
Seminggu berlalu, suasana kediaman Darren seperti biasa selalu ramai, bahkan lebih ramai dari sebelum-sebelumnya. bertambahnya anggota keluarga membuat pagi semakin seru. Walau dua orang masih terus bersiteru. Siapa lagi kalau bukan Darren dan Senja. Kursi di meja makan hanya menyisakan enam saja yang kosong. Kehadiran Sekar, dan keberadaan Baby De, menambah kesan keluarga besar semakin nyata.
Kali ini, Senja memaksakan diri untuk ikut sarapan pagi di meja makan. Meski duduk bersebelahan dengan Darren, keduanya tidak menampilkan kemesraan. Membuat anak-anak berpikir, kalau ini adalah perang dingin yang berlangsung lumayan lama.
"Ma, Dad, Zain sama Sekar masih akan tinggal di sini beberapa hari lagi, tidak mengapa 'kan? Kami ingin mengubah sedikit suasana di rumah opa buyut. Terutama di kamar utama. Sambil nunggu pengerjaan selesai." Zain mengatakan dengan sopan.
Senja dan Darren tidak langsung menjawab. Keduanya sedang mengunyah makanan yang sudah terlanjur masuk ke dalam mulutnya. Setelah menelan makanan itu, Senja menjawab, "Tentu saja boleh. Mama malah senang. Kalian tinggal di rumah ini terus pun Mama tidak keberatan. Mama lebih senang rumah ramai. Lagipula, rumah ini sepertinya masih sangat luas untuk kalian tinggal bersama pasangan kalian masing-masing."
"Mamamu benar, terutama Beyza, Daddy tidak akan mengijinkan Bey menikah, kalau dia dan pasangannya tidak tinggal di sini." Darren melirik Beyza yang sepertinya sedang mengambil jurus pura-pura fokus mengunyah.
Senja juga hanya diam saat mendengar Darren mengucapkan hal itu. Sejak semalam, tidak ada lagi pembicaraan antara keduanya. Darren yang biasanya mengiba dan masih berusaha mendekati. Pagi ini tidak ada lagi pemandangan itu. Darren menampilkan kembali gengsi, wibawa dan kuasanya karena merasa Senja sudah keterlaluan.
Dasen melirik mamanya sekilas, sejak tadi dia mencari perhatian untuk di sapa. Namun usahanya sia-sia. Padahal dia duduk di samping Senja persis. Pura-pura tersedak pun, perempuan yang telah melahirkannya itu tidak memberi respon sama sekali. Belum juga adiknya lahir, tetapi perhatian sudah berkurang jauh.
"Das berangkat dulu, Kak De mau bareng atau berangkat sendiri?" Dasen berdiri, matanya masih melirik Senja yang memasukkan sesendok makanan terakhirnya ke dalam mulut.
"Aku bareng kamu saja. Males sama Bey, sangat tidak asik." Baby De rupanya masih kesal dengan Beyza yang tidak mau mendekatkannya dengan Rangga.
"Bebas," celetuk Bey dengan santai.
Baby De mencebikkan bibirnya, lalu menghampiri Senja dan Darren untuk mencium punggung tangan, serta pipi kiri kanan kedua orang yang terlihat jelas sedang tidak akur itu.
"Tidak jadi berangkat, Das? Kenapa diam?" Darren mengulurkan tangan tepat di depan dahi Senja, sedikit di sengaja. Harusnya Dasen yang menghampirinya. Istrinya itu hanya menundukkan kepala tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.
__ADS_1
Dasen menahan tangan Daddy nya lebih lama. Dua orang itu jelas satu pemikiran. Sengaja menunggu reaksi yang terlampau cuek. Biasanya, Senja akan mengatakan tidak sopan, atau hal-hal lain. semestinya, bersalaman di depan dahi orang lain, jelas bukan aturan yang benar.
"Tangan daddy lembut sekali," puji Dasen, belum juga melepaskan genggaman tangannya.
"Mana bisa kasar, kerjanya cuma megang bolpoin," sahut Zain.
"Pegang yang lembut-lembut juga pastinya," timpal Sekar. Namun langsung menutup mulutnya, karena merasa keceplosan.
"Dasar pengantin baru. Sudah ah, berangkat dulu. Bismillah, niat kerja siapa tahu sekalian dapat jodoh." Baby De memutuskan meninggalkan ruang makan lebih dulu.
Zain mencubit gemas pinggang Sekar. Untung saja Darren Mahendra sepertinya sedang tidak fokus obrolan. Kalau sampai mendengar, bisa semakin panjang urusan lembut-lembut. Sebelum ada perubahan keadaan, Zain pun mengajak Sekar berangkat ke rumah sakit. Dasen terpaksa melepas tangan sang daddy, karena kakak dan kakak iparnya juga sedang antri untuk berpamitan.
"Ma," Dasen memanggil Senja.
"Ma, ciuman sama pelukannya mana?" Dasen menanyakan perihal kebiasaan yang biasanya dilakukan oleh Senja.
Senja tidak langsung melakukan. Dia nampak ragu-ragu. Semua merasa aneh, biasanya Senja memang selalu mencium dan memeluk hangat semua anaknya sebelum beraktivitas.
"Sudah, Das. Sepertinya mama sedang tidak ingin deket-deket sama kamu. Ntr kalau si bontot mirip kamu, takut pusing mungkin," ledek Zain, membuat Senja memanyunkan bibirnya karena dugaan anak pertama itu sangat tepat.
"Bukan. Mama sedang banyak pikiran saja. Lagipula, akhir pekan besok, mama ingin kita semua berkumpul semua. Kita makan malam bersama di kebun belakang. Siapa pun boleh bawa pasangannya," Senja berkilah dengan membuat pengumuman yang membuat semua yang masih ada di sana kompak mengernyitkan kening.
"Garden party? Boleh bawa pasangan?" Dasen bertanya hanya ingin sebuah penegasan.
__ADS_1
"Iya, semua boleh bawa pasangan. Yang masih baru PDKT juga boleh. Mama sepertinya butuh suasana baru. Tidak pernah berkumpul dengan teman, membuat mama serasa sangat tua. Berkumpul dengan kalian lebih sering, mungkin bisa membuat mama merasa sedikit lebih muda lagi." Senja mencium Dasen sekilas. Lalu berdiri bergantian mencium dan memeluk Beyza, Zain dan Sekar.
Beyza mendekatkan dirinya pada Darren. "Ingin muda lagi? Apakah kehamilan membuat mama puber? Ini bahaya, daddy harus sedikit mengubah penampilan dan pemikiran. Ulang dari awal bagaimana dulu daddy mendekati mama."
Ucapan Beyza membuat Darren ingin segera berkaca. Padahal selama ini, banyak orang mengira dia dan Zain adalah adik kakak. Tetapi mendadak karena Senja mengatakan merasa tua, Darren mendadak tidak percaya diri.
Senja meninggalkan semua orang yang tertegun dengan acara mendadak yang dibuatnya. Terutama Darren, pria itu tanpa pamit buru-buru mengejar sang istri.
"Kayaknya daddy dan mama masih perang dunia deh," bisik Sekar.
"Pastinya, coba kalau sedang baikan. Tangan Darren Mahendra tidak mungkin rela makan dengan tangannya sendiri," sahut Beyza dengan asal.
Semua terlihat kompak berpikir. Baby De yang sudah terlalu lama menunggu di depan, sampai harus kembali lagi ke ruang makan lagi karena Dasen tidak kunjung muncul.
"Kalian pada ngapain sih? Serius amat, kayak ikut mikirin negara saja." seloroh Baby De.
"Ini lebih penting dari urusan negara. Suasana hati ibu yang satu ini, lebih menentukan masa depan kita. Kebijakan-kebijakan yang dibuat, biasanya bersifat mutlak dan mengikat," timpal Beyza.
"Masih urusan mama hamil? Kalian kenapa masih ribet sih. Mama hamil, ya sudah kita terima. Kita support mama biar nggak kepikiran. Kenapa diributkan. Pengaruhnya apa sama kalian? Nggak ada kan?" Baby De yang dari awal memang santai menanggapi kehamilan Senja
"Banyak pengaruhnya. Dicuekin itu nggak enak," sahut Dasen.
Zain, Sekar, Baby De, dan Beyza kompak tertawa lepas mendengar curhatan Dasen yang pastinya dilanda cemburu. Mereka lalu kompak berjalan menuju ke arah pintu utama untuk berangkat menjalankan aktivitas masing-masing.
__ADS_1
Sampai di ambang pintu, mata mereka dikejutkan oleh kedatangan seseorang.