Hot Family

Hot Family
Jadwal operasi


__ADS_3

"Ada kalanya kita harus bohong, Der. Bukan karena kita ingin membodohi orang yang kita bohongi, tapi untuk melindungi dilema yang pastinya akan lebih membebani," ucap Dasen.


Derya mengangguk setuju. Dia menerima panggilan ponsel tersebut dan berusaha mengucapkan salam dengan nada senormal mungkin.


"Mama Nja kemana, Der?" Terdengar suara tanya Darren dari speaker ponsel.


"Mama tidur, Dadd ... bagaimana dengan Opa?" Derya langsung berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Opa masih diobservasi. Kamu doakan opa, ajak yang lain juga berdoa. Semoga opa segera siuman, dan selanjutnya proses pemasangan ring segera dilakukan."


"Selalu, Dadd. Jaga kesehatan. Peluk sayang buat oma. Derya sudahi dulu ya teleponnya. Derya ngantuk." Saudara kembar Beyza itu pura-pura menguap sampai bersuara, sekedar ingin membuat sang daddy percaya.


Darren pun menyudahi dengan menitipkan salam dan pesan untuk Senja. Pria itu meminta Derya menyampaikan pada Senja, agar segera menghubunginha jika sudah terbangun.


Sesaat, Derya menarik napas lega. Sekarang aman, entah besok. Hanya bisa berharap, kondisi Senja secepatnya membaik. Agar dia atau Dasen, tidak perlu lagi berbohong.


Di sisi lain, tepatnya di satateroom di mana Bae dan Arham berada. Keduanya nampak begitu sedih, duduk saling berdampingan di tepian ranjang. Tatapan mata sama-sama menerawang tanpa fokus ke arah bawah.


"Kenapa harus Kemala? Apa tidak cukup cobaan yang diberikan padanya? Sejak kecil, hingga saat ini, ada saja masalah yang menguji," keluh Bae.

__ADS_1


"Tuhan tahu Kemala kuat, Bae. Ujian tidak selalu ditujukan untuk orang yang mengalami langsung. Bisa jadi, ujian itu ditujukan untuk orang di sekitarnya. Kemala begitu kuat. Tanpa kita, tanpa suami, dan bahkan tanpa anak, dia bisa membuktikan kalau dirinya mampu berdiri tegar. Darren dan anak-anaknya, terlalu menggantungkan semua pada Kemala. Tuhan mungkin ingin mereka semakin sayang dan menghargai keberadaan Kemala. Jika tidak ada Kemala yang mengendalikan rumah, tentu mereka tidak akan biasa." Arham menepuk-nepuk punggung tangan Bae yang berada di atas pahanya.


"Dan di tengah sakitnya, Kemala masih memikirkan orang lain. Termasuk kita.Di mana dia tidak menginginkan kita tahu. Kemala tetap berusaha mewujudkan pernikahan impian Bey. Chun benar. Akhir-akhir ini, Kemala terlihat lebih sering diam. Ternyata, dia sedang menahan rasa sakit. Ibu macam apa aku ini? Sampai raut kesakitan anak saja tidak paham." Bae meneteskan air mata. Rasa bersalah menyeruak di dadanya. Di tambah lagi ketika dia mengingat, saat-saat pertama dulu, dia pernah sangat membenci Senja.


"Tidak perlu menyalahkan dirimu, Bae. Kita sama. Terlebih aku. Sedari lahir, aku tidak pernah memberikan apa-apa padanya. Sudah untung Kemala masih mau mengakuiku. Meski aku tahu, cinta dan kasih sayang Kemala pada kita seperti berjarak. Aku bahkan sering iri pada Mahendra dan Sarita. Mereka hanya mertua bagi Kemala, tapi aku tahu pasti, Kemala lebih berat pada mereka ketimbang pada kita."


Bae menarik napas begitu berat. Apa yang dibicarakan Arham memang benar. Dia pun juga merasakan hal yang sama. Sering kali, bahkan hampir selalu, jika ada dirinya dan Sarita di tempat yang sama, yang pertama kali dipeluk dan di cium tangan adalah Sarita. Sederhana, dan terlihat biasa, namun hal itu jelas menandakan yang mana yang diprioritaskan.


"Sudahlah! Masih untung kita diterima. Ketimbang kita membicarakan hal yang tidak penting begini, lebih baik kita berdoa. Untuk Mahendra, dan juga untuk Kemala. Aku rela menukar nyawaku demi kesembuhannya. Aku pastikan itu." Arham berusaha menarik garis senyuman di bibirnya.


"Aku pun juga."


***


Di dalam ruangan intensif, Senja sudah dipasangkan alat bantu pernapasan. Kesadarannya perlahan mulai pulih. Namun obat yang disuntikkan melalui selang infusmembuatnya enggan membuka kedua bola matanya. Setiap pembicaraan Zain, Dokter Nuke dan satu dokter spesialis kanker senior Zain, terdengar jelas di telinga Senja.


"Selama keadaan Bu Senja senormal ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hal yang dialami tadi cukup wajar di tengah fase peralihan stadium kankernya yang semakin menuju level tiga. Untuk itu, pengangkatan rahim memang sebaiknya langsung kita lakukan besok," tegas dokter senior bernama Hanafi itu.


"Baik, Dok. Semua persiapan sudah Oke. Kita bisa lakukan di rumah sakit internasional di Pulau Dewata. Kalau kita harus melakukan perjalanan lagi ke negara S atau ke Jakarta, akan sangat beresiko," timpal Zain.

__ADS_1


Dokter Nuke dan Dokter Hanafi kompak mengiyakan ucapan Zain. Mereka pun berpikiran hal yang sama. Setelah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, Kedua dokter tersebut berpamitan dan meninggalkan stateroom khusus tersebut.


Zain meraih tangan Senja yang tidak terpasang infus sembari mendudukkan diri di tepian brankar.


"Ma, Zain yakin mama bisa mendengar Zain. Mama boleh tidur dan beristirahat sekarang, tapi Zain mohon, Mama berjuang untuk kesembuhan Mama. Besok, perjuangan itu dimulai. Bawa Daddy, Zain, Dasen, De, Derya, dan Beyza dalam pikiran Mama. Mama harus kembali pulih. Mama mengerti?"


Senja menggerakkan jemarinya. Zain pun menarik senyuman tipis. Pria itu mencium punggung tangan mamanya bertubi-tubi.


"Kami sangat membutuhkan Mama. Jangan membuat kami takut. Besok pagi, paksa mata Mama sebisa mungkin untuk terbuka, jangan turuti dia yang manja. Zain akan di sini bersama Mama."


Senja lagi-lagi memberi isyarat bahwa dia mendengar dengan cara menggerakkan tangannya.


Di tempat yang berbeda, Darren dan Sarita sedang berbicara dengan dokter yang menangani Mahendra. Berkat doa semua orang, Papa dari Darren Mahendra itu telah mendapatkan kembali kesadarannya.


"Besok pemasangan ring akan dilakukan. Kami mohon pihak keluarga bisa membaca terlebih dahulu berkas yang harus ditanda tangani sebagai bukti persetujuan." Dokter menyodorkan satu map berwarna putih berlambangkan logo rumah sakit.


"Kamu saja, Darr. Mama nggak paham. Kamu temani Mama sampai Papa sembuh ya. Mama yakin Senja pasti mengerti," pinta Sarita, terdengar begitu sendu.


"Iya, Ma. Darren akan menemani Mama," janji Darren.

__ADS_1


__ADS_2