Hot Family

Hot Family
Keputusan Senja


__ADS_3

"Apa aku harus ngomong di depan anakmu? Apa tidak ada sedikit saja naluri keibuan pada dirimu?" Senja melirik Denok yang sedang meremaas-remaas tepian blazer yang dikenakan.


"Terserah! Anakku sudah terbiasa tahu baik buruknya orangtua mereka. Aku tidak seperti kamu, yang memilih menyembunyikan masa lalu, demi dianggap malaikat yang tidak pernah salah dihadapan anak-anakmu. Apa bedanya aku dengan suamimu, aku penjaja kesenangan, dan suamimu pembelinya. Kami sama."


Darren sudah kehilangan kesabaran. Wajahnya memerah menahan amarah, lagi-lagi tangan Senja mencegah untuk mengeluarkan emosinya.


"Nok, kamu masuk ke ruangan Saya atau ke lantai mana pun kamu mau. Pastikan saja, kamu tidak mendengar apa yang akan saya ucapkan." Senja mengucapkannya dengan tegas dengan tatapan mata tajam yang masih tertuju pada Erika.


Setelah memastikan Denok meninggalkan mereka ke lantai lain. Senja berjalan memutari tubuh Erika dengan tatapan sinis. "Apa menurutmu, dengan tubuh seperti ini cukup membuat suami orang tercengang? Apa kamu pikir semua laki-laki akan tertarik melihat penampilanmu? Apa obsesimu blm selesai pada suamiku? Masih penasaran?"


Erika menegakkan badan sembari membusungkan dadanya. "Jika iya, kamu mau apa?"


"Mau apa? Aku tidak perlu apa-apa. Hidupku sangat sempurna, apa yang diinginkan orang lain, jelas sudah menjadi milikku. Dan apa yang menjadi milik orang lain, jelas aku tidak menginginkan."


"Kamu kali ini akan kalah dariku, Nja. Mungkin aku sulit merebut suamimu, tapi setidaknya anakmu bisa mudah aku pengaruhi."


Senja mencengkram lengan Erika dengan kuat. "Lakukan saja jika berani, aku belum pernah mematahkan tangan dan kaki seseorang. Tapi sungguh, aku akan dengan senang hati melakukannya jika kamu berani mengusik keluargaku."


Erika ingin menghempaskan tangan Senja. Tapi ternyata kekuatannya jauh di bawah tenaga Senja ketika sedang menjelma menjadi singa betina. Darren memundurkan langkah. Dia hanya boleh menjadi penonton kali ini. Percaya penuh pada kemampuan sang istri, bukan lagi pilihan.

__ADS_1


"Dulu saja, saat badanmu masih benar-benar bagus. Suamiku tidak tertarik padamu. apalagi sekarang, lihatlah! Kulit lenganmu bergelambir, kantong matamu tebal sekali, belum lagi aset yang selama ini menjadi kebangganmu itu, pasti nasibnya lebih menyedihkan lagi." Senja sengaja menyerang fisik Erika.


"Umur kita sama, Nja. Kamu pun pasti juga," sanggah Erika.


"Aku? Mau tahu badanku seperti apa?" Senja menarik Erika ke dalam ruangannya. Sesampainya di dalam, dia langsung menarik ke bawah resleting dres yang dikenakannya. lalu menurunkan dres itu hingga sebatas siku.


"Ask! Jangan gila! No, Ask!" Darren buru-buru menutup pintu ruangan istrinya.


Dengan santainya, dia memamerkan tubuh dan kulitnya yang masih kencang di hadapan Erika yang nampak melongo.


"Ingat, Erika! Aku ini pernah lima kali melahirkan. Tapi tubuhku masih sebagus ini. Memang uang sangat berpengaruh. Tapi uang tanpa kepintaran jadilah dirimu."


"Kamu pikir, setelah puluhan tahun berlalu, suamiku tiba-tiba khilaf dan kembali merindukanmu? Berani benar kamu bermimpi. Ingat baik-baik! Suamiku dulu, bukan mantan pacarmu. Dia hanya membelimu layaknya sebuah barang. Setelah bosan dipakai dibuang begitu saja. Kamu bukan berlian yang berkilauan. Jadi jangan berharap di simpan." Senja kembali memakai dres-nya dengan benar.


Darren menghampiri istrinya. Dia baru merasa, apa yang dilakukan Senja saat ini, bukan melulu tentang dirinya. Tapi juga karena kata-kata Erika yang sempat menyebut nama Dasen. Dia merengkuh pundak Senja, dan membawanya ke dalam pelukan dengan hangat. Pria itu mengecup kening istrinya begitu lama.


"Aku mencintaimu, Ask. Tidak akan ada yang bisa menggoyahkan itu. Kamu satu-satunya yang terbaik. Jangankan seekor lalat, kupu-kupu yang sangat cantik saja tidak akan sanggup mengalihkan perasaanku padamu." Darren melirik sinis pada Erika.


Merasa kalah telak membuat Erika mau tidak mau meninggalkan ruangan Senja. Dengan dendam yang lebih besar ketimbang sebelumnya. Dia harus bisa mematahkan hati Senja. Jika Darren tidak sanggup dia takhlukkan, maka Dasen harus bisa dia goyahkan. Langsung atau pun melalui Denok.

__ADS_1


Senja mengatur napasnya saat melihat Erika meninggalkan ruangannya. Beberapa kali dia istighfar untuk meredam gejolak emosinya.


"Masa lalumu meresahkan, Ask. Senja benci harus mengatakan ini. Tapi bicaralah dengan Dasen, kenapa sampai kita tidak ingin dekat dengan gadis pilihannya. Jika Erika berperilaku normal, aku sungguh bisa menerima. Aku sama sekali tidak meragukan kesetiaanmu." Senja mengambil tas dan mematikan laptopnya. Dia sudah tidak semangat lagi untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Kita pulang!' ucapnya.


Darren menyamai langkah sang istri yang lebih lebar dari biasanya. Ketika hendak memasuki lift, mereka berpapasan dengan Denok. Wajahnya terlihat sangat sendu. Senja sedikit menaruh iba.


"Kita bicara sebentar." Senja menarik tangan Denok menuju ke samping kanan lift. Lalu dia memberikan kode pada Darren untuk lebih dulu ke lobby.


"Nok, saya tahu, saya sangat tidak profesional jika langsung membuatmu berhenti dari sini. Itu juga sangat tidak adil bagimu. Sikap ibumu, seharusnya bukan tanggung jawabmu. Tapi saya harus mengambil sikap, bukan sebagai profesional. Tapi sebagai seorang ibu dan sebagai seorang istri," tegas Senja.


Denok menganggukkan kepala dengan lemah. Gadis yang biasanya ceria, mendadak begitu nelangsa. "Saya mengerti, Bu. Saya minta maaf atas kelakuan ibu Saya. Itulah kenapa, selama ini, jika ada yamg bertanya, saya lebih memilih mengaku sebagai anak dari istri pertama bapak. Saya selalu malu memiliki ibu seperti ibu Erika," lirih Denok.


Senja menggigit bibir bawahnya, menyadari dan merasakan sepenuh hati gejolak yang dialami Denok saat ini. Tapi Senja harus tegas, dia tidak mungkin bisa berdampingan apalagi menganggap perempuan aneh seperti Erika menjadi keluarga.


"Kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita akan dilahirkan. Tapi kita bisa memilih untuk tidak menjadi seperti mereka. Saya belum mengenalmu. Terlalu dini menganggap kamu berbeda dengan ibumu. Kamu boleh bekerja di sini. Tapi tidak sebagai sekretaris saya, pergilah ke HRD. Ada posisi yang lebih tepat untukmu." Senja merendahkan nada bicaranya. Kakinya sudah kembali terayun, tapi dia berhenti dan kembali menoleh pada Denok yang nampak berdiri bergeming.


"Satu hal lagi dan paling penting. Jangan lagi memanggil Dasen dengan sebutan 'ask,' jika Dasen bertanya, katakan saja saya yang melarang. Bicarakan baik-baik hubungan kalian. Dari saya, jelas tidak ada restu untuk kalian. Tapi menurut atau tidak, pilihan tetap pada kalian." Senja langsung kembali masuk ke dalam lift yang kebetulan sudah terbuka.

__ADS_1


Denok menjatuhkan badannya di lantai. Dia ingin marah, tapi tidak tahu pada siapa. "Ya Allah, kapan sengsara menjadi anak ibu Erika berakhir."


__ADS_2