Hot Family

Hot Family
luka karena Malino


__ADS_3

"Siapa Malino? Ini mendiang ayahnya Genta. Kalau tidak salah namanya Aris." Senja tidak paham apa maksud suaminya.


"Kamu tahu siapa Malino? Dia adalah pria paling br3ngs3k yang aku temui." Darren terlihat menyimpan kebencian yang sangat dalam.


"Suruh anak-anak memutus pertemanannya dengan Genta. Tidak boleh ada satu pun keturunan Mahendra yang dekat dengan keturunan Malino." Darren tetap bertahan dengan emosinya.


"Ask, Senja tidak akan melarang Bey dan Derya berteman dengan Genta, apalagi untuk alasan yang tidak jelas." Senja pun masih bertahan dengan ketidaktahuannya.


"Jelas, Ask. Jelas kalau keluarga Malino itu tidak layak diberi kebaikan. Apa kamu tidak tahu kalau Aris Malino itu meninggal karena di bunuh? Keturunan dan silsilah mereka rumit. Perebutan harta, tahta dan wanita, kental di keluarga itu."


"Tapi, Ask. Sangat tidak bijak kalau kamu membenci Genta hanya karena silsilah keluarga yang bahkan tidak pernah dia temui."


"Kamu ingin tahu yang sebenarnya?" Mata Darren berkabut menahan rasa yang berkecamuk di dadanya. Ada marah, kesal dan sedih yang teraduk menjadi satu.


Rasa itu bukan untuk Senja, tapi untuk orang yang sedang mereka sebut-sebut namanya.


Senja turun dari ranjang, memunguti bajunya dan ke kamar mandi. Dia sengaja menjeda pembicaraan. Sepertinya, apa yang terjadi di masa lalu sangat menyakitkan.


Sejauh perjalanan pernikahan mereka, tidak pernah Darren berbicara menggebu-gebu penuh amarah tentang orang lain.


Darren langsung memakai bajunya kembali. Lalu menjatuhkan diri dilantai, bersandar di ranjang.


Sudah puluhan tahun berlalu. Bahkan dia tidak akan mengingat kalau tidak ada hal yang memicu ingatannya.


Senja keluar kamar mandi dengan wajah yang kembali segar. Melihat suaminya tampak tidak seperti biasanya, Senja pun mendekat dan ikut duduk dilantai.


"Sebenarnya, Senja tidak ingin bertanya. Karena menceritakan luka masa lalu, sama halnya dengan menabur garam di atas luka. Tapi Senja harus tahu, agar bisa menjelaskan pada anak-anak jika memang perlu mereka menjauhi Genta," lirih Senja.


"Aku harus meeting sekarang. Nanti kita bicarakan lagi di rumah. Pulanglah. Maaf, aku tadi sangat emosional." Darren mengecup kening istrinya.


"Tidak mengapa. Ya sudah, Senja pulang. Hati-hati!" Senja mengecup pelan bibir suaminya, lalu berjalan meninggalkan ruangan Darren.


Banyak tanya muncul dibenak Senja. Tapi ada daya, waktu belum memihak padanya untuk mengetahui peristiwa yang membuat Darren emosi seperti itu.


Sejauh yang dia tahu Genta adalah anak yang baik, pintar, taat dan sopan. Belakangan, Senja juga baru tahu, kalau Rangga tidak ada hubungan darah sama sekali dengan Genta. Dia hanyalah sahabat dari orangtua anak itu.

__ADS_1


Entahlah, Senja tidak mau berpikir terlalu keras. Membayangkan Genta langsung berpisah dengan Beyza dan Derya saja sudah membuatnya sedih. Apalagi kalau sampai benar-benar terjadi.


Sampai di rumah, pintu utama terbuka lebar. Biasanya kalau seperti ini, berarti ada tamu yang datang.


"Nah, itu mama." Beyza menunjuk ke arah Senja. Serentak semua yang ada di ruang tamu pun menoleh.


"Bu Eliz ... Pak Rangga ... sudah lamakah? Maaf tadi mampir ke kantor daddy-nya anak-anak dulu." Senja menjabat tangan bu Elizabeth dan Rangga bergantian.


"Hai, Sayang ...." Senja langsung memberikan hangat pada Genta.


"Ini kunci mobilnya Darren. Maaf, baru sempat mengembalikan. Terimakasih, Bu Senja. Mobilnya keren sekali." Rangga memberikan kontak mobil pada Senja.


"Kami yang berterimakasih, Pak. Sebentar saya ambilkan kunci mobil, Bapak dulu. Sebentar ya bu Eliz, saya masuk dulu," pamit Senja, lalu melangkahkan kaki agak cepat.


Karena Mamanya sudah ada, Berya, Derya dan Genta pun bergeser tempat ke ruangan keluarga dengan obrolan ringan khas anak muda.


"Bey, hubungi kak Zain. Minta mengurus visa kalian. Kalau bisa kita berangkat. Papa sudah mengizinkan kita ke UK." Ucapan Senja sontak membuat Derya dan Beyza bersorak bahagia.


"Genta boleh ikut tidak?" Wajah anak itu terlihat memelas.


Dengan semangat, Genta berjalan di belakang Senja untuk menemui ayahnya.


"Ini kontak mobilnya Pak Rangga. Terimakasih sudah merepotkan. Berarti tadi Genta ke sini naik apa? Kan mobilnya hanya cukup untuk berdua saja." Senja baru sadar kalau mereka datang bertiga.


"Genta tadi datang diantar driver terlebih dahulu. Saya mengambil rapor ke sekolah, dia juga berangkat ke sini," jelas Rangga.


Senja duduk di sofa single dengan anggun. "Saya jadi malu, malah Bu Eliz yang berkunjung lebih dulu."


"Tidak mengapa, ini tadi mumpung senggang. Bukan musim orang menikah. Jadi catering tidak terlalu padat." Bu Elizabeth tersenyum begitu ramah pada Senja.


"Yah ...," panggil Genta, menyela pembicaraan.


"Apa?"


"Yah, Genta boleh ikut liburan ke UK tidak? Sama kak Zain, kak Dasen, Derya, Beyza dan juga Mama Nja?" tanya Darren, penuh harap.

__ADS_1


Rangga terdiam sejenak. Bukan masalah kalau hanya soal uang. Tapi dia tidak enak kalau sampai nanti justru tidak mengeluarkan uang sama sekali.


"Visa Beyza, Derya dan Dasen apa sudah di urus?" tanya Rangga pada Senja.


"Belum, pak. Biasanya Zain yang urus."


Rangga menoleh pada Genta, yang kini sedang menunggu jawabannya. "Boleh." angguknya.


Genta langsung memeluk ayahnya, lalu berlari kecil kembali ke ruang tamu.


"Visa buat semuanya, biar saya yang uruskan, Bu. Jangan menolak. Kalau Bu Senja menolak, Genta tidak jadi ikut, dan dia pasti kecewa kalau ketidak ikut sertaannya karena Bu Senja." Rangga sedikit mengancam sembari bercanda.


"Saya tidak menolak Pak, jujur kami tidak terlalu suka berurusan dengan birokrasi. Biasanya Zain juga diurusin sama orang lain," timpal Senja.


"Kalau Genta ikut, apa Bu Senja tidak kerepotan? Bawa anak-anak remaja, pasti keinginannya berbeda-beda." Bi Elizabeth merasa ridak enak.


"Saya sudah terbiasa banyak anak, Bu. Kalau ada adik-adik saya, malah bisa bersama 12 anak saat jalan-jalan."


"Senja hebat, ya. Kalau Ibu sudah tidak mampu. Sekarang sih enak. Sudah besar-besar. Pas kecil dulu, pasti repot sekali," puji bu Elizabeth.


"Kalau saya pribadi malah seneng pas anak-anak masih kecil, Bu. Capek dan ribetnya cuma di fisik. Begadang sudah sehari-hari. Karena anak-anak selisih usianya tidak banyak dan walaupun ada babysister, kalau malam lebih suka tidur sama saya. Sekarang sudah besar. Capek fisik hilang, ganti pikiran dan hati yang suka tidak tenang. Khawatir pergaulan dan yang lain-lain," tutur Senja panjang lebar.


Ketiganya pun terlibat obrolan akrab dan hangat, bercerita masa kecil anak-anak, hingga Rangga sedikit membuka masa lalunya dengan bunda Genta yang ternyata mantan kekasihnya.


Obrolan mereka terhenti, begitu ada suara mobil berhenti tepat di depan latar pintu utama.


"Sebentar ya, Bu, Pak Rangga. Sepertinya mama mertua saya. Kebetulan tadi mengatakan akan menginap sebelum anak-anak berangkat berlibur." Senja berdiri untuk menyambut tamunya.


Benar dugaan Senja, yang datang adalah Sarita.


"Ada tamu, Nja?" tanya Sarita sembari berjalan beriringan dengan menantunya.


"Oma sama ayahnya Genta, Ma."


Langkah Sarita berangsur melambat, bahkan kini cenderung berhenti. Tas digenggamannya terjatuh. Matanya berkaca-kaca, tubuh Sarita seperti tidak bertulang. Kakinya tidak sanggup lagi melangkah.

__ADS_1


"Elizabeth, bagaimana bisa dia di sini." gumam Sarita, lirih.


__ADS_2