gumam Dasen, meski lirih, masih terdengar di telinga Darren.
"Kenapa?" Darren penasaran. Selama ini, Dasen juga lumayam bermain dengan perempuan. Tapi berkat ajaran Senja yang sedikit keras, Dasen tidak segila Darren yang sampai menyewa tangan dan mulut untuk memenuhi hasratnya yang ugal-ugalan.
"Firasat Dasen mengatakan. Mama akan sulit menerima Denok. Selain sifat mereka yang sepertinya sulit menyatu, bapaknya Denok punya istri dua. Bapaknya Denok seorang dukun," tutur Dasen, entah mengapa dia memang ingin bercerita dengan daddy-nya.
"Kita ke kafe sebelah saja. Biar bisa bercerita lama. Biarkan mamamu sendirian dulu."
Darren dan Dasen tidak berpamitan terlebih dahulu. Karena pintu kamar pribadi Senja dikunci rapat dari dalam.
Dasen menitip pesan pada Denok. Andai mamanya bertanya tentang keberadaan mereka, setidaknya gadis itu bisa menjawab benar. Darren memperhatikan interaksi keduanya dengan teliti. Entahlah, tapi dia memang merasa Dasen dan Denok tidak cocok. Gadis itu kurang elegant untuk bersanding dengan pimpinan Mahendra Corp.
Sepertinya, anak-anaknya, terutama Dasen, harus diberikan pencerahan lagi masalah mencari pasangan. Saat memilih sendiri, rasanya semua pilihan bermasalah.
Dalam hal ini, tidak berlaku untuk Zain dan Sekar. Menurut Darren, keduanya memang sudah pas. Zain sudah matang dan memiliki pengalaman bersama Airin, wajar kalau sekarang sudah paham betul dalam memilih pasangan yang sepadan.
"Aku pergi dulu. Langsung beritahu kalau melihat mama sudah keluar," ucap Dasen.
"Baik, Ask. Akan ku ingat-ingat."
Darren langsung memelototkan matanya begitu mendengar jawaban Denok. Jelas Dasen tidak bisa mengelak. Karena kata itu sungguh terdengar jelas di telinganya.
"Daddy butuh penjelasanmu, Das. Ayo cepat!" Darren memilih menunda perdebatannya nanti setelah sampai di kafe.
Baru hendak ke luar dari lift, terlihat seorang perempuan berpakaian dan berdandan mencolok warna merah menyala berbicara dengan resepsionis.
Dasen menepuk dahinya dengan kuat. 'Cobaan apa lagi ini, ya Allah.'
__ADS_1
Darren yang sedang melihat ke sisi lain. Tidak menyadari pemandangan apa yang menumggu di depannya.