Hot Family

Hot Family
Pulang hanya dengan kenangan


__ADS_3

Di bandara internasional negara UK inilah, kisah persahabatan Genta, Beyza dan Derya berakhir. Entah selamanya atau sementara. Genta dan Rangga mengantar Senja, Zain, Dasen, Beyza juga Derya yang akan pulang ke tanah air.


"Aku ada sesuatu buat kamu, Bey. Jika memang kita tidak akan dipertemukan kembali. Selalu ingat aku. Meski, kini tidak bisa lagi bersama. Aku akan menjagamu dalam doaku." Genta memberikan kalung dengan liontin berbentuk infinity pada Beyza.


Gadis itu menerima dengan mata berkaca-kaca. "Terimakasih, Gen. Maaf, aku tidak menyiapkan apa pun untukmu. Kita pasti akan bertemu lagi suatu saat nanti."


Keduanya saling bertatapan begitu dalam. Begitu banyak yang tidak terucap, namun terungkap dari pandangan mata keduanya.


Derya mendekati Genta, mengalihkan perhatian sahabatnya itu dan langsung memeluknya. "Jaga diri baik-baik, Gen. Aku akan mencarimu suatu saat nanti. Kamu adalah sahabat terbaikku."


Genta membalas pelukan Derya lebih erat. "Terimakasih memberiku kesempatan menjadi sahabatmu, Der. Jaga Bey, baik-baik."


Keduanya melepas pelukannya perlahan. Genta, menatap Senja. Kakinya enggan melangkah. Dia baru saja merasakan kasih sayang seorang ibu. Kini, dia harus kembali pada kenyataan. Hidup berdua saja, hanya ada dirinya dan juga Rangga.


Senja menghampiri Genta. "Tidak ingin memeluk mama, Gen?"


Genta langsung berhambur ke dalam pelukan Senja. Air matanya tumpah di sana. "Maafkan, kalau Genta sudah merepotkan mama. Maaf, kalau Genta membuat mama dan om Darren berantem."


Senja mengusap rambut Genta dengan lembut. "Bukan salah Genta. Bukan... jangan lupakan mama, sayang. Selalu berdoa yang baik-baik buat mama dan om Darren. Mama sayang Genta. Apapun yang terjadi sekarang. Genta selalu ada dalam doa mama."


Perempuan itu melepaskan pelukannya. Mengambil sesuatu dari tasnya. "Ini untuk Genta. Simpan ini baik-baik. Hanya Genta dan kak Zain yang punya. Ini adalah pemerian mendiang papanya kak Zain. Batu Giok ini adalah batu keberuntungan kami. Mama sudah membawa keberuntungan mama. Bawalah ini! semoga keberuntungan membawa kita bertemu kembali." Senja memberikan kalung emas putih dengan liontin batu giok berbentuk bulat sempurna.


Genta menerimanya dengan tangan bergetar, tidak menyangka, mendapatkan benda yang begitu berharga dari Senja. Zain melangkah mendekati Genta.


"Jadilah anak yang baik, buktikan pada Daddy-ku, kalau kamu tidak layak untuk disamakan dengan Opamu." Zain menepuk pundak Genta.


"Terimakasih, Kak." Genta mengangguk mantap.


Zain Mengeluarkan kalung yang selalu dikenakannya. Dia baru memakai kalung itu ketika sekolah lanjutan. Sebelumnya, dia tidak berani memakai. Karena takut hilang.

__ADS_1


"Kita sama bukan? Jadilah anak yang baik, dan berjanjilah akan kembali pada kami dengan prestasi yang luar biasa." Zain menunjukkan kalung yang dikenakannya pada Genta. Sama persis dan identik dengan yang ada di genggaman Genta sekarang.


Hanya Dasen yang terlihat tidak senang dan tidak terima. Dia merasa lebih pantas menerima kalung yang diberikan pada Genta.


"Pak Rangga, terimakasih atas semuanya. Kami pamit dulu." Senja menjabat tangan Rangga dengan hangat.


Sebelum benar-benar berpisah, semua menyempatkan diri foto bersama. Kecuali Dasen. Dia memilih pergi ke toilet.


Jika ditanya siapa yang jelas terlihat paling terluka, dia adalah Beyza. Gadis itu memang tidak pernah bisa dekat dengan teman laki-laki lain, selain dengan Genta. Kini, demi menjaga semua hubungan agar baik-baik saja, Beyza harus merelakan perasaaannya dan belajar menerima kehilangan.


.


.


Saat mobil yang menjemput mereka memasuki halaman rumahnya. Ada sesuatu yang berbeda di hati Senja. Dia seperti merasa nyawa rumah itu hilang. Perasaannya tidak sehangat dulu. Bayangan Darren yang pulang dalam keadaan mabuk, membuat dada Senja terasa nyeri.


Darren yang baru saja selesai mandi, sayup mendengar suara anak-anak. Dia pun segera membuka pintu, yang pertama kali dilihatnya adalah Beyza. Tapi gadis itu tidak seceria dan semanja biasanya.


Beyza hanya mencium punggung tangan dan pipi kiri kanannya sekilas. "Bey, membelikan jersey tim bola kesayangan daddy."


Darren menerima paper bag dari anak perempuan satu-satunya itu. "Terimakasih, sayang. Daddy kangen sekali." Darren memeluk Beyza, tapi hanya mendapatkan balasan sekedarnya.


"Hai, Dadd. Ini pesanan daddy." Dasen menyapa Darren jauh lebih hangat dari Beyza. Dia memberikan kotak branded ternama berisi ikat pinggang pada daddynya.


Derya datang, tidak membawa apa-apa. Karena dia tidak tahu harus membelikan apa. Lagi pula, Derya melihat mamanya banyak membeli kaos dan kemeja untuk Daddy-nya.


Darren mengajak ketiga anaknya itu masuk ke dalam kamar, bola matanya menari ke sana ke mari mencari sosok yang sedang membuat hatinya bingung harus melakukan apa.


Senja sendiri, kini masih berada di halaman samping rumahnya. Rasanya dia belum siap bertemu dengan suami sendiri.

__ADS_1


Karena Senja tidak yakin, keadaan akan lebih baik dari sebelumnya. Perasaannya mengatakan, badai sudah menanti untuk menghempas habis dirinya. Apalagi kalau sampai Darren tahu, Genta juga bersama dengan mereka saat di UK.


Dugaan Senja memang benar. Darren sudah tahu kalau Genta memang bersamanya. Bahkan lebih dari dugaan Senja. Sekarang perasaan suaminya bercampur dengan cemburu buta pada Rangga, hanya karena melihat potongan video yang menunjukkan dia tersenyum hangat pada ayah Genta itu.


"Mama, tidak ke atas?" tanya Zain yang datang mrmbawa segelas air mineral.


Senja tersenyum. "Sebentar lagi, biarkan adik-adikmu melepas kangen pada daddy dulu. Mama yakin, saat ada mama, mood daddy-mu pasti akan berubah. Mama terlalu hafal."


"Sabar ya, Ma. Mungkin memang berat bagi Daddy. Melihat peristiwa seperti itu tentu tidak mudah. Kita hanya perlu memberi tahu dengan pelan-pelan," Zain merangkul pundak mamanya.


Senja meringis miris, andai Zain tahu, bahkan Darren melakukan dosa yang sama dengan Malino. Bedanya dia tidak melakukan di depan anak atau orang lain. Andai Sarita tahu, apa mereka masih akan membenci orang lain yang tidak ikut campur sama sekali.


Andai Senja tidak berlapang dada, dan memiliki mental batu karang. Apa yang akan terjadi pada Darren? Jika mulut Senja kejam dan hatinya pendendam, Eomma dan Appanya juga bisa menghancurkan Darren.


Memang, begitu mudah menghakimi kesalahan orang lain. Tapi lupa kalau diri sendiri juga menyimpan bangkai.


"Mama ke atas dulu," putus Senja akhirnya.


Senja melangkahkan kakinya perlahan, menapaki anak tangga dengan sabar, satu per satu hingga mengantarnya sampai pada tujuannya.


Anak-anak terlihat baru memasuki kamar masing-masing. Mereka pasti ingin meregangkan tubuh, perjalanan di udara selama 16 jam lebih membuat mereka lelah. Meskipun mereka menempati kelas bisnis, tetap saja jetlag masih melanda.


Senja menghentikan langkahnya, sekedar mempersiapkan diri pada apa yang akan didengar dan dihadapinya nanti.


Setelah merasa siap dan yakin, Senja perlahan membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci. Darren langsung menyambut dengan sorotan mata tajam.


Tampilan Darren begitu berbeda. Pria itu membiarkan jambang tumbuh lebat menghiasi wajahnya.


"Masih ingat punya suami? Sudah puas senang-senangnya?" sindiran Darren langsung menyambut Senja dengan manis.

__ADS_1


__ADS_2