Hot Family

Hot Family
Derya bertemu Inez


__ADS_3

Darren bergeming, terpaku menatap Senja yang memunggunginya dengan bahu yang masih bergetar. Lalu mereemas kertas yang ada di genggaman dan melemparnya sembarangan. Lidahnya begitu kelu, banyak tanya yang terlintas dan ingin diucap, namun mulut terlalu lemah untuk bergerak.


Suara tangis Senja memecah hening ruangan, membuat hati Darren semakin tersayat perih. Sakit hati, kemarahan, dan kekesalan yang dirasakan sebelumnya, kini sirna sudah. Berganti dengan sesak yang membuatnya kakinya seolah tidak menjejak bumi.


Senja mulai mengatur napas dan menyeka air mata dan ingus yang keluar bersamaan tanpa kompromi. Sedikit lega karena dia sudah jujur pada sang suami. Setidaknya dia tidak perlu lagi bersikap berlebihan untuk menutupi sesuatu yang seharusnya memang sudah dikatakan sedari awal.


Darren menguatkan hati sembari mengusap matanya yang terasa perih dan memanas, buliran bening berdesakan tidak sabar ingin segera membasahi pipi mulusnya. Pria itu menggelengkan kepala kuat dan memantapkan hati, dia tidak boleh lemah. Sekarang, bukan saatnya dia memanjakan semua rasa yang ada di hati. Ada seseorang di depannya yang sedang membutuhkan kekuatan, semangat, dan energi positif untuk bisa mengembalikan keyakinan akan kuasa Tuhan.


Dengan penuh kelembutan, Darren memeluk tubuh berisi Senja dari belakang. Dia mengecup rambut sang istri berkali-kali. "Kita akan mencari pengobatan terbaik. Zain pasti paham semuanya."


Senja merenggangkan sedikit tangan Darren, lalu dia memutar badan hingga membuat kedua bola mata mereka saling beradu sendu. "Tidak! Senja tidak mau anak-anak tahu. Cukup kita yang tahu. Itulah kenapa Senja meminta anak-anak berkumpul akhir pekan ini."


"Apa maksudmu, Ask?"


"Senja minta maaf, selama ini Senja selalu membuat kamu kesal dan berlebihan. Senja lebih suka melihatmu seperti itu dari pada dikasihani."


"Dikasihani? Apa maksudmu, Ask? Apa mungkin aku hanya kasihan sama kamu? Ucapan macam apa itu? Jangankan cuman hatiku, hidupku, kamu yang punya. Jika hanya kasihan, aku tidak perlu sehancur ini. Jangan katakan apa pun, jika tujuanmu hanya ingin membuatku kesal. Mulai detik ini, aku akan membuang jauh rasa itu."


Senja menuntun Darren ke atas ranjang. Keduanya lalu duduk di sana. Senja menggenggam erat sepuluh jemari sang suami. "Senja minta tolong, dampingi anak-anak. Ijinkan Senja melakukan pengobatan di tempat Zain dulu."


Darren mengernyitkan keningnya. "Kamu mau berangkat sendiri?"


Senja mengangguk lemah. "Setahu Senja, pertumbuhannya sangat cepat, dan Senja juga sedang hamil. Kita sama-sama tidak tahu apa bagaimana nantinya. Jika pun kita mengalami hal terburuk, setidaknya, kalian sudah terbiasa hidup tanpa--."


Darren membuat Senja tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Pria itu meraup bibir sang istri dengan cepat. Mengecupnya bertubi-tubi, lalu mengakhirinya dengan sebuah luumatan lembut.

__ADS_1


"Sejauh apa pun kamu berlari, sesungguhnya kamu tidak akan bisa kemana-mana. Kamu selalu terikat dengan kami. Jangan menyangkalnya, hatimu tidak sepintar mulutmu saat berbohong."


***


Keesokan paginya, disaat yang lain sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi, Sekar dan Zain masih asik bertukar keringat di bawah selimut. Padahal sebelumnya Zain sudah berpakaian rapi, tapi lagi-lagi Sekar membangunkan tolenya yang sedang tidur santai.


Sekar semakin kesusahan membendung kelincahan tangannya ketika hanya sedang berdua saja bersama Zain. Segala sesuatu yang ada pada diri suaminya itu, terutama si tole, sungguh membuatnya resah dan mendeesah.


Hampir tiga puluh menit bergumul akhirnya racauan dan lenguuhan panjang dari Zain menutup sesi pagi ini. Sekar tersenyum sangat puas, itulah yang dia nantikan. Wajah dan suara Zain saat mengantar si tole meluapkan lava putih sungguh membuatnya ketagihan.


"Sudah siang sekali, kita harus mandi kilat." Zain turun dari ranjang dengan keadaan polos seperti bayi yang baru saja dilahirkan.


"Tidak usah mandi, Kak. Nanti mandi pas mau sholat dhuhur saja. Kan bisa ngulang lagi sebelumnya," sahut Sekar dengan santainya.


Sementara itu, di ruang makan, semua belum memulai makan paginya. Seperti biasa, jika tidak ada konfirmasi, semua akan menunggu sampai semua penghuni berkumpul. Kali ini, Senja sudah bergabung bersama, perempuan itu sedang berusaha untuk bersikap senormal mungkin. Justru Darren yang terlihat lebih banyak diam pagi ini.


"Dadd, mulai kapan member Extra Larga-nya akan dipakai?" Dasen memecah keheningan dengan pertanyaan yang membuat Beyza dan Baby De langsung menatap Senja. Tidak seperti dugaan mereka, perempuan itu tidak menampilkan wajah kesal atau memberikan reaksi yang lain.


Darren melirik Senja sekilas. "Pakai saja kalau kamu mau, Das."


"Tidak, kalau kamu mau ikut fitnes atau ingin membentuk tubuh, tidak perlu di tempat itu. Masih banyak tempat yang benar-benar bagus, Das," sahut Senja buru-buru.


"Kan sayang ma kalau tidak dipakai," timpal Derya, ikut berbicara.


"Kalau kalian mau ngikutin daddy ya terserah. Mama cuma mengingatkan. Kalian masih terlalu polos. Kalau daddy, jam terbangnya sudah tinggi. Sudah tahu pasti alasannya kenapa memilih tempat itu." Senja menoleh ke arah Sekar dan Zain yang tengah berjalan mendekati mereka.

__ADS_1


"Alasannya jelas, Ask. Pengen bikin kamu cemburu, itu saja," bisik Darren agar tidak terdengar anak-anaknya. Senja hanya menanggapi dengan senyuman tipis.


"Maaf Dad, Ma, dan semuanya, kami kesiangan." Zain dan Sekar langsung menarik kursi tepat di samping Senja.


"Tidak masalah, Zain. Daddy dan mama juga sering kesiangan," ucap Darren. Berhasil memancing Senja mendaratkan cubitan manja yang sudah lama dia rindukan.


Selesai makan pagi, semuanya berangkat untuk menjalankan aktivitas masing-masing. Tinggallah Darren dan Senja berdua.


Baby De yang kali ini berangkat bersama Beyza, memanyunkan bibirnya mengingat acara akhir pekan yang diadakan oleh Senja.


"Bey, kalau kalian semua mengajak pasangan. Terus aku mengajak siapa?" Keluh De.


"Kalau Kak De kan jelas jomblo, nggak bawa siapa-siapa juga gak masalah. Bagaimana dengan Bey? Genta tidak bisa datang."


Ucapan Beyza membuat De menegakkan duduknya. "Yah, nggak bisa tanya -tanya tentang Kak Rangga dong."


"Kak De! Geli tau! Pantesnya dipanggil Om Rangga. Napa jadi kakak sih. Iuhhhh, ogah punya mertua Kak De."


Keduanya terus beradu pendapat, hingga berakhir dengan tawa lepas bersama.


Di waktu yang berbeda, kini Derya sedang menunggu kedatangan Inez di sebuah resto yang sudah mereka sepakati.


Tidak sampai terlalu lama, Inez pun datang seorang diri. Langkah kakinya mantap menghampiri Derya yang tengah tersenyum begitu mempesona. Inez sudah menduga kalau pada akhirnya Derya pasti akan menyerah dan menyetujui permintaannya untuk menikah.


"Duduk, Nez." Derya menarik kursi untuk Inez.

__ADS_1


__ADS_2