Hot Family

Hot Family
Tetap Cantik kok, Mbak


__ADS_3

Begitu melihat mobil Genta terparkir di halaman rumahnya, Beyza mendadak salah tingkah. Gadis itu kembali berkaca melalui kamera depan ponselnya. Lalu menarik napas berat.


"Kak, wajah Bey masih parah. Bey nggak pede kalau ketemu Genta dalam keadaan seperti ini. Bey malu, Kak."


"Duh, kalau dia sudah cinta mati, mau wajahmu kayak gorila, tetap saja Genta bakalan sayang sama kamu. Lagian kamu dengar sendiri dokter bilang apa. Besok pasti akan membaik," seloroh De dengan santainya.


Mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti tepat di depan pintu utama. Baby De dengan santai keluar dari mobil. Namun tidak demikian dengan Beyza, gadis itu masih betah duduk gelisah di jok tengah mobil. Bergeming. Tidak ada sedikit pun berniat untuk segera turun.


"Bey ... ayo!" De mengajak dengan setengah berteriak.


Beyza menggeleng ragu. "Kakak duluan saja, sebentar lagi Bey menyusul."


Baby De mencebikkan bibir sembari berbalik badan, lalu melangkahkan kaki ke arah dalam rumah. Di ruang tamu kedua, dia langsung mendapati Genta yang sepertinya sedang berbicara lumayan serius dengan Mahendra, Sarita, Darren dan Senja.


Kedatangan Genta yang memberitahu bahwa pernikahan bisa dilakukan hari jumat minggu ini, malah mendapatkan tolakan dari keempat orang yang ada di sana. Terlalu sederhana untuk putri satu-satunya Darren Mahendra. Terkesan benar-benar sangat buru-buru. Hal tersebut tentu tidak dapat diterima.


"Loh, De. Beyza mana?" Senja bertanya seraya menoleh ke arah luar, mencari-cari sosok Beyza.


"Malu,, mukanya masih kayak gini." De menunjuk ke arah mukanya sendiri.


"Oh." Darren, Senja, Mahendra dan Sarita, mengatakannya dengan kompak.


Darren langsung memberikan kode pada Genta untuk menyusul Beyza. Anak angkat Rangga itu pun segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ke arah mobil hitam yang masih diam namun pintu mobil tertutup rapat dengan kondisi mesin masih menyala.


Genta mengetuk pintu tengah kendaraan tersebut. Menunggu hampir satu menit, tidak ada jawaban sama sekali. Genta mendekatkan penglihatannya mencoba menembus pandang kaca film mobil yang lumayan pekat, hampir 100 persen gelap. Meski samar, Kini Genta yakin, di dalam sana memang ada Beyza.


"Mbak, buka dong. Kenapa sih? Malu? Takut?" Genta mengetuk kaca mobil dengan jemarinya. Pantang menyerah, meski sampai hampir lima menit diabaikan.


Barulah setelah kasihan melihat usaha Genta yang benar-benar tulus, Perlahan pintu mobil itu pun bergeser terbuka. Beyza memakai masker wajahnya kembali.


"Hei, kenapa di tutup. Kalau dari dokter, setelah diolesi salep,harusnya dibuka." Genta langsung menyambut Beyza. Satu tangannya terulur untuk membantu kekasih hatinya itu turun dari mobil.

__ADS_1


"Gak papa. Biar steril, gak kena debu." Beyza menjawab sekenanya sembari terus menunduk.


"Nggak gitu juga kali, sini lihat." Genta mencoba menarik masker Beyza, tapi ditepis dengan cepat oleh sang kekasih hati.


Beyza mengajak Genta lewat halaman samping. Keduanya duduk di bangku kayu ukiran alami dibawah teduhnya pohon mangga.


"Buka dong, Mbak. Kasihan itu muka. Butuh oksigen." Genta kembali berusaha membujuk Beyza.


"Enggak, nanti Kang Genta lari," tolak Beyza.


"Lari mendekat pastinya. Sini, dibuka saja."


Akhirnya Beyza hanya bisa pasrah ketika Genta perlahan melepaskan tali masker dari kedua daun telinganya.


"Ini mah biasa, Mbak. Gak mengurangi atau menambah kecantikanmu." Genta melemparkan senyuman pada Beyza.


"Gombal." Beyza tersipu malu, pipinya semakin merona merah.


"Apaan sih?" Lagi-lagi gadis itu tersipu malu.


"Mbak, tadi aku sudah bicara sama mama sama daddy. Di dalam ada Opa Mahendra dan Oma Sarita juga. Mama tetap ingin menjalankan rencana awal. Tidak mau kita menikah sesederhana itu. Mama lebih setuju pada konsep kita yang sebelumnya. Pernikahan tetap di kapal pesiar. Semua saudara dan beberapa teman dekat kita datang. Dan itu artinya dua minggu lagi," jelas Genta.


"Tapi mama 'kan ...." Beyza tidak melanjutkan ucapannya. Senja tiba-tiba muncul dari pintu samping tanpa aba-aba.


Wanita cantik itu menghampiri Beyza dan Genta dengan langkah perlahan. Senyum bersahaja tersungging dari bibir merah Senja.


"Memang mama kenapa? Mama janji akan baik-baik saja, Bey. Ciptakan moment pernikahan kalian sesuai dengan impianmu. Waktu dua minggu mungkin terlalu singkat, tapi masih cukup untuk membuat pernikahan impianmu terwujud. Jangan biarkan mama hidup dalam penyesalan. Mama yakin, jika Tuhan memang menghendaki mama untuk sembuh. Sekarang, nanti, besok, atau lusa, Tuhan pasti tetap akan sembuhkan. Dengan kekuatan doa kalian. Mama yakin akan baik-baik saja." Senja menatap Beyza dan Genta bergantian.


"Tapi, Ma. Bey tidak mau Mama merasakan sakit lebih lama." Beyza berdiri dan memeluk mamanya.


Senja menggeleng tanpa ragu, tangan kanannya membelai rambut Beyza dengan lembut. "Mama tidak akan sakit lagi. Mama ingin melihat pernikahanmu tidak biasa saja."

__ADS_1


"Terimakasih, Ma." Beyza memeluk Senja dengan erat.


***


Sementara itu, di kantor Beyza. Dasen yang tahu adiknya tidak datang ke kantor, mencuri waktu di sela-sela jadwal meetingnya mengunjungi sang kekasih hati.


Denok yang masih bekerja, tentu saja tidak terlalu mengistimekan kedatangan Dasen. Dia menerima kekasihnya itu sembari terus aktif bekerja.


"Nok, nggak bisa berhenti sebentar apa. Aku bela-balain dateng malah dicuekin," protes Dasen.


"Aku ini cuman pegawai, Mas. Bukan CEO macam Mas Dasen atau Bey. Kalian enak, kalau ada pacarnya datang langsung bisa nutup pintu rapat dan mesra-mesraan. Nanti, kalau aku sdh jadi istri CEO, baru aku bisa manis-manis," kilah Denok.


"Gentong sering ke sini? Mesra-mesraan?" Selidik Dasen.


"Ya jelas sering. Mereka tuh sweet banget loh. Genta itu kalem banget, romantis gitu. Gak srudak sruduk kalau mau nyium mbak, Bey." Denok seketika membungkam bibirnya sendiri dengan kedua telapak tangannya. "Duh, keceplosan." Dalam hati Denok merutuki kebodohannya sendiri.


"Kok kamu bisa tahu?"


"Tahu lah, orang pernah ngintip sekali. Penasaran aja. Genta kan kalem banget, kalau mau cium tuh penasaran sama gayanya. Ternyata bener, gak srudak sruduk," cerocos Denok, kepalang tanggung, cerita saja sekalian.


"Nok, dari tadi kamu ngomong srudak sruduk. Aku nggak ngerti." Dasen sedikit memperlihatkan kekesalan.


"Srudak sruduk itu kayak mas Dasen kalau mau cium Denok. Beda lah pokoknya."


"Terus? Maksudnya apa coba ngomong gitu? Pengen aku kalem kayak Gentong?" Dasen memanyunkan bibirnya begitu diujung kalimat.


Denok menghentikan pekerjaannya sejenak. Lalu menatap laki-laki tampan di depannya dengan senyuman lebar.


"Tidak, Mas. Aku suka yang srudak sruduk gitu. Kesannya lebih gimana gitu." Denok mengucapkannya dengan jelas tanpa rasa malu-malu.


Dasen menaik turunkan alisnya dengan nakal, perlahan berdiri dan berjalan mendekati Denok. Tepat di samping kursi kerja kekasihnya, Dasen menundukkan wajah untuk mengikis jarak antara dirinya dan Denok.

__ADS_1


"Sradak sruduk yuk!" Ajak Dasen lagi-lagi dengan tatapan nakal dan menggoda.


__ADS_2