Hot Family

Hot Family
Denok


__ADS_3

Setelah beberapa saat terlena, Dasen mencoba kembali pada kesadarannya. Gadis pelayan itu sangat cantik, tidak gemuk juga tidak kurus, lumayan tinggi, bola matanya kecoklatan, kulitnya tidak terlalu putih, rambutnya dicepol rapi menggunakan harnet hitam berbentuk pita.


"Kamu tidak mengapa?" tanyanya dengan gaya cuek.


"Tidak mengapa, Tuan. Maaf... Saya benar-benar tidak sengaja. Saya akan mengganti minuman Bapak." Si gadis pelayan buru-buru menjauhkan tubuhnya dari tubuh Dasen.


"Tidak perlu! Gajimu satu hari, belum tentu cukup untuk membeli minuman tadi," sahut Dasen, tidak bermaksud menghina, tapi itu memang kenyataan.


"Tapi, Tuan. Saya justru akan terkena sanksi jika saya membuat pengunjung hotel kecewa, apalagi saya juga membuat celana Tuan basah." Pelayan itu menurunkan pandangannya, tangannya sedikit gemetar memegang gelas dan nampan yang sudah kosong.


"Tidak masalah. Nanti aku yang bicara pada managermu, lagi pula ini salah anak itu, dia berlarian tidak pada tempatnya."


Gadis berjarik batik motif hijau dengan atasan kemeja berwarna senada itu, memberanikan diri menatap wajah pria tampan di depannya, tangannya menjadi semakin gemetar.


'Sudah tampan, baik hati dan tidak sombong. Berikan satu yang begini padaku, Tuhan,' doanya dalam hati.


Dasen menyadari jika dia sedang dikagumi. "Aku tau aku tampan, mempesona dan kaya raya, tapi jangan melihatku seperti itu. Soal minuman tidak usah dipikirkan. Tapi soal celanaku yang basah ini, harus menjadi tanggung jawabmu."


Ucapan Dasen, seketika membuat si pelayan ingin menarik kata-kata kekagumannya tadi.


'Tuhan, doa yang tadi tidak jadi saja.' Si pelayan buru-buru membatalkan doa pertamanya.


"Kenapa diam saja? Ayo tanggung jawab, sepuluh menit lagi aku harus meeting. Kalau basah seperti ini, apa kata relasiku," Dasen mulai berlagak menyebalkan.


Si pelayan menarik napas dalam, berpikir sejenak.


"Jangan lama-lama mikirnya, Nok... Kenapa namamu hanya 'Denok' saja? Nok... Den...Nok... sungguh tidak enak di dengar." Dasen menyebut nama gadis pelayan itu. Dia baru saja membaca dari nama yang tertera dari name tag yang mengalung sampai bagian dada.


"Sebentar-sebentar, ini tadi kan masalah celana. Kenapa Tuan jadi membawa-bawa nama? Memang ada yang salah dengan nama saya? Itu bapak saya, ngasih nama juga harus puasa dulu dua hari dua malam. Mak saya juga harus bikin bubur beras merah." Si pelayan bernama Denok itu sudah mulai sewot juga.


"Kurang delapan menit lagi, cepat tanggung jawab, Nok, Denok!" Dasen mengabaikan protes yang dilakukan oleh Denok.


"Mobil Tuan di parkir di sebelah mana? Sangat tidak mungkin kalau di mobil seorang bos, tidak membawa pakaian ganti."


Ucapan Denok membuat Dasen mencebikkan bibir. Jelas yang ada di depannya saat ini termasuk gadis yang cerdas. Memang pakaian ganti selalu tersedia di mobilnya.

__ADS_1


"Apa saya, yang harus mengambilkan celana Tuan?" tanya Denok mulai bersikap berani.


"Tidak perlu, aku bisa menyuruh driverku. Lanjutkan pekerjaanmu. Mencari pekerjaan sekarang sulit. Jangan membuang-buang waktu"


"Terimakasih." Denok berbalik badan dan berjalan meninggalkan Dasen.


"Eh... Nok, tunggu!" Panggil Dasen, setengah berteriak, sampai banyak yang menoleh ke arah mereka.


"Minta nomer ponselnya, setelah berganti celana. Kamu harus mencucikan celana ini. Ingat! Harga celanaku bisa jadi 10 kali lipat gajimu. Jadi harus hati-hati, Aku akan menitipkan celana ini di resepsionis nanti. Aku harus menyimpan nomer ponselmu agar bisa menghubungimu saat mengambilnya besok." Dasen menyodorkan ponselnya pada Denok.


Gadis pelayan itu mengambil ponsel dan mengetikkan nomernya di sana. Tanpa berkata-kata lagi, dia segera meninggalkan Dasen.


"Yes! Dapet yang original juga akhirnya." gumam Dasen terlihat sangat senang.


.


.


Derya dan Inez kini sudah berada di lounge terminal kedatangan internasional untuk menanti kedatangan Darren, Senja dan Zain.


"Tenang saja, nanti kamu akan lihat sendiri betapa hangatnya Mamaku. Jangan kaget dengan sikap daddyku, dia memang terlihat sangat tidak peduli. Tapi biasanya dia diam-diam menilai. Sering kali tidak terlihat ramah, sebenarnya baik." Derya lagi-lagi menenangkan Inez.


Setelah menunggu hampir lima belas menit, akhirnya ketiga orang yang dinanti muncul juga. Derya menggandeng tangan kekasihnya itu dengan posesif, seolah tahu kegundahan dan cemas yang berkecamuk di hati Inez.


Meskipun Beyza dan Inez bersahabat, tapi Senja dan Darren memang tidak pernah bertemu dengan Inez. Setiap kali liburan, semua sibuk dengan keluarga masing-masing.


Senja agak memperlambat langkahnya saat tahu Derya menjemput bersama seorang gadis, menahan lengan Zain agar menyamai dirinya.


"Apa Mama sudah sangat tua? Sepertinya kalian akan menikah secara bersamaan," bisik Senja, lirih tapi tetap terdengar di telinga Darren.


"Sudah waktunya tua, Ask. Makanya berhenti bekerja. Yang muda, yang berkarya," sahut Darren.


"Yang tua, yang bercinta," timpal Zain sembari mengangkat telapak tangannya untuk mengajak sang daddy melakukan Hi-Five.


Senja kembali mempercepat langkahnya, Zain dan Darren sudah mulai sefrekuensi lagi sejak Zain menjalin hubungan dengan Sekar. Gadis itu memang terlihat sederhana di luar, tapi sangat kuat dan bersahaja.

__ADS_1


Kemandirian dan sifat pantang menyerah Sekar, membuat lampu hijau langsung diberikan oleh Senja. Sedangkan Darren, tentu saja masih saja ada yang kurang, ketika melihat gadis yang dekat dengan anak-anaknya, perbandingannya adalah Senja.


Derya dan Inez kurang sepuluh langkah lagi mendekati mama, daddy dan kakak pertamanya. Senja bisa menangkap raut wajah kecemasan di wajah gadis yang digandeng salah satu anak kembarnya itu.


Senja, Darren dan Zain kompak menghentikan langkahnya. Ketiganya, sengaja menunggu Derya dan kekasihnya yang menghampiri.


Kalau perkenalan mendadak seperti ini, Senja hanya takut mulut pedas suaminya yang kadang susah untuk dikontrol.


Tepat saling berhadapan dan berjarak selangkah, Derya melepas genggaman tangannya dari tangan Inez. Anak itu, memeluk Darren, Senja dan Zain bergantian sembari menanyakan kabar. Meskipun sering berkomunikasi lewat sambungan video call, tetap saja menanyakan keadaan masing-masing saat pertama kali bertemu sangatlah penting.


"Ma, Dadd, Kak... kenalkan ini Inez, kami teman satu angkatan. Inez ini waktu kuliah dan di asrama adalah teman baik Beyza. Tapi kami baru menjalin hubungan enam bulan terakhir ini." Deeya menjelaskan dengan detail namun sangat hati-hati.


"Menjalin hubungan seperti apa?" Darren bertanya dengan suara dan wajah yang sama datarnya.


"Kita sambil jalan ke mobil, Yuk!" Ajak Senja, membuat Derya sedikit bernapas lega. Waktu berjalan ke mobil, memberi jeda untuk berpikir jawaban yang tepat, agar tidak dikejar pertanyaan-pertanyaan lain oleh daddy-nya.


Inez mengulurkan tangan hendak membawakan koper yang ada digeret oleh Senja.


"Tidak perlu, kamu bukan porter. Kami biasa membawa barang-barang kami sendiri." Darren yang menolak Inez dengan cepat.


Derya menarik tangan Inez dan kembali menggenggamnya erat. Sedikit merasa bersalah, karena lupa memberi tahu Inez untuk tidak menawarkan diri membantu apa pun diawal pertemuan. Kesan pertama Darren selalu menganggap orang itu sebagai penjilat.


"Kita sholat maghrib dulu, Ask. Takut keburu habis," usul Senja.


Semuanya, kecuali Inez, mengangguk setuju. Sebelumnya mereka menyimpan koper-koper mereka di mobil terlebih dahulu. Setelah itu, mereka baru berjalan menuju mushola luar bandara, yang letaknya tidak jauh dari area parkir.


Zain, Derya dan Darren langsung menuju tempat wudhlu pria.


"Nez, ayo! Nanti keburu habis waktunya!" Ajak Senja, sembari menarik pergelangan tangan Inez.


"Maaf, Tante. Inez tidak sholat," ucap Inez dengan hati-hati.


"Kenapa? Oh, kamu datang bulan? Maaf, tante tidak tahu. Kenapa tidak bilang dari tadi." Senja melepas tangannya dari tangan Inez.


Gadis itu menggeleng pelan. "Bukan, Tante... Inez, ke Gereja."

__ADS_1


Jawaban Inez, seketika membuat Senja menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


__ADS_2