
"Nok! Apa'an sih? Sakit tau lenganku. Nih, lihat! Jadi kusut kan?" Beyza menyingkirkan tangan Denok dengan kesal, lalu menunjuk bagian lengan atasannya.
"Bey, itu Mas Dasen kenapa sama Delia?" Denok menunjuk ke suatu arah menggunakan dagunya.
Beyza mengikuti arah yang dimaksud Denok. Setelah menemukan sosok yang dimaksud, kembaran Beyza itu tersenyum licik. "Itu bibit pelakor," jawabnya dengan santai.
Dasen rupanya juga sedang berada di pusat perbelanjaan yang sama dengan mereka. Kakak keduanya itu sedang bersama Delia. Mereka nampak sedang duduk santai di bagian luar sebuah coffee shop ternama. Saat bingung akan menempatkan Delia di posisi apa, Dasen malah menawarkan posisi sekretaris untuk ditempati Delia. Dengan senang hati Beyza menyetujui tawaran itu.
"Bey, bibit pelakor itu maksudnya apa? Dia bakal nggodain Mas Dasen gitu?" Denok kembali memegangi lengan Beyza. Pikirannya mundur ke belakang, mengingat Delia adalah seorang janda, sangat mungkin hal itu bisa terjadi.
Dengan santai, Beyza kembali melepaskan tangan Denok dari lengannya. Dia mengambil cup es yang di pesannya, memberikan satu untuk Denok. Setelah itu, dia melangkahkan kaki menuju tempat di mana Delia dan Dasen berada. Denok mengikuti Beyza tepat di belakang punggungnya. Tubuh Denok yang mungil, membuatnya keberadaannya tidak diketahui jika dilihat dari depan.
Denok mencolek punggung Beyza, hingga membuat putri satu-satunya Darren Mahendra itu mendadak berhenti di tempat dan langsung menoleh ke belakang. Sedangkan Denok yang sedang tidak fokus, terlambat menghentikan langkahnya. Hingga kepalanya pun sukses menabrak dada Beyza.
"Maaf," lirih Denok sembari memperhatikan dada Bey yang tidak seberapa besar, termasuk dalam ukuran standart. Pantas saja kepalanya tidak merasakan kekenyalan yang hakiki.
"Apa lihat-lihat? Punyaku memang tidak melimpah seperti punyamu, tapi aku sudah punya segalanya yang bisa menarik perhatian laki-laki. Itu kelebihanmu, tadi tidak membuatmu aman dari pelakor." Bey kembali berbalik badan. Ucapannya, sungguh berhasil membuat Denok semakin galau. Dulunya dia tidak pernah berfikiran negatif pada Delia. Tetapi, kali ini pikirannya berbeda. Entah mengapa Denok merasa tidak nyaman dengan kedekatan Dasen dan Delia.
Sampai di tempat Dasen dan Delia, Beyza langsung menarik kursi di depan keduanya yang sedang menatap satu laptop yang sama. "Bey gabung di sini ya, kak," ucapnya.
Bukan Beyza yang menarik perhatian Dasen, tetapi tentu saja Denok. Kekasihnya itu memanyunkan bibir lebih dari satu senti dan terus menunduk tanpa melihatnya. Dasen yang memang tidak merasa ada yang salah, bersikap santai seperti biasa. Laki-laki itu mengira Denok sedang kesal dengan adiknya yang sangat perfeksionis. Delia pun setelah menyapa Beyza dan memberikan senyuman tulus pada Denok, kembali meneruskan pekerjaannya dengan menggerakkan jemarinya dengan lincah di keyboard laptop.
"Duduk, Nok. Kamu mau pesen minuman lagi atau minum es itu aja? Sebentar ya, aku nerusin kerjaan dulu. Karena ada meeting di hotel sini. Makanya, kita kerjain sebagian dulu sambil tunggu waktu." Dasen dengan santai bertanya pada Denok sembari menunjuk cup es yang dipegang kekasihnya.
__ADS_1
"Es ini saja, lebih dingin. Di sini panas dan sangat gerah. Rasanya aku butuh bongkahan es batu agar bisa benar-benar dingin," sahut Denok sekenanya.
Delia yang mengira Denok serius dengan tanggap mendongakkan kepala dan memanggil pelayan. Dia memesankan segelas es batu untuk Denok. Delia tidak tahu, kalau perempuan yang menurutnya sangat manis itu adalah kekasih dari atasannya.
Beyza menikmati es puter favoritnya tanpa memedulikan ketiga orang yang ada di sekitarnya. Apalagi dia juga sedang fokus berbalas pesan dengan Genta.
Denok mendengus kesal, "Dasar bibit pelakor, awas saja berani macam-macam. Tetapi cantiknya di atas rata-rata. Belum apa-apa, kenapa saingan sudah muncul. Aku harus bagaimana coba," gumamnya, begitu lirih hingga tidak terdengar oleh siapa pun. Denok benar-benar menelan bulat-bulat ucapan Beyza.
Sementara itu, di hotel tempat rencana membongkar kebohongan Inez dan Angelica dilakukan. Zain dan Sekar sudah berada tepat di depan pintu kamar di mana Derya berada. Baru saja hadir di depan mereka dengan wajah cemas yaitu Angelica Malito yang datang dijemput oleh intel gadungan yang sebenarnya berprofesi sebagai pencari berita.
"Kenapa kamu juga ada di sini?" Tanya perempuan yang mengenali Zain sebagai anak Senja.
"Tentu saja kami di sini, karena di dalam sana sepertinya sedang terjadi sesuatu." Zain menjawab dengan santai. Bersamaan dengan itu, pintu pun terbuka. Angelica langsung menyerobot masuk ke dalam dengan tergesa-gesa. Lalu diikuti Sekar dan Zain yang sangat santai.
"Ada apa ini? Kenapa banyak sekali orang? Apa yang terjadi, Nez? Kamu diapakan oleh mereka?" Angelica memberondong anaknya dengan beberapa pertanyaan langsung.
Inez tidak berani menjawab. Merasa tidak ada daya lagi untuk mencari pembenaran. Dia hanya berharap, mamanya bisa mendapatkan jalan keluar yang tepat saat ini. Penyesalan kini semakin dalam dia rasakan. Andai dia tidak ikut larut dengan tencana Angelica, andai masalahnya dengan Derya bertahan diperbedaan agama saja, semua pasti akan lebih baik.
Derya melirik Zain dan Sekar, lalu berbisik tepat di belakang telinga kakak lelaki pertamanya itu, "Lama sekali kakak datang."
"Ada serangan mendadak." Zain menjawab lirih dengan senyuman tipis.
Derya mengedikkan bahunya. Lalu kembali fokus pada rencana akhir. Di mana memberikan kode agar kedua dokter itu untuk menjelaskan semua pada Angelica.
__ADS_1
Sepanjang mendengarkan penjelasan dari Dokter, Inez hanya menundukkan kepala. Angelica masih bertahan dengan keangkuhan di wajahnya. Padahal, dalam hati dia merasa takut juga.
"Intinya, sekarang kami tahu bahwa Inez tidak hamil, kami juga tahu kalau Inez menjalin hubungan dengan beberapa laki-laki agar bisa hamil, bahkan Inez juga berniat melakukan program kehamilan bersama seorang pria. Kami, jelas merasa dirugikan. Banyak kebohongan publik yang kalian lakukan untuk menjatuhkan kami." Derya mengucapkannya dengan tegas.
Zain dan Sekar merasa bangga menyaksikan sikap Derya yang tidak lemah. Meskipun keduanya tahu, ada kekecewaan dan luka yang dalam di hati adiknya itu, namun Derya sungguh hebat, dia tidak lemah dan tidak terbedaya dengan kelemahan yang ditampilkan Inez sekarang. Bisa dikatakan, Derya ternyata bisa tega dalam mengambil keputusan untuk sesuatu yang prinsip.
"Kalian berani melempar kotoran di muka keluarga Mahendra, maka kalian sendirilah yang harus membersihkan kotoran itu. Kami memberikan waktu dua kali dua puluh empat jam untuk itu. Setelah itu, masih banyak yang harus kalian lalui karena berani mengusik keluarga kami, terutama Anda, Ibu Angelica. Jangan harap ada ampun karena Anda berani mengancam mama saya. Pikirkan saja cara membersihkan kotoran di wajah kami, setelah itu, tidurlah dengan tenang di atas ranjang. Siapa tahu, ubin tahanan akan lebih cepat menyambut Anda." Derya kini fokus menjatuhkam pandangan matanya pada Angelica.
Inez semakin menunduk, karena dia merasakan tangan sang mama bergetar dan juga berkeringat. Kedua dokter dan perawat pun pamit meninggalkan ruangan, diikuti dua orang intel gadungan. Hanya tersisa Inez, Angelica, Derya, Zain dan Sekar.
"Aku sudah mengatakan padamu, Nez. Aku akan perjuangkan apa pun yang menurutku pantas diperjuangkan. Dulu, aku pernah berpikir, kamulah yang pantas. Nyatanya, kamu hanya pantas dianggap sampah pembuangan. Aku memafkan semua kesalahanmu, tetapi apa yang kamu lakukan, harus kamu pertanggungjawabkan." Derya mengajak Sekar dan Zain meninggalkan ruangan itu. Lega meskipun ada sesak di dada.
****
Hai kakak-kakak readers. Mohon maaf kalau akhir-akhir ini up-nya random banget. Terimakasih karena masih setia menunggu.
Oh ya, othor mau share satu judul novel karya teman othor yang ceritanya nggak kalah seru. Silahkan diintip, siapa tahu sesuai dengan keinginan kakak2.
Kecup online,
Dwi
__ADS_1