Hot Family

Hot Family
Sekretaris Senja


__ADS_3

"Daddy bisa denger, Bey," sahut Darren dengan ketus.


"Sudah, ah. Sampai ketemu di Jakarta. Bey, Gen, dari sini langsung pulang ke tempat masing-masing. Genta tidak usah naik ke apartemen," ingat Senja, kembali memeluk Beyza dan Genta bergantian.


Darren sendiri hanya memeluk Beyza, dan mencoba tersenyum pada Genta meski sekilas. Dalam hati kecilnya, belum ikhlas merestui kedua anak di depannya itu. Meskipun ada sisi lain dalam dirinya yang mengakui, Genta memang yang terbaik sejauh ini.


Mengenal anak itu sejak anak-anaknya sekolah menangah, yang Darren tahu, Genta memang baik dan sopan. Ketika akhirnya menjadi calon menantunya? sungguh di luar dugaan. Bahkan dia harus mengakui, Genta tahan godaan dan tidak pencemburu seperti dirinya.


"Hati-hati, Ma, Dad. Sampai ketemu awal bulan." Beyza melambaikan tangannya sembari tersenyum.


Darren mengamit pinggul Senja, satu tangan lain menggeret koper berukuran sedang warna navy. Genta dan Beyza memandangi punggung pasangan idola mereka itu sampai menghilang.


"Aku harap, Kang Genta bisa seromantis daddy sampai tua, tapi jangan jadi seposesif daddy. Aku ingin tetap bekerja setelah menikah." Bey mengamit lengan Genta berjalan menuju parkir bandara.


"Kalau punya anak bagaimana?" tanya Genta, hanya sekedar ingin tahu jawaban Beyza. Dia memang tidak ada rencana melarang Beyza berkarier sedikit pun. Apalagi perusahaan yang dikelola juga perusahaan keluarga. Tidak akan terlalu menyita waktu. Karena perusahaan Senja sudah berjalan sangat baik.


"Kita titipin mama. Pasti mama tidak akan menolak. Mereka harus diberi kegiatan, agar tidak selalu berdua," kekeh Beyza.


"Dan bisa-bisa daddy akan melempariku dengan pisau tajam." Genta memencet hidup mancung Beyza dengan gemas.


🍀🍀


Keesokan hari, Zain, Dasen dan Sekar, sama sekali tidak tahu, kalau Senja dan Darren baru saja sampai dan sedang membersihkan diri di kamar. Bahkan Senja sudah bersiap menuju kantornya untuk melakukan meeting dengan pengusaha tekstil dari Turki.


Darren memanyunkan bibirnya. Karena sekarang dia sudah tidak ada rutinitas ke kantor, sedangkan Senja masih akan beraktivitas seperti biasa sampai Beyza datang.


Seperti biasa, Senja terlebih dahulu menyiapkan sarapan untuk suaminya. Sekar yang hendak membantu di dapur seperti biasa, langsung memekik kegirangan melihat calon mama mertuanya itu.

__ADS_1


"Kapan, Mama sampai? Kok Sekar tidak mendengar? Apa karena kami di lantai empat, jadi tidak mendengar kalau ada Mama datang." Sekar langsung memeluk Senja yang sedang membuatkan salmon kukus untuk sarapan pagi.


"Mama baru sejam yang lalu kok sampainya. Ini Mama ada meeting, makanya harus langsung cepat-cepat ini. Panggil Zain dan Dasen."


Belum sampai Sekar memanggil, kedua orang yang namanya disebut. Sudah muncul terlebih dahulu.


Senja mengernyitkan keningnya begitu melihat Dasen muncul dengan pakaian yang sudah rapi tapi memakai sandal terbuka.


"Cuma kecelakaan kecil, Ma. Keinjak seseorang," Dasen menjelaskan secara singkat sebelum Senja membuka mulutnya untuk bertanya.


"Seseorang yang penasaran dengan level-level," sahut Zain.


Dasen menggelengkan kepalanya pada Sekar dan Zain agar tidak berbicara lebih. Sungguh Dasen tidak siap dengan reaksi mamanya.


Darren tampak menuruni anak tangga dengan ekspresi wajah yang sangat tidak enak. Kalau sudah begitu, anak-anak hapal harus berbuat apa. Tidak menyapa adalah salah satunya.


Dasen baru menyadari, kalau Senja ke kantor, tentu akan bertemu dengan Denok. Karena kekasihnya itu menempati posisi sekretaris lama yang sedang akan cuti melahirkan.


Jantungnya langsung berdebar-debar. Beda di rumah, beda lagi sikap Senja di kantor. Jika di rumah cenderung sabar dan mudah mentorerir kesalahan. Tidak jika masalah pekerjaan. Senja termasuk pimpinan yang sangat tegas dan disiplin.


Dasen segera mengirimkan pesan pada Denok. Berharap kekasihnya itu berangkat lebih awal 30 menit dari kemarin. Sebelum Senja datang, akan lebih baik dia datang terlebih dahulu, meski jam kerja memang belum dimulai.


"Kamu meeting sampai jam berapa?" tanya Darren, masih dengan tatapan tidak suka.


"Mungkin sampai selesai makan siang. Tempatnya di hotel Mulia. Kami akan sekalian lunch." Senja menjawab sembari mulai menyuapi Darren seperti biasa.


Anak-anak sudah hafal betul keposesifan daddy-nya. Meeting adalah kata-kata yang membuat Darren Mahendra kehilangan mood baiknya jika yang melakukan adalah sang istri.

__ADS_1


"Apa kamu belum menemukan sekretaris?" Darren bertanya, Dasen sontak tersedak. Dia buru-buru mengambil air putih yang ada di atas mejanya.


Senja hanya melirik Dasen. Merasa ada yang aneh dengan anaknya itu. Sepertinya, dia harus bicara empat mata.


"Ask...." Darren menepuk bahu Senja yang malah memperhatikan Dasen. Dia masih menunggu jawaban dari istrinya itu. Tidak adanya sekretaris, akan mengancam ketenangannya lebih dalam. Dia harus memastikan posisi itu sesuai.


"Sudah ada, Ask. Senja belum tahu. Semoga saja cekatan dan tidak banyak tanya," ucap Senja.


Zain dan Sekar kompak melirik Dasen yang terlihat semakin tidak nyaman. Mereka menggaris bawahi kata-kata mamanya tadi. Soal cekatan, tentu tidak perlu diragukan. Jempol Dasen pun langsung di ***** begitu melihat kekasihnya kesakitan. Tapi 'tidak banyak bertanya' sungguh sangat diragukan. Denok yang polos, tapi dengan rasa keingintahuan yang tinggi. Tentu akan membuat Senja sukses melotot.


"Aku akan ke kantormu siang nanti. Aku tidak mau tahu. Jam dua kamu harus sudah ada di kantor." Darren berdiri, menyudahi makannya yang tidak seselera biasanya. Klient yang ditemui Senja adalah rekannya juga. Yang terkenal tua-tua keladi.


"Semakin parah. Semoga saat tua nanti, aku tidak seperti daddy. Pasti tersiksa sendiri dengan keposesifan dan kecemburuan yang seperti itu," bisik Zain pada Dasen.


"Tapi sangat menyenangkan saat seseorang mengkhawatirkan kita seperti itu, tandanya, dia sangat mencintai kita." Senja menimpali omongan Zain yang masih terdengar oleh telinganya.


Senja berdiri, hendak mengambil tas dan pamit pada sang suami yang pastinya akan membuatnya sedikit memberikan janji-janji menggiurkan.


"Das, Mama bareng sama kamu. Tunggu sebentar."


Dasen seketika menepuk keningnya. Padahal dia berjanji, mau bertemu Denok sebentar di lobby kantornya. Makanya dia buru-buru menghabiskan makanan dan segera berangkat. Dia ingin memberikan kekuatan dan arahan secara langsung pada Denok. Karena hari ini, kekasihnya itu, akan bertemu dengan daddy dan mama-nya meskipun masih dalam urusan pekerjaan.


"Semangat, Das. Denok harus diberi bisikan. Jangan sampai, kesan pertama sudah minus." Sekar memberi masukan pada calon adik iparnya itu.


"Selamat berjuang, Bro. Semangat!" Zain menepuk pundak adiknya sembari mengajak Sekar berdiri.


Acara makan pagi kali ini, selesai dengan tidak seteratur biasanya. Semuanya berdiri meninggalkan ruang makan tidak bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2