Hot Family

Hot Family
Siapa yang membenci Senja


__ADS_3

Sampai di rumah, Beyza dan Darren langsung menuju kamar masing-masing. Sedangkan Senja masih membicarakan persiapan pernikahan Zain melalui sambungan video call dengan Sekar.


Setelah hampir satu jam berlalu, akhirnya komunikasi itu pun selesai atas kesepakatan dua pihak.


"Zain, tadi kenapa Das tidak ke kantor?" Senja baru teringat hari ini masih hari aktif bekerja.


"Dari kemarin malam Das memang agak demam dan flu, Ma." Zain membantu Senja berdiri sembari memperhatikan wajahnya.


"Sebentar-sebentar, tadi turun dari pesawat, wajah mama terlihat agak pucat. Tapi kenapa sekarang wajah Mama kembali bersemu merah?" Selidik Zain.


"Karena udara di sini panas, Zain. Sudah, Mama mau ke atas dulu. Kalau Dasen datang, periksa keadaan dia, kasih obat atau vitamin." Meskipun kesal, Senja tetap saja masih memikirkan kondisi Dasen.


Sampai waktu makan malam tiba, Dasen belum juga pulang. Dalam hati, Senja sangat khawatir. Kondisi Dasen yang tidak fit, tentu akan semakin parah kalau terlalu capek.


"Kamu sudah mencoba menghubungi Das, Zain?" Senja bertanya di sela-sela kebersamaan menyantap hidangan malam di meja makan.


"Sudah, Ma. Katanya sebentar lagi. Pak Rudi sudah menjemput Das. Dia akan mengantar Denok dulu."


Jawaban Zain membuat wajah Senja menjadi ketus. "Belum apa-apa sudah lupa sama diri sendiri," dengusnya.


Darren tidak berani menimpali, urusan jodoh di antara anak-anaknya, masalah Dasen dan Denok lah yang paling sensitif. Mendukung Dasen salah, mendukung Senja juga tidak benar. Nyatanya, istrinya itu terlalu keras menyikapi hubungan Dasen dan Denok.


"Ma, Kak Das kan nemenin pacarnya. Wajar kali, Ma," ceplos Beyza dengan santainya. Dia memang sengaja ingin tahu sejauh mana kesulitan Dasen mendapatkan restu mamanya.


"Bukan masalah wajar atau tidak, Bey. Tapi Dasen mestinya tahu diri. Kalau dia sakit, memang Denok yang mau mengurus? Tetap saja Mama." Senja menyudahi makannya dan langsung berdiri dengan wajah ketus.


Zain menyiku adik perempuan satu-satunya itu dengan kesal. Padahal sudah diberitahu, kalau hubungan Dasen dan Denok tidak mendapatkan restu, masih saja Beyza nekat.


Darren ikut menghentikan makan malamnya. Dan segera menyusul Senja ke dalam kamar tanpa mengucapkan kata apapun pada kedua anaknya itu.


"Kamu sih, ngomong gak pakai diatur," dengus Zain.


"Kan, Bey cuma ingin tahu akan seberat apa perjuangan Kak Das ke depan." Beyza menjawab dengan santainya.


Zain menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat. "Dasar. Kamu membuat Daddy akan merasa pusing hingga besok."

__ADS_1


"Biarkan saja, yang tua, tidak boleh terlalu bercinta. Giliran kita yang muda." Beyza merpogoh ponsel di kantong celananya yang terys bergetar. Dia langsung tersenyum begitu tahu siapa yang menghubungi.


Zain menjadi penasaran. Satu-satunya adik perempuannya itu susah sekali jatuh cinta. Melihat Beyza menampilkan wajah kasmaran sungguh membuatnya bertanya-tanya.


Beyza beralih ke ruangan tengah, dia melakukan video call. Tapi suara siapa yang menghubunginya tidak terdengar karena headset yang dikenakan oleh Beyza.


Zain menanti dengan sabar. Dia harus tahu, siapa laki-laki yang berhasil membuat adiknya bisa kasmaran seperti itu.


Bersabar menunggu hampir satu jam, akhirnya Beyza selesai juga dengan video call-nya. Zain pun langsung mendekati dan tanpa basa basi, dia langsung bertanya, "Siapa?"


"Ada deh, nanti pasti dikenalin. Di acara pernikahan Kak Zain." Beyza menjawab sembari senyum-senyum.


"Kan acaranya hanya boleh keluarga saja. Mana boleh bawa yang sekedar cuman pacar. Denok dan Inez saja tidak mungkin boleh datang."


"Kita lihat saja nanti." Beyza berdiri dan tersenyum penuh misteri meninggalkan Zain yang masih sangat penasaran.


"Eh, jangan percaya diri dulu, Bey. Kamu anak perempuan satu-satunya, jelas daddy lebih selektif." Ucapan Zain menghentikan langkah kaki Beyza.


"Aman, Kak. Terkendali dan akan segera menuju halal setelah kak Zain. Bey dan kang mas akan mendahului Kak Dasen dan Derya." Beyza kembali melanjutkan langkahnya.


Dengan sigap, Zain segera menghampiri adiknya itu. "Astaga, Das. Badanmu panas sekali." Zain membantu menuntun Dasen mendekati pintu lift, dan mengantar sampai ke kamar. Lalu membaringkan titisan Darren itu ke atas ranjang.


"Kamu tunggu di sini sebentar. Kakak akan memeriksamu." Zain ke kamarnya dulu untuk mengambil alat pengukur tekanan darah, suhu dan stetoskop.


Tidak lama, Zain pun kembali ke tempat di mana Dasen berada. Dia memeriksa adiknya itu dengan teliti dan telaten.


"Ini panas sekali, Das. 40 derajat. Tekanan darahmu juga termasuk rendah. Kamu kan tahu tidak enak badan, tapi kamu malah terlalu bersemangat menemani Denok. Kamu sudah makan belum?"


"Belum, Kak." Dasen menjawab dengan lemah.


"Ya sudah. Biar diambilkan Mbak Wati, setelah itu kamu minum obat. Kakak ambilkan dulu."


Saat Zain keluar dari kamar Dasen, Senja juga keluar dari kamarnya.


"Das, sudah pulang?" tanya perempuan cantik itu.

__ADS_1


"Sudah, Ma. Badannya panas sekali. Ini mau minta Mbak Wati mengambilkan makanan."


Senja langsung melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa menuju kamar Dasen. Seolah lupa kekesalan yang sedang dirasakannya.


"Das." Senja langsung menempelkan telapak tangannya pada kening dan leher Dasen.


"Ma, Dasen kangen sama Mama," lirih anak itu.


Sebesar apapun anak Senja, jika sedang sakit. Pastilah ingin dimanja oleh mamanya.


"Kangen, tapi Mama pulang malah sibuk ngurus orang lain." Senja terus menempelkan telapak tangannya di tangan Senja.


"Ma, jangan bahas itu dulu. Dasen pengen dipeluk Mama. Malam ini, Mama tidur di sini ya?" Pintanya.


Senja tidak menjawab, karena Wati membawa makanan untuk Dasen.


"Biar saja saya, Wat." Senja mengambil semangkok sup dan sepiring nasi dari nampan Wati. Dasen mengubah posisi rebahannya menjadi bersandar.


Perlahan Senja menyuapi Dasen dengan telaten. Zain masuk memberikan obat, lalu keluar lagi.


"Mama mau kan tidur sama Dasen?" Titisan Darren kembali mengulang pertanyaannya.


Senja mengangguk. "Tapi Mama mau pamit sama Daddy dulu."


Dasen tersenyum bahagia. Beberapa hari saja didiamkan mamanya, sungguh membuat Dasen merasa ada yang kurang dalam menjalani hari-harinya.


"Terimakasih, Ma."


Sementara itu di kediaman Inez, seorang perempuan paruh baya, yang tidak lain tidak bukan adalah Mama dari Inez. Tertawa lepas begitu mendengar pengakuan putrinya itu.


"Bagus, Nez. Kesombongan dan keangkuhan istri Darren Mahendra pada Mama dulu harus dibayar mahal," tegasnya.


Inez hanya menunduk sembari mereemas jemarinya. Sungguh dia sama sekali tidak menduga jika situasinya menjadi lebih buruk.


Tadinya, dengan bercerita kalau Derya adalah anak dari seorang Darren Mahendra dan CEO DNG Corp, dia berharap orangtuanya akan sedikit memberikan kelonggaran pada hubungannya dengan Derya. Nyatanya, dia malah harus menjadi boneka untuk mamanya agar bisa membalas sakit hatinya pada Senja.

__ADS_1


__ADS_2