Hot Family

Hot Family
Beyza-Genta Sah part 1


__ADS_3

"Lakukan saja, Ask. Jika itu membuatmu lega." Senja mengatakan dengan lembut.


Darren pun menidurkan kepalanya di pangkuan sang istri. Dia menatap wajah cantik Senja begitu sendu. Bulir bening jatuh membasahi pipi dari sudut mata pria tersebut.


"Rasanya masih kemarin Bey tidur didekapanku. Sekarang, dia sudah mau menikah. Setelah ini, Bey tidak akan manja lagi padaku," lirih Darren.


Senja mencoba tersenyum. Tangannya membelai lembut wajah Darren, mengusap tetesan air mata tadi dengan jemarinya yang lentik. Senja sangat memahami apa yang dirasakan Darren saat ini. Sebenarnya, dia sendiri juga merasakan hal yang sama. Hanya saja, Senja memilih untuk menahan rasa sedih di dalam hati.


"Pernikahan itu berat, Ask. Jalannya tidak akan mulus. Apakah Bey akan sanggup melaluinya? Aku takut melihat Bey sedih. Aku takut melihat Bey berantem dengan suaminya. Aku tidak rela jika Genta memarahi dan mendiamkan Bey."


Lagi-lagi Senja mengulum sebuah senyuman. Sangat memaklumi kenapa sampai Darren berucap seperti itu. Melepas seorang anak ke jenjang pernikahan memang bukanlah perkara mudah. Saat Zain saja, rasanya sudah luar biasa. Apalagi Beyza yang notabene memang putri satu-satunya keluarga Darren Mahendra.


"Pada akhirnya, anak-anak akan meninggalkan kita satu per satu. Sudah ada saatnya mereka akan memiliki kehidupan sendiri. Kita tidak bisa terus melindungi, menjaga dan membantu mereka keluar dari permasalahan kehidupan. Kita pun pernah di posisi yang sama dengan mereka. Rasa sakit, kecewa, marah, sedih, atau apa pun yang akan mereka hadapi dengan pasangan, memang proses yang harus mereka lewati." Senja menjeda sebentar ucapannya.


"Kadang kesulitan yang dihadapi tidak seberat apa yang ada dipikiran kita. Yang sering terjadi, kita terlalu memberatkan diri dengan harapan sekaligus kekhawatiran berlebih. Kita selalu merasa, anak-anak adalah sepenuhnya milik kita. Tidak jarang kita menganggap bahwa kita adalah orang yang paling tidak bisa melihat tangis kesedihan mereka. Padahal, setiap anak memiliki jiwanya masing-masing. Mereka milik diri mereka sendiri. Mereka hanya kebetulan terlahir dari hasil peraduan cinta kita," tambah Senja.


Darren menegakkan duduknya, lalu memeluk Senja dengan erat. Jiwanya yang sudah melow akhir-akhir ini, rasanya semakin melow. Berada di atas kapal di tengah lautan luas, di bawah hamparan langit secara langsung, berhasil membuat seorang Darren merasa begitu kecil dan tidak berarti.


***


Waktu yang dinanti pun tiba, saat semburat senja mulai menghiasi langit biru, semua tamu undangan dan juga keluarga sudah berada di dek teratas yang sudah didekorasi dengan tiang- tiang berbalut aneka bunga berwarna putih. Deretan kursi putih, dan hamparan karpet yang tertutup taburan kelopak bunga juga berwarna putih. Membangun suasana begitu hangat dan romantis.

__ADS_1


Di acara akad kali ini, dress code yang diberikan adalah putih. Jadi tidak heran, jika semua yang hadir menggunakan pakaian yang bernuansa putih. Semua keluarga datang, baik dari pihak Genta maupun dari keluarga Beyza. Teman-teman dekat Bey dan Genta pun hadir, mereka juga tidak ingin melewatkan moment ini. Relasi terdekat Darren dan Rangga tidak luput dari pandangan. Tidak kurang dari 800 orang hadir di sana.


Di antara semua yang sudah terlihat di dek. Ada beberapa yang belum nampak. Memang sengaja, karena mereka akan mengiringi dan menemani Beyza. Senja, Baby De, si kembar anak Chun Cha dan Aleandro, juga Sarita dan Bae. Mereka baru akan menuju tempat acara setelah Genta sah mengucapkan akad.


Sudah duduk di depan meja penghulu, Genta yang nampak berusaha tampil setenang mungkin. Sementara Darren yang berada di sisi lain meja yang sama, juga merasakan hal yang tidak jauh berbeda dengan Genta. Hari ini akan menjadi pengalaman pertama sekaligus terakhirnya menikahkan anak perempuannya. Begitu banyak rasa yang bergejolak di dalam dadanya. Namun Darren berusaha menegarkan diri. Wibawanya mampu menutupi segala keresahan yang membuncah.


Sementara itu, berada di salah satu ruangan di bawah dek teratas kapal. Beyza terus menggenggam tangan Senja sembari menyandarkan kepalanya di pundak sang mama.


"Bey, kamu sudah mau menjadi seorang istri. Kenapa masih manja begini," ledek Bae.


"Biaran eomma, nanti dia manjanya sudah ganti sama Genta. Sekarang puas-puasin sama Mama," sahut Baby De.


Mendengar jawaban De, seolah mengingatkan Senja bahwa sekarang memang sudah saatnya Bey lepas darinya dan menjadi tanggung jawab orang lain.


Beyza mengangguk seraya tersenyum. "Bey sayang Mama."


Mendadak keduanya benar-benar merasakan keharuan. Berpelukan adalah jalan keluar yang mereka pilih untuk meredam rasa yang berkecamuk di hati. Tanpa kata, keduanya meluapkan kasih yang menguatkan satu sama lain.


"Jangan rusak make up kalian dengan air mata," ingat Sarita membuyarkan suasana haru yang tercipta.


"Ini waterproof oma. Biarkan sebentar saja begini," kilah Beyza. Seketika memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


Sementara calon mempelai wanita masih menenangkan diri dalam pelukan sang mama. Di tempat yang hanya bersekat atap dari Beyza, Genta kini sudah duduk berhadapan dengan Darren. Keduanya terlihat kompak menarik napas dalam. Suasana pun mendadak hening, semua seolah ingin memberi ruang pada calon pengantin pria dan calon mertua pria untuk menetralkan kegugupan masing-masing.


Penghulu memberi arahan agar Darren dan Genta segera berjabatan tangan. Meski tidak ada keraguan, gerakan uluran tangan keduanya begitu pelan. Ketika telapak tangan saling menempel, baik Darren maupun Genta sama-sama merasakan keringat dingin. Dan ikrar akad pun dimulai. Dengan satu helaan napas diikuti mata yang berembun, Darren dengan lancar membacakan bagiannya dan mengakhiri dengan menghentakkan tangannya di ujung kalimat.


Genta menjawab tidak kalah lancar dengan helaan satu napas. "Saya terima nikah dan kawinnya Beyza Aurelia Mahendra Binti Darren Mahendra dengan mas kawin uang tunai sebesar delapan puluh ribu euro di bayar tunai."


"Sah?" Tanya penghulu.


"SAH...."


Jawaban dari para saksi yang terdiri dari Arham, Mahendra, Rangga, dan Papa dari Rangga, menegaskan bahwa mulai detik itu, Genta Mas Manggala dengan resmi sudah menyandang status sebagai seorang suami dari Beyza Aurelia Mahendra.


Lega dan sedih sekaligus menyeruak di hati Darren. Semua tanggung jawab dirinya pada Beyza kini sudah berpindah di pundak Genta. Pria itu memejamkan mata sesaat, mengucap doa lirih. Berharap pilihan putrinya memang yang terbaik.


Setelah doa sesudah akad dilantunkan. Pembawa acara, memohon semua hadirin untuk berdiri untuk menyambut kedatangan mempelai wanita.


"Kak, nanti kita nikah lagi, ya. Jadi pengen nikah beneran kayak begini," bisik Sekar pada Zain. Perempuan itu terlihat cantik meskipun tanpa riasan. Keanggunan perempuan khas jawa, terpancar sempurna


"Nikah cuman sekali, Dek. Yang boleh berkali-kali dan tiap hari cuman kawin." Zain menjawab lirih dengan disertai kerlingan nakal.


"Dasar pelit! Kalau Bey dan Genta di kapal pesiar. Kita harusnya beda," Sekar masih keukeh dengan keinginannya.

__ADS_1


Dasen yang mendengar ucapan Sekar seketika menggeser dirinya agak lebih mendekat dengan Zain. "Kak Sekar benar, berhubung sudah perang-perangan. Kalian layak menikah ulang di pesawat tempur."


Denok ingin ikut menimpali, tapi menahan mual sungguh membuatnya dirinya harus lebih banyak diam. Pura-pura baik-baik saja ternyata memang sulit. Senyuman tipis yang ditampilkan sembari mengamit lengan Dasen, hanyalah kamuflase untuk menahan rasa kepala yang sedikit terasa dikelilingi bintang-bintang.


__ADS_2