
Detik demi detik berlalu begitu lambat jika ada suatu hal yang dinanti. Pernikahan Beyza dan Genta tidak hanya dinantikan karena ritual akad dan serangkaian resepsinya. Lebih penting dari itu adalah dimulainya pengobatan Senja secara intensif. Pengangkatan rahim wanita tersebut harus dilakukan sesegera mungkin. Di tambah lagi dengan pemasangan ring di jantung Mahendra. Sungguh pernikahan Beyza dan Genta seakan dipacu oleh waktu demi memenuhi syarat dari Senja.
Akhirnya hari yang dinantikan semua orang itu pun tiba. Acara pernikahan Beyza dan Genta kini hanya tinggal menghitung jam. Semua sudah berada di dalam kapal pesiar yang membawa mereka melakukan perjalanan dari surabaya menuju perairan pulau dewata. Menurut rencana, acara akad akan dilakukan menjelang langit senja. Tepat saat mereka masih berada di perairan lepas.
Kapal pesiar mewah tersebut baru saja merangkak meninggalkan dermaga Tanjung Perak Surabaya. Sejauh ini semua berjalan dengan rapi dan sesuai rencana. Meski persiapan begitu singkat, namun wedding Orginizer benar-benar bekerja keras untuk mempersembahkan acara sesempurna mungkin untuk Beyza dan Genta.
Seluruh undangan dikonfirmasi sudah hadir dan menempati kabin atau stateroom masing-masing. Mereka diberikan waktu untuk bersiap, bersantai atau melakukan apa pun sesuka mereka sebelum rangkaian acara di mulai. Satu hal yang dilarang adalah memasuki dek teratas dan main seating/ resto utama cruise. Karena area itu di sterilkan untuk acara akad dan resepsi yang hanya akan terjeda waktu sholat maghrib dan isya saja.
Di salah satu kabin tepatnya di Suite stateroom--kabin dengan ukuran yang lebih besar dan ideal untuk keluarga karena memiliki kamar tidur, ruang tamu, dan balkon terpisah. Senja, Bae, Sarita, serta Baby De menemani Beyza yang sedang dirias oleh seorang MUA. Dibanding Sarita dan Bae yang sangat bersemangat saling bersahutan menimpali pembicaraan, Senja nampak lebih tenang. Wanita tersebut lebih memilih untuk berdiam diri. Hanya menjadi pendengar yang baik dan sesekali menanggapi dengan menyunggingkan senyuman tipis.
"Rasanya baru kemarin melihat kamu selalu manja sama daddy-mu. Sekarang sudah mau nikah saja." Bae kembali menatap Bey dengan tatapan yang sulit diartikan.
Beyza yang sedang memejamkan mata karena MUA masih menyapukan kuas di daerah bawah alisnya, tidak memberikan tanggapan. Sepanjang proses rias, Beyza memilih untuk melantunkan shalawat dalam hati. Sesuai pesan Senja. Selain agar hatinya merasa tenang, aura kecantikannya pun bisa semakin terpancar.
Di sisi lain, tepatnya di Ocean view stateroom--kabin yang dilengkapi dengan jendela dan memungkinkan tamu untuk menikmati pemandangan laut dan pelabuhan dari dalam kamar. Denok yang berada satu ruangan dengan Delia dan Jason sedang berusaha keras untuk menahan gejolak di perutnya. Pengalaman pertama menaiki kapal pesiar, membuatnya tidak nyaman. Padahal ombak tidak terlalu terasa, Cruise yang dipilih Genta juga merupakan Cruise keluaran terbaru dengan tingkat kenyamanan yang tidak perlu diragukan. Namun Denok sangatlah sensitif. Apalagi dari kamarnya, dia bisa melihat air laut yang melimpah dengan mudahnya. Sungguh pikiran gadis itu sudah mensugesti dirinya sendiri untuk merasakan ketakutan yang berlebihan.
"Nok, kamu kenapa?" Delia menghampiri Denok yang semakin resah. Keringat dingin mulai membasahi kening kekasih Dasen itu.
Denok menggeleng lemah, wajahnya perlahan memucat. Pandangan mata mulai sayu. Perut Denok kini semakin terasa seperti diaduk-aduk. Dengan langkah seribu, gadis itu menuju toilet. Memuntahkan isi perutnya yang sedari tadi di tahan-tahan.
"Jas mainan ponsel dulu, ya. Mama mau lihat Tante Denok." Delia memberikan ponselnya pada sang anak, Lalu bergegas menghampiri Denok ke dalam toilet yang tidak ditutup.
"Nok, kamu masuk angin?" Delia memijat tengkuk leher Denok dengan telaten.
__ADS_1
Denok mengusap bibirnya, membersihkan sisa-sisa muntahan yang menempel di sana. Lalu membasuh wajahnya agar sedikit segar.
"Sepertinya aku mabuk laut, Mbak." Denok mengatakannya dengan malu-malu seraya menundukkan kepala.
Delia menahan senyumannya. Dia tidak ingin membuat Denok merasa tersinggung. Tangannya masih memijat Denok dengan kekuatan penuh, kali ini pijatannya sudah merambah ke pundak. Membuat kekasih Dasen tersebut merasakan kenyamanan yang luar biasa.
"Aku buatkan minuman hangat, ya. Jangan ditahan muntahnya. Kalau kamu tahan, nanti malah pusing. Gak papa kok, muntah saja. Aku dulu juga begitu."
Denok menahan langkah Delia. Lalu dia bertanya, "Ini masih lama ya perjalanannya? Bisa nggak aku berhenti di sini saja. Aku nggak kuat, aku mau pulang saja."
Lagi-lagi Delia harus menahan bibirnya agar tidak kelepasan menarik sebuah garis lengkung. "Memang kalau bisa berhenti kamu mau apa? Mau renang ke tepian? Atau mau naik perahu yang lebih kecil?"
Denok menggeleng lemah. Dia tidak menyangka kalau naik kapal pesiar tidak senikmat yang dia lihat di video. Rasanya perputaran bumi sedikit terasa. Dia heran melihat orang lain seperti santai saja. Bahkan Delia dan Jason berjalan tanpa pegangan apa pun seperti sedang berada di rumah.
"Aku di sini saja." Denok kembali membungkuk menghadap wastafel, kembali menumpahkan isinya perutnya yang hanya tersisa air.
***
Hampir dua puluh menit Delia meninggalkan Denok, teman sekaligus sekretaris Dasen itu akhirnya kembali juga. Jason bahkan sudah tertidur karena terlalu lama menunggu mamanya.
"Astaga, Nok!" Delia menepuk keningnya sendiri dengan keras.
Keadaan Denok semakin kacau, rambutnya basah karena keringat dingin bercampur air. Sepertinya, mabuk laut yang dialami gadis tersebut memang tidak main-main.
__ADS_1
"Kita keluar dari sini, Nok. Kamu berbaring di bed-mu. Aku sudah dapet obat dari dokter, cepetan kamu minum. Habis gitu kamu langsung tidur, semoga mendingan." Delia memapah Denok dengan susah payah. Meskipun mungil, badan Denok yang padat berisi mampu membuatnya kesulitan.
Setelah Denok berada di atas bed dengan posisi setengah berbaring, Delia buru-buru memberikan sebutir pil bulat berukuran besar pada Denok.
Dengan ragu-ragu, Denok menerima obat tersebut. Seumur-umur, dia tidak pernah meminum obat. Kalau sakit, ramuan herbal lah yang ia minum.
Menyadari kegamangan hati Denok, Dwlia langsung mengambil dua sendok dan kembali meminta obat yang sudah ada di tangan Denok. Dengan sekuat tenaga, Delia menghaluskan pil tersebut menggunakan punggung sendok di atas cekungan sendok yang lain. Setelah berhasil, dia menambahkan air ke dalam sendok tersebut. mengaduk sebentar, lalu memberikannya pada Denok. Tidak ada hitungan detik, obat itu sudah melewati tenggorokan Denok dengan didorong segelas penuh air putih.
"Terimakasih, Del." Denok menarik napas panjang.
"Sama-sama."
"Del, boleh minta tolong satu lagi?" Tanya Denok dengan hati-hati.
"Apa, Nok. Apa pun asal kamu bisa merasa lebih baik, akan aku usahakan."
"Tolong kerokin aku ya, Del," pinta Denok seraya meraih tas yang berada tidak jauh dari bed-nya. Lalu mengambil batok kayu khusus untuk kerokan. Senjata yang selau dia bawa kemana-mana, lengkap dengan balsem dan juga koyo cabenya.
******
batok kerokannya Denok
__ADS_1