
"Om Rangga?" Delia heran sekaligus kaget dengan keberadaan Rangga di sana.
Ayah angkat itu melemparkan senyumnya sembari memberikan kartu debit prioritas pada petugas.
"Terimakasih, Om. Ingin rasanya Delia menolak. Tapi saat ini kesehatan Jason yang terpenting. Dianggap tidak tahu malu dan murahan pun Delia tidak masalah." Perempuan itu menundukkan kepalannya saat berbicara.
"Suamimu mana, Del?" Rangga duduk di samping Delia.
"Anthony meninggal dua tahun yang lalu, Om." Tatapan mata Delia semakin sendu.
"Daddy-mu dan Mommy-mu?" selidik Rangga.
"Mereka sibuk mengurusi urusan masing-masing. Lagipula, lebih baik seperti ini. Meski kekurangan, Delia tenang. Om tahu sendirilah, setelah bercerai, Mama semakin menjadi-jadi." Delia menceritakan tentang Stefanie--mamanya yang juga mantan istri Rangga.
"Simpan nomer telepin, Om. Kalau ada masalah apapun, kamu bisa menghubungi Om. Jangan sungkan Del. Semoga Jason cepat sembuh, Om tidak bisa lama-lama. Mamanya Om sudah selesai periksa. Om harus segera ke sana. Kapan-kapan kita bicara lagi. Om akan memberikan pekerjaan padamu." Rangga memandangi layar ponsel di genggaman yang terus menyala dan menunjukkan panggilan dari mamanya.
Setelah mengambil kartu debitnya kembali, dan memberikan kartu nama pada Delia. Rangga meninggalkan perempuan itu sendirian menunggu bukti pembayaran.
"Om Rangga ...," panggil Delia, setelah Rangga berjalan beberapa langkah. Pria itu berhenti dan menoleh tanpa memutar badannya.
"Genta apa kabar, Om?" tanya Delia hati-hati.
"Genta baik. Dua hari lagi dia akan pulang ke sini untuk mempersiapkan pernikahannya." Rangga melanjutkan langkahnya kembali.
Mendengar jawaban Rangga, Delia menggigit bibir bawahnya dengan pelan. "Semoga bahagia, Gen. Dulu saat sendiri saja aku tidak bisa menggapaimu. Apalagi sekarang. Semua hanya angan." lirihnya.
Beyza berjalan santai di sebuah pusat perbelanjaan, dia menuju sebuah mall yang ada di dalam sana. Siang ini, dia mengajak Inez untuk bertemu.
Beyza dengan langkah kaki mantap berjalan menuju meja di sudut ruangan di mana Inez sudah ada di sana.
__ADS_1
"Apa kabar, Nez?" Bey memberikan sapa dan mencium pipi kiri kanan Inez.
"Tidak terlalu baik, Bey." Inez menampilkan wajah sendu, entah hanya sekedar pura-pura atau sungguhan.
"Masih karena tentang kebodohanmu dan Derya" Beyza bertanya tanpa basa basi sembari duduk di bangku di depan Inez.
"Orangtuaku sudah tahu, mereka memarahiku habis-habisan. Mereka mau Derya dan aku segera menikah."
"Semudah itu?" Selidik Beyza.
"Mau tidak mau kita menikah di negara lain, bukan? Agar pernikahan kami sah."
"Wow ... Semudah itu ya, Nez. Bukankah mereka sangat fanatik masalah agama? Kenapa jadi semudah ini. Belum tentu kamu hamil. Masalah keperawanan, aku yakin sekarang semakin banyak orang yang memaklumi. Hal itu bukan isu sensitif lagi di kalangan kita." Beyza mencoba memancing reaksi Inez lebih dalam.
"Tapi bagi orangtuaku penting, Bey. Mereka khawatir tidak ada laki-laki yang mau menikahiku setelah tahu aku sudah tidak perawan."
"Apa maksudmu, Bey? Jangan-jangan kamu mengajakku bertemu agar merayuku agar tidak menuntut Derya. Iya kan?" Inez langsung berdiri dan sedikit menggebrak meja. Suaranya yang keras membuat beberapa pengunjung seketika memusatkan perhatian pada mereka.
"Tentu saja tidak. Kenapa kamu sensitif sekali. Slow, Nez. Teman kita banyak yang melakukan hubungan badan sebelum menikah, Nez. Selama kita di Aussie. Kehidupan kita di kelilingi kebebasan. Kamu dan Derya, kalau mau seharusnya sejak dulu melakukannya. Soal tanggung jawab, kamu tidak perlu khawatir. Tapi kamu juga jangan terlalu berharap." Beyza menatap Inez dengan tajam.
"Jadi kamu dipihak mamamu, Bey?" Inez bertanya dengan bodohnya.
"Tentu saja, Nez. Aku merasa yang berbicara di depanku sekarang bukan Inez yang dulu. Inez yang dicintai Derya adalah perempuan baik-baik, yang paham betul mengendalikan diri dan emosi. Tidak pemaksa dan juga tahu diri." Beyza langsung kembali berdiri, tersenyum sinis pada Inez yang tampak menunduk salah tingkah.
"Aku memang sahabatmu, Nez. Tapi Derya adalah saudaraku. Kami hidup bersama sejak ada di rahim mamaku. Apapun kesalahannya, aku tetap terdepan melindunginya dari niat jahat siapa pun. Masih ada waktu untuk berubah pikiran. Sebelum semua lebih hancur." Beyza mengatakannya tepat di samping telinga Inez.
Kekasih Derya itu bergeming, dia yang tadinya mengira Beyza akan mendukungnya karena sesama perempuan, ternyata malah sebaliknya. Sepertinya mamanya benar, hanya kehamilan yang akan menyelamatkan hubungannya dengan Derya.
Inez menghubungi seseorang, dan sesaat kemudian dia segera beranjak meninggalkan resto itu. Inez menuju sebuah kamar hotel yang letaknya di lantas atas pusat perbelanjaan.
__ADS_1
Di rumahnya, Senja masih disibukkan dengan Darren dan Dasen yang sama-sama meminta diperhatikan dan dimanja di saat bersamaan.
Kini, Senja agak lega, karena Dasen sudah bisa tidur setelah minum obat. Tapi satu pasiennya lagi, malah terang benderang matanya.
"Ask. Kalau kamu tidak tidur, bagaimana bisa cepat sembuh," dengus Senja sembari menguncir rambutnya tinggi-tinggi.
"Obatnya Zain sepertinya tidak manjur. Lagi pula ini hanya flu, bukan penyakit serius. Tidak mempengaruhi anggota tubuhku yang mengeliat." Darren menarik tangan Senja untuk memegang naga panjangnya.
"Astaga, Ask. Kamu ini memang. Sakit-sakit masih saja. Kapan nagamu ini bisa tenang. Semakin bertambah umur, bukannya makin berkurang, malah semakin menjadi." omel Senja.
"Ayolah, Ask. Obatku cuman kamu. Hidungku sedikit buntu, dengan keajaiban tangan dan mulutmu, pasti akan membantu membuat hidungku lega," Pinta Darren sangat tidak masuk akal.
"Enggak. Mana ada cara seperti itu," dengus Senja.
"Sekali saja. Tolong aku biar cepat sembuh. Mana bisa sehari saja aku melewatkan itu. Jangan cium aku, langsung saja. Aku hanya perlu dibantu seperti biasanya."
Senja menatap suaminya yang menatapnya dengan mata berkabut hasratt. Dengan terpaksa, Senja menurunkan celana rumahan suaminya itu hingga sebatas lutut. Naga yang sudah mengeliat dan berkedut langsung menyambutnya.
Senja mulai melakukan aksinya, kali ini dia ingin sedikit berbeda. tubuhnya menghadap berlawanan arah dengan sang suami. Bahkan kini, kepala Darren berada di antara kedua pahanya. Daster yang dia kenakan pun menutupi sebagian wajah Darren yang masih menggunakan kaos. Membuat pria itu menggulung kain itu ke atas hingga sebatas atas dada sang istri.
Naga itu semakin mengetat di dalam rongga mulut Senja, tubuh sang empunya semakin mengeliat. Desahaan mulai lolos dari mulut pria itu. Tangannya meraba-raba, mencari pegangan. Bukan hanya memegang atau menggenggam, nyatanya tangan itu menyusup di kacamata berenda, memainkan dan memilin pucuk kecoklatan yang lumayan besar itu dengan gemas.
Senja mulai terpancing, tubuhnya ikut menggelinjing merasakan liarnya pernainan tangan sang suami di dadanya. Tanpa sadar dia mengarahkan sesuatu miliknya tepat di mulut Darren.
Bagaikan kucing yang melihat ikan, pria itu tidak menolak. Dengan cepat, Darren menurunkan segitiga berenda yang tepat di atas mulutnya itu dan melahap isinya tanpa ampun.
Belum sampai Senja mendapatkan desiran, Darren sudah memintanya untuk menjauhkan naga dari mulutnya. Dengan bantuan tangan, cairan putih kental menyembur sampai mengenai dagu Senja.
"Kamu luar biasa, Ask," ucap Darren dengan suara yang masih mendesaah.
__ADS_1