Hot Family

Hot Family
Pernah muda


__ADS_3

Zain mengusap bagian kepalanya yang terkena lemparan sang mama.


"Mama ganggu aja sih. Kayak nggak pernah muda saja," dengus Zain.


"Mama pernah muda dan masih berjiwa muda. Tapi jangan lupa di rumah ini, ada Dasen, Beyza dan Derya. Kalian harus hati-hati. Mereka tidak boleh melihat seperti yang Mama lihat." Senja mengucapkan dengan santai namun tegas.


Pipi Airin bersemu merah dan dia menjadi salah tingkah. Hari pertama tinggal bersama calon mertua, malah dibuka dengan kejadian yang sangat memalukan.


Berbeda dengan Airin, Zain malah terkesan santai dan biasa saja.


"Sekarang kita makan malam dulu, setelah itu kamu langsung pulang bersama orangtuanya Airin." Senja mengingatkan Zain kalau mulai malam ini pun, anaknya itu harus tinggal di rumah calon mertua mereka juga.


Senja kembali ke dalam rumah lebih dulu, langsung berjalan ke lantai dua untuk memanggil anak-anaknya yang lain. Ternyata Michel sudah pulang lewat pintu samping, karena malu melewati tamu. Dia langsung pulang sesaat setelah Dasen menarik tangannya tadi.


Setelah semua di rasa sudah berkumpul, acara makan malam pun di mulai. Tapi Darren menyadari, hasil kelincahan dan kerajinannya masih kurang satu personil. "Di mana Derya?" tanyanya.


"Derya sedang tidak enak badan. Tadi sudah makan dan minum obat, sekarang dia masih istirahat," jawab Senja.


"Silahkan Pak ... Bu ...." Darren mempersilahkan Lena dan Rasyid untuk mengambil makanan terlebih dahulu.


Zain memberi kode pada Airin untuk mengambilkan makanan yang sudah di masak khusus untuknya. Andai daddynya sedang tidak sedang menilai Airin, dengan senang hati Zain akan melayani perempuan yang dicintainya itu. Dia harus menahan diri, agar Airin tidak terlihat manja di depannya.


Semua makan dengan tenang, hanya sesekali terdengar obrolan ringan antara Mahendra dan Rasyid. Senja pun sesekali mengajak Sarita dan Lena untuk berbicara.


"Rin ... kamu harus belajar banyak dari mamanya Zain. Sudah cantik, pinter ngurus anak dan jago masak pula," ucap Lena sembari tersenyum ke arah Senja.


"Biasa saja, Bu. Semua perempuan pasti seperti itu." Senja mencoba merendah.


"Airin akan berusaha yang terbaik, Bund. Tapi untuk bisa menjadi seperti Mama Nja, itu sangat tidak mungkin. Ma Nja yang terbaik dan tidak ada duanya." puji Airin.

__ADS_1


Zain tersenyum mendengar jawaban Airin, ternyata sarannya langsung dipraktekkan oleh Airin.


"Kalau ada perempuan lain seperti Senja, pasti Darren akan menikahinya," sahut Mahendra.


Seketika Darren tersedak, buru-buru menikah lagi. Melirik perempuan lain saja, tidak pernah terlintas dipikirannya.


"Maksud Papa, daripada rebutan sama anak-anak mending punya satu Senja lagi kan? kalau ada yang kayak Senja tentunya," timpal Sarita.


"Senja ikhlas jadi janda daripada di madu. Jadi janda lebih menggoda, ketimbang jadi istri tua." Senja melirik suaminya dengan tajam.


Dalam hati Darren mengumpat, pembicaraan yang awalnya santai dan sederhana, kenapa malah semua jadi menyerang dirinya.


"Lebih baik jadi anak piatu, ketimbang punya mama tiri." Beyza ikut ambil suara.


"Mama tiri pasti tidak sebaik daddy tiri." Zain malah menanggapi dengan santai.


"Zain," Senja menyenggol lengan Zain yang ada di sampingnya dengan siku. Takut Darren akan kembali tersinggung.


Darren mendengus kesal. Rasyid dan Lena saling bertukar pandang. Keduanya seperti masuk ke dalam panggung pertunjukan drama. Entah harus bersyukur atau khawatir, mengetahui Airin akan berada di tengah keluarga yang sangat unik.


Akhirnya acara makan malam pun selesai dengan meninggalkan sedikit kekesalan di hati Darren. Bahkan, Senja pun tidak membelanya.


Kini, semua berkumpul di ruang keluarga. Lena dan Rasyid lama-lama merasakan kehangatan keluarga calon besannya itu. Airin hanya anak tunggal, membuat suasana rumah mereka tidak pernah seramai seperti keluarga Darren. Kecuali Dasen yang langsung kembali ke kamarnya, karena belum mengerjakan tugas dari sekolah.


"Senang sekali ya, Bu ... rumah ramai kalau banyak anak begini. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kami nanti, saat Airin sudah menikah. Kami hanya tinggal berdua," ucap Lena, tiba-tiba sembari menepuk pelan punggung tangan Senja yang duduk di sampingnya persis.


"Karena selisih usia Zain sama adik-adiknya lumayan jauh, Bu. Nanti kalau giliran Dasen, Beyza dan Derya yang menikah. Kami pun hanya akan berdua saja. Tidak mengapa, memang begitu seharusnya. Mama dan Papa berdua terus malah makin mesra." Senja melirik pada kedua mertuanya yang memang masih sangat mesra hingga saat ini. Keduanya bahkan lebih sering berlibur dibandingkan dirinya.


"Sudah malam rupanya ... sebaiknya kami pamit. Kami nitip Airin. Semoga Ibu dan Bapak, bisa menyayangi Airin seperti anak sendiri. Tegur Airin kalau memang salah." Lena menggenggam tangan Senja.

__ADS_1


"Tentu saja, Bu. Begitu juga dengan Zain. Jangan segan menegurnya kalau memang Zain salah." Senja tersenyum lalu menoleh pada suaminya.


Darren merasa berat melepas Zain, padahal hanya seminggu. Tapi rasanya dia tidak rela kalau sampai anaknya itu diomeli oleh mertuanya. Dia sedang membayangkan dirinya yang sering menerima omelan dari Bae--ibu mertuanya.


"Zain, mau mengambil koper dulu," pamit anak laki-laki pertama Senja itu.


"Bey ... antar kak Airin ke kamarnya," perintah Darren pada Beyza.


"Oke, Dadd ... Yuk, Kak!" Beyza mengamit lengan Airin, tinggi keduanya hampir sama. Airin semungil Senja, sedangkan Beyza mewarisi tinggi Darren yang tentu saja masih bisa bertambah lagi nantinya.


Sarita dan Mahendra pamit untuk ke kamar Derya. Karena ada salah satu cucu yang sakit, mereka memutuskan untuk menginap.


Darren dan Rasyid sama-sama berdiri, keduanya berjalan lebih dulu saling berdampingan. Senja dan Lena sengaja memberikan jarak. Memang sudah seharusnya suami mereka itu berbicara empat mata tentang keseriusan anak-anaknya.


"Saya minta maaf sebelumnya. Karena saya memang orang pertama dan mungkin satu-satunya yang tidak menyetujui hubungan Zain dan Airin berlanjut ke jenjang yang lebih serius." Darren dengan gayanya yang tanpa basa basi langsung ke pokok pembicaraan.


"Saya tahu anak saya banyak kekurangan. Wajar kalau bapak merasa, Zain pantas mendapatkan yang lebih baik. Tapi keduanya terlanjur saling mencintai dan tidak terpisahkan. Sama seperti bapak, saya pun sebenarnya tidak menyetujui hubungan mereka. Zain yang terlihat terlalu sempurna dan memenuhi standart pria idaman membuat saya malah menjadi khawatir," timpal Rasyid, tak kalah to the point.


"Saya hanya tidak ingin anak saya mengalami kesedihan karena sakit yang diderita Airin. Saya tidak melihat kekurangan apapun selain itu," tambah Darren.


"Saya juga tidak melihat kekurangan Zain selain dari kesempurnaannya, saya takut suatu saat Zain akan lelah menghadapi kekurangan Airin, lalu mencari perempuan lain." Rasyid menatap Darren dengan tajam.


"Kami tidak pernah mendidik anak kami menjadi pengkhianat dalam pernikahan. Di keluarga kami, pernikahan hanya sekali seumur hidup. Kecuali ada kematian yang memisahkan. Papanya Zain meninggal juga karena kanker," jelas Darren.


"Apa yang menjadi keyakinan dan keraguan kita berbeda. Seperti Bapak yang meragukan akan kesembuhan Airin. Sedangkan kami sangat percaya, anak kami akan mendapatkan kesembuhannya."


Keduanya berhenti tepat di depan mobil milik Rasyid. Senja dan Lena hanya diam sepanjang langkahnya. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Kini mereka hanya menunggu Zain yang katanya sedang mengambil koper.


"Ask ...." Darren memberi kode pada istrinya untuk melihat dan memanggil Zain, seolah paham anak pertamanya itu pasti tidak hanya sekedar mengambil koper.

__ADS_1


Lagi-lagi, Senja harus melempar sesuatu ke kepala Zain.


__ADS_2