
Dasen, Michel dan Rama kompak tersenyum sinis. Tidak ingin menjawab apalagi terpancing emosi. Saat bertarung menggunakan fisik, otak pun harus tetap tenang. Strategi dan memainkan emosi lawan juga hal yang penting.
Arnold, Reynald dan Adam terlihat sangat percaya diri dan angkuh. Ketiga anak ini memang licik, mereka sengaja mengganti pertandingan kali ini menjadi pertandingan tinju biasa.
Padahal seharusnya mereka bertanding Muay Thai. Seni bela diri yang lebih aman, kemungkinan untuk terluka parah juga bisa diminimalisir.
Wasit yang mereka sepakati pun sudah datang. Kedua tim memastikan wasit itu adil dan tidak mendapat bayaran lebih di luar kesepakatan kedua tim.
Masing-masing tim bersiap untuk memulai pertandingan. Yang akan menjadi pertandingan pembuka adalah Adam melawan Rama.
Dasen dan Michel, memberikan arahan dan semangat pada Rama, sembari memasangkan Sparring gloves, Gum shield dan melepas jubah yang menutup badan Rama yang agak gembul.
Ronde satu untuk pertandingan Rama melawan Adam pun dimulai. Awalnya, Rama sedikit kewalahan. Karena Adam yang berbadan lebih ramping, bergerak lebih agresif dan gesit. Tapi perlahan, Rama pun bisa mengembalikan keadaan. Bahkan dia bisa menumbangkan Adam di ronde ke lima. Tapi keduanya sama-sama mengalami memar yang tidak terlalu parah.
Pertandingan selanjutnya pun langsung dimulai, kali ini Michel melawan Reynald. Jauh dari dugaan, Reynald yang terlihat lebih padat dan kekar postur tubuhnya, malah kalah telak dari Michel yang kurus, tinggi dan langsing. Kecepatan, kekuatan dan keakuraan pukulan Michel sungguh sempurna. Tidak lebih dari tiga ronde, Reynald pun menyerah kalah. Pelipis Reynald pun sedikit sobek. bibirnya membiru.
Tibalah pertandingan ketiga sekaligus pertandingan yang paling ditunggu-tunggu, sekaligus penentu. Dasen harus memastikan kemenangan mereka sempurna, karena membuat Arnold kalah telak adalah tujuannya.
Kesepakatan yang dibuatnya dengan kelompok Reynald, sungguh akan membuatnya puas, jika benar-benar Dasen dan dua temannya yang menang.
Bagaimana tidak? permintaan maaf pada korban bulying melalui video yang diputar pada billboard dan akan di temui sebanyak tiga kali sepanjang perjalanan menuju sekolah Beyza sampai sekolah Dasen, pasti menjadi sanksi sosial dan beban moral tersendiri bagi Arnold, Adam dan Reynald.
Kini dua pimpinan saling beradu ketajaman pandangan mata mereka di atas ring. Dasen dan arnold seperti sedang saling mengintimidasi antara yang satu dengan yang lain. Sorot mata tanda kebencian, jelas tersirat.
Pertandingan puncak pun dimulai. Tidak ada penonton selain mereka sendiri, sama sekali tidak membuat suasana hening. Kedua suporter begitu heboh. Kadang memaki, beradu membuat keki lawan dan saling menyumpahi pun dilontarkan.
Rupanya pertandingan ketiga ini berlangsung lebih alot dari sebelumnya. Kedudukan masih seimbang, wajah Dasen dan Arnold sama-sama sudah mengalami pukulan berkali-kali.
__ADS_1
Tapi tenaga dan kekuatan Dasen seolah bertambah saat mendengar kata mama ikut disebut-sebut.
"Kalau kalah, mamamu buat papa ku woiiiii ...." teriak Adam diikuti gelak tawa Reynald.
Sudah menjadi rahasia umum, kalau papa Adam adalah penggila perempuan, pemilik klub ternama dan memiliki istri di mana-mana. Tidak heran, kalau Adam kurang perhatian dan arahan yang baik.
Seketika Dasen tidak bisa menghentikan pukulannya pada Arnold. Dengan tangan kiri dan tangan kanan bertubi-tubi. Hingga Arnold pun kewalahan menangkis pukulan. Tepat di Ronde kesembilan, Arnold tumbang.
Dasen langsung menghampiri Adam, tanpa banyak bicara, dia langsung melayangkan pukulan keras tepat mengenai bibir Adam. Hingga bibir itu pun mengeluarkan darah segar.
"Jaga bicaramu atau akan kubuat mulutmu tidak akan bisa digunakan untuk mengunyah lagi!" ancam Dasen sambil membalikkan badannya.
Baru saja melangkah selangkah, Reynald mendorong tubuhnya dengan kuat hingga membuat Dasen terjungkal.
Kali ini, pengendaliam emosi Dasen cukup baik. Dia hanya mengingat korban bullying dan pelecehan dari Arnold, Adam dan Reynald. Permintaan maaf secara terbuka, pasti akan menumbuhkan sedikit rasa percaya diri pada si korban. Mereka tidak akan merasa takut menghadapi sendiri jika sampai ketiganya tidak jera.
Wajah ketiganya jelas sekali seperti baru saja berantem. Sekali melihat dari jarak pandang pun sudah kelihatan.
"Mampus, Aku. Bisa-bisa Daddy langsung mengirimku ke asrama," ucap Dasen, benar-benar khawatir.
"Aku juga!" Rama senasib dengan Dasen.
"Aku pasti di kirim ke luar negeri. Tapi kalau mereka memperhatikan wajahku sih, biasanya mereka jalan aja sambil nunduk lihat ponsel." Michel sedikit lebih santai dibanding kedua temannya yang lain.
"Sudahlah, tidak perlu dipikir sekarang. Kita ke markas saja, semoga mama dan daddy-ku belum pulang. Kita kompres dan kita obate luka kita. Di rumah ada salep untuk mengurangi lebam dan memar milik Derya," Dasen mengajak temannya untuk ke rumah.
Tentu saja itu juga akal licik Dasen. Pada kenyataannya, Senja dan Darren tidak akan memarahi Dasen di depan teman atau siapapun. Selama ada temannya, dia akan aman.
__ADS_1
Setelah kembali segar dan rapi, ketiganya pun ke luar dari toilet menuju le luar gelanggang atau arena tinju yang mereka sewa bersama. Mereka tidak melihat lagi keberadaan Arnold, Reynald dan Adam.
Tapi begitu mereka selangkah ke luar dari pintu gedung, beberapa orang berpakaian polisi langsung mencekal mereka satu-satu.
"Ikut kami ke kantor, kalian sudah melakukan pertandingan ilegal." ucap salah seorang aparat yang memegang kedua tangan Dasen.
Ketiga anak manusia yang masih remaja itu semakin pucat. Ketakutan akan wajah mereka yang lumayan babak belur saja belum usai, apalagi jika sampai dibawa ke kantor polisi. Akan seperti apa nasib mereka.
"Tapi, Pak. Kami tidak hanya bertiga tadi." protes Dasen, masih sempat berpikir logis.
"Mereka sudah ada di kantor terlebih dahulu. Nanti kalian jelaskan saja di sana. Jangan takut, kalian hanya akan dimintai keterangan, diberi pengarahan, merasakan sedikit hukuman dan boleh pulang kembali," jelas aparat kepolisian yang lain, sangat ramah dan tidak menakutkan sama sekali.
"Hanya begitu kan? jadi tidak perlu sampai orangtua tahu kan?" tanya Rama, terlihat sangat senang karena seperti mempunyai harapan.
Tidak ada anggota kepolisian yang menjawab. Mereka memilih mengajak ketiganya naik ke sebuah mobil minibus dengan pelan. Tidak kasar sama sekali. Bayangan amukan sang Daddy, jelas lebih membuat Dasen takut, ketimbang berhadapan dengan lima anggota polisi ini.
"Mana ponsel kalian?" tanya salah satu aparat.
Dengan kooperatif, ketiga anak itu pun memberikan ponsel mereka masing-masing.
Pak Polisi pun mengambil ponsel dari ketiganya. Lalu meminta ketiganya menyebut nomor ponsel orangtua masing-masing.
Michel dan Rama menyebut nomer dengan suara bergetar. Berbeda dengan Dasen yang menyebut dengan lantang dan berani.
Jelas saja, karena yang disebutkan Dasen adalah nomer Rudi.
'Semoga, Pak Rudi bisa berakting meyakinkan menjadi seorang Darren Mahendra,' doa Dasen dalam hati.
__ADS_1