
Tepat pukul sembilan pagi, Senja dan Darren sampai di rumah sakit di mana tempat Derya berada. Mereka langsung ke ruangam president suite di mana Derya dirawat.
Saat memasuki ruang rawat inap itu, Bae dan Arham nampak menunggui dengan duduk di sofa, sedangkan Derya berbaring di atas brankar dengan kondisi yang lebih baik dari sebelumnya.
Mengetahui anak dan menantunya datang, Bae dan Arham segera menghampiri. Senja dan Darren kompak mencium punggung tangan kedua orang tua itu bergantian.
Setelah itu Darren dan Senja mendekati Derya yang sejak dari tadi sudah memperhatikan kedua orangtuanya itu. Bahagia tapi juga ada kekhawatiran dengan kedatangan mama dan daddy-nya kali ini.
Darren menepuk pundak Derya dengan pelan. "Kamu ini seoraang CEO, masak hanya kalah sama flu dan asam lambung. Seharusnya, kamu meminum vitamin begitu merasa badanmu sudah tidak enak."
Senja mencibit lengan suaminya. "Kamu ini, Ask. Bukannya tanya keadaan dan memberi semangat. Datang-datang langsung mengomeli terlebih dahulu."
"Derya terlihat baik-baik saja. Ditambah kedatangan kamu, besok dia pasti sudah sembuh." Darren membalik badannya, lalu berjalan mendekati sofa di mana kedua mertuanya sudah kembali duduk di sana.
"Bagaimana badanmu, sayang? Apa yang kamu rasakan? Kenapa sampai menunggu parah baru berobat?" Senja mengusap lembut pipi Derya.
Saudara kembar Beyza itu menahan pergelangan tangan Senja. Matanya menatap dengan dalam, rasa bersalah semakin berkecamuk di dalam dada. Manakala melihat wajah bersahaja mamanya.
Lidah Derya, mendadak seperti kelu. Dia ingin sekali meminta peluk. Tapi Derya malu dan merasa tidak pantas. Air mata tiba-tiba menetes di pipinya.
Senja buru-buru menyeka air mata itu. "Hei, kenapa sampai menangis. CEO cengeng. Sakitmu ini dirasakan oleh semua orang. Bahkan banyak dari mereka yang menderita penyakit ini, tidak perlu sampai di bawa ke rumah sakit," ucap Senja.
"Bukan itu, Ma. Derya hanya kangen mama," lirihnya.
"Baru menghitung hari kita tidak bertemu. Sudah kangen saja. Apa Mama harus menemanimu di sini terus?" Senja langsung memeluk Derya.
Detak jantung anak itu semakin cepat. Merasakan kehangatan dan kasih sayang tulus dari mamanya. Ingin rasanya Derya jujur dan menceritakan semua. Mengurangi beban yang memberatkan pikirannya sejak kesalahan yang sangat dia sesali. Tapi waktu dan situasi, sepertinya tidak tepat.
__ADS_1
Senja meregangkan pelukannya, lalu kembali menegakkan badan. Menarik bangku di depan nakas dengan kaki, dan duduk di sana dengan tangan terus memegangi satu tangan Derya yang tidak terpasang infus.
Darren dan Arham berbincang-bincang seperti biasa. Kepiawaian keduanya dalam berbisnis, menjadikan bapak mertua dan anak menantu itu cocok jika bertemu. Meskipun sudah sama-sama pensiun, pembicaraana yang dilakukan masih tidak jauh dari dunia itu.
"Pa, kita pulang sebentar yuk. Sekaligus mengambilkan baju ganti untuk Derya," ajak Bae.
"Eomma ini, Appa masih betah ngobrol bareng Dar. Lagipula, Eomma kan bisa meminta tolong kekasih Derya untuk mengantar baju ke sini."
Ucapan Arham membuat Bae melengos. "Tidak! Eomma sangat tidak senang bertemu anak itu. Melihat wajahnya, membuat Eomma semakin merasa, kalau dia bukan yang terbaik untuk Derya."
"Jangan seperti itu. Kita belum terlalu mengenal. Lagipula, ingat juga Chun Cha dulu. Kurang bebas dan liar apa hidupnya. Mungkin lebih parah dari Inez." Arham yang biasanya diam, kali ini ikut menyumbangkan suaranya.
"Justru itu, kejadian Chun Cha, tidak boleh dialami dan dilakukan generasi selanjutnya. Tinggal satu atap sebelum pernikahan itu tidak benar. Bukan kebahagiaan yang akan di dapat tapi sebuah kesengsaraan," timpal Bae.
Senja seketika melepas genggaman tangannya dan berdiri mendekati ketiga orang yang lain berada. "Apa maksud, Eomma?"
Senja membalik badannya menatap Derya dengan tajam dan penuh selidik. "Apa itu benar? Kenapa kalian harus tinggal seatap, Der?"
Darren langsung berdiri dan memegangi bahu istrinya. "Tadi katanya datang-datang tidak boleh memarahi. Tapi kenapa kamu sendiri yang melakukan? Kita bicarakan nanti saja. Setelah Derya sembuh. Oke?" Darren mencoba meredam perasaan Senja. Kabar yang mendadak dan tidak menyenangkan, kerap sekali membuat vertigo sang istri kambuh.
"Kalau begitu, biar Senja saja yang mengambil pakaian ganti Derya."
"Kamu baru datang, Ask. Sudahlah! Nanti saja," cegah Darren.
"Tidak! Sekarang saja. Eomma dan Appa di sini sebentar ya. Nanti kalau sudah pulang, tidak perlu kembali ke sini. Kalian isturahatlah," ucap Senja.
"Ya sudah, aku temani," Darren merangkul pundak sang istri.
__ADS_1
Derya terlihat gelisah, raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang teramat sangat. Jika Senja dan Inez sampai bertemu, bukan tidak menutup kemungkinan, kekasihnya itu akan menceritakan banyak hal pada Senja. Dia menelan ludahnya dengan kasar, membayangkan kekecewaan sang mama, membuat nyalimya benar-benar menciut.
"Ma, Derya lapar. Bisakah mama menyuapi Der dulu?" Dia mencoba mengulur waktu dan mengalihkan rencana Senja.
Tanpa menjawab, Senja mengambil semangkok bubur di atas nakas, lalu perlahan dia menyuapi anaknya itu. Susah payah Derya menahan agar tidak muntah. Makan terlalu banyak, membuat perutnya bergejolak.
Senja masih terdiam. Ucapan Bae tentang Derya dan Inez yang hidup seatap masih terngiang-ngiang. Dia ingin sekali bertanya langsung dan mencecar anak yang ada dihadapannya sekarang. Tapi melihat keadaannya yang belum pulih benar. Membuat Senja harus menahan diri terlebih dahulu.
Selesai menyuapi, Senja masih tetap ingin ke apartemen Derya. Dia bersikeras berangkat sendiri. Tidak ada yang bisa mencegah lagi.
Darren mengantar Senja sampai di lobby. Driver Arham, sudah menunggunya di sana. "Yakin sendirian? Aku temani ya?" tanya Darren.
"Tidak perlu, Ask. Apartemen Derya tidak jauh dari sini. Senja ingin berbicara berdua dengan Inez."
Darren mengusap pipi sang istri sekilas. "Aku percaya padamu. Jangan lama-lama. Tundukkan kepalamu saat berjalan. Aku tidak suka apartemen Derya, di sana banyak sekali pria Turki."
Senja mengernyitkan keningnya. "Kalau Senja menunduk terus, kalau menabrak dada bidang yang berbulu bagaimana? Akan menyenangkan dong? Bonus, kamu tahu persis, mataku ini suka sekali melihat pria Turki," goda Senja.
"Jangan macam-macam, Ask. Pokoknya, jaga matamu." Darren kembali menunjukkan keposesifannya.
Senja mengangguk lembut. Hanya itu jawaban yang dia punyai, untuk meredam sikap Darren yang kadang berlebihan.
"Jangan lama-lama." Darren melambaikan tangannya, begitu Senja sudah masuk ke dalam mobil dan menurunkan sedikit kaca pintu kendaraan tersebut.
Tidak membutuhkan waktu yang panjang. Hanya sepuluh menit, Senja sudah sampai di apartemen Derya.
Perempuan itu memasukkan kode akses untuk membuka pintu. Ketika daun pintu terbuka lebar, mata Senja langsung disambut dengan keberaadaan Inez yang sedang membersihkan ruang tamu.
__ADS_1
"Tante?" Sapa dan Tanya Inez dengan wajah yang sangat terkejut.