Hot Family

Hot Family
Dasen sendiri


__ADS_3

Ruang makan pagi ini begitu sepi, tidak ada seorang pun di sana. Dasen melirik almari jam hias ukiran yang baru saja dilewati. Pukul 06.55, biasanya semua sudah berkumpul mengelilingi meja persegi panjang yang terbuat dari marmer itu.


"Bi, tumben yang lain belum turun?" Tanya Dasen pada salah seorang asisten rumah tangga.


"Bapak, Ibu, Den Zain, dan Non Sekar dari setelah subuh tadi berangkat ke Jogya, Den." Jawab perempuan lebih dari separuh baya itu.


Wajah Dasen terlihat datar, dia memang tidak mengikuti sholat subuh berjamaah pagi ini. Karena dia masih enggan jika harus bertemu Senja atau Darren, lalu diajak membahas masalah yang sama.


Tapi hati Dasen mendadak perih, Senja adalah orang yang paling dekat dengannya selama ini. Mamanya itu selalu berhasil mengubah kegelisahan apapun yang dirasakan menjadi sebuah ketenangan.


Senja bukan hanya sekedar mama baginya, tapi juga seperti sahabat dan belahan jiwa. Biasanya, mamanya itu selalu berpamitan jika ingin pergi ke mana-mana.


Dasen melihat layar ponselnya, begitu banyak notifikasi masuk, tapi tidak satu pun yang berasal dari Senja. Dia menarik kursi makan dengan malas, merasakan benar-benar sendiri menikmati hidangan pagi, sungguh tidak enak.


Ruang makan yang biasanya menjadi saksi begitu hangat dan dekatnya semua anggota keluarga, kini hening. Dasen mengurungkan niatnya untuk mengisi perut, hanya segelas jus wortel dicampur apel yang berhasil melalui tenggorokannya pagi ini.


Dengan langkah malas, Dasen masuk ke dalam mobil yang sudah ada Rudi di belakang kemudinya.


"Jemput Mbak Denok dulu, Den?" tanya driver yang sangat setia itu.


"Iya." Dasen menjawab sedikit enggan. Pesan yang dia kirim pada mamanya masih centang abu-abu satu, pertanda ponsel Senja sedang tidak aktif.


Titisan Darren itu, kini hanya berharap, sang mama tidak akan mendiamkan dirinya. Lebih baik dicerca atau diomeli dengan kata-kata tajam. Level tertinggi dari kekecewaan Senja adalah dengan mendiamkan orang yang mengecewakannya. Dasen tidak ingin itu terjadi karenanya.


Sementara itu, pagi hari waktu negara S. Derya heran ketiga pagi-pagi sampai di kantor, dia sudah mendapati Inez duduk termenung di sofa dengan mata yang sangat sembab.

__ADS_1


"Kenapa, Ay?" Derya menghampiri perempuan yang dicintainya itu dengan raut wajah penuh tanya.


Menyadari keberadaan Derya, Inez langsung berdiri dan memeluk kekasihnya itu. "Aku pergi dari rumah. Mama papa menjodohkan aku dengan anak relasinya."


Mendengar perkataan Inez, seketika jantung Derya berdetak lebih kencang. Dia menarik napas dengan berat sembari mengusap lembut punggung Inez.


"Seharusnya, kamu tidak kabur, Ay. Kamu hubungi aku, dan aku akan datang baik-baik mengajakmu menikah. Kalau seperti ini, orangtuamu pasti akan semakin membenciku," sesal Derya.


Inez menengadahkan wajah hingga beradu mata sendu dengan Derya. "Aku paham siapa papa mamaku, Ay. Mereka sangat keras. Aku tidak mau menikah dengan laki-laki pilihan mereka."


Derya mengecup lembut kening Inez, membiarkan bibirnya lama berada di sana. Dia semakin mengeratkan pelukannya. "Tidak! Kamu tidak akan menikah dengan pria manapun selain aku. Kita akan hadapi bersama-sama."


Inez mengangguk pelan, jemarinya mengusap wajah Derya begitu lembut. "Aku mencintaimu, Ay. Aku sanggup kehilangan apapun, kecuali kamu."


"Jangan bicara seperti itu. Sebelum ada aku, ada keluargamu yang selalu ada buat kamu. Kita akan mencari jalan keluarnya. Sekarang hubungi mamamu. Kalau kamu enggan menelepon, kirim pesan saja. Katakan kamu berada di tempatku."


"Sudah sewajarnya mereka marah. Katakan saja kamu ditempatku. Aku ada meeting sebentar, Ay. Tidak sampai dua jam, karena meeting internal. Kamu tunggu di kamar gantiku saja. Istirahatlah! Katakan saja apa yang membuatmu sampai kabur pada mamamu. Pastikan mereka tidak mengkhawatirkan keselamatanmu. Orangtua bisa saja kecewa dan marah, tapi dalam hati kecil mereka tetap menyimpan ketakutan kalau kita celaka."


Derya menarik tangan Inez dengan lembut menuju ruangan yang dimaksudnya tadi. "Kamu di sini dulu, aku meeting di ruangan sebelah. Tidak akan lama."


Inez menahan pinggul Derya, matanya benar-benar sayu. Dia membawa tubuh Derya lebih rapat dengan tubuhnya. Wangi tubuh dari parfum masing-masing mungkin sudah saling bertukar.


"Jangan tinggalkan aku, Ay. Berjanjilah kamu akan memperjuangkanku." Inez berjinjit, berusaha menggapai bibir Derya yang 20 senti lebih tinggi darinya.


Bibir keduanya pun bertaut, seperti biasa, Derya selalu memberikan ciuman yang hangat dan lembut. Tapi kali ini, Inez membalas ciuman itu dengan hasrat menggebu. Ciuman gadis itu begitu liar dan bergelora, membuat Derya merasakan sesuatu miliknya bergerak perlahan.

__ADS_1


Suara ketukan pintu, kini menyelamatkan keduanya dari tangan Derya yang hendak menuju sesuatu yang sensitif pada tubuh Inez.


"Aku keluar dulu, semua akan baik-baik saja." Derya mengecup kening Inez sekilas. Lalu mengatur suara dan napasnya yang sedikit berubah karena hasrat yang sempat memuncak tadi.


Pipi putih mulus Inez mendadak merona merah seperti tomat. Dia menundukkan wajahnya, menghindari tatapan Derya untuk sesaat. "Aku menunggumu di sini, Ay."


Dengan langkah lebar, Derya meningalkan ruangan gantinya dan segera menuju tempat di mana meeting dengan karyawan dengan level managerial diadakan.


Di tempat lain, Senja, Darren, Sekar dan Zain baru saja menginjakkan kakinya di bumi kota gudeg. Mereka di sambut langsung oleh bapak dan ibu dari Sekar. Kedua orang tua itu sangat ramah dan sopan.


"Mertuomu, kok koyo artis-artis tivi, Kar. Kuwi wajahe alus tenan, nggilap koyok tekele Bu Lurah. Ibu, meh koyo babune nek jeje bareng.(Mertuamu kayak artis-artis tv, Kar. Wajahnya mulus, mengkilat kayak keramik Bu lurah. Ibu, kalau deketan, kayak pembantuny)." Ibu Sekar berbisik lirih karena terlalu mrngagumi Senja.


"Tiyange nggih sae, Bu. (Orangnya juga baik, Bu)." Sekar menjawab tidak kalah lirih.


Senja dan Darren tidak naik kendaraan bersama calon besannya. Karena keduanya sudah dijemput oleh relasi sekaligus teman Senja yang biasa mensuplay kain batik di pabriknya. Mereka juga tidak akan menginap di rumah Sekar. Darren sudah memesan hotel dengan view langsung menghadap Candi Borobudur. Seperti biasa, di mana ada kesempatan, di situ Darren akan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.


Pertemuan dan pembicaraan secara resmi akan diadakan besok. Tapi Zain memilih menginap di hotel terdekat dengan rumah Sekar yang lokasinya tidak jauh dari kawasan wisata Malioboro.


"Zain. Orangtuamu paham wetonmu to?" tanya Pak Daman--nama dari bapak Sekar.


"Mereka tidak paham, Pak." Zain menjawab dengan jujur.


Laki-laki berusia di bawah Darren dua tahun itu memanggut-manggutkan kepalanya. "Tapi kan gak masalah to kalau ngikutin tradisi kita?" tanyanya sembari tetap fokus pada jalan di depannya. Zain sudah bersikeras menawarkan diri untuk menggantikan calon mertuanya itu mengendarai mobilnya, tapi tidak diperbolehkan.


"Mesti gelem to, Pak. Nek ora gelem yo ora sido rabi. (Pasti mau, Pak. Kalau tidak mau, ya tidak jadi nikah)," goda ibunda Sekar.

__ADS_1


"Ibu ... jangan to. Cari yang kayak Kak Zain ini susah. Sudah ganteng, dokter, pinter, kaya raya dan tidak sombong. Langka, Bu. Kalau perlu weton dan lain-lain di cocok-cocokin biar besok nikah sekalian," sahut Sekar.


"Hush ... kok malah kamu yang ngebet kawin." Pak Daman menimpali dengan nada bercanda. Zain dalam hati merasa sangat bahagia. Selangkah lagi, dia akan menjalani kehidupan yang sebenarnya.


__ADS_2