
"Der, panggil Dokter Nuke, dan Kak Zain. Cepet!" Dasen begitu panik.
Derya yang baru saja bangun tidur, masih belum sadar sepenuhnya. Sedikit bingung, dia menghampiri Dasen yang terus menggsosok-gosok tangan mamanya.
"Buruan, Der. Kamu lelet banget!" Bentak Dasen.
Tanpa menunggu sampai Dasen berteriak sekali lagi, Derya buru-buru melaksanakan apa yang diperintahkan oleh kakaknya itu. Nasib tidak baik sedang berpihak pada mereka. Bae yang baru keluar dari kamar Chun Cha, memergoki Derya berjalan setengah berlari menuju ke sebuah arah yang diyakini Bae adalah tempat para dokter-dokter berada.
Bae tidak langsung menegur salah satu cucunya itu. Dia memilih untuk mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dengan hati-hati, Bae mengikuti Derya di belakang.
Setelah pintu stateroom Dokter Nuke terbuka, Derya tidak menjelaskan keadaan Senja secara detail. Karena dia sendiri pun sesungguhnya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Yang dia lihat, mamanya hanya sedang tertidur pulas.
Setelah Dokter kandungan Senja itu menyanggupi segera datang, Derya langsung beranjak menuju stateroom Zain dan Sekar. Bae yang sayup-sayup mendengar nama Senja disebut, seketika melangkahkan kaki menuju tempat di mana anak tirinya itu berada.
Mengira yang datang adalah Derya dan orang-orang lain yang ditunggu kedatangannya, Dasen buru-buru membuka pintu. Melihat Bae berdiri di hadapannya dengan wajah yang serius, anak kesayangan Senja itu hanya bisa menelan ludah dengan susah payah.
"Ada apa ini, Das?" Bae langsung masuk tanpa permisi. Kepalanya melongok ke sana kemari, mencari keberadaan Darren.
Memastikan sang menantu tidak ada di sana, Bae memfokuskan pandangan pada Senja yang masih berbaring di atas ranjang dalam keadaan yang belum dipastikan sedang tidak sadarkan diri atau bagaimana. Wanita itu membungkukkan badan seraya memeriksa kening dan leher Senja dengan punggung tangannya.
"Das, ini mamamu kenapa? Ini dingin sekali? Darren kemana?" Bae pun mulai diselimuti kekhawatiran.
Tidak ada pilihan lain bagi Dasen. Sepertinya, memang sudah waktunya untuk jujur. Lagi pula, Bae dan Arham memang berhak mengetahui yang sebenarnya. Dasen hanya berharap, tidak akan ada yang menyalahkan dia atas keputusannya membuka semua cerita pada Bae.
__ADS_1
"Daddy sudah terbang ke negara S, bersama Oma Sarita dan Opa Mahendra. Beberapa saat yang lalu, Opa Mahendra tiba-tiba tidak sadarkan diri, mungkin jadwal pemasangan ring jantung akan dipercepat. Doakan saja semua akan berjalan lancar, Oma."
Bae nampaknya tidak terlalu terkejut. Beberapa kali mereka libur bersama, dia dan Arham sudah pernah menduga jika jantung Mahendra memang bermasalah. Badan Mahendra dibagian tertentu terlihat lebih gemuk dari biasanya, tapi gemuknya itu, lebih pada massa cairan yang menumpuk dibanding lemak baik.
"Terus mamamu ini kenapa?" Apa mamamu pingsan? La, bangun, La. Kamu angetin ini badan." Bae sembari mengomel, tangannya terus bergerak menutupi tubuh Senja dengan selimut lagi. Lalu tangannya menggosok-gosok punggung tangan Senja agar sedikit hangat.
"Iya, Oma. Mama sakit," lirih Dasen. "Itulah kenapa kami membawa tim dokter dan menyediakan kamar perawatan dengan fasilitas yang lengkap di kapal ini. Kami hanya ingin memastikan mama akan sembuh. Tidak ada pilihan untuk mama selain harus sembuh kembali."
Jawaban Dasen membuat Bae mengernyitkan keningnya. Sebenarnya, da tidak pernah menduga, ada hal sebesar ini yang disembunyikan darinya.
"Jangan bilang kalau sakit yang di derita mamamu serius, Das, jangan!" Bae semakin kuat menggenggam tangan Senja.
Belum sempat Dasen menjawab. Rombongan Derya, Dokter Nuke dan dua orang perawat, beserta Zain, berdatangan. Sekar tidak ikut, dia memilih bergabung di stateroom Denok dan Delia. Bukannya tidak khawatir dengan kondisi sang mertua, namun Zain memang ingin lebih fokus pada Senja. Jika ada Sekar, dia khawarir, pertemuan istrinya dengan Dasen, malah akan menimbulkan perselisihan.
Zain bergerak lebih dahulu memeriksa mamanya dengan teliti. Lalu menarik napas dalam dengan sangat berat.
"Kalian tetap di sini. Biarkan kami menangani mama lebih fokus. Pastikan tidak terjadi kegaduhan. Seperti tadi, semakin sedikit yang mengerti, akan semakin baik. Jika daddy menghubungi, katakan mama sedang tidur." Zain pun bergegas membawa Senja ke ruangan khusus diikuti Donter Nuke dan dua perawatnya.
Dasen, Derya, dan Bae bergeming dalam posisi masing-masing. Jika tadi mereka menghadapi situasi Mahendra dengan tenang, namun tidak saat ini. Dasen dan Derya jelas nampak resah.
"Kenapa kalian menyembunyikan hal sebesar ini dari Oma? Pengangkatan rahim? Memangnya apa yang diderita mama kalian?" desak Bae.
Derya mengajak omanya untuk duduk. "Mama tidak ingin semua orang bersedih, Oma. Semua atas permintaan mama."
__ADS_1
Bae menatap Derya dan Dasen bergantian. "Mama kalian itu kuat. Pasti Kemala akan melalui dengan baik. Oma bicara sama opa dulu. Oma janji, tidak akan memberi tahu yang lain." Bae beranjak meninggalkan stateroom Senja.
Detik ke menit selanjutnya berlalu begitu lambat. Dasen beberapa kali bolak balik ke ruangan di mana Senja sedang di rawat. Namun pintu ruangan tersebut tertutup rapat.Baik Dasen dan Derya, akhirnya tertidur dengan posisi duduk di sofa.
Hingga lewat waktu subuh, keduanya baru terbangun ketika ponsel Senja berdering beberapa kali. Nama 'Askhim' tertera di layar ponsel tersebut.
"Daddy, Kak. Benarkah kita harus membohongi daddy?" Derya terlihat dilema.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Dear readers...
Mohon dukungan di karya otor yang baru dipublish. Insya Allah karya ini akan diikutkan lomba YAAW di Noveltoon, jadi mohon dukungan dengan fav, like dan koment.
Judul baru ini, dipersiapkan untuk mengganti Gendis yang tersisa hanya 4 episode lagi.
***
Blurb
Deva dan Dave mengakhiri ikatan cinta sebagai sepasang kekasih karena bakti pada orangtua. Namun tidak lama dari itu, mereka malah mengeratkan hubungan dengan bersembunyi dibalik kata "persahabatan." Keduanya seolah tidak peduli, ada sosok lain yang ingin setia dan menetap di hati masing-masing. Ketika logika mengatakan harus berpisah, namun perasaan bersikeras menahan diri untuk tidak pergi.
"Berhenti merendahkan dirimu, Dev! Jangan bertahan pada cinta yang cacat logika. Hubungan yang dibangun dari sebuah pengkhianatan, tidak layak memiliki masa depan. Kamu hanyalah secuil sisa rasa, suatu saat, cuilan itu pasti terbuang."
__ADS_1
Sederat kata itu diucapkan oleh sosok pria yang mengagumi dan mencintai Deva dengan cara yang berbeda. Siapakah dia?
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Sisa Rasa, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=2097482&\_language\=id&\_app\_id\=2