
Berkat kepiawaian Dasen merayu Mbah Gondrong melalui panggilan video dan juga dibantu Sekar juga tentunya, Denok baru akan pulang nanti setelah acara triple date di rooftop sebuah hotel mewah yang mereka sewa khusus hanya untuk mereka bertiga.
Mbah Gondrong memberikan ijin pada Denok untuk tidak pulang terlebih dahulu, karena Sekar mengatakan akan saling membantu berdandan dulu. Mbah Gondrong yang lemah pada rayuan perempuan, ditambah lagi Dasen yang pintar memberikan pujian tidak penting. Membuat dengan mudahnya, bapak Denok itu mengatakan boleh.
Padahal yang terjadi sebenarnya, adalah karena Dasen ingin menghemat tenaga agar tidak bolak balik antar jemput Denok, apalagi kalau sampai bertemu Ibu Denok, seketika Dasen meciut. Tingkah Erika yang genit, seringkali membuatnya pesimis.
Denok sangat senang, setidaknya ada sekar yang akan membantunya berdandan agar sesuai. Meskipun dia sendiri juga bisa, tentu sentuhan tangan Sekar akan membantunya lebih percaya diri.
Menjelang Sore, Derya terlihat datang. Denok yang tadinya hanya melihat melalui foto, kini melihat langsung wajah kembaran dari Beyza itu.
"Mbak, sepertinya kita bakalan awet muda. Cuci mata gak perlu jauh-jauh. Di foto ganteng, aslinya kenapa lebih ganteng-ganteng. Rahimku anget, Mbak," seloroh Denok tanpa filter.
Sekar langsung menepuk lengan Denok dengan keras. "Kamu ini, cukup disimpan dalam hati saja."
"Derya pasti ceweknya cantik ya, Mbak?" Denok mulai mengajak Sekar untuk menghibah lagi.
"Yang pasti, kulit Inez lebih putih dari kita. Putih banget kayak mama Nja dan Bey. Kalau cantik, kita juga cantik, Nok. Jangan pernah meragukan kita sendiri," bisik Sekar dengan suara lirih.
"Iya, Mbak. Kapan-kapan, kita ajak mereka makan penyetan di pinggir jalan, mau tidak ya?" pandangan Denok menerawang saat mengatakannya.
"Coba saja. Kalau kak Zain, sebenarnya mau saja dan memang santai. Tapi makanan dan minuman Kak Zain harus di jaga benar. Kalau makan di rumah sini, kita sehat dan enak. Minyaknya khusus, alat masak yang digunakan juga beda dengan yang biasa kita pakai." Sekar menjelaskan dengan santai.
"Kenapa begitu, Kak? Mereka tidak tahu rasanya nasi goreng bekas minyak gorengan ikan asin dong." Denok kembali mengeluarkan kata-kata konyol.
"Nok, kayaknya selera kita sama. Fix, kalau kamu memang berjodoh sama Dasen, rumah kita harus berdekatan. Kita akan membuat dapur bersama, khusus makanan cacing-cacing kita yang setia pada selera lokal." Sekar mengajak Denok melakukan tos.
"Dengan senang hati, Mbak. Aku masih deg-deg'an. Takut Ibunya Dasen benar-benar menentang kami."
__ADS_1
Sekar mencoba memberi semangat dan meluruskan pemikiran Denok bahwa Senja tidak semenakutkan yang diperkirakan Mbah Gondrong.
Zain dan Dasen yang juga asik bertukar pikiran di sisi lain ruangan. Keduanya sedang membicarakan Beyza. Mereka heran, tiba-tiba saja adiknya itu, mau pulang ke Indonesia. Derya yang sudah berganti baju pun langsung bergabung dengan mereka.
"Baru lagi, Kak?" tanya Derya sembari mengarahkan pandangan matanya pada Denok.
"Baru, masih fresh. Tapi ini yang terakhir. Aku sudah cocok banget sama yang ini. Menurut penerawanganku, larinya bakalan kenceng."
Zain langsung menepuk kepala Dasen dengan kekuatan yang lumayan. "Kamu pikir kuda."
"Serius. Tidak usah munak, sama-sama gedenya. Kalian memang nyari yang bagaimana? Nyari signal terkuat bukan?"
Zain menggelengkan kepalanya, begitu juga dengan Derya. Apa yang dikatakan Dasen tidak sepenuhnya salah, tapi tidak benar juga. Karena masih banyak kecocokan lain yang membuat mereka baru klik saat memasih puluhan.
"Eh, kemarin bagaimana tanggapan Daddy dan Mama ketemu Inez?" Dasen bertanya karena dia juga ingin mengrnalkan Denok pada orangtuanya dalam waktu dekat.
"Berat sungguh masalah kalian. Sementara, Kak Zain tidak akan ikut campur. Rencana pernikahan harus mulus dulu. Setelah itu, baru kakak akan memantu kalian." Zain menepuk bahu Derya, sekedar ingin memberi semangat.
🍀🍀
Akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba. Kali ini semua pergi mengendarai kendaraan masing-masing, tanpa ditemani driver seperti biasa.
Dasen-Denok, Zain-Sekar langsung berangkat menuju lokasi triple date. Sementara, Derya masih harus menjemput Inez terlebih dahulu.
Pasangan Dasen, datang terlebih dahulu di rooftop. Menyusul kemudian Pasangan Zain. Suasana rooftop dibuat seromantis mungkin. Hanya ada satu meja panjang dengan enam kursi yang ada di sana. Di sudut, ada band live music yang akan membawakan lagu romantis untuk mengiringi kebersamaan mereka.
Memang harus diakui, anak-anak Darren dan Senja sangat kompak sebenarnya. Semua tidak lepas dari ajaran Darren dan Senja. Yang membiasakan anak-anaknya untuk saling peduli dan menjuga. Terutama Zain, dia harus memberi contoh yang baik untuk adik-adiknya.
__ADS_1
"Tinggal nunggu Derya saja," ucap Zain.
"Nah, itu dia datang." Dasen menunjuk adiknya yang berjalan mendekati mereka dengan bergandengan tangan dengan Inez.
perempuan putih mulus itu menyapa Zain dan Dasen, lalu Sekar. Karena belum mengenal Denok, dia hanya melemparkan senyuman hangatnya.
"Nez, kenalin, ini Denok, cewekku." Dasen berinisiatif untuk memperkenalkan.
Denok berdiri dan mengulurkan tangan pada Inez yang masih berdiri. Saat tangan keduanya bertautan, Denok meringis geli. Dia tidak langsung melepaskan tangannya. "Nez, berasa kita kayak zebra cross. Kamu putih banget kayak susu."
Dasen segera menarik tangan Denok. Jangan sampai ucapan kekasih itu, memancing Derya untuk mengolok-oloknya.
"Tenang saja, Nok. Banyak klinik kecantikan. Suruh Kak Dasen membelikan satu untukmu," ledek Derya.
"Cantik itu tidak harus putih. Kembali ke selera masing-masing. Bule mah, lebih suka cewek kayak Denok," bela Sekar.
"Iya bener, karena aku bule. Makanya aku suka sama Denok," timpal Dasen.
Denok hanya mencebikkan bibirnya. Sebenarnya, kekasih Dasen itu memang tidak hitam. Hanya saja, kulit Inez yang terlampau bening seperti Senja dan Beyza membuat Sekar juga Denok menjadi terlihat agak gelap. Keduanya kuning langsat cenderung eksotis. Layaknya perempuan jawa asli yang ayu.
Ketiga pasangan itu lalu saling bercengkerama dan berbagi cerita. Denok yang gaya bicaranya polos, ceplas ceplos sering kali memancing tawa. Seperti sekarang, saat dengan polosnya dia bertanya pada sekar. "Mbak ... Mbak Sekar sama Kak Zain, pacarannya sudah sampai level mana?"
Dasen yang sedang asik menikmati sop asparagus dan kepiting seketika tersedak. Pikirannya mulai was-was kalau Denok membuka rahasia kalau malam ini, dia mengajak ke level selanjutnya.
"Level apa maksudnya?" Zain dan Sekar kompak bertanya.
"Kan kalau awal jadian katanya cium punggung tangan, pipi kiri dan pipi kanan, terus naik level lagi cium bibir, nah setelah itu apa, Mbak?"
__ADS_1
Derya, Inez, Sekar dan Zain kompak saling bertukar pandang. Kerlingan Zain pada yang lain bahwa dia mempunyai niat licik untuk mengerjai Dasen.