Hot Family

Hot Family
Mencari mama


__ADS_3

"Aman nggak ya, begitu itu?" tanya Rama--teman Dasen satunya.


"Amanlah ...." sahut Michel.


"Cari yang lain. Kurang greget yang ini," ucap Dasen.


Michel memajukan badannya, membuang bantal yang ada di pangkuannya ke atas ranjang. Lalu menggerakkan mouse berstiker club bola kesayangan Dasen dengan lincah sembari fokus menatap monitor laptop. Setelah menemukan yang dianggap sesuai, merekapun kembali duduk berjajar di tepian ranjang dengan tenang.


Lima menit pertama, wajah mereka datar-datar saja. Lima menit kedua, rahang ketiganya menegang, begitu pula dengan sekujur tubuh mereka. Sesekali mereka kembali menelan ludah kasar untuk melepas rasa yang bergejolak dipikiran mereka.


"Stop! aku nyerah. Mama bisa langsung masuk UGD kalau sampai melihat aku begitu." Dasen beranjak dan langsung menekan tombol silang di laptopnya.


"Ayolah,Das! kita ini cowok, harus mencoba sesuatu yang baru dong." Michel mencoba mempengaruhi Dasen.


"Lebih baik aku dianggap cowok cemen, daripada harus membuat mamaku khawatir," sahut Dasen.


"Dasar anak mama," ledek Rama.


"Aku memang anak mama, kalau bukan, aku mau terlahir dari mana? anak mbak Surti? atau Mpok Inung? lebih tidak mungkin lagi. Daddyku bisa awet tua kalau punya istri mereka." Dasen menyebut nama penjaga kantin di sekolahnya.


"Tapi Das, kamu kan jago bela diri. Pasti bisalah, Muay Thai seperti itu. Lagian kan ada pelindung kepala, Das. Amanlah," bujuk Michel.


"Mereka gede-gede dan pukulannya keras, Tepar aku bisa-bisa. Lagian, bela diri itu bukan digunakan untuk adu kelelakian dan kekuatan. Kembali pada namanya, bela dan diri, jadi hanya untuk membela dan melindungi saat kita atau sekitar kita dalam kondisi terancam." Dasen mematikan dan menutup laptopnya.


"Yang gede-gede itu kan yang sudah pro, Das. Lawanmu bukan mereka, tapi anak SMA Mandala. Ayolah! mereka akan menilai kita pengecut, kalau tidak ada satupun dari kita yang maju." Michel mengambil sebotol air mineral di atas meja, meneguknya hingga separo. Suaranya semakin serak akibat sedikit radang dan terlalu banyak bicara.


"Pikirkan dulu. Dengan kemampuanmu, aku yakin semua bagian tubuhmu akan aman. Mamamu tidak akan pernah tahu. Please, selamatkan harga diri genk kita. Harapan kami, ada di pundakmu." Rama menepuk pundak Dasen beberapa kali.


Di satu sisi, Dasen tidak ingin mengecewakan mamanya lagi dan lagi. Tetapi, di sisi lain, harga diri genk nya juga penting. Kelompok di SMA Mandala, kerap sekali mengganggu ketenangan di sekolah mereka. Gaya mereka sok, karena merasa ada dukungan dari genk motor yang terkenal dekat dengan dunia hitam.


Sementara Dasen sedang kebingungan menentukan pilihan. Derya dan beyza baru saja menginjakkan kaki mereka di kantor Senja. Karena lapar, tadi mereka berhenti sejenak membeli burger melalui drive thru.


Sampai di lantai di mana ruangan mamanya berada, Dasen dan Beyza merasa heran karena pintu ruangan Senja terkunci dari luar dengan rapat.


Karena sudah terbiasa ke sana, keduanya langsung menuju ruangan Rosa yang terlihat sibuk bersama sekretaris dan satu stafnya.


"Eh, Bey ... Der ... cari mama?" tanya Rosa, terlihat sedikit bingung.


"Iya, Tante. Kok ruangan mama dikunci?" tanya Beyza, selalu to the point.

__ADS_1


"Ehmm ... i--itu, mama kalian sedang meeting di luar." Rosa menjawab dengan sedikit gugup.


"Apa daddy tahu, kalau mama ke luar?" selidik Beyza.


"Tante tidak paham kalau soal itu. Coba kamu telpon daddymu saja." Rosa kini berharap jawabannya kali ini tidaklah salah. Yang dia hadapi terlihat seperti anak abg pada usianya, tapi pemikiran anak-anak keturunan Darren Mahendra, sering kali tidak bisa di duga.


Beyza dengan cepat mengambil ponsel di saku celananya, lalu berusaha menghubungi daddynya. Sudah tiga kali percobaan, tapi teap tidak terhubung.


Derya kali ini mencoba menghubungi Yanes--asisten pribadi merangkap tangan kanan sekaligus suami dari Rosa.


Untung saja Rosa sudah mengirim pesan pada suaminya, sehingga Yanes pun tidak menanggapi panggilan dari anak atasannya itu.


Mereka sendiri juga tidak tahu, di mana keberadaan Senja dan Darren. Keduanya bersama atau tidak, mereka juga tidak tahu. Senja dan Darren hanya berpesan pada orang kepercayaan masing-masing kalau ada meeting penting di luar dan tidak bisa diganggu.


"Kita ke kantor daddy saja," usul Derya.


Beyza mengangguk setuju. Setelah berpamitan, keduanya lamgsung kembali menuju lobby dan menaiki mobil untuk membawa mereka ke kantor Mahendra Corp.


"Apa mungkin, mama sudah pulang ya?' tanya Derya, mencoba menerka-nerka.


Beyza langsung mencoba menghubungi Zain.


"Kak Zain, mama sudah pulang belum?"


"Belum."


"Apa kak Zain, yakin?"


"Yakin. Memangnya kenapa?" tanya Zain, terdengar heran.


"Mama tidak ada di kantornya. Kata tante Rosa, mama keluar meeting."


"Kalau sedang meeting di luar, ya sudahlah, Bey. Biarkan saja. Kan memang banyak yang harus diurus mama."


"Tapi, Kak ... Masalahnya, daddy tahu tidak mama di luar. Ini Bey, hubungi daddy juga tidak bisa." jelas Beyza mulai agak kesal.


"Astaga, Bey. Jangan berlebihan. Itu bukan urusanmu. Sudah pulang saja. Biarkan orang dewasa, bebas melakukan apa pekerjaan mereka. Lagian bukankah kalian sudah tidak meminum Asi mama, kenapa setiap pulang dari manapun harus ada mama? kamu juga suka aneh. Kalau ada dadsy sama mama, nempelnya ke daddy. Kalau nggak ada mama, nyarinya sampai ke lubang semut," cerocos Zain.


Beyza langsung menutup sambungan telepon dengan sepihak. Dia mendengus kesal, karena tidak menemukan jawaban tentang keberadaan mamanya.

__ADS_1


Zain pun mendengus kesal saat meletakkan kembali ponsel ke atas meja.


"Kenapa?" tanya Airin.


"Heran sama Beyza, nyari mama segitunya. Kayak anak bayi mau minum Asi saja. Kasihan mama kan, Ai. Mama juga butuh ruang buat memanjakan diri sendiri. Sekarang Beyza, nanti lagi Dasen, senggang dikit daddy. Kapan me time nya buat mama."


"Kalau Aa dan Derya, bagaimana?" selidik Airin.


"Kami juga, tapi tidak separah tiga nama yang Aa sebutkan tadi."


"Owh, Ai pengen kayak mama Nja, anak-anak semua sayang, suaminya apalagi. Ai, takut tidak mempunyai kesempatan untuk merasakan semua itu." Airin kembali menyandarkab kepala di pundak Zain.


"Kita berdoa saja, meminta yang terbaik untuk kita." Zain mengelus rambut Airin dengan lembut.


*********


Di sebuah room apartemen mewah, di saat ada anak-anak yang mencari keberadaan mereka. Dua orang itu malah sedang begitu bersemangat saling bertukar keringat dan wangi tubuh.


"Ask! ayolah, sudah terlalu lama kamu main-main di situ," de54h Senja, tubuhnya mengeliat. Merasakan lidah sang suami bermain-main dengan kepala menelungkup di antara dua pahanya.


Darren mendongakkan kepala, lalu merangkak naik dengan perlahan, hingga posisi wajahnya sejajar dengan wajah Senja. Tatapan cinta bercampur nafsoe keduanya saling beradu.


Laki-laki itu kembali mencumbu leher sang istri dengan lembut, memastikan tidak akan ada bekas kemerahan yang tertinggal di sana. Tangannya terus menjelajah di dua pegunungan kenyal, mer3mas pelan penuh perasaan hingga membuat sang empunya melenguh dan menggelinjing.


Karena tidak sabar dengan Darren yang masih terus melakukan serangan demi serangan, Senja akhirnya mendorong sang suami ke sisi samping tubuhnya.


Dengan gerakan lambat dan ekspresi yang begitu menggoda, Senja perlahan menindihkan badannya di atas sang suami. Kini dia lah yang berkuasa penuh,memegang kendali permainan.


Tangan dan bibirnya saling bekerjasama untuk menjelajah inci demi inci tubuh sang suami yang terus mengeliat keenakan. Genggaman tangan yang mengetat di bawah sana beradu dengan lidah liar yang berkeliling di seputaran dada sang suami. Sesekali lidah itu bergetar memainkan pucuk kecoklatan di sana.


Melihat lawan dibawahnya sudah sangat tidak sabar, perempuan itu semakin tertantang. Sembari mengikat rambutnya yang berantakan, dia sengaja membuat posisi bagian inti keduanya saling beradu.


Darren semakin tidak sabar, apalagi saat Senja menuntun tangannya untuk memainkan dua bulatan kenyal di dada sang istri. Rasanya, dia ingin memulai penyatuan dengan segera.


"Ask, sekarang, ya?" Darren bertanya dengan satu tangan mulai mengarahkan kepemilikannya pada bagian inti Senja.


Tapi Senja malah menghempas pelan tangan sang suami. Seperti biasa, dia lebih menyukai sang naga memasuki celah sempit menjepit tanpa harus menggunakan petunjuk arah apapun.


"Sebentar, Ask. Nikmati dulu."

__ADS_1


__ADS_2