Hot Family

Hot Family
Keanehan Senja lagi


__ADS_3

Sampai di Bandara Adisutjipto Yogyakarta, rombongan keluarga Darren sudah dijemput oleh satu unit armada minibus yang muat untuk 20an orang. Armada itu disiapkan oleh pihak hotel tempat mereka menginap.


Suasana masih terbawa obrolan yang tidak enak, sepanjang perjalanan semua memilih untuk diam. Hanya suara klakson dan deru kendaraan dari luar yang terdengar.


"Pak ada kantong plastik tidak?" Senja tiba-tiba bertanya pada driver sembari menutup mulutnya.


Derya segera mengambilkan kantong yang ditunjuk oleh driver, lalu dia segera memberikannya pada Senja.


Dengan tidak sabar, perempuan itu membuka kantong plastik itu lebih lebar, lalu menumpahkan semua isi perutnya di sana. Darren memijat pundak Senja dengan pelan.


"Masih lama, ya?" Senja bertanya seolah dia tidak tahu. Padahal dia juga paham, kalau perjalanan masih 30 menit lagi menuju hotel yang di tuju.


"Pak, bisa menepi sebentar tidak?" Senja seperti sedang kekurangan oksigen.


Driver melihat ke arah depan sejenak, lalu memelankan laju kendaraannya begitu mendekati taman kota, driver itu menepikan kendaraannya di sana. Senja buru-buru turun. Yang lain kompak saling pandang. Darren langsung mengikuti istrinya.


"Tadi berangkat biasa saja," bisik Beyza pada Dasen.


"Mungkin masuk angin. Atau Mama telat makan," jawab Dasen dengan asal.


Derya dan Genta tidak berkomentar, mereka fokus memperhatikan Senja yang langsung terlihat segar saat keluar dari mobil.


"Ask. Sepertinya, mobil itu yang tidak steril dan tidak enak baunya. Di sini lebih enak."


Darren mengernyitkan keningnya. Biasanya, Senja tidak secerewet dirinya. Mobil yang mereka tumpangi pun semua sudah sesuai standart yang diminta Darren. Pria itu seketika menggaruk-garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Terus maunya gimana?" Darren bertanya dengan wajah dan suara yang sedikit kesal, karena semakin banyak orang yang memperhatikan mereka. Dan cuaca pun sedang sangat terik.


"Suruh mereka duluan saja," jawab Senja, terlihat santai.

__ADS_1


"Hah? Terus kita bagaimana?" Darren semakin heran.


"Sudahlah, dipikir nanti saja. Sekarang suruh mereka duluan." Senja memundurkan langkah, mendekati kursi besi di trotoar jalan. Bak seorang selebritis, tidak sedikit mata yang memperhatikannya. Kehadiran Darren dan Senja di teriknya matahari siang, memberikan kesegaran bagi pengendara yang lewat.


Darren memasuki mobil, dia ingin mengambil kacamata terlebih dahulu. "Kalian duluan saja. Kalau ada yang bertanya, bilang Mama mampir sebentar ke suplier kainnya."


Semua mengangguk tanpa tanya. Mood hari ini sudah berhasil tercampur aduk dengan sempurna. Bisa segera istirahat di kamar masing-masing adalah keingingan terbesar mereka saat ini.


"Terus sekarang kita bagaimana?" Tanya Darren, begitu mobil yang ditumpangi anak-anak menjauh dari mereka.


"Kita? Sebentar?" Senja berjalan mendekati tong sampah beberapa meter darinya untuk membuang kantong berisi muntahan yang dipeganginya.


"Kita jalan kaki saja." Senja menjawab dengan konyol sembari mengambil ponsel di tas selempang yang dikenakannya. Dia terlihat menghubungi seseorang.


"Telepon siapa sih?" Sungut Darren, karena cara bicara Senja sangat halus dan ramah saat berbicara.


Senja mengembalikan ponselnya kembali ke dalam tas. "Ini tadi namanya Mas Galih, dia yang membantu semua persiapan untuk seserahan Zain kapan lalu, dan mengurus semuanya. Dia itu baik, Ask. Dan tampan." Senja mengucapkan kata terakhir dengan agak pelan. Tapi Darren tetap bisa mendengarnya.


"Suruh nyarikan motor, Ask. Aku pengen banget dibonceng sama kamu. Kita dulu mana sempat pacaran, menikah pas hamil, terus setelah itu dihamili terus." Senja kembali mendudukkan bokongnya di bangku besi tadi.


Darren tidak ikut duduk, dia memilih berdiri di depan Senja. Menghalangi istrinya itu agar tidak terkena sinar matahari dan juga tidak menjadi bahan tontonan orang-orang yang melintasi jalan.


Sementara itu, di dalam mobil, tiga bersaudara dan satu calon adik ipar masih betah berdiam diri.


"Gen, kamu pakai doa apa? Kenapa kamu gampang banget mengambil hati daddy dan mamaku?" Akhirnya Dasen membuka suara, dan malah bertanya pada Genta yang duduk di jok di depannya.


"Gampang? Kata siapa? Sulit malah," sahut Genta.


"Sulit? Kamu bisa ikut di acara seprivate ini masih bilang sulit? Gak ada bersyukurnya kamu ini," dengus Dasen.

__ADS_1


Derya dan Beyza membiarkan Genta untuk menjawab sendiri pertanyaan Dasen, siapa tahu dari sana, kedua orang yang hampir 98% tidak pernah akur itu, malah bisa menjadi teman.


"Kelihatannya tidak sama dengan kenyataannya, Kak. Kalau kakak tahu, belum tentu kakak bisa ngomong seperti itu. Seolah direstui, tapi syaratnya sangat berat dan tidak masuk akal. Itu sama saja bilang jangan dengan cara yang lebih halus," tutur Genta.


"Maksudnya bagaimana?" tanya Dasen penasaran.


"Jelaskan Bey, aku kalau nyebut istilah itu, tiba-tiba ngilu." Genta menyerahkan sepenuhnya pada Beyza.


"Apakah kakak mengira hubungan kami mulus2 saja? Tentu saja tidak. Justru sekarang kami sedang sangat pusing. Daddy memperbolehkan kami menikah tapi melarang kami punya anak. Sampai di situ kami tidak masalah, masuk akal. Karena mungkin biar kami lebih lama berdua dan saling mengenal karakter masing-masing lebih dalam. Tapi menyuruh Genta melakukan vassektomi. Itu adalah hal gila," cerocos Beyza dengan emosi berapi-api.


Bukannya sedih atau ikut iba. Dasen malah tertawa lepas. Bahkan dia sampai keluar air mata saking senangnya mendengar ucapan Beyza.


"Mamppus kamu, Der. Lakukanlah! Menjadi menantu Darren Mahendra memang tidak mudah." Dasen masih saja terkekeh.


"Dasar, titisan Daddy, pemikiran dan kelakuan sama-sama aneh," dengus Beyza.


"Daddy itu tidak aneh, Bey. Daddy pintar. Kalau larangan tidak punya anak saja, kalian dengan enteng akan melanggar dengan mengatakan tidak sengaja, sudah rejeki dan lain-lain. Kalau sudah ultimatum seperti itu, bisa apa kalian?" Dasen benar-benar puas, akhirnya dia melihat kesulitan Genta juga.


"Aku pendukung daddy." Dasen menegaskan posisinya.


Derya dan Beyza kompak mencebikkan bibir untuk menegaskan kekesalannya. Sedangkan Genta hanya bisa pasrah.


"Ingat, Kak! Memudahkan urusan orang lain itu, bisa memudahkan urusan sendiri. Sebentar lagi Denok jadi bawahan Beyza. Berbaik-baiklah, agar nilai positif pujaanmu itu sampai di telinga mama," timpal Derya, membuat bibir Dasen yang dari tadi mengumbar senyuman seketika mengatup.


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di lobby hotel, mata ketiganya seketika terbelalak ketika melihat motor sport berwarna merah berhenti di sisi kiri mobil yang mereka tumpangi. Jelas mereka tahu siapa yang di atas motor itu.


"Berasa yang boleh bercinta cuma mereka aja gak sih, anaknya susah amat mau nikah," Beyza mencoba memprovokasi yang lain sembari membuka pintu mobil.


Ketiganya turun. Menyaksikan Senja yang juga baru turun dari boncengan. untung saja dia terbiasa menggunakan stoking saat memakai rok, jadi aman dari mengumbar paha mulus. Saat helm dibuka, pipi putih Darren dan Senja terlihat bersemu merah.

__ADS_1


Tidak lama dari itu, rombongan Bae, Sarita, Arham dan Mahendra yang baru saja berkunjung ke candi borobudur juga baru saja datang.


"Kenapa ada dia di sini?" Sarita bertanya dengan ketus saat melihat kehadiran Genta.


__ADS_2