Hot Family

Hot Family
Taman


__ADS_3

"Das." Mike menepuk pundak temannya itu agar kembali fokus pada apa yang di depannya.


"Eh... iya, sampai di mana tadi?" Dasen bertanya dengan wajah sedikit bingung, karena masih bertanya-tanya kenapa Sekar bisa bersama dengan kakaknya.


"Delia." Gadis tadi mengulang menyebut namanya.


"Dasen." Titisan Darren Mahendra kembali pada jalur tebar pesonanya.


Tangan kedua remaja itu saling menjabat. Delia sepertinya langsung terpesona pada Dasen. Pandangan matanya tidak bisa menyembunyikan kekagumannya itu.


"Aku ke sana dulu! Good luck, Das!" Mike menepuk pundak Dasen dan langsung pergi entah ke mana.


"Das, kita beli minuman yuk! Aku akan mentraktirmu, anggap saja, sebagai hari jadi pertemanan kita," ajak Delia, langsung mengamit lengan Dasen tanpa ragu.


Dasen sedikit risih, dia berjiwa petualang. Saat berhadapan dengan gadis yang terlalu gampang ditakhlukkan, dia langsung kehilangan rasa ketertarikan dan penasarannya.


Tapi karena Dasen masih terhitung baru dan belum mempunyai banyak teman di UK, kali ini dia menerima saja perlakuan gadis itu. Dasen akan menggunakan Delia sebagai jalan menuju petualangan-petualangan selanjutnya.


"Kamu sudah berapa lama di sini?" Dasen memancing pembicaraan.


"Aku sudah hampir lima tahun di sini. Sejak daddy-mommy bercerai tepatnya. Aku tinggal bersama daddy-ku di sini," jawab Delia. Gaya bicaranya sungguh lugas dan sangat terbuka, bahkan pada orang yang baru ditemuinya.


Dasen menghentikan langkah, karena mereka sudah berada di depan food truck yang menjual berbagai jenis minuman ringan. Tanpa bertanya apa kemauan Delia, dia langsung membeli dua kaleng minuman.


"Silahkan!" Dasen menyodorkan satu untuk Delia.


"Aku yang akan mentraktirmu, Das." Delia membuka dompetnya, hendak mengeluarkan uang dari sana.


"Tidak perlu, Del. Aku sudah membayarnya. Jangan khawatir, uang tidak pernah menjadi masalah buatku sejak dalam kandungan." Sisi sombong Dasen mulai keluar.


Delia tidak heran, semua barang yang melekat di tubuh Dasen, tidak ada yang tidak bermerk.


"Anak sultan," ledek Delia.


"Anak Permaisuri juga," sahut Dasen.


Delia tertawa lepas. Keduanya meneruskan langkah, memilih bangku di bawah lampu taman.

__ADS_1


"Kamu tahu, Das? Kenapa aku senang sekali berada di taman ini meski hanya sendirian. Aku merasa dekat dengan Indonesia dan mommy-ku." Wajahnya seketika sendu saat mengatakannya.


"Kenapa tidak berkunjung ke Indonesia? Kamu bukan orang susah. Membeli tiket pesawat, jelas bukan masalah buatmu."


"Kamu benar. Daddy yang melarangku untuk pulang ke Indonesia. Mereka tidak berpisah dengan baik-baik. Ah... sudahlah, kita bicara yang lain saja. Kalau membicarakan ini, membuatku sesak, sedih, sekaligus miris." Delia menyudahi curahan hatinya.


Dasen mencari-cari sosok Mike. Tapi bukannya Mike yang dia temukan, dia malah kembali melihat Sekar dan juga Zain. Keduanya tampak sangat akrab. Meski masih ada jarak.


'Haruskah aku menyapa kak Zain?' Dasen bertanya dalam hati.


.


.


Sekar menatap Zain yang masih fokus dengan layar ponselnya. Sesaat kemudian raut wajah Zain nampak begitu sedih.


"Kak Zain, baik-baik saja?" tanya Sekar dengan lembut.


"Aku baik," bohong Zain. Dia sedang tidak baik-baik saja, barusan dia menerima kabar tentang kondisi Airin yang semakin menurun.


Donor sumsum belakang sudah dilakukan kurang lebih satu bulan yang lalu, tapi entah kenapa sepertinya tubuh Airin sendiri menolak.


Zain tersenyum tipis, belum lama dia mengenal Sekar. Tapi gadis itu memang berbeda. Sekar tidak pemalu, tapi juga tidak terlalu terbuka. Seorang pekerja keras, karena setahu Zain, Sekar setiap malam menjadi pelayan di Club Moon.


Diam-diam, Zain sangat mengagumi kemandirian Sekar. Gadis itu bisa mengenyam pendidikan di UK karena program beasiswa, tapi dia malah bekerja untuk membiayai sekolah adiknya di Indonesia.


"Kenapa kak Zain tidak pulang untuk memastikan keadaannya, Kak?" Sekar kembali bertanya.


"Mungkin minggu depan, Kamu mau ikut? bukankah kita ada libur beberapa hari?" goda Zain.


"Tidak, kak. Sekar masih mengumpulkan uang. Sekar bukan anak pemilik perusahaan besar seperti kak Zain. Yang bisa pulang kapan pun kak Zain mau," tutur Sekar.


"Aku kan mengajakmu, berarti aku yang akan membayarkan tiketmu," sahut Zain.


"Tidak, kak. Sekar tidak ingin menjadi perempuan manja. Sekar merasa tidak enak menerima kebaikan yang berlebihan. Kak Zain, sudah sangat baik. Padahal baru kenal Sekar, tapi beberapa kali mau membantu Sekar." Gadis itu menolak Zain dengan halus.


"Kamu harus mengenal mamaku, dia bisa menjadi inspirasi buatmu. Pertahankan sikapmu ini. Suatu saat, kamu akan menjadi orang yang luar biasa."Zain menepuk pelan bahu Sekar.

__ADS_1


Tanpa Zain ketahui, sedari tadi. Dasen sedang mengawasinya. Adiknya itu sedang memancarkan tatapan tidak senang.


"Das... bagaimana kalau nanti malam kita club? Sekarang aku harus pulang dulu, karena harus menjemput adikku." Delia berpamitan sekaligus bertanya.


Dasen berpikir sejenak. Kalau dia sendirian sepertinya tidak akan seru, sedangkan Mike sampai sekarang belum terlihat lagi batang hidungnya.


"Baiklah, tapi aku bersama Mike dan mungkin beberapa temanku lagi," putus Dasen.


"Oke, Das. See you." Delia mencium pipi kiri kanan Dasen dengan santai.


Begitu Delia menjauh dari penglihatannya, Dasen mencoba menghubungi Mike. Belum sampai terhubung, anak yang dicarinya itu sudah menepuk bahunya dengan keras.


"Kemana saja, kamu?" Dasen bertanya dengan ketus.


"Hunting seperti biasa... Aku ini baik hati. Bagaimana Delia?" tanya Mike sembari menaik turunkan alisnya.


Dasen mencebikkan bibirnya, cukup mewakili apa yang ada dipikirannya. Kalau sudah begitu, Mike paham kalau teman barunya itu tidak begitu tertarik.


"Kita cari yang lain!" ajak Mike.


"Kita pulang! Nanti malam, kita hunting di Moon. Sepertinya akan lebih seru. Apa enaknya di taman begini." Dasen berjalan tanpa menunggu jawaban dari Mike, tapi sebelumnya dia sempat melirik ke arah Sekar dan zain yang masih asik berbicara.


.


.


Senja sedang menyiapkan makanan untuk Derya dan Beyza. Kedua anaknya itu selalu menghabiskan weekend di rumah. Keduanya tidak terlalu suka bergaul. Sejak kejadian bersama Genta, mereka seperti membatasi diri untuk terlalu dekat dengan teman.


"Apa daddy akan datang kemari?" tanya Beyza


"Sepertinya begitu. Mau nitip sesuatu?" tanya Senja.


"Tidak, Ma," jawab Beyza, singkat.


"Ma, sampai kapan mama dan daddy hidup sendiri-sendiri? Lama-lama, Der tidak tega melihat daddy," tanya Derya, sedikit mengeluarkan apa yang dia rasakan pada Senja.


"Mama tidak tahu, Der. Mama masih nyaman seperti ini." Senja menjawab dengan lembut disertai senyuman tipis.

__ADS_1


"Sudah terlalu lama mama menghukum daddy. Bey dan Der, ingin melihat Mama dan daddy seperti dulu lagi. Ayolah, Ma! Kami bisa tinggal di asrama, dan Mama kembalilah ke Indonesia," bujuk Beyza.


Senja kembali tersenyum tipis. Entah apa lagi alasan yang bisa dia keluarkan sekarang.


__ADS_2