Hot Family

Hot Family
Giliran kita


__ADS_3

Genta dan Beyza sudah berada di ruang VVIP gerai makanan Jepang yang dimaksud oleh Zain. Keduanya duduk berdampingan sembari sibuk dengan ponsel masing-masing. Beyza membuka sosial media milik Senja yang isi berandanya penuh dengan foto-foto Bey serta saudara-saudaranya yang lain.Mulai mereka bayi hingga sekarang. Ribuan foto di sana, hanya sedikit gambaran betapa Senja memang selalu memprioritaskan keluarganya.


Genta meletakkan ponselnya di atas meja, lalu dia menatap lekat pada sosok Beyza. Bola mata perempuan yang sangat dia cintai itu kini berselimut kabut kesedihan. Rencana pernikahan keduanya, tidak sedikit pun bisa mengalihkan pikiran Beyza sejenak dari kekhawatiran. Jika bukan permintaan Senja, tentu mereka akan memilih menunda pernikahan sampai keadaan kembali normal.


"Yang mama butuhkan bukan kesedihan kita, Mbak. Ketegaran dan kekuatan kalian, akan membuat langkah mama menuju kesembuhan menjadi ringan. Aku yakin, mama pasti mendapatkan pengobatan terbaik. Tugas kita selanjutnya hanya berdoa, serahkan pada kuasa dan tangan Tuhan. Sehelai daun sekali pun tidak akan jatuh menyentuh tanah jika Tuhan tidak mengijinkan. Percaya akan kekuatan doa, Mbak." Genta menarik bibirnya hingga membentuk garis lengkung yang mempesona.


Beyza meletakkan ponselnya ke dalam tas tangan yang tergeletak di kursi kosong tepat di sebelahnya. Lalu dengan sendu gadis itu membalas tatapan lembut Genta. Beyza meraih satu tangan pria di depannya seraya berkata, "Terimakasih, Kang."


"Ehemmmm ...." Suara deheman Zain yang tiba-tiba muncul tanpa aba-aba, membuat Beyza segera melepas tangan Genta.


"Gak papa kok, Bey. Kita sudah lihat. Tenang saja, kita juga sering melakukannya dulu. Bahkan lebih," goda Sekar berusaha mencairkan kecanggungan Beyza.


Hanya Genta yang menanggapi kicauan Sekar dengan senyuman. Beyza dan Zain tidak memberikan reaksi apa pun. Keduanya sedang enggan bercanda, terutama Zain. Raut wajahnya menunjukkan garis wajah yang tegas.


Setelah semua duduk di tempat masing-masing, mereka langsung memesan beberapa menu makanan. Tidak sebanyak yang biasanya dipesan ketika mereka datang di tempat yang sama. Padahal makanan Jepang adalah salah satu makanan favorit Beyza dan Zain setelah sempat beberapa tahun tinggal di luar negeri. Zain yang selalu menjaga pola makannya, harus bisa memilah-milah sendiri jika ingin makan di luar. Bagaimana pun, dia pernah menderita kanker. Sebisa mungkin, Zain harus menerapkan pola hidup sehat yang ketat.

__ADS_1


"Bey, Gen, bisa tidak pernikahan kalian dilakukan secepat mungkin? Kalau perlu, jangan ada pesta yang membuat mama lelah, karena mama ...." Zain menceritakan kondisi Senja seperti yang dia ketahui. Pada intinya, pengangkatan rahim untuk saat ini adalah pilihan terbaik. Dilakukan secepat mungkin bukan lagi pilihan, tetapi sebuah keharusan. Kanker begitu cepat pertumbuhannya. Zain tidak ingin berkejaran dengan waktu dan menyesal kemudian.


Genta dan Beyza saling bertukar pandang. Hal yang disampaikan Zain, sudah menjadi pemikiran mereka sebelumnya. Genta pun mengangguk dan mengedipkan kedua matanya sebagai isyarat pada sang calon istri, semua keputusan diserahkan kembali pada Beyza.


"Kami sama sekali tidak keberatan, Kak. Nanti Bey akan bicarakan dengan daddy dan mama dulu kalau ada perubahan." Beyza menjawab dengan tegas.


Zain tersenyum tipis, pandangannya kini kembali menerawang. Beyza yang menyadari perubahan wajah kakaknya itu segera berdiri menghampiri sang kakak. Gadis itu membungkukkan badannya, lalu bergelayut mengalungkan tangannya di pundak Zain dari belakang.


"Mama pasti sembuh, Kak. Bey yakin itu." Ucapan Beyza sesungguhnya juga ditujukan untuk menghibur dirinya sendiri.


Beyza menarik napas dengan berat. Menyadari hal yang disampaikan Zain bukanlah perkara yang mudah. Sosok mamanya, dalam keadaan apa pun, tidak akan mungkin sanggup membunuh darah dagingnya sendiri.


"Siapa yang mampu membujuk mama,Kak? Daddy sekali pun tidak akan bisa kalau syaratnya seperti itu." Beyza melepas tangannya dari pundak Zain, menegakkan badannya dan menarik kursi di sisi kanan Zain yang masih kosong.


Sesaat pembicaraan itu terjeda. Dua orang pelayan datang membawa pesanan mereka. Sedari tadi, Sekar dan Genta kompak hanya sebagai penyimak. Meski mereka ikut merasakan kesedihan, tentu berbeda dalamnya dengan Zain atau pun Beyza.

__ADS_1


Mereka menikmati makan malam tanpa kata. Hanya dentingan sumpit yang sesekali beradu dengan piring atau mangkuk keramik yang memecah hening ruangan. Semua lagi-lagi hanyut dalam pikiran masing-masing.


"Kak, bagaimana kalau Bey menikah hari jumat ini saja? Hanya keluarga inti, tidak perlu ada undangan.Tapi tetap di atas kapal pesiar. Karena mendadak, Bey akan menghubungi Papa Aleandro untuk menyewa salah satu kapal pesiarnya." Beyza meminta pertimbangan sang kakak.


"Atur saja, Bey. Kakak masih berpikir, bagaimana cara membuat mama mau melakukan prosedur pengangkatan rahim."


Sekar mengusap punggung Zain dengan sedikit kekuatan, kemudian perempuan itu memberanikan diri untuk menyampaikan pendapatnya. "Ajak mama bicara pelan-pelan. Jangan mendesak mama untuk segera memutuskan. Beri waktu mama untuk berpikir. Dan satu hal lagi, sudah saatnya kita berhenti menampilkan wajah sedih. Mama akan lebih tenang jika kita semua tegar. Biarlah sedih, ketakutan dan kecemasan itu hanya hati kita yang tahu. Jika yang merasakan sakit bisa tersenyum dan terlihat baik-baik saja, harusnya kita malu sama mama, karena semangat kita nyatanya malah semakin hilang."


Zain ingin membantah ucapan Sekar, tapi perempuan itu buru-buru menempelkan jari manis pada bibir sang suami. "Jangan katakan memang mudah kalau sekedar bicara. Aku memang tidak akan pernah bisa merasakan persis sama seperti yang kalian rasakan. Tapi aku yakin kita bisa sepakat dalam satu hal. Mama tidak ingin menjadi beban dan melihat anak-anaknya bersedih. Maka sekarang lakukan sebaliknya, jangan menambah sakit mama dengan luka karena kerapuhan anak-anaknya."


"Kak Sekar benar. Berbicara dan menyarankan sesuatu pada orang lain memanglah mudah. Semudah saat kita mencela kesalahan dan memaki kekurangan orang itu. Setiap dari kita memiliki cobaan hidup yang berbeda. Bersyukurlah kalian, yang masih diberikan kesempatan untuk memeluk dan memberikan kasih sayang pada orang yang berarti untuk kita. Mama Nja sudah memberikan sikap terbaiknya. Sekarang giliran kita yang harus menunjukkan yang terbaik untuk mama," sahut Genta, hati-hati.


Zain dan Beyza mencerna sejenak ucapan Sekar dan juga Genta. Keduanya paham benar apa yang dimaksud pasangan masing-masing. Kesedihan tidak mampu menyembuhkan luka, kesedihan hanya mengantar luka pada derita dan tangisnya. Bukan memberikan jalan keluar apalagi menyelesaikan masalah.


Di sisi lain dan di waktu yang sama, Dasen yang baru saja menginjakkan kaki di rumah bersama Baby De, dikejutkan dengan penampilan mamanya yang tidak seperti biasa.

__ADS_1


Dasen langsung memeluk tubuh perempuan yang sudah melahirkannya itu dengan posesif. Pikirannya sudah melayang ke mana-mana. Teringat akan beberapa artikel tentang firasat akan kematian.


__ADS_2