
Meski Darren memajukan bibirnya sampai monas, Senja tetap memutuskan untuk berangkat. Karena meeting kali ini memang tidak bisa diwakili oleh siapa pun.
Berangkat ke kantor bersama mamanya, membuat Dasen dilema. Antara jujur atau tidak mengenai Denok. Jika tidak bicara, takutnya bagian HRD akan melaporkan kalau sekretarisnya Senja itu adalah referensi dari Dasen.
"Ma," panggil Dasen sembari menepuk-nepuk punggung tangan Senja.
"Iya, sayang." Senja menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada layar ponselnya. Darren tanpa jeda mengirim pesan padanya. Jika diabaikan pasti akan menjadi masalah panjang.
"Yang jadi sekretaris mama sekarang, itu teman Dasen," ucap anak itu, hati-hati dan pelan.
Senja seketika menghentikan tangannya yang hendak membalas pesan sang suami. "Teman yang mana? Teman kuliah di UK?" tanyanya, dengan sedikit menyelidik.
"Bukan, Ma. Teman main. Dia kerja di hotel sebelumnya. Tapi kata HRD emang oke kok, cuma dia masih butuh arahan. Belum paham sekretaris harus bagaimana secara profesional."
Senja memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu benar-benar memperhatikan Dasen dengan sesama. "Belum profesional, tapi memdapat rekomendasi dari Dasen Mahendra. Istimewa sekali. Ada hubungan apa?" Selidiknya.
"Belum ada hubungan apa-apa. Masih suka, takut mama tidak menyukainya," Dasen sedikit berbohong, mengakui hanya sedamg pdkt, saat ini lebih baik ketimbang mengakui sudah jadian.
"Oh, begitu. Tapi tahu kan? Kalau bekerja dengan Mama harus bagaimana? Jangankan cuma ditaksir, yang saudara pun, kalau salah tetap akan kena penilaian," ingat Senja.
Dasen mengangguk pelan. Dia jelas tahu bagaimana sikap mamanya ketika di kantor. Jauh sekali saat Senja hanya memerankan sebagai ibui-ibu rumah tangga biasa.
Tidak berapa lama kemudian, Senja turun terlebih dahulu. Dengan langkah pasti yang anggun. Dasen memandangi punggung mamanya hingga tidak terlihat.
__ADS_1
Suara pintu lift terbuka, diulikuti langkah kaki sepatu Senja, membuat Denok seketika menoleh ke arah sumber suara. Dia menelan ludahnya kasar.
Sosok perempuan yang menurutnya sangat cantik, dengan paras dan body layaknya boneka barbie. Dengan kulot brokat hijau tosca semata kaki, atasan ketat press body warna hitam sesiku, dipadu outer brokat dengan warna senada dengan bawahannya. Dari kepala hingga kaki barang yang dikenakan semua branded.
Melihat sosok itu difoto saja, sudah membuat Denok tercengang. Apalagi sekarang bertemu langsung. Jantungnya sungguh berdetak lebih kencang.
Senja berhenti tepat di depan meja Denok. "Ke ruanganku sebentar," tekan Senja. Setelah itu, perempuan itu langsung masuk ke dalam ruangannya.
Denok merapikan penampilannya terlebih dahulu, menambah parfum dan memoleskan lipstik kembali dengan tipis-tipis. Senja melirik jam digital di pergelangan tangannya.
"Saya tidak suka orang yang lelet. Jika saya menyuruh 'ke ruangan saya sekarang,' itu artinya, kamu juga harus datang ke sini segera. Saya tidak menilai dari penampilan fisikmu, apalagi dengan warna gincumu. Sama sekali tidak. Kalau mau ke ruanganku, tidak perlu seribet itu. Untung saja ini masih hari pertamamu." Senja langsung mengatakan ketidaksukaannya yang pertama pada Denok.
"Baik, Bu. Maaf saya tidak tahu. Mohon arahan, tegur saya jika saya salah. Saya tidak mudah sakit hati dan putus asa. Karena itu, jangan segan kritik karya saya." Denok menjawab dengan lancar dan lugas.
"Kamu pelajari satu jam. Kamu langsung ikut Saya meeting. Kamu tidak perlu paham semua. Yang penting kamu mengerti alurnya, jadi kalau memberikan notulen bisa detail dan tidak terlewat." tambahnya.
Denok hanya mengangguk, sinar matanya menyiratkan kekaguman yang luar biasa pada Senja. 'Kalau bapak tahu ibunya Dasen secantik ini, pasti sering ngajak ke rumah besan.' batinnya.
Tepat beberapa saat kemudian, Senja dan Denok pun berangkat menuju hotel tempat mereka meeting. Darren masih menteror istinya dengan pesan-pesan yang harus dibalas cepat.
"Nomor ponsel kamu berapa? Saya akan memberikannya pada suami Saya. Kamu bisa memanggilnya Pak Darren. Sepanjang meeting, saat dia menanyaimu apapun, jawab dengan bijak. Ingat! Bijak tidak selalu harus jujur apa adanya. Kadang kita perlu sedikit bohong untuk menenangkan keadaan." Senja mengulurkan benda pipih pintar miliknya pada Denok.
Meskipun masih bingung dan belum mengerti dengan yang Senja katakan, Denok tetap menerima ponsel itu dan mengetikkan nomornya di sana.
__ADS_1
"Suami saya tidak akan basa basi, dia tidak akan bertanya padamu atau memperkenalkan diri. Saat ada pesan masuk pada nomormu, terus menanyakan jalannya meeting, meminta foto atau rekaman video, usahakan menjawab jangan sampai lebih tiga menit dari waktu pengiriman pesannya. Jika kamu ragu, lihat saja foto profilnya."
Denok masih mencerna, otak dan hatinya mencoba berpikir. Sesungguhnya, banyak pertanyaan yang ingin disampaikan, tapi teringat pesan Dasen yang mengingatkan melalui pesan agar dirinya tidak terlalu banyak bertanya.
Sampai di tempat meeting, Denok berjalan satu langkah di belakang Senja. Dia tidak menyangka, seseorang bisa berjalan dengan anggun tapi masih secepat itu.
Klien yang bernama Abizard itu sudah menunggu di ruangan, juga bersama dengan sekretarisnya. Senja langsung menyapa dan memperkenalkan Denok pada mereka.
Pesona Senja yang semakin matang, tentu saja memanjakan mata Abizard yang memang liar. Tatapannya menyiratkan kekaguman yang sedikit menggoda dan nakal. Membuat Denok berdecih mual.
Satu pesan masuk di ponsel Denok, membuatnya deg-degan hebat. Nomer tidak dikenal tapi dengan foto profil yang mencengangkan. Denok sampai terpaksa membungkam mulutnya sendiri untuk menutupi mulutnya yang menganga lebar.
'Astaga! Foto profilnya bikin jomblo guling-guling. Kalau seperti ini levelnya sudah pro." Denok memandangi Darren duduk memangku Senja yang tangannya mengalur di leher pria itu dengan bibir yang saling bertautan.
Tidak lama, pesan kedua masuk ke ponselnya. Kali ini tidak singkat, lumayan sangat panjang, menyuruhnya memfoto, melaporkan bahkan kalau perlu merekam setiap gerakan yang mencurikan.
Alhasil, Denok memberikan foto dan potongan rekaman bagaimana Abizard jarang berkedip saat melihat Senja. Sepanjang penjelasan yang dilakukan Senja, pria itu terus menatap atasannya itu dengan berkali-kali mengubah posisi duduknya.
Saat Senja menyodorkan file untuk ditanda tangani, Abizard, bahkan dengan sengaja menyentuh tangan Senja.
Denok lupa kata-kata pesan Senja yang mengatakan agar bijak saat menjawab pesan Darren. Nyatanya, Denok melaporkan semua sesuai kenyataan. Termasuk, tawaran Abizard yang mengajak Senja liburan ke dubai pun dilaporkan dengan sempurna.
Darren yang tidak pernah suka istrinya digoda, langsung menghubungi ponsel istrinya, dia ingin menyuruh Senja membatalkan seluruh kerjasama. Berapa pun kerugian, dia yang akan menanggung. Karena tidak terjawab, Darren pun menghubungi lewat nomer Denok.
__ADS_1
'Aduh bapak bucin is calling.' Denok membatin sembari menggeser tombol telepon berwarna hijau ke atas.