
Orang suruhan keluarga Inez seketika kabur dengan sendirinya begitu melihat ada yang terluka. Mereka seperti ketakutan, seharusnya tidak boleh ada satu pun yang terluka dari pihak Derya. Karena kelalaian dan emosi, bisa-bisa Angelica malah tidak memberikan bayaran pada mereka.
Ketika orang suruhan Genta hendak mengejar mereka, Beyza melarang. "Tidak perlu! Kita akan membawa kasus ini ke pihak yang berwajib. Aku merekam semua kejadian. Yang terpenting sekarang, kita harus membawa Genta ke rumah sakit terdekat."
Sebelum diperintah Beyza, Derya sudah masuk membopong Genta yang meringis menahan sakit sembari menekan pisau yang tertancap di bahunya.
Beyza kembali masuk ke dalam mobil yang ditumpanginya tadi. Satu mobil lain berjalan lebih dulu untuk membantu mengamankan jalan, dan mobil yang lain beriringan di belakang untuk memastikan tidak ada serangan susulan lagi.
Genta semakin meringis, setiap kali mobil mengalami guncangan karena kondisi jalan. Beyza yang kini dijadikannya tempat bersandar, berusaha memberi ketenangan dan kekuatan. Tanggannya beberapa kali terulur untuk mengusap buliran keringat yang membasahi wajah Genta.
Derya mengepalkan tangannya, dia terus mengumpat. Dadanya terasa begitu sesak. Bukan karena pukulan preman yang tepat sasaran mengenai dadanya, tapi lebih karena kecewa pada Inez yang sanggup melakukan hal sejauh ini demi memuluskan niat jahat Angelica.
Beyza terus mengajak Genta berbicara. Menjaga kekasihnya itu tetap terjaga adalah hal yang utama. Darah segar masih keluar sedikit demi sedikit, dan membasahi atasan yang dikenakan Genta. Untung saja, Derya sempat memberikan tekanan yang sangat kuat di bahu sahabatnya itu, sekedar memberikan pertolongan pertama agar terjadi pembekuan darah dan menghindari darah keluar dengan berlebihan.
"Sabar, Kang. Tahan ya. Kang Genta kuat. Bukankah kita akan segera menikah? Sekarang ayo kita bicarakan rencana pernikahan kita saja. Kang Genta tahu kan? Aku ini putri satu-satunya seorang Darren Mahendra. Jadi aku tidak mau pernikahan yang biasa saja," cerocos Beyza, berhasil membuat Genta tersenyum.
"Kamu mau pernikahan seperti apa, Bey?" Genta bertanya dengan suara lirih, wajahnya semakin memucat, tapi dengan kesadaran yang masih terjaga penuh.
Beyza tidak langsung menjawab, plakat rumah sakit sudah terlihat, menyisakan perjalanan beberapa meter lagi, mereka sudah akan sampai.
__ADS_1
"Kita akan menikah di atas kapal pesiar di lautan Pulau Dewata. Tamunya tidak perlu banyak-banyak. Hanya keluarga dan teman terdekat. Itu pernikahan impianku. Kalau menolak, jangan menikah denganku." Beyza menowel hidung Genta yang lagi-lagi meringis kesakitan karena bersamaan dengan itu, mobil berguncang saat berbelok ke area rumah sakit.
"Segera, Mbak, dengan senang hati aku akan mewujudkannya." Genta menatap Beyza dengan lembut.
Derya hanya diam. Dia enggan menanggapi kemesraan kedua orang di belakangnya yang tidak mengenal situasi. Kaos berdarah-darah, pisau tajam tertancap, senyum Genta sudah dipaksakan karena wajah memucat, tapi masih saja membicarakan pernikahan.
Tidak hanya baju Genta yang kini basah karena darah, sebagian baju Beyza pun ikut terkena. Hal itu akibat Genta yang semakin merapatkan tubuhnya pada Beyza. Dia merasakan dingin, meski tidak yang berlebihan, tapi cukup membuatnya sedikit menggigil.
"Kalian jangan hubungi ayah dulu. Nanti saja setelah semua sudah baik-baik saja," pinta Genta.
Derya yang tadinya hendak menghubungi ayah angkat sahabatnya itu jadi membatalkan niatnya.
Sampai di UGD, Genta langsung ditangani dengan cepat, meskipun banyak darah yang keluar, kesadaran Genta masih lumayan bagus. Hal itu karena luka yang diakibatkan tusukan itu tidak mengenai organ tubuh yang vital.
Hampir satu jam berlalu, akhirnya dokter keluar juga dari ruangan di mana Genta berada. Dari raut wajah sang dokter, Beyza dan Derya sudah bisa mengetahui kalau keadaan pasien yang ditanganinya pasti baik-baik saja.
Saat menemui Genta ke dalam ruangan, Beyza terlihat heran. Kekasihnya itu sudah duduk dengan santainya di atas brankar, kaos yang dikenakannya tadi sudah dibuangnya di tempat sampah yang letaknya tidak jauh dari brankar. Genta membiarkan dada bidangnya yang putih mulus tanpa helaian bulu halus hanya berbalut perban di bahu sisi kanannya.
"Kang." Bey menampilkan wajah khawatir, heran dan juga kesal secara bersamaan.
__ADS_1
"Aku tidak kenapa-kenapa, Mbak. Menikah sekarang pun aku bisa." Genta menggoda Beyza dengan santainya.
"Terimakasih ya, Gen. Seharusnya aku yang terluka. Apa di mobilmu ada baju gantimu? Akan aku ambilkan," ucap Derya.
"Tidak usah. Urus administrasiku saja. Biar aku dan Bey langsung ke mobil." Genta turun dari brankar dengan gerakan cepat, seperti tidak terjadi apa-apa.
"Tidak-tidak. Perawat di sini banyak yang perempuan. Aku saja baru kali ini melihatmu bertelaanjang dada seperti ini, aku tidak rela orang lain melihatnya." Beyza menahan langkah kaki Genta.
Derya menarik napas dalam, moodnya sedang tidak ingin berdebat atau terlalu banyak bicara sekarang. Dia pun berjalan ke arah parkiran mobil untuk mengambilkan kaos untuk Genta.
Karena terlalu terburu-buru dia tidak melihat kalau dari arah berlawanan ada seorang perempuan yang juga sedang berjalan terburu-buru menenteng rantang makanan berbahan plastik di tangannya.
Tabrakan antar tubuh keduanya pun terjadi, rantang perempuan itu seketika terjatuh. Isi di dalamnya tumpah mengotori lantai rumah sakit yang tadinya bersih mengkilat.
Derya buru-buru berjongkok untuk membantu perempuan itu. "Maaf ya. Aku tidak sengaja. Biar OB yang membersihkannya. Aku akan mengganti makanan yang kamu bawa itu dengan uang. Maaf bukannya aku ingin menilai kesalahanku dengan uang. Tapi aku sedang benar-benar terburu-buru. Kamu pun pasti juga begitu."
Saudara kembar Beyza itu, mengambil dompet di kantong belakang celananya, lalu memberikan lima lembar uang 100 ribuan pada perempuan tersebut.
"Tidak! Ini terlalu banyak," ucap perempuan itu sembari mendorong tangan Derya dengan lembut.
__ADS_1
"Tidak mengapa. Jangan mengajakku berdebat Aku benar-benar sedang terburu-buru." Derya menggenggamkan uang itu dengan paksa ke tangan perempuan itu, dia berdiri dan langsung melanjutkan langkah kakinya menuju parkiran.
"Kenapa aku kembali bertemu dengan banyak laki-laki tampan dan baik hati setelah kondisi seperti sekarang ini. Mana ada laki-laki seperti itu yang mau denganku. Ah .... sudahlah. prioritasku bukan kesenanganku sendiri sekarang," gumam perempuan itu, lalu dia berdiri dan berjalan mencari OB untuk membantunya membersihkan lantai.