
Mendekati bianglala berhenti, Jason malah tertidur di pangkuan Dasen. Raut wajah tampan anak itu sangat tenang. Tanpa sadar, Dasen membelai rambut Jason dan mendekapnya lebih erat.
Delia langsung menghampiri Dasen dan Denok begitu melihat kedua orang yang menemani anaknya itu keluar dari pagar pembatas antara pengunjung yang akan menaiki bianglala dengan pengunjung yang sekedar pengantar saja.
"Jason ketiduran, Del. Biar aku gendong saja. Kasihan, dia." Dasen menunjukkan wajah Jason yang pulas pada Delia.
"Kita pulang saja. Rumahmu di mana Del? Biar sekalian bareng kita," tanya Denok.
"Tidak jauh dari sini, kalau naik mobil, hanya 10 menit saja." Delia menjawab sembari menundukkan wajahnya.
Tanpa banyak bicara lagi, mereka segera kembali menuju di mana mobil Dasen dan Rudi berada. Delia menunjukkan arah rumahnya pada driver itu.
Tidak lama kemudian. "Pak kita berhenti di pinggir jalan situ saja, rumah saya masuk gang," ucap Delia sembari menunjuk jalanan di depannya.
Rasa penasaran Dasen menjadi semakin besar dan bertambah. Seorang Delia, tinggal di sebuah gang sempit adalah sesuatu yang tidak mungkin.
Saat turun dari mobil, Delia meminta Dasen memindahkan Jason ke tangannya. Tapi kekasih Denok itu menolak, dia bersikeras untuk mengantar mereka sampai di rumahnya. Denok pun setuju dengan keinginan Dasen.
Mereka benar-benar berjalan menyusuri sebuah gang yang hanya cukup dilalui dua kendaraan bermotor berlawanan arah. Sepanjang perjalanan, Delia dengan ramah menyapa orang-orang yang sempat dilewatinya. Pemandangan yang sangat langka, karena dulu, Delia sangat pemilih dalam bergaul.
Lima menit kemudian, sampailah mereka di sebuah rumah minimalis, ukurannya tidak besar, tapi sangat rapi dan bersih. Tidak banyak barang yang ada di sana, sofa atau sekedar kursi kayu pun tidak ada. Di ruang tamu, hanya terdapat karpet berbulu berukuran dua meter persegi.
"Aku tidurkan Jason dulu, kalian silahkan duduk. Maaf, beginilah tempat tinggalku." Delia mengambil Jason dari tangan Dasen dengan hati-hati, lalu memasuki sebuah kamar.
Tidak menunggu lama, Delia keluar sembari membawa nampan berisi dua gelas air putih.
"Silahkan, Das, Nok. Maaf tidak ada teh, kopi atau minuman lain," ucap Delia, sangat jujur.
"Tidak mengapa. Ini sangat sehat." Denok langsung mengambil satu gelas, dan meneguknya hingga habis. Kembang gula yang di habiskan bertiga saja di dalam bianglala membuat mulutnya terasa penuh liur. Dasen pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Kita langsung saja ya, Del. Kapan-kapan kita akan mengunjungi Jason lagi." Dasen berdiri untuk berpamitan dan memakai kembali sepatu yang sempat dilepasnya tadi.
"Terimakasih untuk hari ini. Das, Nok, terimakasih. Jason pasti sangat bahagia," ucap Delia dengan tulus.
"Tidak masalah," sahut Denok.
Delia mengantar Denok dan Dasen hingga di depan pintu. "Nok, kalau di tempat kerjamu ada lowongan pekerjaan, bagi informasi ya," ucapnya tiba-tiba.
Denok menoleh untuk melihat Delia lebih lama. "Aku juga baru, Del. Tapi sepertinya, ada posisi yang sedang kosong saat ini. Posisi sekretaris sedang tidak ada yang menempati."
"Aku tidak mungkin jadi sekretaris, Nok. Aku kuliah tidak sampai lulus. Meskipun aku bisa melakukan pekerjaannya. Tapi pendidikan formal, tentu masih menjadi patokan. Jadi office girl pun aku mau kok. Yang penting jam kerjanya pasti. Jadi aku bisa menitipkan Jason ke penitipan anak."
Dasen dan Denok lagi-lagi saling bertukar pandang begitu mendengar ucapan Delia.
"Nomor ponselmu berapa, Del? Nanti kalau ada, aku akan langsung hubungi kamu."
Dasen tidak ikut menanggapi, karena Denok lah yang diajak berbicara oleh Delia. Dia semakin penasaran dengan kehidupan temannya itu. Bagaimana pun, Delia adalah teman yang lumayan dekat dengannya saat di UK. Mereka sering bersenang-senang bersama. Mike pun pasti akan heran jika dia mengetahui kondisi Delia sekarang.
"Aku sudah mengirim pesan whatsapp padamu, semoga segera ada lowongan yang cocok untukmu. Kami pulang dulu." Denok menggandeng pergelangan tangan Dasen. Delia tersenyum dan melambaikan tangannya melepas kepulangan sepasang kekasih itu.
Di tempat lain, tepatnya di apartemen Derya, Inez sibuk mengompres kening kekasihnya itu dengan waslap yang sudah dicelupkan dengan air hangat.
Sejak kemarin malam, suhu badan Derya naik turun. Badannya menggigil, padahal sweater dan selimut tebal sudah dikenakan. Obat penurun panas juga diberikan. Tapi kondisinya tidak juga membaik.
"Ay, minum lagi ya? Air putih bagus untuk menurunkan suhu badanmu." Inez menyodorkan segelas air putih yang sudah diberi sedotan.
Derya mengangguk lemah. Dia menggeser posisi badannya agar bisa menjadi setengah bersandar. Dia meminum menggunakan sedotan hingga menghabiskan separuh isi gelas.
"Ay, tolong ambilkan ponselku."
__ADS_1
Inez beranjak mengambil ponsel yang dari semalam tergeletak di laci nakas, lalu memberikannya pada sang kekasih.
Derya menyalakan ponsel yang memang belum dia aktifkan dari kemarin. Dia ingin benar-benar istirahat agar cepat sembuh. Nyatanya, keadaan tidak juga membaik. Beban dosa dan rasa bersalah dipikirannya, membuat tubuhnya yang sebelumnya memang agak flu, menjadi semakin drop.
"Makan sedikit ya, Ay." Inez kembali menawarkan Derya untuk mengisi perutnya.
"Boleh, tapi sedikit saja." Derya menjawab lirih.
Rentetan suara notifikasi pesan masuk, terdengar bertubi-tubi begitu ponsel sudah menyala. Sembari menunggu semua pesan masuk, Derya menerima suapan bubur dari Inez.
Hanya seperempat porsi yang berhasil masuk di perut Derya saat ini. Itu pun dipaksakan, karena rasa mual juga tengah melanda. Stres, seketika membuat asam lambung Derya naik.
"Kembalilah ke kamarmu, Ay. Terimakasih sudah merawatku."
"Tapi, Ay. Nanti kalau kamu butuh apa-apa bagaimana?" Inez yang merasa Derya sekarang lebih hati-hati saat berdekatan dengannya, sedikit banyak menjadi tidak suka.
"Istirahatlah. Aku justru tidak bisa tidur kalau kamu menungguiku terus. Terimakasih sekali lagi. Maaf merepotkanmu."
Inez berdiri dan berjalan dengan kaki yang menghentak karena kesal. Setelah melakukan sesuatu di luar batas, Derya justru bersikap aneh. Tidak sesuai dengan harapan. Tadinya, Inez mengira, Derya akan meminta lagi dan lagi.
Sementara itu, Senja dan Darren yang baru saja melakukan kegiatan yang sudah menjadi keharusan di malam hari, masih mengatur napasnya masing-masing.
"Sepertinya, kita harus serius berlatih yoga. Senja merasa, napas Senja lebih pendek sekarang," ucap Senja dengan napas yang sudah mulai teratur.
"Kamu salah, Ask. Bukan pelatih yoga yang kita butuhkan. Kita hanya perlu menambah durasi permainan kita, dan mencoba bermain lebih pelan. Semakin kita sering berlatih, pasti akan semakin bagus pengendalian diri dan napas kita."
Jawaban Darren langsung membuat Senja turunx dari ranjang dan memilih segera memakai baju tidurnya kembali. Bersamaan dengan itu, ponselnya berdering lama. Pertanda ada panggilan masuk di sana.
"Derya," gumamnya, sesaat setelah menyambar ponselnya yang ada di atas nakas.
__ADS_1