Hot Family

Hot Family
Tindakan


__ADS_3

"Ada apa, Darr?" Sarita bertanya sembari menghampiri Darren.


"Senja harus melakukan operasi pengangkatan rahim sekarang juga, Ma. Janin yang dikandungnya meninggal." Darren akhirnya memilih untuk tidak menutup-nutupi keadaan. Suaranya lirih, dan tubuhnya pun luruh ke bawah sampai menyentuh dinginnya ubin rumah sakit.


"Janin? Maksud kamu apa? Senja hamil lagi?" Sarita nampak kebingungan.


Darren menggangguk lemah. "Tidak hanya hamil. Ma. Disaat bersamaan. Senja juga mengidap kanker Ovarium. Kami memang sudah merencanakan akan mengangkat rahim Senja. Seminggu setelah acara Bey selesai. Bukan secepat ini." Darren menitikkan bulir bening. Tangannya gemetaran mencari aplikasi penjualan tiket pesawat online.


Sarita menarik napas begitu berat. Satu ujian baru saja terlewati, sekarang sudah ada ujian lagi yang datang. Begitu banyak tanya di benak Sarita. Terlebih lagi dia juga sangat terkejut dengan kenyataan yang baru saja didengarnya.


Mahendra yang belum bisa terlalu banyak bergerak, memberikan kode agar Sarita menenangkan Darren terlebih dahulu. Pria itu memilih diam. Bukan tidak peduli. Namun dia tahu betul, disaat seperti ini, kata-kata penyemangat saja terasa tidak cukup dan percuma. Darren membutuhkan lebih dari itu.


Sarita mengerti isyarat yang dikirimkan oleh Mahendra melalui gerakan mata sang suami. Hati Sarita yang tadinya sudah diliputi rasa lega, kini kembali berkecamuk. Melihat Darren begitu sedih, hatinya seperti tersayat-sayat. Sarita paham betul apa yang dirasakan Darren saat ini. Dia pun baru beberapa waktu yang lalu mengalami. Melihat belahan jiwa dan teman hidupnya berjuang melawan penyakit, sungguh membuat semua ketegaran yang dimiliki berubah menjadi rapuh. Perempuan itu perlahan ikut duduk di lantai bersama sang putra.

__ADS_1


Darren menghempaskan ponselnya begitu saja di lantai. Mengetahui tidak ada jadwal penerbangan, membuat tubuhnya semakin lemas. Pria itu mereemas rambutnya untuk melampiaskan kekesalan, putus asa, kekhawatiran dan juga kesedihan yang berkecamuk di dada. bola matanya memerah diselimuti kabut genangan bulir-bulir bening.


Sarita hanya diam. Bibirnya mengatup rapat, sedangkan tangannya mulai terulur mengusap lengan Darren naik turun. Tidak akan pernah ada rangkaian kata yang tepat untuk seseorang yang sedang mengalami ketakutan akan rasa kehilangan.


"Ma... Darren harus bagaimana? Darren tidak ada di sisi Senja disaat dia seperti ini." Darren merebahkan kepalanya di pangkuan Sarita.


"Sabar, Darr. Senja pasti akan baik-baik saja. Senja perempuan yang sangat kuat. Dia baik, dan sangat penyayang. Banyak yang akan mendoakan Senja. Memang kamu tidak ada di sana. Tapi Senja tahu pasti, di dalam hati dan pikiranmu, kamu selalu di dekatnya. Tuhan sebaik-baiknya penjaga. Tuhan menjaga Senja lebih baik dibanding kita semua."


Jemari Sarita menyisir rambut putranya. Tatapan matanya kini menerawang jauh. Dia tahu, ucapannya tidak akan cukup meredam rasa apa pun yang dirasakan Darren sekarang. Sarita memejamkan matanya, menahan tangisnya sendiri. Pundak Darren semakin terguncang. Seperti orang yang tidak berdaya.


Di sisi lain, Zain, Dasen, dan Derya---ketiganya menegarkan diri berdoa di dalam musholla yang ada di luar area rumah sakit. Mereka memanjat doa dengan khusyu'. Sedih memang, tapi apa yang bisa mereka lakukan sekarang selain pasrah. Dokter terbaik sudah diberikan, dan obat-obatan apa pun yang disarankan oleh dokter pasti sanggup mereka beli. Kini, semua hanya menunggu kuasa Tuhan. KetetapanNya, tidak bisa ditawar dan ditukar. Bahkan dengan keimanan mereka.


Hampir menghabiskan satu jam berada di dalam tempat tersebut, ketiganya memutuskan untuk kembali menunggu proses operasi di ruang tunggu. Darren sudah tidak lagi menghubungi satu pun dari anak-anaknya lagi. Semua cukup memahami, situasi yang dihadapi sama-sama berat. Tidak saling membebani dengan keresahan satu sama lain adalah pilihan mereka.

__ADS_1


"Kak, apa kita harus menghubungi daddy lagi? Pasti daddy sangat sedih. Kita masih bersama-sama di sini. Selain khawatir, daddy tentu merasa bersalah karena tidak menemani Mama." Dasen memecah keheningan meski dengan suara pelan.


"Tidak perlu, Das. Daddy tidak menghubungi kita sejak kakak memberikan kabar tadi. Daddy butuh waktu untuk sendiri. Semoga cuaca segera membaik, agar daddy bisa bertukar posisi dengan Derya." Zain menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel. Dia sedang berbalas kabar dengan Sekar.


Zain, Derya, dan Dasen---tiga orang yang masih beruntung kali ini. Ketiganya masih bisa berada lebih dekat dengan sumber kekhawatiran terbesar saat ini. Sedangkan yan lain? Beyza, Genta, Sekar, Baby De, Bae dan Arham. Mereka semua sedang memainkan drama di depan banyak orang. Sebuah drama yang membuat undangan merasa semua berjalan sesuai rencana, tanpa menyadari duka yang sedang menyelimuti keluarga Darren Mahendra.


Mereka yang berpura-pura tersenyum di tengah rasa sedih, tentu lebih berat bebannya. Tersenyum di tengah suasana hati yang mendung, itu tidak mudah.


"Kak, berapa lama lagi?" Derya berdiri, bahasa tubuhnya mulai menunjukkan ketidaksabaran.


"Entahlah, Der. Biasanya tidak lebih dari dua jam. Ini sudah lewat dari 140 menit. Kita tunggu saja." Zain menelan ludahnya kasar.


Dasen menggigit ujung jempolnya berkali-kali, dia pun mulai dilanda keresahan yang lebih. Berbeda dengan Zain yang masih menghubungi Sekar. Dasen sama sekali tidak menghubungi Denok. Fokusnya, memang sedang tertuju hanya untuk sang mama yang tengah berjuang mendapatkan kesembuhannya.

__ADS_1


Ketiganya kembali larut dalam pikiran masing-masing. Tanpa mereka sadari, Dokter Hanafi sebagai ketua tim Dokter yang melakukan tindakan, menghampiri Zain dengan raut wajah yang sulit diartikan.


__ADS_2