Hot Family

Hot Family
Berbicara pada Darren


__ADS_3

"Iya. Mau, ya? Please. Cuma kak Zain dan Sekar yang kemarin ke rumahmu itu, Sama adikku dan pacarnya." tambah Dasen.


Denok tidak langsung menjawab. Karena dia harus berpikir masak-masak. Jangan sampai mengatakan iya, lalu mempermalukan diri sendiri apa lagi mempermalukan Dasen.


"Tenang saja. Semua keluargaku, tidak memandang fisik apalagi harta. Kami sadar diri, Tuhan terlalu melebihkan ketampanan, kecantikan dan kekayaan pada kami. Jadi sudah wajar, kalau ada orang lain, yang tidak kebagian kesempurnaan itu." Dasen seolah tahu apa yang dipikirkan oleh gadis yang ada di sampingnya.


Denok ingin mengatakan kekasih dadakannya itu sombong, tapi nyatanya, apa yang diucapkan memang tidak sepenuhnya salah. Nyatanya, Dasen memang mempunyai semua hal yang tanpa dia sombongkan sekali pun, orang sudah mengakuinya.


"Baiklah, aku mau. Tapi kasih tahu tempatnya di mana dan aku harus pakai baju apa. Aku takut membuat kamu malu."


"Tenang saja. Aku tidak akan membuat diriku sendiri malu. Jika mereka bersama pasangan istimewa. Maka aku pasti akan bersama pasangan yang lebih istimewa."


Rudi menghentikan mobilnya tepat di pelataran lobby utama kantor Senja.


"Sini salim dulu, sebelum kita ke level pacaran lebih lanjut, begini saja cukup." Dasen mengulurkan tangan kanannya.


Layaknya seorang bocah yang penurut Denok menerima uluran tangan Dasen, lalu meletakkan punggung tangan laki-laki itu di keningnya. "Pakai sin pipi tidak?" tanyanya, langsung dijawab anggukan kepala oleh Dasen.


'Hmmm... alus.' Rudi terus menggerutu dalam hati, melirik Denok bmencium pipi kiri kanan Dasen.


Setelah memastikan Denok masuk kr kantor, Dasen menyuruh Rudi melanjutkan perjalanan mereka menuju Mahendra Corp.


"Pak Rudi, percaya tidak sama ramalan?" tanya Dasen.


"Tidak, Den," sahut Rudi.


"Baguslah! Aku juga tidak mau percaya. Mama Nja kan baik dan kalem. Mana mungkin diramalkan tidak akan menyetujui hubunganku sama Denok. Tidak mungkin." Dasen menghibur dirinya sendiri.


🍀

__ADS_1


Derya mengantarkan Inez ke bandara. Hari ini gadis itu memutuskan untuk kembali terlebih dahulu ke Jakarta.


Sama seperti Sekar dan Zain. Semalam, keduanya baru saja lolos dari maut godaan setan yang memabukkan. Seatap bersama tanpa ada orangtua yang mengawasi, membuat Derya dan Inez hampir saja lengah. Untunglah alarm pengingat dosa cepat menyala.


"Ay, Kamu pulang hari jumat malam atau sabtu paginya?" Inez mengamit lengan Derya dengan posesif. Keduanya berjalan mendekati pintu keberangkatan internasional.


"Nanti, aku kabari. Kamu hati-hati. Kabari kalau sudah sampai." Derya dan Inez kompak menghentikan langkah.


"Iya, Ay. Maaf ya, pernah sempat menyebalkan dan membuat mamamu kesal. Aku berjanji, akan berusaha lebih lagi untuk mempertahankan hubungan kita, Ay." Inez langsung memeluk Derya.


"Tidak masalah, perjalanan kita masih panjang. Ujian kita belum ada apa-apanya. Satu hal yang pasti, jangan pernah berhenti mencintaiku. Apa pun ujiannya, kita akan menghadapi bersama. Aku yakin mama dan daddy pada akhirnya akan merestui kita tanpa kita mengubah keyakinan kita. Selama kamu baik tentunya." Derya melonggarkan pelukannya, lalu menowel hidung mungil milik Inez dengan gemas.


Suara panggilan penumpang pesawat tujuan Jakarta, membuat Derya dan Inez kompak menarik napas dalam.


"Aku pulang, Ay. Sampai ketemu akhir pekan. Jangan lupa berdoa. Semoga ada jalan untuk kita berdua." Inez mengambil kopernya dari tangan Derya, memeluk dan mencium laki-laki itu sekilas, lalu perlahan berjalan masuk ke ruang pemeriksaan penumpang.


🍀🍀


Di taman apartemen, Senja dan Darren yang sudah berbaikan duduk di bangku taman. Senja menyenderkan kepalanya di bahu sang suami. Keduanya menikmati langit Senja Aussie sembari menunggu kedatangan Beyza.


"Ask. Bulan depan, Bey akan kembali ke Indonesia. Dia bersedia meneruskan perusahaan." Senja mencoba mengawali pembicaraan dengan hati-hati.


Darren mengernyitkan keningnya, heran dan juga curiga. "Kenapa tiba-tiba mau pulang?"


"Mungkin kekasih Bey ada di Indonesia. Kita tidak tahu. Tapi melihat dari gelagatnya. Dia sedang jatuh cinta."


Darren seketika menegakkan badannya. "Siapa laki-laki yang mempunyai kepercayaan diri tinggi sekali untuk menggeser aku di hati Bey?"


Senja mencubit pipi suaminya dengan keras. "Kamu dan siapapun kekasih atau suami Bey, nanti. Tidak untuk disejajarkan. Posisinya jelas berbeda."

__ADS_1


"Bey, anak perempuan kita satu-satunya, Ask. Kita harus memastikan laki-laki yang menjadi suaminya adalah orang yang beriman, setia, bertanggung jawab, tidak mudah tergoda wanita dan mapan."


"Untung Senja ini bukan satu-satunya anak perempuan Arham, kalau sampai Arham menerapkan syarat yang sama denganmu. Sudah pasti, menantu Arham bukanlah Darren Mahendra," goda Senja.


Darren mendengus kesal, setiap menyinggung masa lalu jelas saja dia kalah. Bahkan kekayaan dan ketampanan tidak cukup menutup masa lalunya yang memalukan.


"Ask, ada sesuatu yang Senja khawatirkan." Nada suara Senja tiba-tiba terdengar sendu.


"Apa itu?"


"Senja merasakan, Allah begitu baik pada kita. Setiap ujian yang datang pada kita, selalu dapat kita lalui dengan baik. Aku takut, yang merasakan karma dari kesalahan masa lalu kita adalah anak-anak."


"Apa maksudmu?" Darren menatap Senja seperti tidak senang, sedikit banyak dia merasa, kalau pasti masa lalu itu mengarah pada kebodohannya.


"Aku ingin bertanya. Jawab dengan sejujur-jujurnya. Dengan hati kecilmu yang terdalam, dan jangan marah atau pun tersinggung. Janji." Senja mengangkat jari kelingkingnya tepat di depan wajah Darren.


"Janji." Pria itu menautkan jari kelingkingnya dengan jati kelingking Senja.


"Taruhlah anak-anak kita sebagai anak seorang pemerkosa. Apakah itu berarti Beyza berkepribadian tidak baik? Apakah itu artinya Beyza tidak berhak mendapatkan perlakuan yang sama dengan orang lain?" Senja menyampaikan pengandaian dengan hati-hati.


Darren seketika melepaskan tautan jari kelingkingnya. Dia langsung berdiri, mengabaikan Senja yang jadi terhuyung karena sandarannya beralih tiba-tiba.


"Kenapa harus pengandaian itu lagi? Setelah puluhan tahun. Tidak bisakah kamu melupakan itu? Bukankah kamu mencintai orang yang memperkosamu itu? Bukankah bersama dia kamu mempunyai anak-anak hebat dan luar biasa? Tidak bisakah aku hidup tenang dan tidak mendengar kalimat itu lagi dari mulutmu?" Darren menatap Senja dengan tajam.


"Anggap aku adalah cerminan dirimu yang pendendam. Sudah lama aku memisahkan dirimu yang pemerkosa dengan dirimu yang suami dan ayah dari anak-anakku. Tapi untuk satu hal, aku akan menggabungkan keduanya menjadi kamu yang utuh."


"Di mana anak itu? Dia datang lagi? Apa dia yang membuat Bey kembali ke Jakarta adalah anak itu?" Darren menebak dan tahu dengan mudah arah pembicaraan Senja.


"Jika aku menjawab anak itu di sini, Dan benar memang dialah yang dicintai Bey dan dia jugalah yang berhasil membujuk Bey pulang ke Indonesia. Apa yang akan kamu lakukan, Ask?"

__ADS_1


__ADS_2