
"Kenapa, Wat? ada apa?" Senja menjadi ikut panik.
"Non Airin, pingsan, Bu."
Jawaban Wati, sontak membuat semua berlarian turun.
"Das, suruh pak Rudi menyiapkan mobil?!" perintah Darren.
Senja segera berlari mendekati tubuh Airin yang terkulai lemas di atas ranjang.
"Tadi, pas Wati mau mengantar minuman. Non Airin sudah seperti itu, Bu," jelas Wati tanpa diminta.
"Ask, kita bawa Airin ke rumah sakit." Darren mengangkat tubuh Airin, umur tidak membuatnya kesulitan menahan beban calon menantunya itu. Bahkan menggendong Senja yang lebih berisi dibanding Airin, sering dia lakukan.
"Der, ambilkan tas Mama. Bey, hubungi kak Zain. Katakan kak Airin di bawa ke rumah sakit biasanya," pinta Senja pada Beyza dan Derya.
Senja masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, lalu Darren meletakkan kekasih anaknya itu dengan pelan-pelan. Posisi kepala Airin tepat berada di pangkuan Senja.
Derya memberikan tas mamanya pada Darren. "Hati-hati Dadd, Ma. Semoga kak Airin, segera pulih."
Darren dan Senja hanya membalas ucapan anaknya dengan senyum dan anggukan.
Rudi segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas sedang.
Raut kecemasan, begitu mendominasi wajah Senja. Beberapa kali perempuan itu melihat ke arah jalan, sekedar memastikan mobil bergerak dengan benar dan cepat agar segera sampai ke rumah sakit yang dituju.
"Ask, tenang. Nanti kamu sakit lagi." Darren mengingatkan sang istri.
"Senja tidak mungkin tenang, Ask. Airin sedang berada di rumah kita. Kalau ada apa-apa dengan Airin seperti sekarang, seolah kita yang tidak bisa menjaganya."
Darren tersenyum sinis, "Kalau ada orang berani bicara seperti itu, aku pastikan orang itu tidak sanggup makan selama berhari-hari."
"Sudah tua, masih saja emosional." gumam Senja.
"Tua? itu hanya angka. Soal tenaga dan yang lain, kamu sudah membuktikan."
Senja mencebikkan bibirnya, bahkan dalam keadaan darurat, suaminya itu masih sempat mengajak bercanda.
Sampai di depan pintu UGD, Darren langsung turun. Memberitahu perawat bahwa yang datang adalah pasien Dokter Nancy, sesuai pesan yang baru lima menit yang lalu dikirim oleh Zain padanya.
Perawat seketika mengangguk mengerti dan menyiapkan brankar untuk membawa Airin langsung ke ruang periksa, di mana Dokter Nancy sudah menunggu di sana.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Zain datang bersama Ibunda Airin.
"Apa yang terjadi, bu Senja?" tanya Lena, dari nada dan raut wajahnya seolah sedikit menyimpan prasangka.
Darren hendak menjawab, tapi tangan Senja mengisyaratkan agar dirinya diam saja.
"Kami tidak tahu. Airin ditemukan Wati sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri. Padahal dia baru saja meminta dibikinkan minuman segar," jelas Senja.
"Kita tunggu saja, sampai pemeriksaan Dokter Nancy selesai," ujar Zain.
Darren merangkul pundak Zain, seolah ingin memberikan sedikit kekuatan pada anak sambungnya itu.
Dari UGD, mereka bergeser ke ruang pemeriksaan biasa. Senja dengan setia mendampingi Lena. Rasyid, belum juga datang. Karena kebetulan dia sedang ada urusan dinas di Bandung.
Setelah menunggu hampir tiga puluh menit, akhirnya Airin pun siuman. Perawat segera memindahkan perempuan itu ke ruang rawat inap biasa.
Darren memutuskan untuk tidak ikut masuk ke dalam ruangan, dia lebih memilih menunggu Zain yang sedang membayar deposit biaya perawatan Airin.
Hanya ada Senja dan Lena yang ada di ruangan Airin sekarang.
"Ma, maaf jadi merepotkan, Mama." Airin menatap Senja dengan tatapan sendu.
"Tidak sama sekali, Rin." Senja mengusap lembut rambut Airin, tapi saat dia menurunkan tangan itu dari sana. Beberapa helai rambut Airin, menempel di tangannya.
"Bund, Airin betah sekali berada di rumah Ma Nja, selalu ramai dan hangat." Airin menatap lembut ke arah Lena.
Lena mengembangkan senyumnya. Calon besannya memang dari kalangan yang tidak biasa, tapi sikap mereka sangat menunjukkan kalau mereka menghargai orang lain.
Lena sebenarnya malu, karena semenjak bersama Zain. Dia bahkan tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk biaya pengobatan Airin.
"Ibund sama Mama, bisa kan janji sama Airin?" tanya perempuan yang berbaring lemah di atas brankar itu.
"Kalau memang Airin dan Aa tidak berjodoh, Ibund dan Mama akan tetap menjadi teman baik. Tidak boleh saling menyalahkan," pinta Airin dengan sungguh-sungguh.
"Tentu saja, Rin. Tidak ada alasan bagi kita untuk saling membenci," tukas Senja.
Lena yang sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan Airin pun terpaksa mengangguk. Dia belum tahu keresahan yang sedang melanda hubungan Airin dan Zain.
Zain menghampiri Darren yang duduk santai menyilangkan kakinya di bangku besi warna hitam.
"Dadd, Zain menemui Dokter Nancy dulu. Apa Daddy mau ikut?"
__ADS_1
Entah apa yang ada di pikiran Darren saat ini, tiba-tiba saja dia mengangguk setuju.
Dokter Nancy menyapa Zain dengan sangat akrab. Terlihat sekali, kalau Dokter cantik itu menaruh perasaan lebih pada Zain. Usia Nancy, lima tahun lebih tua ketimbang Zain.
"Kenalin, ini Daddyku," ucap Zain, terkenal hanya basa-basi.
"Halo, Om. Saya Nancy. Senior di kampusnya Zain." perempuan itu mengulurkan tangannya dengan ramah.
Darren menyambut uluran tangan itu dengan cuek seperti biasa.
"Silahkan duduk." Nancy menunjuk dua bangku di depan meja kerjanya.
"Jadi bagaimana kondisi Arini sekarang?" tanya Zain, penasaran dan tidak sabar.
"Zain, sepertinya Arini memang sudah harus kemoterapi. Pengobatan sudah tidak bisa lagi menghentikan pertumbuhan sel kankernya. Aku tidak perlu menjelaskan detailnya, karena Aku yakin kamu sudah paham betul akan bagaimana ke depannya," ucap Nancy.
"Bagaimana dengan donor sumsum tulang belakangnya?"
"Kita masih usahakan. Tapi kamu tahu sendiri kan, Zain. Hal itu sama sekali tidak mudah. Meski kamu sanggup membayarnya berapapun," jawab Nancy dengan tegas.
"Kapan profesor Daniel akan kembali?"
"Masih dua minggu lagi, Zain. Kamu bisa menghubunginya di akhir pekan ini. Beliau ada break, tapi pukul dua dini hari kita."
"Baiklah. Jam berapapun, aku pasti akan menghubungi beliau. Terimakasih." Zain mengucapkannya dengan datar.
"Sama-sama. Kemoterapi harus cepat dilakukan, Zain atau dia akan mencapai stadium empat dalam waktu yang lama lagi. Aku tidak perlu menjelaskan detail, kamu sudah sangat paham." Nancy memberikan senyuman yang sangat mempesona pada Zain.
Darren hanya mendengar dan memperhatikan, tapi dia diam-diam mencerna semuanya. Kondisi Airin jelas sedang tidak baik-baik saja.
Zain mengajak Daddynya keluar dari ruangan Nancy. Darren tidak ingin bertanya atau mengucapkan apapun. Dia yakin Zain sedang tidak ingin mendengarkan nasehat panjang. Anak itu butuh seseorang yang mau mendengarkannya.
"Dadd, apa Daddy ada waktu untuk Zain?" tanyanya dengan hati-hati.
"Daddy tidak pernah berubah, Zain. Masih seperti dulu dan akan tetap begini. Kapanpun kamu butuh Daddy, I'm here, Boy."
🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛
Permisi, otor mau sekalian promo novel baru. Karena ada pertimbangan membuat otor harus luncurin satu judul baru lagi. Minta tolong di fav, like dan coment ya boeibu. Ceritanya di jamin beda.
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Sentuhan Cinta Gendis, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1742922&\_language\=id&\_app\_id\=2
__ADS_1