
"Kalau, Genta mau, Genta bisa peluk Mamanya Derya. Boleh panggil Mama, Bunda, atau Tante. Sesuka Genta." Senja merentangkan tangannya.
Genta berdiri dan langsung berhambur ke pelukan Senja. Di sana tangisannya semakin tumpah.
Senja merasakan besarnya kerinduan yang disimpan oleh Genta. Dia sama sekali tidak tahu bagaimana cerita Genta yang sebenarnya.
"Menangislah, Genta. Tidak mengapa. Tidak ada yang melarang laki-laki untuk menangis. Mama di sini." Senja mengusap lembut rambut Genta.
Dari jauh Rangga menatap Genta yang memeluk Senja dengan mata berkaca-kaca. Dia terpaksa menengadahkan wajahnya berkali-kali agar air matanya tidak jatuh.
Dia tidak pernah melihat Genta serapuh itu. Sejauh ini, Rangga merasa, Genta sudah menerima keadaan. Nyatanya Genta mungkin menyimpan kerapuhan yang sama dengannya.
"Kenapa tidak menikah lagi saja, Ngga? Mungkin Genta butuh sosok bundanya." Darren bertanya. Keduanya sepakat menanggalkan kata bapak, di awal sapaan agar lebih lebih akrab.
"Tidak semudah itu, Darr. Menikah itu mudah, tapi mencintai tentu bukan hal yang mudah," jawab Rangga.
Derya ikut memeluk Genta dan Mamanya. "Kalau kamu kangen sama bundamu, kamu boleh menginap bersamaku."
"Memang boleh?" tanya Genta, dengan suara sengau dan mata sembab.
"Boleh dong," sahut Beyza dengan semangat.
"Mau pulang sekarang? pamit sama ayahnya Genta dulu. Kalau boleh, Mama Senja malah seneng. Karena ada kak Zain yang akan mengawasi dan mengobati langsung luka kalian," ujar Senja.
Genta melepas pelukan Senja. Setelah mengatur nafas dan mengusap matanya. Dia pun berjalan mendekati Genta.
"Yah, Genta boleh nginep di rumahnya Derya tidak?" tanyanya pada Rangga.
"Genta kan lagi luka-luka gitu. Nanti ngrepotin di sana." Rangga melarang karena tidak enak.
"Tidak masalah, Ngga. Mereka sudah besar-besar. Lagian ada Zain, yang bisa mengonrol luka mereka," ucap Darren.
"Boleh ya, Yah?" pinta Genta, kali ini lebih memelas.
Rangga mengangguk pelan. "Boleh, jangan lupa dua hari lagi ulang tahun Ayah Aris."
"Iya, Ayah. Genta akan mengajak Derya juga." Dengan semangat Genta kembali ke meja di mana Senja, Beyza dan Derya berada.
Rangga dan Darren pun, kembali ke meja di mana yang lain sudah berdiri. Senja berjalan menuju kasir untuk membayar tapi kasir menolak. Karena tidak ada bill atas perintah Rangga.
Senja menjadi tidak enak. Karena dua kali ini mereka datang. Dua kali pula mereka tidak boleh membayar.
__ADS_1
"Pak Rangga, kalau gratis terus. Kita setiap hari saja makan di sini. Anak saya banyak, lumayan kan saya hemat." Senja mengingkapkan rasa tidak enaknya dengan gaya sindirin.
"Boleh sekali, Bu. Dengan senang hati, tiga kali sehari pun boleh. Asal Beyza jadi menantu saya suatu saat nanti," canda Rangga, membuat pipi Beyza merona merah dan tersipu malu.
Genta pun langsung ikut bersama keluarga Darren Mahendra. Anak remaja itu, langsung menempel pada Senja. Untung saja tidak ada Dasen, kalau ada. Terjadilah badai cemburu yang dasyat. Jangankan Genta, Darren saja harus menunggu Dasen menghilang dari pandangan, kalau mau dekat-dekat dengan Senja.
*******
Sesampainya di rumah, Mereka langsung disambut wajah Dasen yang cemberut. Apalagi ketika melihat Genta berada di samping mamanya.
"Kalian mandi dan istirahat dulu," ucap Senja pada Derya, Genta dan Beyza.
Ketiganya mengangguk, dan memilih berjalan melewati tangga menuju lantai dua.
"Kata mama sebentar, kenapa lama sekali makannya? terus kenapa anak itu ikut ke mari?" tanya Dasen dengan wajah cemberut dan nada kesal.
Darren angkat tangan dan melewati Dasen begitu saja. Dia tahu persis anaknya itu sedang menumpahkan kekesalan pada Senja. Dasen selalu mewakili kecemburuannya dengan sangat baik.
"Sudahlah Das, kasihan Genta. Dia babak belur begitu juga karena membela adikmu. Lagian apa kamu tidak ada sedikit empati. Genta itu, bundanya meninggal sejak dia baru lahir." Senja mengamit lengan anaknya itu dan mengajak naik ke lantai dua.
"Tapi, Das tidak suka, Ma," ucapnya, tetap dengan gaya angkuh seperti Darren.
Darren baru akan masuk ke dalam kamar mandi. Melihat Dasen masih terus membuntuti Senja, membuatnya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Ma, yang mengganggu Beyza, namanya Arnold ya? sama siapa lagi?" Dasen bertanya tentang kasus yang menimpa adik-adiknya.
"Kamu kenal Arnold? temannya ada dua lagi, namanya Adam dan Reynald."
Dasen mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tidak akan tinggal diam kali ini.
"Das, katakan sama Mama. Kenapa kamu kenal Arnold?" tanya Senja penasaran.
"Arnold itu satu tingkat dengan Dar, Ma. Dia anak pemilik yayasan di sekolah si kembar. Reynald itu sepupunya. Kalau Adam, dia anak pemilik Club Zone," jelas Dasen dengan gamblang.
"Das, dari mana kamu tahu?" selidik Senja.
"Tentu saja tahu, mereka seperti anggota genk. Suka merusuh di sekolah manapun. Tapi tidak pernah sekali pun mendapatkan sanksi. Mereka tidak hanya bertiga, Ma. Ada bodyguard yang selalu menjaga Adam."
Senja membekap sendiri mulutnya yang menganga. Tidak menyangka sama sekali, kalau ada anak yang diperlakukan berlebihan seperti itu di lingkungan sekolah.
"Das, jauh-jauh dari mereka. Sudah jangan cari tahu apapun lagi. Mama ngeri, orangtua mereka jelas memfasilitasi tindakan tidak bertanggung jawab anaknya. Mama tidak akan berhenti. Siapapun mereka, mama tidak takut," tegas Senja.
__ADS_1
Dasen tersenyum bangga pada mamanya. Tidak salah kalau, dia begitu mengidolakan Senja. Titisan Darren Mahendra itu pun berniat meninggalkan kamar mamanya.
Tapi sampai di depan pintu, dia membalikkan badannya. "Awas saja kalau, Mama dekat-dekat dengan Genta."
Senja hanya mengelus dada. Sepertinya tidak ada waktu sehari pun, dia bisa lepas dari keposesifan orang-orang tersayangnya. Satu santai, satu posesif. Begitu terus, bergilir, seolah sudah ada jadwalnya.
"Ask ...." teriak Darren dari dalam kamar mandi.
"Iya, Ask," sahut Senja, setengah berteriak juga.
"Bajunya mana?"
Senja langsung berdiri, mengira suaminya tadi sudah membawa sekalian baju gantinya, ternyata malah tidak.
"Iya, sebentar." Senja langsung berdiri dan mengambil baju untuk suaminya.
Senja mengetuk pintu kamar mandi. "Ask, ini bajunya."
"Masuk saja, tidak dikunci," sahut Darren.
Senja mencebikkan bibirnya, langsung masuk sama saja dengan menyerahkan diri. Dia tidak akan melakukannya.
Melihat Zain melewati pintu kamarnya yang memang belum terkunci. Senja segera menyusulnya.
"Zain ...."panggil Senja dengan suara setengah tertahan.
"Iya, Ma ...." jawab Zain seperti sedang sangat lelah.
Senja jadi mempunyai ide gila, Zain pasti akan lebih ekspresif. Entah itu mengumpat ataupun tertawa.
"Minta tolong, antarkan baju daddy-mu ke kamar mandi. Kalian dulu sering mandi bersama bukan? jadi tidak masalah. Tolong mama, katakan mama ada urusan di bawah." Senja langsung memberikan baju Darren pada Zain, lalu berjalan menjauh.
Zain langsung membawa baju itu kembali ke dalam kamar mamanya, lalu dia mengetuk dulu pintu kamar mandi.
"Tidak dikunci, Ask ...." teriak Darren, agak kesal karena Senja terlalu lama.a
Zain pun langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Darren tanpa melihat-lihat dulu, langsung menarik tangan Zain ke dalam ruangan kaca yang showernya sedang menyala dengan kencang.
"Dadd, ini Zain!"
__ADS_1