Hot Family

Hot Family
Ini darah apa, Bey?


__ADS_3

Genta bersandar manja di pundak Beyza, tangan keduanya saling menggenggam. Sesekali dua sejoli yang sedang kasmaran itu bertukar pandang.


Derya yang kini duduk di jok depan hanya berdiam diri menatap jalanan di depannya. Dia sama sekali tidak berniat menoleh ke belakang. Derya yang sedang nelangsa dan patah hati, keadaannya berbanding terbalik dengan Beyza dan Genta.


"Mama dan daddy, tidak perlu mengetahui kejadian hari ini. Kita harus menjaga mood mereka tetap baik. Karena lusa adalah hari bahagia untuk Kak Zain," usul Beyza.


"Iya, kamu benar. Aku tidak menduga, Bey. Keluarga Inez benar-benar gila." Derya mengucapkannya dengan emosi yang tertahan.


"Yang terpenting kamu sudah tahu kelakuan mereka. Tunggulah nasibmu selanjutnya. Mereka akan berbuat apa lagi saat mama dan daddy mendatangi mereka," sahut Bey.


Derya memijat pelipisnya dengan kuat. Satu-satunya hal yang dia takutkan sekarang adalah jika Inez sampai hamil karenanya. Tentu dia tidak bisa menghindar atau lari dari kenyataan.


"Tapi Bey, setelah acara Kak Zain, aku akan menceritakan semua pada Mama dan Daddy. Inez dan keluarganya harus tahu kalau kita tidak semudah itu ditekan." Kali ini Derya yang memiliki inisiatif.


"Mama sudah tahu siapa yang akan dihadapi," timpal Beyza.


Genta hanya diam. Dia sangat pandai memposisikan diri. Sebagai orang yang terhitung masih orang luar, dia tidak ingin terlalu ikut campur terlalu dalam. Meskipun Derya adalah sahabatnya, dan Beyza adalah calon kekasihnya, Genta tetap tidak asal dalam berpendapat.


Driver menghentikan mobilnya tepat di depan pelataran pintu utama. Derya langsung turun, sedangkan Genta dan Beyza masih anteng di dalam mobil.


"Besok tidak usah ikut tidak mengapa, Kang. Kamu istirahat dulu saja." Beyza membalas tatapan mata Genta yang selalu teduh dan hangat.


"Tetap ikut dong, Mbak. Memang aku kelihatan rapuh? Tidak kan?"


"Ya sudah, Kang Genta langsung pulang saja. Istirahat. Besok pagi datang ke sini dulu, biar kita sama-sama ke bandaranya." Beyza mencium pipi kiri dan kanan Genta, lalu keluar dari kendaraan roda empat itu dengan gayanya yang elegant.


Beyza yang langsung menuju dapur untuk mengambil air minum, langsung bertemu dengan Senja yang sedang membuatkan jus untuk Darren.

__ADS_1


"Apa kabar, Ma?" Derya mencium pipi dan punggung tangan Senja.


"Mama baik. Kok bajumu kotor begini, Der" Senja menepuk-nepuk baju Derya yang terkena tendangan tadi.


"Owh, ini tadi nolong ibu-ibu angkat barang, Ma." Derya mencari jawaban yang paling masuk di akal.


"Bey sama kamu kan?"


"Iya, Ma. Tadi jemput Genta. Kami tadi mampir sebentar di kafe Genta. Makanya agak lama." Derya terpaksa berbohong.


"Ya sudah, Mama naik duluan." Senja yang belum sepenuhnya berbaikan dengan Derya masih konsisten dengan bicaranya yang sinis, tapi perhatiannya masih sangat tinggi.


Beyza memasuki rumah dengan hati-hati, dia harus masuk ke dalam kamarnya tanpa diketahui yang lain. Noda darah di baju atasan yang dikenakannya, tidak mungkin bisa diajak kompromi.


Putri satu-satunya sekaligus kesayangan Darren Mahendra itu sengaja menggunakan lift untuk meminimalkan berpapasan dengan anggota keluarga yang lain.


Mata Darren seketika fokus pada noda merah di sisi kiri baju Beyza. Pria itu langsung mengghampiri dan mengendus baju Bey penuh selidik.


"Ini darah, Bey. Dari mana kamu? Dan apa yang terjadi?" Darren menatap tajam pada Beyza.


Senja yang baru saja menjejakkan kaki di anak tangga teratas, seketika mempercepat langkahnya. Gelas berisi jus di genggaman tangannya ikut bergoyang saking cepatnya Senja berjalan.


Mata Senja pun langsung fokus pada warna merah di atasan Beyza. Senja memegang kain itu dengan satu tangannya, lalu untuk meyakinkan dugaan, Senja pun mengenduskan hidungnya mendekati tubuh Beyza.


"Darah siapa, Bey?" Senja terlihat khawatir. Tangannya lalu sibuk meneliti setiap bagian tubuh Bey, memastikan darah itu tidak berasal dari tubuh putrinya.


Senja menarik napas lega, karena yakin Beyza baik-baik saja. Tetapi sesaat kemudian, kekhawatiran kembali melanda. Asal usul darah itu bisa sampai pada baju Bey, jelas kembali mengusiknya.

__ADS_1


Derya yang baru menjejakkan kakinya ke lantai dua, seketika wajah dan perasaannya sama-sama tidak enak. Melihat dari jarak kurang lebih delapan meter, dia melihat Beyza sedang berdiri terpaku di depan mama dan daddynya. Niat hati ingin menyembunyikan semua terlebih dahulu, apa daya semua sepertinya harus terbuka sekarang.


Beyza melirik Derya yang juga melakukan hal yang sama. Keduanya seperti sedang berbicara tanpa kata, menyatukan langkah dan pikiran agar keadaan tidak semenakutkan apa yang ada di dalam pikiran mereka.


"Siapa yang mau menjelaskan?" Darren berjalan menuju ruang kerjanya di lantai dua. Senja, Beyza dan Derya mengikuti langkah pria itu tepat di belakangnya.


Darren duduk di kursi kebesarannya. Senja meletakkan jus di atas meja, lalu berdiri di samping Darren dan merangkul pundak suaminya itu.


Beyza dan Derya duduk di depan meja daddy-nya dengan perasaan dan raut wajah yang dibuat setenang dan senyaman mungkin.


"Apa Daddy harus mengulang pertanyaan Daddy?" Darren mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja kaca di depannya. Menimbulkan suara yang membuat kedua anaknya semakin resah. Bukan karena takut dimarahi, tetapi yang mereka takutkan adalah reaksi dari sang daddy.


Sudah bukan rahasia umum lagi, kalau sampai ada yang mengusik ketenangan dan kebahagiaan keluarganya, Darren tidak akan pernah memberi ampun. Selama ini, kata-kata itu memang masih sekedar ucapan. Karena belum ada yang berani membuat masalah berat dengan keluarganya. Tapi sekarang, bukan tidak mungkin, ucapan itu akan diwujudkan dalam tindakan.


Derya dan Beyza kompak menarik napas dalam, lalu menghembuskan napasnya dalam. Mereka ingin mengatur napas dan menyusun kata-kata yang tepat agar semua tersampaikan dengan pas sesuai kejadian. Tidak melebih-lebihkan dan juga tidak mengurangi.


"Mama harus berdiri berapa lama lagi?" Kali ini Senja menyindir kedua anak kembar yang tidak identik itu.


"Mama kan bisa duduk di sana, Ma. Atau Mama duduk di sini saja, Biar Bey mengambil kursi yang lain." Beyza dengan sedikit kenekatan, masih mampu menjawab Senja.


"Bukan itu maksud Mama, Bey. Jangan mengulur waktu," Senja menekan nada bicaranya karena terlalu kesal.


"Yang akan kita bicarakan ini lama, Ma. Duduk saja. Daddy tidak akan kemana-mana. Tidak perlu dipegangi seperti itu." Beyza kembali mencoba mencairkan suasana.


Derya mengambil kesempatan itu untuk benar-benar menata ucapan dan runtutan kejadian yang baru saja dialami. Kali ini, dia tidak boleh salah informasi sedikit pun.


"Bey, stop! Diam, dan jelaskan saja apa yang terjadi!" Suara Darren yang tegas membuat Bey menghentikan niatnya untuk kembali mengulur waktu.

__ADS_1


__ADS_2