
Dasen ingin mengajak daddynya berjalan melewati sisi lain, agar perempuan yang dipanggil ibu oleh Denok itu tidak melihatnya.
Tapi terlambat, Erika menoleh ke arahnya. Begitu sumringah, Dasen membalas senyuman itu sedikit terpaksa. Tapi rupanya senyuman itu bukan tertuju untuk dia.
Darren menghentikan langkahnya, bulu kuduknya seketika berdiri, merasakan hawa horor sedang mendekatinya. Dia menggeleng kuat, lalu membaca nama gedung yang ada di belakang meja resepsionis.
Dia berada di tempat yang tepat, dan masih sore hari. Tapi makhluk jadi-jadian yang semakin mendekatinya itu, kenapa bisa bergentayangan di depannya?
Darren bergeming. Tiba-tiba merutuki kebodohannya di jaman dulu, bagaimana bisa membayar dan menggunakan jasa perempuan di depannya sampai beberapa kali. Sekarang melihat saja, ada perasaan jijik dan begitu menyesal. Meski masih hitungan jari, perempuan itu akan merasa sombong seumur hidup, karena pernah memainkan naga miliknya.
"Darren Mahendra. Jodoh memang tidak ke mana. Berpuluh-puluh tahun tidak bertemu, kamu tidak banyak berubah. Bahkan semakin tampan dan menantang." Erika menyapa dengan gaya genit yang sudah mendarah daging di dirinya.
Dasen tidak sanggup menyembunyikan keterkejutannya. Ibu sang kekasih, ternyata seperti mengenal baik daddy-nya. Entah pertanda baik, atau malah akan menyuramkan masa depannya.
"Hai, Das. Ibu kebetulan ada urusan di sekitar sini. Sekalian mau mengantar makanan untuk Denok. Tidak heran, Ibu merasa tidak asing dengan wajahmu. Rupanya kamu anak dari Darren mahendra. Benar begitu bukan?" Erika semakin berani bicara dengan genit. Tangannya hendak menyentuh lengan Darren, tapi tangannya di hempas kasar oleh pria itu.
Terlihat jelas raut wajah penasaran Dasen. Sekarang tanya tidak hanya milik Darren. Tapi juga milik titisannya. Keduanya saling bertukar pandang, mengisyaratkan ingin segera kabur dari sana.
"Kalian berdua saja? Apa Senja sudah meninggalkanmu? Dia sudah meninggal? Kamu seorang duda sekarang?" Erika memberi pertanyaan bertubi-tubi, sekaligus menaruh harapan tinggi agar dugaannya benar. Melepas suaminya untuk seorang pria impiannya, tentu tidak ada ruginya.
"Wah, bener-bener gak bener. Mama masih sehat, Bu," sahut Dasen dengan cepat dan terlihat kesal.
__ADS_1
"Aku bukan duda. Tidak akan pernah menjadi duda. Kamu masih ingat Senja kan? Pastikan kamu berkaca dulu sebelum bermimpi. Kamu jauh meninggalkan dia sekarang."
Ucapan Darren membuat Erika gagal paham. Dia melirik kaca di tiang penyangga gedung berbentuk kotak yang ada di sisi kanannya. Merasa penampilannya memang sangat sempurna, bodynya masih sintal dan dadanya masih melimpah berkat disangga kacamata berenda mahal. Nyatanya, kelimpahan itu sudah sedikit keriput dan mengendur sekarang.
"Tuamu jauh meninggalkan Senja. Istriku masih sama, bahkan semakin sempurna." Darren meninggalkan Erika begitu saja. Dia sudah tidak sabar ingin memberikan ceramah singkat pada Dasen.
"Ibu jangan naik ke atas. Lebih baik, Ibu pulang. Maaf saya sedang buru-buru." Dasen dengan santai tapi masih sopan meninggalkan Erika di sana.
Erika menghentakkan kakinya dengan kesal. Tapi dia tetap bersikeras menemui Denok. Perempuan itu ingin sekali berfoto di tempat kerja anaknya itu. Dia ingin memamerkan pada teman-temannya, kalau Denok sudah bekerja di perusahaan ternama.
Perempuan itu kembali menemui resepsionis dengan mulut tersungut-sungut. Dia baru saja memasang susuk di bawah bagian mata, rupanya susuk itu tidak mempan. Padahal banyak pria lain yang terpesona dengannya, tapi Darren tetap setia dengan penolakannya.
"Kalau menjadi besan, pasti akan sering bertemu. Aku akan menambah susukku lebih banyak. Kalau perlu, aku memasangnya di tempat lain. Bukan di si gondrong. Kalau jodoh, memang tidak kemana. Dipertemukan lagi jadi besan. Sungguh sempurna." gumam Erika, di otaknya tersusun segala rencana-rencana. Dia lupa, lawannya masih tetap seorang Senja.
"Dasen dan Denok sudah jadian, dadd. Apa salahnya kami mempunyai panggilan mesra seperti daddy dan mama." Dasen akahirnya menjawab, setelah sekian menit terdiam terlebih dahulu.
"Hanya boleh Daddy dan mama yang memakai nama panggilan itu. Lagi pula, kamu dan Denok tidak cocok. Daddy tidak setuju."
"Kenapa? Karena ibunya Denok masa lalu daddy?" selidik Dasen.
"Sok tahu! Daddy ngeri saja, kamu mempunyai mertua genit seperti Erika. Asal kamu tahu, waktu mamamu hamil baby De, mamamu membuat perempuan itu mental karena terus mengejar daddy."
__ADS_1
Dasen terdiam. Alasan mamanya tidak menerima Denok akan semakin bertambah.
"Sebelum terlanjur jauh, putuskan Denok. Masih banyak perempuan yang mau menjadi pendampingmu. Jangan menambah kepeningan mamamu. Derya dan Inez saja belum selesai. Daddy, lebih setuju kamu mendapatkan seorang janda seperti mamu dulu, ketimbang kamu dengan Denok," tegas Darren.
"Tidak bisa begitu, Dadd. Perasaan itu tidak bisa kita belokkan begitu saja. Lihat Denok secara utuh. Abaikan ibunya. Daddy belum terlalu mengenal Denok. Jadi jangan menilai secepat ini."
"Pernikahan itu antara dua keluarga, Das. Mau tidak mau, suka tidak suka. Di pelaminan pun akan ada kami yang berdiri sebagai orangtua. Mengerikan sekali kalau sampai itu terjadi. Standart daddy rasanya hancur karena kamu."
"Dadd, tidak mungkin ada seseorang seperti mama lagi di dunia ini. Jikalau pun ada, Daddy yang akan mengambilnya dari kami. Jika anak-anak daddy harus berjodoh dengan perempuan sesempurna mama, kapan kami nikahnya? Keberuntungan sudah menjadi milik Daddy, sekarang jalan kami mungkin berbeda," Dasen memberanikan diri menentang Daddy-nya.
"Terserah padamu, Das. Kehidupan pernikahan dan rumah tangga adalah pilihanmu pribadi. Tapi sebisa mungkin jangan melukai hati mamamu. Denok mungkin berbeda, tapi lihatlah ibunya. Mengerikan."
Dasen tidak bisa membantah perkataan Darren kali ini. Nyatanya, Erika tadi memang seperti cacing kepanasan saat bertemu daddy-nya. Mengeliat dan menampilkan bahasa tubuh yang membuat dia malu saat melihat.
"Daddy tidak bermasalah dengan Denok, sekalipun dia juga memang aneh. Tapi sampai kapan pun, daddy tidak mau melamar gadis itu untukmu. Tidak akan!" Darren berdiri, membiarkan Dasen membayar minuman pesanan mereka. Dia kembali ke kantor. Berharap, Erika sudah menjauh dari gedung milik istrinya.
Dasen sendiri memutuskan untuk kembali ke kantornya saja. Dia mau mendinginkan pikiran dan otaknya sejenak.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya Erika diijinkan untuk naik ke atas juga. Itu pun karena Denok meminta ijin pada Senja. Sebenarnya, Denok ingin dia saja yang turun. Tapi Senja bersikukuh melarang, dengan alasan jika mau menerima ibunya, tangan harus tetap bekerja.
Keluar dari lift di lantai Denok dan Senja berada, perempuan itu melangkah dengan percaya diri. Berlenggak lenggok, seolah dia adalah pemilik perusahaan. Denok mengira, pimpinan perusahaan bukanlah Senja.
__ADS_1
"Nok, kenapa kamu tidak bilang-bilang sama Ibu kalau Dasen itu adalah anak dari Darren Mahendra?" Erika bertanya dengan sangat bersemangat begitu melihat anaknya itu duduk tenang di tempatnya yang persis ada di depan ruangan Senja.
Suaranya terdengar nyaring sampai di ruangan Senja. Membuat perempuan itu terpaksa keluar dari ruangan untuk melihat keributan yang terjadi. Bersamaan dengan itu Darren juga muncul dari lift.