Hot Family

Hot Family
Penyesalan Derya


__ADS_3

Derya meringkuk di lantai, memeluk kedua kaki dengan menenggelamkan wajah di lututnya sendiri. Bahunya bergetar hebat karena isak tangisnya. Penyesalan dan rasa bersalahnya muncul begitu besar dibenaknya.


Wajah lembut Senja yang tersenyum hangat terus terlintas di kepala dan matanya. Membuat dadanya semakin sesak. "Maafkan, Der, Ma. Maaf," lirihnya disela-sela isak tangis.


Apa yang baru saja dia lakukan, adalah hal yang paling sering diingatkan oleh Senja agar tidak dilakukan sebelum pernikahan. Jika mencintai seorang perempuan, maka harus menjaga diri agar tidak sampai mengoyak kehormatannya.


Inez yang sudah memakai bajunya kembali, mencoba mendekati Derya. Perlahan, dia memberanikan diri menyentuh pundak kekasihnya itu.


"Ay .... ," panggil Inez.


"Tinggalkan aku sendirian, Ay! Aku ingin sendiri," pinta Derya, suaranya terdengar sangat jauh dan dalam. Dia tidak mendongakkan kepala sedikit pun untuk melihat Inez.


Perempuan itu pun menurut. Dia masuk ke dalam kamar. Inez bukannya tidak menyesal, tapi dia memilih untuk menerima kesalahan yang baru saja dilakukan. Kesalahan yang memang sengaja dia pancing. Kehamilan akan membuat pernikahannya dengan Derya akan terwujud lebih cepat, walau dengan kondisi memaksa. Inez memang sedikit nekat, dia tidak hanya cinta tapi juga tergila-gila dengan sosok Derya.


Derya mengambil kaos dan celananya yang masih berserak di lantai, lalu dia berdiri dan langsung menuju ke kamar mandi. Derya mengguyur kepala dibawah pancuran air dingin shower. Berulang kali mengusap tubuhnya dengan sabun, lalu membilasnya kembali.


"Der, harus bagaimana, Ma? Apa mama akan memaafkan, Der?" Derya terus menyebut mamanya, sungguh di saat seperti ini, dia sangat membutuhkan sosok mamanya.


Derya yang menganggap dirinya sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri. Nyatanya, menjaga kepercayaan dari sang mama pun tidak bisa. Rasa sombong, karena sudah bisa melakukan apa pun sendiri, justru membuatnya masuk ke dalam lubang dosa yang nikmatnya sesaat.


Dia pun menyudahi mandinya dan memakai baju yang baru saja diambilnya dari lemari. Setelah itu, Derya mencoba menghubungi mamanya. Tidak ada nada dering yang terdengar, ponsel Senja rupanya memang sedang tidak aktif.


Ingin menghubungi lewat ponsel daddy-nya, Derya ragu-ragu. Dia takut mengganggu Senja. Jika ponsel tidak diaktifkan, tentu mamanya itu sedang ingin beristirahat. Apa jadinya kalau dia hanya menelepon untuk meminta maaf karena hal yang sangat bodoh.

__ADS_1


Inez mengetuk pintu kamar Derya. "Ay."


Derya segera membuka pintu kamarnya, sebatas kepalanya yang terlihat. Dia tidak ingin ada kekhilafan yang kedua. Dosa tidak datang tiba-tiba, tapi sering kali, manusianya sendiri yang datang mengundang.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Inez, raut wajahnya tampak begitu khawatir.


"Aku baik. Apa kamu ingin makan? Aku akan memesankan. Tunggulah di kamarmu." Tanpa menunggu jawaban Inez, Derya langsung menutup pintu kamar dan menguncinya rapat.


"Maafkan aku, Nes. Aku tidak ingin kita berbuat dosa lagi dan lagi. Aku tahu, kita berdua sama-sama menginginkan dan aku sangat menikmatinya. Tapi kita harus mulai menjaga jarak. Setelah kita melakukan yang pertama, tidak menutup kemungkinan lebih mudah melakukan yang kedua dan selanjutnya. Setiap yang salah, harus diakhiri." gumamnya. Hanya Derya sendiri yang mendengar.


Sementara itu, di hotel tempatnya bermalam selama di Jogya. Senja dan Darren sedang menikmati malam di balkon kamarnya. Darren tampak memeluk Senja dari belakang. Dagunya menempel di bahu sang istri dengan manja.


"Hari ini, jujur perasaan Senja sangat tidak enak. Entah apa yang akan terjadi. Tapi dada Senja terasa nyeri." Senja tetap memejamkan matanya.


Senja membalik badannya, lalu mengalungkan kedua tangan di leher suaminya. "Senja ingin berlibur yang panjang sekali. Menikmati kebersamaan kita berdua."


"Sebentar lagi, Ask. Aku akan mempersiapkan semuanya sesuai dengan impianmu. Selama kita menikah, kamu tidak banyak menuntutku. Kadang aku malu, tapi memang aku harus sedikit egois. Kalau aku tidak seperti ini, bisa jadi kamu akan direbut orang lain."


Senja memencet hidung suaminya yang sangat mancung. "Tidak akan ada yang berani mengusik milik Darren Mahendra. Yang mengganggu milik Senja sih banyak. Untung saja Senja ini tahan banting. Mau suami dilirik, masih bisa diam."


"Karena mereka cuman bisa melirik, Ask. Yang bisa seperti ini, hanya kamu. Kamu yang bisa membuat aku seperti sekarang." Darren mengecup bibir Senja agak lama.


"Senja khawatir, Ask. Serba salah rasanya. Derya dan Inez, lalu Dasen sama Denok. Sebenarnya, kita harus bagaimana?"

__ADS_1


"Ikuti kata hatimu. Kamu ibu yang luar biasa. Pasti tahu yang terbaik. Aku percaya pada instingmu. Yang menurutmu benar, pasti benar. Maaf kalau masa laluku, lagi-lagi membuat kita mengalami masalah."


"Senja merasa gagal, Ask. Entah mengapa. Ada kekecewaan yang membekas pada pilihan Derya dan Dasen. Keimanan itu penting, kita berjalan di iman dan ajaran yang sama tentu akan lebih mudah menjalani segalanya. Berdoa di tempat, waktu dengan cara yang sama, tentu akan lebih mengeratkan sebuah hubungan."


Darren tersenyum begitu menawan, tangannya membelai lembut pipi Senja yang sangat mulus. "Kita tidak pernah bisa memilih kita akan jatuh cinta pada siapa. Seperti Denok dan Dasen. Keduanya tidak salah. Situasi yang membuat cinta mereka menjadi salah di mata kita."


Senja menarik pergelangan tangan Darren menuju sofa single yang ada di sana. Dia menyuruh suaminya untuk duduk, dan dia sendiri memilih duduk di pangkuan suaminya kembali menggelayutkan tangan dengan manja di leher yang suami.


"Dasen dan Denok tidak akan bersatu selama Erika masih bersikap seperti itu pada kamu. Kali ini, Senja memilih egois. Tidak peduli apa kata orang. Tapi Senja tidak akan berbesanan dengan perempuan yang mengincar besannya sendiri," tegas Senja akhirnya. Setelah dia merenung, itulah keputusan terbaik bagi dirinya.


"Bagaimana dengan Derya dan Inez? Apa kamu hanya tidak bertoleransi pada hubungan Dasen dan Denok? Seharusnya kamu juga menanyakan padaku, tentang pendapatku dengan hubungan Beyza dan Genta?"


Senja terdiam, Hanya Zain dan Sekar yang berjalan dengan mulus. Dia lupa kalau Beyza dan Genta juga belum sepenuhnya mendapat restu dari suaminya.


"Genta anak yang baik, Ask. Kesetiaannya luar biasa, dan dia pun sangat bertanggung jawab."


"Bagaimana kalau Denok juga gadis yang baik. Bukankah penilaiannya bisa sama saja dengan caramu menilai Genta?"


"Senja sampai saat ini belum bisa menerima. Entah nanti. Tapi satu hal, kamu harus menerima Genta mendampingi Beyza. Ini perintah, bukan sebuah permintaan," tegas Senja.


"Mulai kapan seorang istri bisa memberikan perintah pada suami?"


"Mulai kamu tidak bisa tidur dengan tenang sebelum disentuh seperti ini." Senja menyusupkan tangannya ke dalam celana Darren dengan nakal.

__ADS_1


__ADS_2