Hot Family

Hot Family
Dasen, Sweet sweet sweet


__ADS_3

Senja ingin tertawa tapi ditahan. Dasar titisan Darren, tentu saja sangat narsis.


"Ma, Dasen bawa hadiah untuk Mama. Bukan bunga, batu permata apalagi berlian. Das, belum punya cukup uang sekarang. Nanti ya, kalau Dasen sudah menjadi ceo Mahendra Corp, Dasen akan membuatkan Taj Mahal untuk Mama, atau seribu candi dalam satu malam. Apapun akan Dasen berikan untuk Mama."


Sarita dan Bae kompak saling beradu siku dengan tatapan masih penuh tanya.


"Aduh, Darr. Papa kok berasa sedang melihat bibit-bibit Darren yang lebih berbahaya di sini." kekeh Mahendra.


Darren memijat pangkal hidungnya, sama sekali tidak menyangka Dasen bisa mengucapkan rayuan, yang bahkan dia sendiri tidak pernah mengucapkannya.


Karena Senja tidak kunjung berbalik dan melihatnya, Dasen pun tidak kehilangan akal. Dia naik ke atas ranjang, merebahkan dirinya tepat di sisi kosong Mamanya, mata keduanya pun kini beradu.


"Apa Mama tau? di bola mata Mama yang indah itu, ada wajah seorang anak tampan yang ingin meminta maaf. Dia sangat menyesal karena sudah berbicara jahat pada Mamanya. Apa akan dimaafkan?" Dassen beringsut, membuat posisinya menjadi duduk.


"Tidak! Mama tidak melihat anak itu, yang Mama lihat, anak yang semaunya sendiri. Anak yang tidak mau berprasangka baik pada Mamanya sendiri," dengus Senja.


"Karena itu, Dasen minta maaf. Das sudah membuat Mama sedih dan sakit. Dasen sangat menyesal, Ma," ucap anak itu, dengan wajah memelas.


Senja mencebikkan bibirnya. "Mama mau lihat tembok saja, Ketampananmu bikin mata Mama malah sakit. Terlalu silau."


Dasen tersenyum. Jawaban mamanya cukup menyiratkan maaf sudah dia dapatkan.


"Das, membelikan bantal khusus vertigo untuk Mama. Dasen pulang telat hari ini, karena harus berburu bantal ini sampai ke barat. Hanya tersisa satu ini. Rupanya vertigo akhir-akhir ini menjadi trend, makanya bantal ini laris. Jangan lihat harganya ya, Ma. Lihat bagaimana cara Dasen mendapatkannya. Dasen harus mengiba-iba pada beberapa orang yang sama-sama mengantri, agar mengalah. Ini sungguh limited, Ma." Dasen dengan semangat menyodorkan bantal yang dimaksud.


Sarita dan Bae menjadi terharu, di balik sikap dan tingkah laku Dasen yang konyol, anak itu sungguh manis. Keduanya sedikit iri, karena belum pernah ada yang meminta maaf dengan cara yang semanis itu pada mereka.


Mahendra kembali terkekeh. "Untung anak, coba yang lain. Sudah benjut itu kepala," sindir Mahendra, paham betul sifat cemburu akut Darren. Bahkan sekarang bibir Darren, terlihat maju dua senti.

__ADS_1


Dasen membantu Senja memakai bantal itu di bawah kepalanya. "Sembuh ya, Ma. Biar bisa gas ngomelin Dasen lagi."


Andai badan Senja fit, pasti dia akan menyumpahi dan menimpuk anak di depannya itu. Sayang tenaganya hanya cukup untuk tersenyum dan berucap pelan, "Terimakasih, Das."


"Sama-sama, Mama tercantik, terbaik dan tersayang. Sembuh, ya. Dasen tidak butuh mobil sport. Dasen lebih butuh Mama. Dasen bisa berlipat-lipat lebih keren, asal ada Mama yang menyayangi dan memperhatikan Das."


"Mau cium, Mama?" tanya Senja dengan lembut. "Tapi pelan, ya." tambahnya.


Dasen mencium pipi mamanya dengan pelan dan hati-hati. Lalu melemparkan senyum penuh kemenangan pada sang daddy. Seketika Darren berdecih dan melengos.


Dasen turun dari ranjang, merogoh sesuatu yang masih tertinggal di dalam paper bag.


"Ada yang ketinggalan, ini bisa untuk siapa saja. Ini tadi sebenarnya Dasen beli untuk Daddy. Karena daddy sering mengeluh sakit kepala juga saat Beyza meminta tidur di sini." Dasen menghampiri daddynya memberikan bungkusan berwarna silver bertuliskan painless night glu.


Sarita, Bae dan Mahendra kompak menjadi penonton setia. Dengan sabar menantikan apa yang akan dilakukan Dasen selanjutnya.


"Painless night glu, Dadd. Itu nama kerennya. Kalau kata oma Sarita itu koyo cabe. Tapi yang Das berikan ini bukan koyo sembarang koyo. Di beli dengan cinta dan tidak di jual di sembarang toko. Karena itu adalah koyo import. Bisa meredakan sakit kepala seketika. Nyeri otot karena tulang dan sendi yang menua juga bisa."


Darren sudah hampir menimpuk Dasen, tapi anak itu segera berlari meninggalkan kamar.


Semua kompak menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan kelakuan Dasen. Sungguh manis yang berlebihan itu ujungnya memang membuat pahit.


********


Mendengar suara Zain, menyapa si kembar Bianca--Carina dan Baby De, Airin pun keluar dari kamarnya.


"Aa, mau dibikinkan minum?" tanya Airin.

__ADS_1


"Tadinya haus, tapi lihat Ai kok hausnya pindah di sini." Zain mengetuk keningnya, sebagai isyarat dia ingin dikecup oleh calon istrinya itu.


"Aa!" Airin sedikit kesal bercampur malu-malu karena anak-anak gadis di sana sedang memperhatikan interaksinya bersama Zain.


"Sadar kak, kami semua masih di bawah umur, rawan meniru adegan yang dilihat di depan mata langsung," tegur Beyza.


"Sebentar-sebentar, apa bedanya kalian lihat di drama korea itu? apa menurut kalian melihat serial cinta-cintaan begitu boleh di umur kalian? Kakak tadi cuma mau tes kalian, kira-kira bagaimana reaksinya." Zain mencari-cari alasan.


"Beda kakak," sahut keempatnya kompak.


Zain lalu mengajak Airin masuk ke kamar calon istrinya itu, lalu menguncinya dari dalam.


"Aa, tidak melihat kondisi Mama dulu?" tanya Airin sembari mengikuti Zain yang duduk di tepian ranjang.


"Kata perawat, Mama sudah jauh lebih baik kok. Nanti perawatnya Aa suruh pulang, biar Aa yang jaga. Ayah dan bunda mengerti kok. Mungkin besok mereka akan datang menjenguk Mama. Bagaimana kabarmu? tidak ada keluhan kan?" tanya Zain, begitu khawatir. Seolah sewindu tidak ketemu.


"Raga, Ai baik-baik saja. Tapi, jiwa Ai agak terguncang beberapa jam ini. Keluarga Aa yang baru saja datang luar biasa kejujurannya. Ai, salut sekaligus nyesek," cerita Airin, begitu jujur.


"Oma Bae? Mami Chun?"


"Tentu saja. Tapi yang lain juga tak kalah dingin. Daddy pun juga jadi bertambah dingin. Mereka memang tidak menakutkan, apa yang mereka ucapkan itu memang kenyataan. Tapi Ai, belum biasa saja dengan keterbukaan seperti ini."


"Pelan-pelan. Mereka tidak mungkin merendahkanmu. Percayalah, mulut mereka seperti singa. Tapi hatinya seperti lalat, mudah kepleset kalau kena sesuatu yang licin. Seperti ini." Zain mendekatkan wajahnya dengan wajah Airin.


Jarak keduanya pun sudah tidak ada lagi, dua bibir merah merekah alami sudah saling bertautan. Saking mengecup, lidah keduanya bergantian menjelajah. Tangan Airin semakin kuat mencengkram lengan Zain. Sedangkan tangan Zain sudah menyusup di dalam kemeja Airin. Merasakan lembut kulit perut calon istrinya itu.


"Boleh nggak, Ai?"

__ADS_1


__ADS_2